
Dalam berjalannya waktu, siapa yang sangka ternyata Razzi diam-diam menyukai Lian, hanya saja Razzi takut untuk menyatakannya, karena ia berpikir jika dirinya dan Lian amat jauh berbeda seperti bumi dan langit ditambah dengan ayahnya Lian yang tidak suka dengan Razzi karena perbedaan kasta. Terpaksa Razzi hanya bisa memberikan rasa sayang dan perhatian tanpa mengungkapkannya, terkadang juga terasa menyesakkan baginya. Bagaimana tidak… karena tidak ada status, ingin cemburupun tidak ada haknya. Selain itu ada hal yang tidak terduga, ternyata Lian yang dulunya tidak menyukai Razzi sekarang malah menyukai Razzi, tapi ia malu untuk mengungkapkannya dan Lian juga tidak tahu perasaan Razzi terhadapnya. Selama ini Razzi baik dan perhatian dengannya tetapi Razzi juga tak pernah bilang jika dia menyukai Lian, semuanya terasa menjadi serba salah.
Sepulang sekolah…
“Lian… sampai kapan kamu diam terus, gerak dong” kata Caca.
“apaan sih, gerak apa coba” balas Lian.
“duh duh duh… sok lugu deh” ungkap Mirza.
Tringg tringg… dering telefon Lian berbunyi, “Bentar ya” ujar Lian.
“siapa Li?” tanya Mirza.
“Alah.. enggak usah nanya kali Mir, palingan juga Razzi” jelas Caca.
“kamu kan bisa tu nulis novel, buatlah cerita tentang kamu Li… judulnya kau yang ku suka hanya sekedar mengantarku… hahhaahaa” canda Mirza.
“iya juga ya, hahaha…” balas Caca sambil ketawa bersama Mirza.
“Ah… rese lu pada, gue pulang dulu ya, kalian juga pulang sana!” ujar Lian sambil berjalan meninggalkan sahabatnya.
“lama nunggunya?” tanya Lian, “enggak kok, santai aja” balas Razzi, “Udah naik?” tanya Razzi, “Sudah” ucap Lian. Andai waktu bisa berhenti, aku ingin terus seperti ini. Berdua bersamanya, merasakan hembusan angin yang seperti membelai kami berdua. Tetapi apa dia juga merassakan hal yang sama atau hanya aku ? semua ini terlihat sangat konyol, aku yang dulu tidak suka dengannya sekarang malah seperti tergila-gila dengannya.
Wahai waktu berjalanlah lebih lambat, dan juga jalanan kumohon semoga menjadi lebih panjang, juga angin buatlah Razzi menjadi nyaman bersamaku. Apa bisa ya ? tapi razzi dari tadi diam saja… wahh aku bisa gila beneran nih, disela lamunan Lian dengan pikirannya yang entah kemana itu ia tersentak ketika Razzi memanggilnya. “Lian… Lian… LI… !” seru Razzi, “Eh… ah ya” Dengan terbata-bata karena kaget, “Hahaha… kamu kenapa sih, sampai kaget begitu?” tanya Razzi sambil ketawa, “Sudah sampai nih depan gang rumah kamu” kata Razzi, “Oh sudah sampai ya, makasi aku duluan… bye” Lianpun berlari kecil-kecil karena malu sudah terbata-bata dan apalagi Razzi tadi tertawa, “Ahh… aku terlihat bodoh banget nih” teriak Lian.
“Wah… apa-apaan nih, kan aku sudah sering ngantar itu bocah, tapi kok berdebar ya?” Pikir Razzi, “Harus kerumah sakit nih, jantung aku kayaknya ada masalah, tapii… Lian imut banget sih pas kaget tadi” Wajah Razzi memerah saat ia memikirkan Lian, “sudah ah, fokus Razzi fokus yang ada lo beneran kerumah sakit jadinya tapi ke UGD (unit gawat darurat) karena kecelakaan lalu lintas bukannya ke dokter jantung” Mengalihkan pikirannya agar fokus mengendarai motor.
**********
Beberapa haripun berlalu hingga pada suatu hari Jino menghampiri Lian yang lagi baca buku diperpustakaan. “Boleh aku duduk disini?” tanya Jino yang ingin duduk disamping Lian, “Boleh…duduk saja” ujar Lian. Suara tarikan kursipun berbunyi dan Jino duduk disamping Lian. Jino terlihat sangat gelisah, ia membolak-balikkan buka dengan cepat dan ia juga terkadang mencuri padang ke Lian, dengan jemari nya yang terus saja mengetuk-ngetuk pelan
meja, ia terlihat sangat gugup bibirnya seakan ingin terbuka untuk berbicara tetapi ia juga menahannya. Melihat Jino yang dari tadi gelisah Lian menjadi resah melihatnya, dan dari tadipun Jino terus saja meliriknya. Dengan suara yang pelan Lian menyuruh Jino mengikutinya keluar untuk berbicara.
“katakan!” tegas Lian.
“Eh… itu anu” Terbata-bata.
“Katakan atau aku masuk lagi satu… dua…tiii…” ujar Lian sambil menghitung.
“Aku suka sama Mirza!” teriak Jino karena gugup.
“Ehh… enggak usah teriak juga kali, itu orang pada Lihatin lo” kata Lian.
“Aku suka sama Mirza sejak dia baru pindah kesekolah ini” ungkap Jino.
“Terus... kenapa nyatainnya ke aku, kemirza dong” jelas Lian.
“Maunya sih begitu, tapi kan aku belum dekat banget sama dia, jadi aku mahu…” terpotong.
“iya aku ngerti, nanti aku bantu” sela Lian.
“Ah makasi ya Li, kamu mahu aku bantu enggak sama Razzi?” tanya Jino.
“Enggak!” tegas Lian yang pergi karna malu.
“Haha… dia malu rupanya” gumam Jino.
**********
__ADS_1
“Lian sayang kamu dimana?” Panggil Ayah Lian, “Kenapa Yah?” jawab Lian, “Anak Ayah masih ingat sama Dion enggak?” tanya Ayah Lian. Dengan sedikit mengerutkan dahi Lian berpikir siapa itu Dion, tidak lama setelah itu Lianpun ingat siapa itu Dion, “Dia kalau enggak salah teman Lian diAustralia dulu kan Yah?” tanya Lian. Ayah Lian tersenyum yang mengartikan, iya.
“Dion mahu tinggal dirumah kita nak, sementara” ujar Ayahnya, Lian kelihatan bingung dan bertanya mengapa harus dirumahnya. “Anak Ayah enggak suka ya?” ucap Ayah, “Eh suka kok, lagian udah lama juga enggak ketemu kak dion” jawab Lian.
Ayah Lian terlihat senang karena Lian menerima dion untuk tinggal dirumah. “Nanti kalau dion sudah tinggal disini kamu baik-baik sama dia ya, kalian harus akrab lagi, sering-sering ajak dionnya main atau jalan-jalan bareng!” pinta Ayah Lian, Lian mengangguk,kan kepalanya.
Lian pamit kepada Ayahnya keatas untuk tidur, jam pun telah menunjukkan pukul 21:34. Lian menyikat giginya dan mencuci muka, tidak lama setelah itu dering telefon Lian berbunyi.
“Halo Bunda” Dengan semangatnya Lian mengangkat telefon dari bundanya.
“Iya Lian sayang, kamu apa kabarnya, nak?” tanya Bunda.
“Baik kok Bun, Bunda gimana sehat-sehat saja, kan?” tanya Lian.
“Bunda baik-baik saja kok” ujar Bunda, “Nak, ayah kamu sudah bilang kalau…” terpotong.
“Ah soal kak dion ya, Bun?” kata Lian yang menyela perkataan Bundanya.
“Wah… kamu terlihat senang, Nak… kamu sudah setuju rupanya, awalnya Bunda khawatir sama kamu, takutnya kamu enggak setuju, Nak” ucap Bunda dengan leganya karena Lian sudah setuju.
“Eh kenapa enggak setuju coba Bun, kan Cuma tinggal serumah saja, lagian aku sudah kenal lama dengan kak dion” kata Lian dengan entengnya.
“Loh… bukan itu maksud Bunda, Nak” ujar Bunda karena kaget seprtinya Lian belum tahu apapun.
“Eh… maksudnya apa Bun?” tanya Lian.
“Ayah belum bilang bahwa kalian bakal dijodohin?” ujar Bunda.
“WHAT!” Seperti tersambar petir, Lian begitu kaget dan tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Lian menolak perjodohan tersebut tapi Ayahnya sangat berisikeras untuk tetap menjodohkan anaknya. Ayahnya bilang akan diadakan pertunangan ketika Lian naik kelas XII nanti. Apapun yang Ayah Lian katakan Lian tetap kokoh menolaknya, pada saat itu Ayah dan anak sama-sama keras, seperti batu melawan batu, dua-duanya kokoh dengan pendapatnya masing-masing sampai pada titik pertahanan Lian akhirnya Lian teriak ke Ayahnya dan berkata bahwa dia menyukai orang lain dan sangat-sangat tidak mau dijodohkan mau siapapun itu orangnya walaupun kak dion yang telah ia kenal lama dan dapat dipercaya.
Setelah berteriak Lian sangat merasa menyesal karena telah meneriaki Ayahnya dan Lian langsung terdiam sambil menundukkan kepalanya karena ia tidak percaya dia bisa-bisanya meneriaki Ayahnya. Ayah Lian terlihat sangat marah tapi ia tetap menahan amarahnya hanya karena satu alasan, yaitu ia sangat menyayangi putri semata wayangnya.
Suara yang begitu dingin, yang langsung mengubah suasana menjadi seperti dipegunungan es yang membekukan semuanya dan ia berkata “Siapa yang kamu suka… bocah miskin itu?” tanya Ayah Lian dengan tatapan yang membuat lidah Lian seakan membeku untuk menjawab, Dengan suara yang bergetar dan masih menundukkan kepalanya “iya Ayah” jawab Lian.
“Buta kamu!” sergah Ayah Lian, “Dion anak yang baik, berpendidikan, bermartabat, dari keluarga yang terpandang, teman kamu waktu kecil, wajah oke, dan lagi dia sama kita itu berada dijajaran yang sama!” ujar Ayah Lian dengan membangga-banggakan dion, “Bocah itu enggak jelas, miskin, berantakan, masa depan juga paling suram, modal wajah saja… itu yang kamu suka?!” hina Ayahnya dengan senyum yang meremehkan orang, “TIDAK PANTAS!” sergah Ayah Lian.
Setelah berbicara seperti itu ayah lian pun masuk keruang kerjanya dengan membanting pintu yang sangat keras. Lian masih mematung karena perkataan ayahnya tadi dan ia menangis sejadi-jadinya.
**********
Keesokan harinya Lian tanpa pamit pergi kesekolah. Liandari berjalan menuju kelasnya dan ia duduk dibangku, ia masih tidak mengerti dengan ayahnya yang sangat kokoh menginginkan perjodohan itu, “ini sudah bukan zaman Siti Nurbaya kali” pikir Lian. Tidak lama setelah Lian masuk kelas Caca dan Mirza pun datang.
“Hari ini begitu gelap ya, kira-kira ada berita apa nih… bikin suasana kelas suram saja” ujar Mirza yang melihat Lian
duduk menghadap jendela dengan wajah yang murung.
“Mirza, Caca” Keluh Lian dengan muka yang memelas seakan ingin menangis.
“Eh… Eh… Eh… kenapa Li?” tanya Caca yang khawatir melihat Lian yang sangat jarang sekali mengeluh seperti itu.
“Ayah ngejodohin aku sama kak dion” ucap Lian dengan tampang yang begitu menyedihkan.
__ADS_1
“APA?” teriak Caca dan Mirza.
“Serius?” tanya Mirza yang seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
“kak dion yang diAustralian itu, bukan?” tanya Caca.
“iya benar, aku serius, nih…kalau aku dijodohin gimana dengan Razzi?!” ungkap Lian dengan memelas.
“Sekarang saja baru jujur dengan perasaan sendiri bahwa kau suka sama Razzi, kemarin kenapa enggak jujur saja coba, makanya aku bilang gerak kan… jangan diam saja, kalau suka ya bilang” cetus Caca dengan cerewetnya ia menceramahi Lian.
Sedangkan Lian hanya diam mendengarkan dengan adanya rasa penyesalan, ia berpikir coba saja ia bisa berani
ngungkapkannya. Tetapi siapa sangka bahwa diluar kelas ada seseorang yang mendengarkan pembicaraan Lian dan para sahabatnya.
“Raz… gawat!” teriak Jeki dengan nafas yang tak beraturan karena berlari, “Apa sih bocoh ini” kata Razzi dengan candanya, sedangkan Jino dan Edik lagi santai nya duduk malah menjadi kaget dengan teriakan Jeki.
“Dasar bocah gila, pakai teriak-teriak dikelas, kau kira sini hutan… dasar pergi sana kehabitan kau saja Jek, lebih
cocok… bisa teriak sepuasnya” Gerutu si Jino.
“Hei… Jin jangan komentari orang, kau perbaiki dulu gih… cara bicaramu yang kasar begitu, banyak-banyak ngucap” ujar Edik yang padahal ia juga kaget karena teriakan Jeki.
“Sudah ku bilang jangan panggil aku Jin namuku itu Jino pakai NO nya tai…” pinta Jino dengan sangat menegaskan namanya.
“WOII… dengerin dulu kenapa sih, kok pada sibuk begini… bahaya nih bahaya, DANGER !!!”
“Apa DANGER nya?” tanya Razzi yang agak meledek Jeki.
“LIANDARI SANG BIDADARI LO MAU DIJODOHIN SAMA AYAHNYA TAHU!!!!!” Dasar bodoh.
“Jangan bercanda lo Jek, enggak lucu ya” ujar Razzi.
“Siapa yang mau ngelucu coba, aku lihat dan dengar dengan mata beserta telinga bahkan badanku sekalian deh” terang Jeki, “Lah nyesel, kan lu… makanya dari dulu tembak Liannya, sekarang macam mana coba, lambat amat… banyak pikir sih, asal kamu tahu saja ya… ternyata Lian selama ini juga suka sama kamu, nyesel kan nyesel kan, dasar BODOH” ungkap Jeki yang kesal dengan teman nya yang sangat lambat geraknya.
Razzi terdiam mendengar semua perkataan Jeki. Dia merasa sangat menyesal, dia bingun sekali harus bagaimana sekarang, apa masih sempat dan ada tempat untuknya lagi atau semuanya telah terlambat dan ia melewatkan kesempatan yang sangat berharga selama ini. Kesempatan yang entah akan ada atau tidak yang kedua kalinya. Razzi berharap ini semua hanyalah khayalan terbodoh yang ia punya.
***
“Aku tidak ingin bayanganmu, dirimu, hatimu, segalanya tentangmu meninggalkan aku. Kau yang bagaikan lautan yang tenang, tanpa sadar diam-diam menenggelamkan aku dengan rasa dan kenyamanan yang kau punya, kau memberikan rasa itu kapadaku, tetapi kini… air yang tenang berubah menjadi hempasan ombak, aku tersadar bahwa selama ini aku terus bereda dizona nyamanku sendiri sedangkan kau terus memberi tanpa kusadari” pikir Razzi.
“Liandari berikanlah aku waktu untuk memperjuangkanmu. Karena inginku, egoku, dan obsesiku adalah kamu, ku ingin menjadi milikmu dan kamu memiliki aku… dan hanya aku. Maaf selama ini ku hanya diam, mungkin memang kecil kemungkinan tapi akan tetap ku perjuangkan” Tekad Razzi yang begitu besar.
Tidak berselang lama setelah Razzi mendapat kejutan yang tidak terduga itu bahkan membuatnya sampai kebingungan dan menyesal atas bodoh dan lambatnya dia.
“Malam ini sungguh gelap bahkan bintangpun tidak Nampak dilangit” gumam Lian yang sedang membuka jendela dan melihat langit malam, Lian menarik kursinya hingga berada didepan jendela dan ia duduk didekat kursi tersebut.
“Wah… sudah begitu gelap sekarang malah hujan pula, ayah pasti lagi sembunyi dikamarnya, huuf” lirih Lian dengan menghembuskan nafasnya.
Matanya begitu sayu dan terpaku melihat keluar jendela kamar, “Suara hujan malam ini sungguh membuatku sedikit tenang… walau hati ini masih terasa bergemuruh” Mata yang terpaku dengan pikiran yang terus berjalan. Dalam diamnya Lian, tin… tin… terdengar suara klakson motor yang sangat akrab ditelinganya, “Razzi… kenapa dia kesini?” gumam Lian dengan penuh pertanyaan.
bersambung...
__ADS_1
apakah yang Razzi lakukan ???