
Razzi yang sudah ngos ngosan berjalan dengan begitu cepat ke UKS untuk melihat caca dan meminta maaf, kini ia malah terberhenti didepan pintu UKS. Seharusnya ia melihat seorang gadis yang lagi kesakitan, tetapi sekarang ia malah melihat mereka tertawa terpingkal pingkal serunya.
"Ada apa dengan mereka, Jeki yang jarang-jarang tertawa sebebas itu, kini terlihat bahagia sekali, kok curiga ya" Pikir Razzi yang masih berdiri didepan pintu UKS dan masih ngos ngosan dan meletakkan sebelah tangannya dipinggang serta membungkukkan sedikit badannya.
*******
“Bro… ngapain lu?” tanya Jino menepuk pundak Razzi.
Tepukan dipundaknya Razzi menghamburkan rasa curiganya dan tergantikan dengan rasa kaget. Siapa sangka
ternyata Jino dan Edik menghampiri Razzi yang lagi melihat gelak tawa dari sahabatnya itu.
Dengan seketika Razzi membalikkan badannya melihat kearah Jino dan Edik yang berada tepat dibelakangnya.
“Ah… enggak ngapa-ngain kok” Dalih Razzi kepada temannya dengan nafas yang masih belum begitu teratur.
Dengan keringat yang bercucuran di dahi dan dipelipisnya antara mata dan telinga, serta keringat yang juga mengalir di lehernya yang jenjang yang membuat ia terlihat sangat keren dan gagah. Sungguh menawan. menjadikan mata para wanita ditawan, sehingga tak lepas dari pandang.
Sungguh…
pada saat itu adalah pemandangan yang sangat indah untuk dipandang bagi kaum hawa.
Tanpa aba-aba dan juga tanpa sadar, bagi perempuan yang melihat pasti akan melongo dan menelan air liur.
Gelak tawa yang tadinya pecah, perlahan-lahan mereda dan terganti dengan senyuman tersungging dibibir mereka.
Tidak selang beberapa waktu senyuman itu juga turut memudar karena terdengar suara orang lagi bicara didepan pintu UKS.
Caca yang tadinya baringan kini ia duduk dan sedikit memerengkan badannya untuk melihat siapakah kiranya yang lagi bicara didepan pintu.
Tetapi sepertinya sia-sia, toh yang terlihat hanyalah punggungnya saja. Caca merasa penasaran dan ia ingin melihat, sekalian ia juga mau kembali kekelas karena sebentar lagi pelajaran akan dimulai.
“Kamu yakin mau kekelas? Kepala kamu bagaimana?” tanya Jeki khawatir, “Enggak apa-apa, aku sudah enggak
pusing lagi kok” ujar Caca meyakinkan Jeki bahwa ia baik-baik saja.
Jeki yang melihat sepertinya Caca memang lumayan telah membaik akhirnya mengiyakan Caca untuk kembali ke kelas. Tidak lupa juga ia menawarkan untuk mengantar Caca kekelasnya.
Awalnya Caca menolak tawaran tersebut, tetapi karena Jeki sangat kukuh, maka Caca pun jadi tidak enak hati untuk menolak.
Dalam pikiran Caca, apalah artinya mengantarkan kekelas. Niat Jeki pun baik untuknya dan mungkin ia khawatir dan tidak ada salahnya juga menerima tawaran tersebut.
Jeki membantu Caca berdiri dan menggenggam tangannya. Hingga sampai di muka pintu UKS, yang ternyata suara-suara orang yang lagi bicara tadi adalah Razzi, Edik dan Jino.
Caca menyapa Razzi seperti biasa, “hei Zi, kamu ngapain disini?” tanya nya ramah, “E itu… anu… aku…” katanya
terbata-bata dan disela Caca, “Apa sih, ngomong saja kali, kok malah terbata-bata begitu, haha…” ujar Caca yang menyela perkataan Razzi tadi.
“Itu sebenarnya… aku mau minta maaf, tadi aku bener gak sengaja Ca” ucap nya menunduk merasa bersalah.
Seraya tersenyum Caca bilang bahwa ia memaafkan Razzi, dan juga tadi Jeki sudah membantunya, lagian tidak ada yang parah. Cuma pusing sedikit. Betapa leganya Razzi mendengar permintaan maafnya diterima. Razzi sangat senang ia tersenyum sumringah, terlihat jelas ia lega sekali.
Setelah itu Caca pun pamit untuk kembali kekelas. Tanpa sadar tangan mereka berdua bergandengan di sepanjang koridor. Banyak mata yang pada melirik kearah tangan yang saling menggenggam dengan erat.
Hingga Lian dan Mirza keluar kelas. mereka awalnya hanya ingin membuang sampah jajanan yang mereka makan. tapi siapa yang sangka rupanya ada pemandangan yang langka dan janggal untuk dilihat. Tangan yang begitu erat tak kunjung lepas hingga sampai didepan pintu kelas.
"Akhirnya sampai juga" kata Caca membuka suara, "Iya, kalau gitu, aku kekelas dulu ya" ujar Jeki yang sudah melepas tangan Caca. Caca berterima kasih sudah dibantu tadi dan ia juga tersenyum sambil melambaikan tangannya kearah Jeki yang berjalan pergi menuju kekelasnya.
"Kamu kemana saja sih say, lama amat ke ruang OSIS nya" tanya Lian. Diposisi mereka yang masih berada didepan pintu kelas.
"Sebenarnya sih enggak lama aku diruang OSIS nya, cuma tadi aku kena sial saja sih" jawab Caca santai seraya tersenyum, "Memang sial apa sih?" balas Mirza penasaran, "owh... tadi aku kena bo..." terpotong karena suara Razzi memanggil Caca dengan agak keras dari kejauhan.
"Apaan lah itu Razzi, kok teriak dikoridor" ucap Lian menggelengkan kepalanya melihat tingkah pacarnya.
"Caca kamu sudah enggak apa-apa kan, kalau misalnya ada yang sakit kasih tahu aku saja ya" ujar Razzi yang walau sedikit banyaknya ia masih saja khawatir.
"Eh... tunggu-tunggu, memang Caca kenapa?" Tanya Mirza mengerutkan keningnya, "Tadi pas aku lagi latihan basket sama anak-anak, aku enggak sengaja melempar bola dan enggak tepat sasaran, jadinya bolanya melayang kena kekepala Caca" jelas Razzi merasa bersalah.
"What?" seru Lian, "Jadi ini alasannya Caca enggak kelihatan dari tadi, dan ini semua karena kamu Razzi?" ujar Mirza yang sepertinya mulai marah.
Seperti api yang membara yang telah membakar Lian dan Mirza. Tetapi Caca yang bagaikan air langsung memadamkan api tersebut, hanya dengan beberapa kata. Api yang telah dipadam namun asapnya akan tetap ada, sedikit rasa kesal yang masih bisa digenggam erat oleh kedua sahabat itu.
__ADS_1
"Li, Mir... aku baik-baik saja kok, cuma benjol sikit, tadi juga Razzi sudah minta maaf dan ia juga sudah menyesal kok, oya... kamu kan lihat sendiri tadi, Jeki ngantarin aku kekelas, ia juga tadi sudah bantu ngompresin aku lo... jadi sudahlah, cuma kena bola saja, hehe" ungkap Caca menenangkan serta meyakinkan bahwa ia baik-baik saja.
Caca juga tersenyum saat menjelaskannya, agar kedua sahabatnya tahu kalau ia tidak kenapa-napa.
"Kalau Caca sudah bilang kayak begitu, maka kali ini bakal aku anggap berlalu saja, tapi ingat ! jangan sampai ada lain kali lagi, oke" terang Lian yang memberikan peringatan.
Sedangkan Mirza hanya mengangguk setuju dengan wajah yang serius dan tak lupa pula dengan tatapan sinisnya. Rasa lega dirasakan oleh Razzi dan Caca. Razzi lega sekaligus senang bahwa Lian memaafkannya. Sama halnya dengan Caca, ia juga lega karena sahabatnya tidak melanjutkan lagi permasalahan ini.
Mereka ingin kembali kekelas masing-masing, tapi sebelum pergi Jino sempat berkata kepada Caca bahwa.
Seraya tersenyum manis dan menepuk sebelah pundak Caca Jino berkata, "Kalau kamu ada apa-apa juga bisa kasih tahu aku lo" ujarnya begitu manis.
Setelah mengucapkan kata itu, Jino pun melangkah kedepan meninggalkan Caca dan menolehkan kepalanya kekanan serta mengedipkan mata nya dengan nakal dan berbisik kearah Mirza, "Wajahmu jangan selalu serius, karena jantungku tak kuat untuk terus berdegup" bisiknya menggoda dan tak lupa dengan kedipan mata yang nakal.
Dan mereka pun pergi kekelas masing-masing.
Kini ada dua orang yang pipinya merah merona. Bagi Mirza yang digoda oleh orang yang ia sukai. Tentu akan membuat ia berbunga-bunga, juga tak akan mampu menyembunyikan lagi pipi yang memerah serta senyum yang jelas tergambar diwajahnya.
Tetapi untuk Caca yang jelas ia tahu ini adalah kesalahan. Dia tahu ini salah, dia tahu perasaan ini tak seharusnya ada, dia tahu ini tidak boleh. Bagaimana pun ia menyembunyikan, menyamarkan, menipu orang untuk menutupi perasaannya. Tapi hati tidak pernah bisa bohong !. Akan ada kebenaran yang ia sadari walau selalu ia tutupi.
Sekarang perasaannya sama dengan Mirza. ia merasakan degupan jantungnya yang teramat kencang, pipinya juga memerah, tanpa ia sadari hatinya ikut berbunga walau hanya dengan kalimat Jino yang sederhana dan tidak memiliki makna.
Dengan susah payah ia menyembunyikan senyum yang merekah, wajah yang memerah. Dia tertunduk dan tidak bisa memaparkan apa yang ia rasakan. Kadang tatkala memang harus ada perasaan yang disembunyikan. Agar tidak menyeretnya dalam neraka terdalam, dan tidak meluluh lantakkan kenangan juga menghancurkan persahabatan.
**********
Malam yang tenang. Dipenuhi dengan Gemintang yang menghiasi langit malam. Semilir angin yang dingin, seakan membekukan tulang, dan mengetuk hati seseorang... mengungkapkan rasa yang terpendam.
Awal. Inilah permulaan.
Dibalkon rumah Edik.
"Malam yang dingin kayak begini, enaknya minum kopi, nih" ujar Jeki ke Edik yang baru menghampirinya kebalkon.
"Ya sudah bentar, aku bikinin dulu" balas Edik langsung turun kedapur dan membuat dua gelas kopi yang hangat untuk malam yang dingin.
"Nih, kopinya" Menyodorkan kopi yang ia bawa. "Makasi ya Bro" ujar Jeki menerima segelas kopi. Edik hanya membalas dengan kata "Hmm" yang artinya sama-sama.
"Tumben kesini sendiri, biasanya sama anak-anak" tanya Edik sembari duduk dikursi dekat balkon rumahnya. Maksud anak-anak disini adalah Razzi dan Jino.
"Anu... menurut kamu Caca itu bagaimana?" ucap nya sembari menyeruput kopi, "Baik, simpel, pintar, manis, ya... lebih kurang seperti itulah, kenapa?" tanyanya.
"Enggak ada, cuma nanya" Dalihnya sambil membuang muka.
Padahal sudah terlihat dengan sangat jelas diwajahnya, kalau ada apa-apa dibalik pertanyaan singkat itu.
"Kau suka sama dia, kan!" tegas Edik berdiri dan tegak disamping Jeki membuang muka tadi. "Apa? mau berdalih lagi?" ujarnya, dan menaikan satu alisnya.
"Entahlah, sebenarnya akupun tak tau" ungkap Jeki.
"Dasar... jika kau memang suka maka katakan saja, kenapa harus terlihat ragu. Dan lagi pula buat apa kau bertanya pendapatku tentang Caca, yang paling penting itu adalah bagaimana perasaanmu terhadapnya! bukan malah melihat pandangan orang tentangnya!" tutur Edik menasehati Jeki.
Terlihat jelas raut wajah Jeki yang kini berubah seperti orang baru mendapatkan pencerahan. Dengan ujung bibirnya yang tajam kini mulai mengait keatas dan matanya mulai menunjukkan adanya satu keyakinan.
Edik melirik ke arah Jeki dan seraya tersenyum sembari menepuk-nepuk belakang punggung Jeki dan berkata, "Ya... seperti itu! Nice, bro" ujar nya sambil melangkah mundur dan duduk ditepi kasurnya.
"Apalagi? konsultasi sudah selesai, Let's sleep!" ajak Edik.
Karena sekarang memang sudah sangat malam dan jam dinding sudah menunjukkan pukul 11:59.
**********
Kediaman Liandari.
Halaman pertama Diary Caca.
Perasaaan apa ini ? Apa tidak apa-apa jika aku merasakan ini ? Dilema ini menghantuiku. Apakah boleh aku merasakan senang walau sesaat. Hatiku tak bisa berbohong, bagaimanapun kusamarkan rasa ini. sekuat apapun aku menutupinya. Diluar kendaliku... bibir ini tak bisa menahan untuk tidak tersenyum.
Untuk dia ( J )
Halaman kedua disebalik halaman pertama Diary Caca.
Walau ia melangkah menjauh tapi mataku tak pernah bisa teralihkan dari sosoknya. Aku sadar bahwa aku berada dijalan yang lurus dan ia berjalan menjauh dengan jalan yang berbelok. Di persimpangan ia akan mengait tangan seseorang. Dan berjalan berdua dan hanya akan menyisakan punggung untukku.
Disudut yang tak pernah terlihat... aku ada, dan terus tersenyum kepadanya.
Disudut yang tak pernah terlihat... aku ada, dan terus memadamkan hati.
__ADS_1
Agar Hilang Dan Menjadi Abu, tidak menyisakan apapun.
Agar Hilang seperti tidak terjadi apapun.
Dan bisa memulihkan hati melalui perjalanan waktu, dan menyembuhkan luka diHATIKU.
Untuk dia ( J )
**********
"Emm..." Perlahan membuka mata dan mengucek beberapa kali dengan pelan. "Hoamm" Nguapan Lian sembari bangun dan duduk dikasurnya.
Liandari membuka ikata rambutnya dan merapikan dengan tangannya tanpa sisir, serta mengikatnya kembali.
Setelah merapikan rambut, ia melirik kesamping melihat kedua sahabatnya yang masih tertidur pulas.
Liandari berdiri sambil meregangkan badannya dan berjalan kearah jendela kamarnya.
Liandari membuka gorden dan menyeretnya kesudut sebelah kanan dan kiri. Kemudian ia membuka jendela sambil menghirup udara pagi yang segar.
"Selamat hari minggu" gumamnya seraya tersenyum. "Bagi anak sekolahan hari minggu adalah hari yang menyenangkan, dan sekarang... ayo lian, mandi mandi" ujarnya.
Sambil bersenandung menuju kamar mandi, tak sengaja Lian melihat kearah meja belajar.
"Eh... ini diary siapa ya?" ucap Lian memegang diary tersebut sambil membalik-balikkan diary. Ia melihat diary tersebut dengan teliti.
"Cantik banget, kayaknya baru dibeli... warna kertas didalam sepertinya bagus deh, coba buka kali ya" Pikir Lian yang sangat tertarik dengan diary tersebut, karena sangat lucu dan cantik.
Ia membukanya tanpa ada maksud lain, ia buka karena ia merasa diary tersebut menarik.
Ketidaksengajaan itu malah membuatnya menemukan sesuatu. ia membaca diary tersebut pada halaman pertama.
Lian terkejut. "Wah... berita besar" Dalam hatinya. "Anak itu, diam-diam ternyata lagi suka sama seseorang, tapi kayaknya dia kurang percaya diri" Pikir Lian yang hanya membaca halaman pertama.
"Hmm... apa ini? J?" gumam Lian yang matanya kini tertuju kehuruf J yang berada dipojok kanan bawah.
Liandari berpikir keras. Siapa itu J?
Hingga Liandari salah menyimpulkan sesuatu. Kesalahan itu manjadi kebenaran yang ia yakini sekarang.
"Oh my god..." Tanpa sadar suara Lian meninggi. Dia baru menyadari sebuah kebenaran yang padahal adalah sebuah kesalahan.
Dia tersenyum lebar karena baru mengetahui sesuatu. Sehingga membuatnya tidak melanjutkan untuk membalikkan halaman kedua dari diary tersebut.
Mirza yang merasa terganggu tidurnya. Maka ia langsung melemparkan bantal kepalanya tepat ke Lian. "Akhh..." ujar Lian kaget.
"Silent, aku mau tidur" ucap Mirza dengan suara yang agak serak dan memejamkan matanya kembali. Sedangkan Caca ia masih tertidur lelap tanpa terganggu dengan suara Lian tadi.
Lian berjalan ketepi kasur dekat Mirza tertidur. Ia menggoyang-goyangkan tubuh Mirza, "Mir, bangun... ada hot news nih".
"Sudahlah jangan menggosip pagi-pagi, dosa... ingat dosa" ujar Mirza antara sadar dan tidak dengan suara yang pelan.
"Iiisss anak ini" gumam Lian kesal. "Caca suka sama cowok" kata Lian langsung ke intinya sembari berbisik ditelinga Mirza.
Mirza yang tadinya masih enakan tidur kini matanya terbelalak dan langsung duduk dan menoleh kearah Lian.
"Serius" tegas Mirza. "Siapa? Sejak kapan? Kok bisa?" Mirza yang menghujani pertanyaan. "Maaf say, aku sudah tobat... enggak bergosip lagi" ujarnya mengembalikan kata-kata Mirza dengan candaan.
"Seriua Caca suka sama siapa sih?" Karena kepo dan tidak sabaran tanpa sadar suaranya terdengar sangat keras. Membuat Caca terbangun. Caca mendengar jelas perkataan Mirza barusan.
Sehingga membuatnya terkejut sekaligus takut. Jantungnya berdegup dengan sangat cepat. Ia langsung teringat akan diary yang ia tulis malam tadi.
Caca mengira mereka telah membaca semuanya. Kini betapa Caca sangat mengutuk dirinya karena tidak menyembunyikan diary tersebut.
Dengan berpura-pura tidur ia mendengar secara seksama obrolan kedua temannya. Sementara ia sangat ketakutan, darahnya seperti turun dan naik dengan cepat. Lebih kurang seperti sedang menaiki roller coaster yang berliku-liku dan terlihan curam dan suram.
Bersambung
apa yang akan kedua sahabat itu bicarakan, akankah semuanya terbongkar begitu saja??entahlah.
GAES JANGAN LUPA LIKE AND KOMEN YAH...DI LIKE DAN KOMEN BIAR CERITANYA LANJUT TERUS, BIAR SEMANGAT NIH YANG NULIS KALAU ADA DUKUNGANNYA... DAN TERIMA KASIH YANG SUDAH BACA LIKE N KOMEN.
uppppsss....dan jangan lupa tip nya juga ya guys, hehe... :)
__ADS_1