CINTA ABADI DIHUJAN MALAM

CINTA ABADI DIHUJAN MALAM
Episode 12 tak terduga


__ADS_3

Aku dan Dion menghampiri orang yang hampir kita langgar. Dion pun bertanya kepada orang itu, " Kamu tidak apa-apa? apa ada yang luka?" tanya Dion yang berjongkok karena orang tersebut terduduk lemas dijalan sambil menutup mukanya.


"A... Aku..." Terbata-bata.


***********


 


"Ayo... katakan saja, aku akan bertanggung jawab" ujar Dion.


Caca pun heran kenapa orang tersebut bicara dengan terbata-bata dan hanya mengatakan aku. Sehingga Caca ikut bertanya, "Apa ada yang luka?"


“aku… aku… huufff” Terbata-bata lagi dan akhirnya menghembuskan nafasnya  untuk menenangkan dirinya.


Melihat orang tersebut menghembuskan nafas akhirnya Caca berpikir bahwa orang tersebut mungkin saja masih syok. Maka Caca mengusulkan  untuk menepi dan duduk dengan tenang.


 


“Kak, ajak dia ketepi aja dulu”  Usul Caca kepada Dion. Dan Dion hanya mengangguk menyetujui pendapat caca. Dion pun membantu orang itu berdiri dan mengajaknya ketepi jalan untuk duduk. Caca yang melihat orang tersebut sepertinya masih kaget maka ia dengan sigap membuka pintu mobil dan mengambil air putih dibotol yang baru ia beli dan memberikan keorang tersebut.


 


Caca mengulurkan tangannya yang memegang botol air dan memberikan keorang tersebut. Orang itu memandang Caca dan terlihat sedikit menghembuskan nafas sambil tersenyum dan mengambil botol tersebut.


Ia terlihat kesusahan membuka botol yang memang baru dibeli dan sedikit ketat. Dion tanpa bertanya langsung mengambil botol itu dan membukanya. Setelah itu ia berikan sambil berkata, "Minumlah agar kau lebih tenang" ucapnya.


Muka orang tersebut terlihat datar saja, beda dengan ketika ia melihat Caca, ia tersenyum pada saat itu. Ia menghabiskan air itu dengan sekali teguk. "Wouu... sepertinya dia begitu kaget tadi" kata Caca dalam hati melihat orang tersebut minum.


Selesai orang itu minum dan mengambil nafas untuk menenangkan dirinya barulah Dion kembali bertanya, "Apakah kita sudah bisa bicara" tanya Dion dengan suara khasnya yang lembut. "Iya" jawabnya.


Dan ia pun kini memberi tahu kepada semua orang yang mengerumuninya bahwa ia baik-baik saja dan masalah ini akan dijadikan masalah kekeluargaan saja, setelah mengatakan itu ia pun meminta semuanya bubar serta berterima kasih.


 


"Oke... lantas bagaimana? apa ada yang terluka" tanya Dion khawatir, "Tidak, aku baik-baik saja, cuma kaget saja" balasnya.


"Emm... aku tidak tahu harus memanggil kamu apa, maka dari itu perkenalkan... namaku Caca" ucap Caca memperkenalkan dirinya.


Dia tersenyum. "Namaku Halena, panggil aku kakak saja juga enggak apa-apa. Toh, kamu masih SMA kan?" kata Halena, "Eh... tahu aku masih SMA dari mana?" tanyanya heran, "Dasar bodoh, kamu kan pakai seragam sekolah SMA"  jelas Halena mengaitkan bibir.


"O... iya ya,  hahaha..." ujarnya tersenging dengan wajah yang memerah karena malu.


"Sungguh bodoh anak itu" Dalam hati Dion sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah Caca.


 


Halena juga bertanya siapa lelaki yang bersama dengan Caca sedari tadi yang juga membukankan botol minumnya. Dan Caca pun mengenalkan Dion. Mereka sekarang saling berkenalan.


Halena tidak meminta biaya apapun, ia mengatakan bahwa ini juga salahnya yang berjalan tidak mandang-mandang. Karena Halena tidak meminta ganti rugi apapun, maka sebagai bentuk tanggung jawab dan ketulusan dari Dion. Dion menawarkan untuk mengantarkan Halena sampai kerumah.


Dengan susah payah Dion membujuk Halena agar mau menerima tawarannya. Hingga pada akhirnya menetujui. Mereka pun masuk kemobil dan pergi melesat menuju kerumah Halena.


**********


 


Setelah mengantarkan Halena, mereka pun pulang kerumah. Dari Luar terdengar suara mobil yang sangat akrab ditelinga Mirza. Mirza yang tadinya sedang asik saling bercanda dengan Jino, langsung berhenti dan membuka pintu. Tidak salah... pendengarannya begitu tajam dan tepat, suara mobil itu adalah suara mobil Dion dan Caca yang baru saja pulang.


"Ca kok lama" panggil Mirza dari depan pintu. Caca yang tadinya baru keluar dari pintu mobil dan berjalan mendekat Mirza, tiba-tiba dikejutkan oleh Jino yang berdiri tepat dibelakang Mirza.


 


Wajah Caca terlihat seperti sedikit kaget dengan raut yang agak sedih. Dengan seketika pula  hati Caca serasa terenyuh. Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara berlahan. Terlihat gampang bagi seseorang yang tidak mengetahui betapa sakitnya hati Caca. Pada saat itu ia langsung merubah mimik mukanya menjadi tersenyum.


Dion melihat Caca yang seperti itu menjadi kasihan. "Anak itu cocok sekali bermain diperfilman, begitu mudah nya ia mengubah raut wajahnya menjadi tersenyum tanpa celah" ujar Dion dalam hati mengatai Caca.


 


Caca tidak menanggapi pertanyaan dari Mirza. Dia hanya membalas dengan senyuman dan mengajak mereka semua masuk dulu dan duduk. Mereka pun masuk, dan akhirnya Caca merasa sangat lega telah sampai dirumah. Ia bersandar disofa dengan sangat nyaman.


Sedangkan Mirza masih bertanya-tanya dalam hatinya, mengapa mereka begitu lama sekali pulangnya?


Tidak sampai beberapa menit Caca pun membuka suara. "Mir, tadi kita hampir langgar orang" ujar Caca, "Apa?!"  teriak Mirza kaget, "Serius? terus bagaimana? Caca dan kak Dion enggak apa-apa?" Sambung Jino bertanya dengan begitu banyak kepada aku dan Dion.


 


Padahal Jino bertanya kepada kami berdua. Tetapi aku malah terfokus pada satu pertanyaannya yaitu "Caca dan kak Dion enggak apa-apa?"


Pertanyaan untuk dua orang tapi nama Kak Dion serasa hilang pada saat itu. Dan aku hanya mendengar, " Caca enggak apa-apa?"


 


Ketika mendengar pertanyaan itu pikiranku hilang dan membulat hanya pada satu pertanyaannya yang menghilangkan nama kak Dion. Aku termenung dengan bibir yang tiba-tiba mulai merekahkan senyum. Aku tak tahu pada waktu itu ternyata kak Dion memandangku.


Dengan cepat Kak Dion membuyarkan segalanya dengan senggolan sikunya. Aku dan Kak Dion pun saling memandang. Aku yakin sekali, kalau pada waktu itu mukaku sangat lah bodoh. Dengan sigap aku memalingkan muka bodohku dari pandangan Kak Dion.

__ADS_1


 


Aku spontan langsung menjawab pertanyaan Jino. "Kami berdua enggak apa-apa, aman kok... semuanya terkendali" ujarku bicara dengan cepat. Jino terlihat agak bingung dengan sikapku. Tapi ia mencoba memakluminya dengan tidak banyak bertanya.


Dan ia hanya hanya membalas dengan, "Baguslah, jika sudah terkendali semuanya" balasnya. Aku hanya tersenging pada saat itu, aku menjadi salah tingkah. Aku harap Mirza tidak menyadarinya.


Tetapi harapan Caca sepertinya akan menjadi sia-sia. Ternyata Mirza sedari tadi sudah merasa aneh dengan Caca, dan ia pun menatap tajam Caca. Dan Caca pun sengaja melarikan tatapan matanya, agar tidak saling bertatapan dengan Mirza.


 


Kreeek... suara pintu dibuka. Dengan seketika mereka semua memandang kearah pintu yang dibuka. Dan ternyata Lian dan Razzi yang datang. "Hai guys kalian lagi kumpul-kumpul ya?" kata Lian sembari tersenyum dan menghempaskan tubuhnya kesofa yang begitu lemut.


Razzi pun ikut duduk disamping Lian dan ia meletakkan tas yang ia bawa kebawah kakinya. "Ca... kok kamu belum ganti baju" tanya Lian yang melihat Caca masih mengenakan baju sekolah.


"Dia baru pulang kok, gimana mau ganti baju" sahut Mirza, "Eh... baru pulang?" kata Lian heran.


"Iya, tadi diperjalanan mau pulang ada kendala sikitlah" ucap Dion, "Kendala?" tanya Lian mengerutkan keningnya.


 


Dion menceritakan dari awal sampai akhir kejadian. liandari begitu kaget mendengarnya, ia sangat cemas dengan Caca. Setelah mendengar perkataan dari Dion ia langsung berpindah tempat duduk. Kini ia duduk disamping Caca dan ia dengan cepat mengangkat tangan Caca dari yang kiri hingga kanan, bukan hanya itu... ia juga melihat muka Caca berkali kali.


Liandari melihat dari atas sampai bawah apakah Caca terluka. Padahal Caca sudah bilang bahwa ia baik-baik saja.


Setelah memastikan dirinya dengan melihat secara langsung dengan teliti barulah Lian percaya bahwa Caca baik-baik saja. Pada saat itu Lian juga sempat-sempatnya memarahi Dion dan Dion hanya diam dan mengangguk saja saat dimarahi Lian.


 


Didalam hati sebenarnya Dion merasa tingkah Lian sangat menggemaskan, Dion diam dan menundukkan kepalanya. Ia bertingkah seperti anak kecil yang dimarahi ibunya.


Dibalik diam dan tunduknya diam-diam Dion mengaitkan senyum dibibirnya.


Setelah selesai memarahi Dion mereka semua berbincang-bincang dengan serunya, gelak tawa memenuhi ruangan. Sampai mereka semua tidak sadar bahwa waktu terus berjalan dan sekarang sudah  mau magrib. Razzi dan Jino pun pamit pulang.


**********


 


Keesokan Harinya Di Sekolah.


Jam istirahat. Seperti biasa para murid akan kekantin. Dan kali ini Razzi beserta sahabatnya dan juga Liandari beserta sahabatnya duduk disatu meja yang sama. Ini adalah pertama kalinya bagi mereka. Mereka saling berbicara dan bercanda dengan riang.


Sampai dimana Razzi bertanya kepada Lian, "Lian, semalam ayah kamu kenapa tanya soal dion ya?" tanya Razzi yang tiba-tiba teringat akan masalah semalam.


Karena suara bel yang menandakan dimulainya pelajaran selanjutnya, yang membuat mereka bubar dengan pikiran yang dipenuhi kebingungan.


**********


 


Dreettt... dreettt... getaran handphone ayah lian. "Sayang... ada yang menelpon" teriak istrinya dari tempat tidur, "Siapa?" sahut Ayah lian dengan suara yang keras.


Ibunda lian pun mengambil hp dimeja sebelah tempat tidurnya dan melihat siapakah kiranya yang menelpon. Ternyata yang menelpon adalah dion.


"Sayang... dion menelpon" teriaknya lagi, "Angkat saja, bentar lagi aku siap" pinta suaminya yang dengan cepat ia membilas tubuhnya yang dipenuhi akan busa sabun.


 


"Hallo..." sapa Ibunda lian, "Oh... tante, apa kabar tan?" tanya Dion sopan, "Seperti biasa, baik kok... ada apa handsome?" ujar Ibunda lian, "Baguslah jika tante baik-baik saja, itu... apa Om nya ada tan?" tanya Dion, "Ada, tunggu sebentar ya, Om nya lagi mandi, paling bentar lagi siap" ucap Ibunda lian.


Tak lama Ibunda lian berkata seperti itu suaminya pun keluar dari kamar mandi dengan masih menggunakan handuk yang ia lilitkan dipinggangnya.


"Oh... itu dia sudah selesai, oke Dion... ini silahkan bicara dengan Om" kata Ibunda lian yang memberikan hp tersebut kepada suaminya.


 


"Ya Dion" ujar Ayah lian. "Om, ini saya mau tanya... semalam ada apa ya Om nelpon saya? sekalian juga saya mau minta maaf karena tidak mengangkat telepon dari Om, ya... ada sedikit masalah saja semalam" terang Dion kepada Om.


"Haha... tidak apa-apa. santai saja, lagian Om cuma mau ngabarin kalau besok Om pulang keIndonesia, jadi... jangan kasih tahu Lian ya, biar jadi surprise, oke?!" pinta Om agar dirahasiakan kepulangannya.


"Oh... ya Om pasti, Om juga hati-hati pulangnya besok" kata Dion perhatian, "Oke... sudah dulu ya nak, Om harus pakai baju, jika tidak nanti tante kamu mimisan, hahahaha..." kelakar Omnya, "Hahaha... oke Om, saya matikan telponnya" Dan Dionpun mematikan teleponnya dengan diiringi tawa karena kelakar Omnya.


"Dasar, mana ada aku mimisan" cetus Ibunda lian, "Kurasa ada, malam pertama kita" ujar suaminya.


Dan Ayah lianpun mendekat keistrinya dan berbisik, "Malam pertama kita, kau mimisan" bisik suaminya yang membuat istrinya malu dan pipi nya merah merona.


Melihat hal tersebut Ayah lian pun tertawa terbahak-bahak, "Khahahahahaha... ..." tawa suaminya.


**********


 


Pagi Hari.


Burung-burung berkicau dan embun dipagi hari membuat suasana begitu menyegarkan. Liandari, Mirza, dan juga Caca bersiap-siap untuk pergi kesekolah. Sedangkan Dion sudah berada dibawah sedang memanaskan mobilnya.

__ADS_1


Liandari beserta sahabatnya pun turun dan menghampiri Dion. "Sudah siap?" tanya Dion yang melihat mereka bertiga sudah berdiri didekatnya. "Ya" jawab Mirza mewakili sahabatnya, "Oke, go" kata Dion sambil memerengkan kepalanya menunjuk kearah mobil.


 


Blam... suara pintu mobil ditutup. Setelah semuanya masuk, Dion pun menancapkan gas.


Dengan berhati-hati Lian membuka mulutnya dan berbicara, "Kak" panggil Lian yang duduk dikursi belakang, "Hmm..." jawab Dion singkat. "Nanti aku pulang agak lama ya?" pinta Liandari,  "Memang kamu mau kemana?" tanya Dion dengan wajah datar dan tetap fokus menyetir.


"Emm... mau jalan sama Razzi" ujar Liandari, "Boleh ya?" kata Liandari santai. "Tidak" ujar Dion singkat, "Haa... kenapa?" tanya Liandari, "Harus ada alasannya untuk kakak bilang enggak boleh? kalau kakak bilang tidak ya tidak!" tegas Dion kepada Lian.


"Apa sih, biasanya juga boleh, kenapa hari ini enggak boleh?" Protes Liandari, "Sudahlah Li" ucap Caca menenangkan Liandari sembari mengelus punggung tangan Lian. "Ck..." Lian berdecap kesal.


 


"Apa aku terlalu kasar ya sama Lian? mending aku kasih tahu sajalah kalau hari ini Ayah lian bakal pulang, biar dia enggak jadi jalan sama razzi, agar dia juga enggak bakal kena marah sama ayahnya" Pikir Dion yang mengkhawatirkan Lian.


Setelah sampai disekolah, Dion pun memberhentikan mobilnya. Liandari membuka dan menutup pintu mobil dengan sangat keras, sampai Dion kaget karenanya.


Dion ikut turun dari mobil, "Lian" panggil Dion. "Apa lagi? sudahlah!" ucap Lian kesal dan ia pun berjalan dengan sangat cepat.


 


Para sahabatnya pun ikut mengejar Lian. Dion tetap memanggil Lian beberapa kali sambil berteriak agar Lian dengar, tetapi Lian tak kunjung berhenti, malah ia semakin laju berjalan.


Dion mencoba menelpon Lian, tetapi Lian malah mematikan handphone nya. Dion juga mencoba menelpon Caca, tetapi Lian juga mematikan hp Caca, Dion tidak menyerah begitu saja, ia juga menelpon Mirza tapi hp Mirza ketinggalan dirumah.


Semuanya menjadi sia-sia. Dion ingin mengejer masuk kesekolah saja, tetapi hpnya berdering dan itu adalah panggilan dari kantor yang mengatakan bahwa gudang dikantornya kebakaran, dan Dion tanpa berpikir lagi ia langsung melesatkan mobilnya menuju kekantor.


**********


 


Sepulang Sekolah.


"Lian" panggil Mirza, "Hmm..." jawab Lian sembari mengemas buku-bukunya. "Kamu jadi jalan sama razzi?" tanya Mirza sambil membantu Lian memasukkan bukunya ketas, "Jadi, kenapa?" ujarnya, "Kak Dion kan sudah ngelarang kamu" kata Mirza, "Iya, mending enggak usah pergi deh" Tambah Caca.


"Apa sih, biasanya juga boleh, sudahlah... yuk keluar" ucap Lian tak mengindahkan perkataan sahabatnya.


Sesampainya diluar pagar sekolah. "Jadi?" tanya razzi yang tengah duduk dimotornya menunggu Lian. "Ya, jadi...yuk, guys aku duluan ya" ucap Liandari.


 


"Kok aku khawatir ya?" kata Mirza kepada Caca, "Sama. ngomong-ngomong kok Kak Dion belum jemput ya?" ujar Caca. "Iya" jawab Mirza sembari merangkul Caca.


"Eh... tunggu dulu, kok kamu enggak pulang sama jino?" tanya Caca yang baru sadar. "Hehe... jinonya lagi ada urusan mendadak dirumahnya.


 


"Apa sih aku, walau hanya sekilas, tapi kenapa aku merasa senang ya mereka enggak pulang bareng?" Dalam hati Caca.


 


5 Menit Kemudian.


Beep... beep... suara klakson mobil. "Masuk!" ajak Dion yang baru datang.


Mereka berduapun masuk kemobil. Dion melirik kearah kaca mobil yang berada diatas bagian tengah. Tetapi ia tidak melihat lian didalam mobil.


"Mana lian?" tanya Dion cepat. "Lian pergi sama razzi Kak" ucap Caca berhati-hati, "Apa!!" teriak Dion. "Kenapa enggak kalian larang!" seru Dion marah, "Su... susudah... tapi lian enggak dengerin kita" jelas Caca terbat-bata.


Mirza menjadi kesal melihat Dion yang marah-marah enggak jelas. "Memang kenapa sih? biarin saja kali mereka jalan" cetus Mirza kesal.


Sementara itu Dion tampak kebingungan, dan ia pun berdecap "Ck" sembari memukul-mukul setir mobil beberapa kali. Dion menyuruh Caca menelpon lian dan Mirza menelpon razzi, tetapi tidak ada salah satu dari mereka yang mengangkatnya.


**********


 


Dipersimpangan jalan Dion melihat razzi dan lian sedang naik motor dan mengarah kejalan pulang. Dion melajukan mobilnya untuk mencegat mereka berdua, tapi dipertengahan jalan ada sebuah mobil yang menghalangi Dion untuk melaju dan jalanan pun pada waktu itu sangatlah ramai dan ia tidak bisa untuk menyalip.


Sehingga membuatnya tidak bisa mengejar lian dan razzi.


Razzi mengantar Lian sampai didepan pintu rumahnya. Dan Lian pun mengetuk pintu. Tok tok tok... suara ketukan pintu.


Kreek... suara pintu dibuka. Betapa terkejutnya Lian melihat Ayahnya membukakan pintu. Matanya terbelalak, dan ia mematung, "Ayah...?" ujar Lian terkejut.


Bersambung...


 


badai apa yang akan terjadi??


GAES JANGAN LUPA LIKE AND KOMEN YAH...DI LIKE DAN KOMEN BIAR CERITANYA LANJUT TERUS, BIAR SEMANGAT NIH YANG NULIS KALAU ADA DUKUNGANNYA... DAN TERIMA KASIH YANG SUDAH BACA LIKE N KOMEN.


uppppsss....dan jangan lupa tip nya juga ya guys, hehe... :)

__ADS_1


__ADS_2