CINTA ABADI DIHUJAN MALAM

CINTA ABADI DIHUJAN MALAM
Episode 15 menghindar


__ADS_3

Muka lesu dan terdiam duduk dikursinya. “Wah… Ca lihatlah dia, kenapa lagi itu anak” ujar Mirza kepada Caca, “Entahlah… yuk kesana, kita lihat dia” jawab Caca. Mereka pun pergi mendekat kearah Liandari. Mirza yang iseng sengaja mengagetkan Lian dari belakang… dan, “Liaaann…” teriak  Mirza sambil memegang kedua bahu Lian dari belakang untuk mengagetkannya.


Liandari sangat kaget sampai sampai ia ikut berteriak, “Aaaakkhh…”teriaknya kaget. Dengan cepat iya melihat kebelakangnya dan ternyata yang mengagetkannya adalah Mirza. Sedangkan Caca hanya tertawa melihat tingkah kedua sahabatnya.


 


Mirza kini setengah berjongkok dan dari samping mengahadap ke Lian. “Yoo… kok kelihatannya ada yang lagi murung” sindir Mirza dengan arah bola mata yang tertancap jelas ke Liandari.


“Ah… dasar, sok tahu kamu” cetus Liandari sambil menompang dagu. “Enggak usah mengelak, cerita sajalah ke kita...  ada apa?” ujar Caca.


Dan lagi lagi Liandari menghembuskan nafasnya, “Huuff…”


 


Beberapa menit berlalu. Liandari menceritakan "kronologi" mengapa hari ini ia murung. Ia menceritakan kejadian tadi malam. Sahabatnya terdiam tidak bisa berkata-kata ketika mendengar cerita dari Lian. Mereka berduapun sungguh tak menyangka kalau ayah Lian benar-benar  tidak menyukai Razzi hanya karena perbedaan kasta.


Jangankan teman-temannya, Liandari sendiripun tidak percaya. Karena perbedaan kasta, ayahnya tidak menyetujui hubungan mereka dan yang lebih parah ayah Lian juga berkata kasar kepada Razzi.


Sebenarnya kali ini Liandari sangat malu jika bertemu Razzi.  Walau Razzi tidak menyerah dan tidak mempermasalah kan perlakuan ayahnya terhadap dirinya. Namun rasa tidak enak tetap saja ikut serta didalam hatinya.


 


“Bersabarlah, aku yakin suatu saat ayah kamu bakal melunak, dan semoga ayah kamu bisa melihat kebaikan Razzi dan tidak hanya terpatok pada kasta” ucap Caca menyemangati.


“Yap… bener banget yang dikatakan Caca. Semangat! Razzi juga enggak bakal biarin kamu bertunangan dengan kak dion, hehe…” kata Mirza turut memberi semangat.


“Guys kalian baik banget, sayang deh” Manja Lian kepada sahabatnya sambil berpelukan dan tersenyum.


 


“Jika kalian laki-laki pasti aku dilema milih antara Caca dan Mirza, karena kalian baik banget” ujar Liandari sambil


tetap berpelukan bertiga. Seketika saat mendengar perkataan Lian, Caca dan Mirza pun dengan cepat melepas pelukan mereka.


“Li… kamu membuat aku merinding” cetus Mirza dengan raut wajah yang seperti melihat sesuatu yang menjijikkan.


Melihat Mirza menjauh dan berkata seperti itu Lian pun melirik kearah Caca yang rupanya juga menjauh dari nya dan berkata, “Ah… apa kita harus jaga jarak ya?!” ujar Caca dengan wajah yang enggak enak.


“Ha” tawa Lian, “Haahaa” tawa Lian, “Hahahahaahahahahahaa” tawa Liandari pecah melihat kedua sahabatnya. Lian yang tertawa membuat kedua sahabatnya ikut tertawa dan akhirnya mereka bertiga tertawa terbahak-bahak.


 


"Aku adalah orang yang sangat beruntung kini. Aku sangat beruntung memiliki sahabat seperti kalian, jika pada saat ini tidak ada kalian mungkin aku tidak akan bisa tertawa sekarang, yah... walaupun hanya beberapa menit disaat kalian berada disisiku, namun aku bahagia, aku sangat berterima kasih" Dalam hati Liandari.


 


 


Saat Istirahat.


Bel berbunyi. Dengan cepat Razzi datang kekelas Liandari dan mengajaknya kekantin, “Sayang, yuk kekantin” ajak Razzi.


“Oh… itu… kamu duluan saja Zi, aku dipanggil Buk Jasmine” ujar Liandari.


“Kapan Buk Jasmine manggil kamu Li” tanya Caca, “Ada kok ada tadi, aku duluan ya” Dengan tergesa-gesa Lian pergi dan meninggalkan Razzi begitu saja.


 


 


Dikoridor.


“Lian” panggil Razzi. “Ya… kenapa Zi” balas lian. “Kamu dari mana?” tanya Razzi, “Dari kamar mandi” jawabnya singkat.


“Ketaman yuk, atau kita kekantin” ajak Razzi, “Aku buru-buru Zi, nanti aku diomelin lagi kalau lama” ucap Liandari.


“Aku dengar kelas kamu lagi jam kosong!” ungkap Razzi mengerutkan kening.


“Wah… wah… wah… kenapa tuhan tidak melindungiku untuk berbohong kali ini saja” Dalam hati Lian yang mulai cemas.


“Eh… si siapa bilang, ada gurunya kok, udah ya… bye Zi” balas Lian terbata-bata, dan ia pun dengan cepat langsung lari.


“Dia kenapa ya?” gumam Razzi heran.


 


 


Pulang Sekolah.


“Li… Liandari,  sayang” teriak Razzi sembari berlari-lari kecil menuju Lian. “Bareng yuk” ajak Razzi, “Enggak bisa. Aku sudah dijemput, duluan ya” Liandari pun langsung pulang.


“Bro… itu lian kenapa? Kok buru-buru amat?” tanya Jino, “Entahlah… aku juga enggak tahu, hari ini dia bersikap aneh, dia kayak lagi menghindar dari gua” ungkap Razzi sambil menggaruk kepalanya bingung.


“Bro kamu pasti berbuat salah” kata Jino, “Salah? Kayaknya aku enggak ada salah deh” ucap Razzi.


“Kamu berarti adalah tipe cowok yang enggak peka, enggak mungkin lian seperti itu tanpa alasan. Dan sekarang kamu tidak tahu salah kamu apa? Parah! Sangat parah kamu!” ujar Jino dengan celotehnya.

__ADS_1


"Apa karena masalah tadi malam ya" gumam Razzi, "Eh... ya, lo bicara apaan barusan Zi?" tanya Jino yang tidak mendengar jelas gumaman Razzi.


"Ah... enggak kok, enggak ada apa-apa, yuk pulang!" ajak Razzi, "Apa sih itu anak, enggak jelas banget" pikir Jino.


**********


 


Dirumah Liandari.


Tok tok tok… pintu kamar Liandari. “Ya masuk, enggak dikunci” kata Liandari, “Anak Ayah lagi pilih-pilih baju ya untuk nanti malam” tanya Ayahnya,  “Emm…” jawab Lian singkat dengan wajah murungnya.


“Nak, segitu tidak sukanya ya kamu dinner sama dion? Kurang apa sih dion itu,, sehingga kamu tidak suka?” cetus


Ayahnya.


“Memang kak dion itu sebegitu sempurnanya ya, yah?” balas Liandari dengan ekspresi yang serius.


“Apa kamu tidak punya mata? Tidak bisakah kamu melihatnya? Justru Ayah bingung sama kamu, apa hebatnya sih bocah modal tampang itu? Sebenarnya entah apa kurangnya dion dimata kamu?!” ujar Ayahnya sembari


menggelengkan kepala.


“Ayah mau tahu apa kurangnya kak dion? Kurangnya adalah dia ti..” Tiba-tiba Dion datang dan memotong ucapan


Liandari.


“Kurangnya adalah aku tidak ada dihati Lian, ya kan?” sela Dion dengan sudut bibir yang menggait.


 


Liandari terdiam saat itu. Dia meggigit pelan sudut bibir bawahnya dengan menggerutkan keningnya. Kini Liandari sangat sangat merasa tidak enak dengan Kak Dion. Entah sejak kapan Kak Dion berada disana. Tetapi perkataan Kak Dion tadi sangatlah mewakili ucapan yang ingin ia utarakan.


 


“Oh… itu kurangnya?” cetus Ayah Lian dengan wajah yang sangat murka. Terdengar jelas Ayah Lian menggertakan giginya dengan wajah yang memerah.


“Terus. Lebihnya anak modal tampang itu apa?” tanya Ayah Lian dengan tatapan mematikannya.


“Namanya Razzi, bukan anak modal tampang” jelas Lian berhati-hati.


“Hooouuuuhhh…” Helaan nafas kekesalan Ayahnya. “Bagaimana pun cara Ayah memanggilnya itu bukan hal yang penting. Kamu hanya perlu menjawab apa lebihnya anak itu?” ucap Ayah Lian.


 


“Dia tidak mempunyai kelebihan seperti Kak dion. Dia juga tidak sempurna. Dia bukan dari keluarga berada. Dia


“Tapi… tapi!! Dia adalah orang yang baik, perhatian. Walau bukan dari keluarga berada, namun ia adalah orang yang bekerja keras. Dia tidak pintar, namun setidaknya ia juga punya prestasi dibidang olahraga, yaitu basket. Dia adalah orang yang kuat. Dia tidak pernah mengenal kata menyerah. Dan yang paling penting adalah… karena aku mencintainya” ungkap Liandari berkaca-kaca.


 


“Apa kamu bilang? Cinta?” ujar Ayah Lian dengan nada mencemooh.


“Kenapa? Apa yang salah? Aku tidak boleh jatuh cinta dengan Razzi, tetapi aku disuruh untuk mencintai Kak Dion


yang tidak aku suka! iya, begitu yah? Cinta itu tidak bisa dipaksa, yah” lirih Liandari.


“Tahu apa kamu tentang cinta. Sekarang mungkin kamu tidak mencintai Dion, tapi bisa saja suatu hari nanti akan berubah. Tidak ada yang tahu, bukan?" jelas Ayahnya.


Lanjut Ayahnya "Lagian anak modal tampang itu tidak bisa diandalkan. Mau bagaimana pun kamu menolak tapi kamu tidak akan bisa mengelak dari perjodohan ini” tegas Ayahnya.


 


Dion yang tidak enak melihat pembicaraan itu langsung pergi meninggalkan kamar Liandari. Dan sekarang mau


tak mau mereka berdua akan dinner dan selanjutnya adalah membuat rencana pertunangan.


Ayah liandari juga menyuruh putrinya untuk menjauh dari razzi. Jika liandari tidak mendengarkan maka ayahnya akan langsung membuat acara pertunangan dan mungkin saja ketika tamat sekolah nanti liandari langsung menikah.


Liandari merasa sangat sedih. Beberapa kali ia berteriak dikamarnya melepas rasa sedih dan kesalnya. Namun,


bagaimanapun isak tangis dan teriakkan-Nya, semua itu tidak akan berpengaruh apapun. Tapi tidak dengan dion. Justru ia merasa sedih dan tidak enak hati kepada liandari.


 


 


“Cinta tidak bisa dipaksa.  Aku hanya ingin bersama dengan orang yang menduduki hatiku. Tetapi.. .mengapa di zaman modern kini masih ada yang namanya perjodohan? Dan mengapa hanya karena perbedaan kasta, harus ada perpisahan yang nyata. Tidak bisakah ini dijadikan mimpi buruk saja?” Liandari.


 


 


Apa yang membuat kita manusia terlihat berbeda? tak lain hanyalah sikap dan amal kita dimata sang maha kuasa. Tapi kini mengapa dihadapan sesama manusia kita terlihat begitu berbeda!?. kasta atau pun harta yang bisa hilang kapan saja. mengapa begitu dibanggakan dan menjadi sebuah perbedaan.


Rupa dan harta adalah suatu hal yang tidak pasti, yang bisa hilang dengan putaran kehidupan. Lantas... mengapa orang-orang masih saja sombong dan angkuh dengan apa yang mereka punya. Padalah suatu hari nanti. Besok, lusa atau mungkin hari ini bisa saja itu semua hilang begitu saja. Siapa yang tahu bukan?


Apa sebuah kejayaan, kuasa, bisa membutakan hati seseorang sedemikian rupa? Hingga tidak bisa lagi melihat ada orang yang berhati tulus dan baik walau orang itu tidak memiliki kuasa, kasta dan harta! Bagi orang yang tidak setara dengan kejayaan dan kasta kita, apa harus semua itu langsung digariskan dengan sebuah perbedaan yang besar???.

__ADS_1


Langsung tertera ketidakpantasan untuk orang itu. Haruskah seperti itu? Jika memang begitu. Aku merasa dunia ini begitu begitu picik!!.


**********


 


Malam Hari.


Malam kembali datang. Saatnya dinner dengan dion pun tiba. Malam ini Liandari berpakaian dengan rapi namun terlihat bisa saja, tidak seperti kebanyakan orang yang berdandan secantik mungkin. Jika saja yang akan dinner dengannya adalah Razzi, pasti ia sudah sangat kerepotan harus memilih baju dan berdandan semaksimalnya. Namun karena ia pergi dengan Dion, maka ia berdandan seadanya saja.


Tidak disangka-sangka bahwa malam ini malah turun hujan. Ada sebersit rasa senang dihati liandari. Ia berharap untuk tidak jadi dinner. Ketika Dion mengajaknya pergi, lian pun memakai alasan hujan dan mengatakan untuk lebih baik dinnernya besok-besok saja.


Awalnya dion setuju-setuju saja, namun sebuah pesan masuk ke Handphone liandari yang bertuliskan, "Nak, walau hujan kamu tetap harus pergi, kamu juga pakai mobil dan pastinya tidak kehujanan, ayah berharap kamu tidak memakai alasan hujan untuk membatalkan dinner malam ini" Pesan ayah lian yang terkirim.


"Jalan buntu" Pikir Liandari, "Sudahlah, mending pergi saja dari pada ayah tambah murka. Lian kamu hanya perlu pergi, makan, dan pulang, ya" Dalam hati menyemangati dirinya sendiri.


 


"Pak buka pagarnya" teriak Dion dari pintu rumah kepada penjaga pagar dipos.


"Kreeettt..." Bunyi pagar dibuka.


Dion membukakan pintu mobilnya untuk liandari, dan setelah lian masuk kedalam dion pun menutup pintu mobilnya kembali. Sedangkan ia sendiri memutari mobilnya dari depan dan masuk kedalam. Dengan berlahan-lahan mobil tersebut mundur dan akhirnya menancapkan gas.


 


Disepanjang jalan mereka berdua terlihat sangat hening. Dion dan Lian saling menggenggam rasa canggung. Bahkan sudah lewat beberapa lampu merah yang mereka lewati, namun tidak ada salah satu dari mereka berdua yang ingin membuka percakapan duluan.


Hingga pada akhirnya Dion sudah tidak tahan lagi dengan kecanggungan tersebut. "Lian..." panggil Dion, Liandari hanya menjawab dengan singkat "Hmm..." sambil menolehkan kepalanya memandang Dion.


"Aku tahu kamu tidak suka dinner malam ini, namun setidaknya mari kita lewatin dinner malam ini sebagai dinner antara kakak dan adik saja. Kak Dion berharap kamu jangan merasa tertekan saat berada didekat kakak" ujar Dion menyamankan suasana yang sungguh tidak mengenakan.


 


"Kak aku boleh tanya?" tanya Liandari dengan suara yang rendah dan raut muka yang serius.


"Ya, apa?" jawab Dion cepat, "Sebenarnya apa Kak Dion mempunyai perasaan denganku? aku berharap kak dion jujur" tegas Liandari


"Kamu beneran mau tahu?" tanya Dion yang mulai serius, "Ya" jawab Liandari tanpa keraguan.


 


"Jujur kakak pun sebenarnya tidak mau membuat kamu sedih seperti ini. Kakak juga tahu kalau Razzi itu orang baik, dan Kakak setuju saja jika kamu dengannya" ujar Dion. "Ya, lalu... kenapa kakak menerima pertunangan ini begitu saja? Kakak punya hak untuk tidak menerimanya kan! Lantas mengapa sekarang malah seperti ini?"


"Hutang budi" cetus Dion, "Haa... hutang budi?" kata Liandari dengan penuh pertanyaan.


"Ada apa sebenarnya ini? budi apa yang telah Kak Dion terima, sehingga ia sudah tidak punya hak tolak dalam pertunangan ini?" Dalam hati Liandari.


**********


 


Ting... pesan masuk keHandphone Lian. Lian menyalakan hpnya dan terlihat jelas bahwa itu pesan dari razzi.


Pesan dari razzi.


"Sayang kamu lagi apa?" tanya Razzi,


"Aku lagi duduk santai" jawab Liandari.


"Oh... memang kamu lagi ada dimana? sendiri saja? aku kerumah ya, mumpung lagi hujan" kata Razzi.


Dan Lian pun lanjut membalas pesan dari sang pacar, "Aku lagi dirumah dekat kamar sendiri, kamu enggak usah kesini hujannya lebat banget"


"Baiklah, cepat istirahat ya sayang, bye" kata Razzi diakhir pesannya, "Ya bye" balas Liandari.


 


Malam ditengah hujan yang lebat dan hanya dengan jaket kulit Razzi melihat Dion dan Liandari keluar dari mobil sembari tertawa bersama masuk kesebuah restorant elit berbintang lima.


Liandari masuk kerestoran dengan senang, tidak terlihat sama sekali raut wajah tidak senang atau ada sedikit keterpaksaani.


"Kamu berbohong! kenapa? Siang tadi disekolah kamu sibuk menghindariku, sekarang kamu berbohong padaku dan selanjutnya apa yang kamu lakukan" Pikir Razzi yang kecewa pada saat ini.


Dengan tubuh yang sudah basah kuyup Razzi malah melihat hal yang tidak diinginkan. Jika saja Liandari jujur ia pergi dengan Dion, maka Razzi tidak akan merasa sekecewa ini. Razzi bertanya-tanya didalam hatinya mengapa harus berbohong, ia tidak akan pernah marah jika Lian berpergian dengan dion, tapi MENGAPA HARUS BERBOHONG!.


Bersambung...


 


 


hutang budi apa? dan apakah kecewa ini terlalu besar untuk diterima??


GAES JANGAN LUPA LIKE AND KOMEN YAH...DI LIKE DAN KOMEN BIAR CERITANYA LANJUT TERUS, BIAR SEMANGAT NIH YANG NULIS KALAU ADA DUKUNGANNYA... DAN TERIMA KASIH YANG SUDAH BACA LIKE N KOMEN.


uppppsss....dan jangan lupa tip nya juga ya guys, hehe... :)

__ADS_1


__ADS_2