
"Kak ngapain sih harus ngebut?" seru Mirza, "Ayah lian hari ini pulang ke Indonesia, dan kalau perkiraan kakak enggak salah... mungkin Om sudah ada dirumah" ujar Dion yang mengebut.
"Terus? kan lian sama razzi lagi jalan, nanti kita bisa tunggu dia diperempatan jalan menuju kerumah" kata Mirza dengan entengnya.
"Apanya yang mau ditunggu? tadi kakak lihat lian sama razzi lagi menuju kerumah, makanya kakak ngebut, tapi karena keadaan jalan ramai begini... kemungkinan kita terlambat" ucap Dion dengan nada rendah diakhir kalimat.
Caca dan Mirza kaget mendengarnya. Kini mereka berdua baru mengerti akan sikap Dion hari ini yang aneh. Caca dan Mirza saling memandang, sekarang mereka berdua sangatlah khawatir.
Mereka sebentar lagi sampai dirumah.
Flashback.
Razzi mengantar Lian sampai didepan pintu rumahnya. Dan Lian pun mengetuk pintu. Tok tok tok... suara ketukan pintu.
Kreek... suara pintu dibuka. Betapa terkejutnya Lian melihat Ayahnya membukakan pintu. Matanya terbelalak, dan ia mematung, "Ayah...?" ujar Lian terkejut.
**********
Mobil Dion memasuki halaman rumah lian. Beep... beep... suara klakson mobil. Dion, Caca dan Mirza turun.
"Kita terlambat" ujar Dion pelan dan ia mengusap mukanya. "Benar" jawab Caca, sedangkan Mirza hanya mengangguk.
"Apa-apaan ini Lian!" sergah Ayahnya.
Liandari hanya bisa tertunduk. Ia tahu bahwa ia bersalah kali ini, dia tidak mendengarkan perkataan Ayahnya. Razzi masih terdiam ditempat.
Ayahnya Lian memalingkan wajahnya dan melihat kearah Dion yang berdiri didekat ia memakirkan mobilnya. "Dion!" teriak Ayah Lian.
Mendengar teriakan tersebut Dion menjadi serba salah sekarang, ia tak tahu harus memberikan penjelasan yang seperti apa nantinya. Tapi saat ini ia hanya bisa berjalan lebih dekat kearah Om Bram. Dion berdiri tepat disamping Razzi.
Walau sedang marah setidaknya Ayah Lian masih memikirkan kedua sahabat Lian yang masih berdiri didekat mobil. Om Bram tahu bahwa mereka berdua pasti tidak nyaman sekarang. Maka dari itu Ayah Lian memanggil Caca dan Mirza.
"Caca, Mirza..." panggil Ayah Lian dengan hangat. Panggilan tersebut mengusir rasa canggung Mirza dan Caca. Kedua sahabat Lian tersenyum dan mendekat kearah Ayah Lian.
"Kalian berdua masuk saja dulu ya, Nak" ujar Ayah Lian hangat. "Nanti minta bibi siapkan makanan untuk kalian, biar bibi saja yang antar kan keatas ya. Masuklah" ucap Ayah Lian yang pada waktu itu terlihat bagai malaikat.
Ayah Lian memberikan jalan agar Caca dan Mirza dapat masuk. Dan tidak lupa pula dengan elusan dikepala kedua sahabat Lian sebagai tanda sayang seorang Ayah. Ayah Lian memang sudah menganggap kedua sahabat Lian sebagai anaknya sendiri. Bagaimana tidak ? Ayah Lian sudah mengenal mereka berdua sejak kecil.
Sosok Ayah Lian barusan sangatlah manis, bagai ada sayap dibalik punggungnya. Tetapi kemanisan itu tidak dapat dirasakan oleh ketiga orang tersebut, yaitu liandari, Razzi, dan Dion.
"Kalian bertiga masuk! saya berharap mendapatkan alasan yang bagus!" tegas Ayah Lian.
Mereka bertiga kini saling memandang satu sama lain. Tidak bersuara tapi saling mengerti seakan mereka sedang berbicara. Mengerti hanya dengan tatapan mata saja. Gugup dan ketakutan, serta cemas melanda mereka.
"Ayah... tapi Razzi ada urusan penting yah, dia harus pulang cepat" ujar Lian. Razzi memegang sebelah pundak Liandari dan ia menggelengkan kepalanya. Wajah Liandari kini seperti memelas memandang Razzi.
Ayah Lian yang tadi nya berjalan kini berhenti, dan tanpa membalikkan badannya ia berkata, "Urusan penting!" ucapnya seperti sedang bertanya tapi juga ada tekanan dibalik kata yang dingin. Perkataannya seperti membekukan satu ruangan, sangat dingin.
"Tidak Om" jawab Razzi dengan suara yang bergetar. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini.
Mereka bertiga dan Om Bram masuk serta duduk. Ayah Lian tidak mengeluarkan suaranya sama sekali. Ia hanya memandang sinis ketiga orang tersebut. Dan itu berlangsung cukup lama.
Suasana yang tegang membuat mereka tidak berani bergerak bahkan untuk bernafas saja rasanya mereka tidak berani. 7 menit sudah berlalu hanya dengan diam. Dan tibalah Ayah Lian membuka suara.
"Apa tidak ada penjelasan!" ujar Ayah Lian. "Kenapa diam?" tanya Ayah Lian sekali lagi.
Ayah Lian menghentakkan meja dengan tangannya dan berteriak, "Bicaralah!!" teriak Ayah Lian. "Saya tahu saya salah Om" ujar Dion menunduk. "Apa salah kamu? dan Lian, Razzi kenapa diam!" ujar Ayah Lian sangat sinis.
"Saya membiarkan Lian bersama dengan Razzi, maaf Om... ini salah saya Om, bukan salah Lian atau pun Razzi" kata Dion menyalahkan dirinya sendiri.
"Lian, Dion... masuk kalian kedalam, malam nanti kita lanjutkan lagi, Om mau bicara berdua saja dengan anak ini" tegas Ayah Lian dengan tatapan mautnya.
Liandari memandang Razzi. Ia merasa tidak enak. Dan Razzi hanya membalas dengan tersenyum dan mengangguk kan kepala, yang mengartikan bahwa ia tidak apa-apa. Liandari tersenyum. Tapi senyumnya terlihat sangat pahit.
Tidak ada yang dapat Lian lakukan sekarang. Ia hanya bisa menuruti perkataan ayahnya saat ini. Dion dan Liandari pun masuk kekamar mereka masing-masing.
__ADS_1
"Mungkin... inilah maksud kak dion tadi pagi, tapi aku... tidak mengindahkan perkataannya sama sekali, aku malah marah-marah sama kak dion, huufff..." Pikir Lian yang baru menyadari maksud dion, dan sekarang hanya hembusan nafas penyesalan yang bisa ia lakukan.
"Apa hubungan kamu sama putri saya?" tanya Ayah lian dengan tatapan mengintimidasi.
Keringat Razzi bercucuran. Sungguh pada saat itu ia bingung mau menjawab apa. Dia takut salah bicara. "Apapun yang terjadi pokoknya jujur sajalah dulu, sebuah hubungan harus didasari kejujuran bukan kebohongan, bismillah" Dalam hati Razzi. Dan ia pun mulai berbicara.
"Saya pacaran sama putri Om" jawab Razzi dengan suara yang bergetar. "Putusin putri saya, dan jangan pernah menganggunya lagi, jika kamu memang mencintainya... maka, tinggalkan putri saya!" tegas Ayah lian spontan.
"Maaf Om, saya tidak bisa putusin putri Om, saya akan pergi jika dia yang menyuruh saya pergi, dan saya akan tetap bersamanya jika ia masih ingin bersama saya!" ujar Razzi tanpa keraguan sedikitpun.
"Huuff..." Hembusan nafas dengan penuh hinaan.
"Hei, Nak... sebenarnya saya tidak ingin bicara seperti ini, tapi kayaknya kamu memaksa untuk saya sadarkan akan dirimu!" ujar Ayah lian menatap Razzi sinis.
"Nak, memang kamu punya apa? Tidak ada yang dapat kamu banggakan untuk bersama dengan putri saya, kamu hanya orang dengan modal tampang yang tak mampan!" hina Ayah lian dengan menaikkan sudut bibirnya.
"Dan yang perlu kamu ingat dengan jelas! kamu sangat sangat jauh dan tidak setara dengan keluarga saya, carilah perempuan yang sepadan saja denganmu, mengerti?!" tegas Ayah lian dengan penekanan disetiap kata yang ia ucapkan.
"Saya tahu. sangat jauh. tapi tidak bisa dipungkiri juga bahwa hati kami berdua sangat dekat!" balas Razzi sembari tersenyum.
"Hahahaahaha..." tawa Ayah lian mengglegar diruangan. "Hati?" tanya Ayah lian mencemooh, "Omong kosong apa yang kamu bicarakan, haa...!!" teriak Ayah lian diakhir kata "haa"
"Kini... saya mungkin tidak setara. Tetapi saya akan berusaha menyetarakannya. Saya akan melakukan apapun untuk lian, tapi saya tidak akan menuruti kata Om untuk meninggalkannya, saya akan pergi jika lian yang memintanya" tegas Razzi penuh keyakinan.
Ayah lian diam dengan pandangan yang tajam dan urat leher yang kelihatan jelas. Mukanya juga memerah menahan amarah yang mungkin jika ia lepaskan akan adanya baku hantam dirumah itu.
"Walau Om akan menghina, mencaci maki, marah, berteriak, menyadarkan saya akan perbedaan kasta, dan walau Om juga melarang saya untuk memasuki rumah ini lagi. Namun, saya tidak akan peduli hal itu, saya akan selalu bersama dengan putri Om. Menjaganya, menyayanginya, dan akan membuatnya bahagia dari hal kecil yang saya punya! terima kasih untuk hari ini, saya permisi Om" Setelah mengatakan itu Razzi pun menuju pintu dan pergi.
Ayah lian sangat murka pada saat itu. Sehingga ia menghentakkan meja dan berteriak, "Akkkhhh..."
Sangkin murkanya ia masuk kekamar dengan bantingan pintu yang sangat teramat keras. Ayah lian pun tidak jadi untuk bertanya dan memarahi lian dan dion.
**********
Diruangan itu ada ibunya Razzi yang lagi duduk dikursi sambil memegang tangan anak bungsunya yang lagi terbaring, serta ada Edik juga yang lagi duduk disofa sambil memegang handphone nya.
"Buk... bagaimana keadaan Radha?" tanya Razzi cemas dengan ngos-ngosan karena berlari. "Radha sudah tidak apa-apa kok nak, syukur tadi ada nak Edik yang ngebantu Ibuk bawa Radha kerumah sakit, dan radha cuma demam tinggi, kata dokter beberapa hari lagi bakal membaik kok" jelas Ibuknya dengan ciri khas suaranya yang lembut.
"Syukurlah, maaf aku telat, Buk" kata Razzi merasa bersalah, "Ah... tidak apa-apa kok, sudahlah mending kamu cerita-cerita saja sama nak Edik, kasihan dari tadi dia sendiri tak ada temannya, haha" ujar Ibuknya dengan tawa kecil.
"Iya Buk" jawa Razzi tersenyum. Dan mereka berduapun keluar.
Dikantin Rumah Sakit.
"Nih minum" Memberikan botol air minum rasa kopi, "Makasi" ucap Edik menerima air minum tersebut.
"Sebenarnya ceritanya kayak mana sih, kok bisa kamu ngebantu Ibuk aku, tapi aku berterima kasih banget lo, kamu sudah bantuin keluarga aku" ujar Razzi berterima kasih.
"Santai saja bro, Aku tadi rencananya mau ngajak kamu pergi, tapi kamunya enggak ada... yang ada cuma ibu kamu yang lagi panik karena radha sakit, makanya sekalian saja aku ngebantuin ibu kamu, panik banget tadi ibu kamu Zi" ungkap Edik menjelaskan.
"Aku bersyukur banget pada saat itu kamu datang kerumah. Oya, memang kamu enggak tahu kalau aku rencananya jalan sama lian selesai pulang sekolah?" tanya Razzi
"Eh... enggak. Lagian hari ini kan aku meliburkan diri, hahaha... karena ada acara doa selamat pindah rumah baru" ujar Edik tertawa kecil, "Iya juga ya, haha" kata Razzi sambil membalas tertawa kecil.
"Jangan lupa datang nanti malam habis isya kerumah baru aku, tapi kalau kamu enggak datang juga enggak apa-apa kok Zi, adik kamu kan lagi sakit juga, kamu pasti sibuk, jadi santai saja lah" ujar Edik mengajak Razzi kerumahnya.
"Ya kalau radhanya nanti enggak ada apa-apa, insyaallah lah aku datang, Bro" jawab Razzi, "Sip lah" balas Edik.
10 Menit Kemudian.
"Assalammualaikum buk" ucap jeki sembari membuka setengah pintu kamar, dan ia melihat ibuknya razzi yang lagi menyuapi radha bubur. Jeki dan Jino pun masuk dan mincium tangan ibuk razzi serta bertanya keadaan radha sekarang. Mereka berbincang-bincang cukup lama.
Sampai dimana Jino bertanya sekarang razzi ada dimana kepada ibuk. Ibuk menjawab bahwa razzi lagi keluar bersama edik, dan kemungkinan sekarang mereka ada dikantin.
__ADS_1
Mendengar jawaban ibuk, mereka berduapun permisi pamit mencari razzi, dan mereka pun keluar dan menyusuri koridor menuju kantin.
Dari kejauhan didekat kantin Jino melihat razzi dan edik tengah serunya bercerita. "Bro..." panggil Jino menuju ke dua sahabatnya.
Sesampai disana Jino dan Jeki pun menarik kursi dan duduk bersama-sama. Lengkap sudahlah mereka berempat sekarang.
"Baru datang?" tanya Razzi, "Enggak kok, sudah dari tadi, tapi kami bicara-bicara dulu sama ibuk. Setelah itu barulah kami cari kalian yang lagi asyiknya ngombrol berdua disini" jawab Jino.
"Oya Zi. Bagaimana jalan-jalannya?" tanya Jeki, "Batal" jawabnya singkat sambil tersenyum.
"Kamu ucap batal sambil tersenyum. Apa separah itu kah kamu frustasi tidak bisa jalan sama lian?" kata Jino sambil memandang Razzi dengan wajah seakan merinding dan tak percaya.
"Hehe... bukan seperti itu. Hari ini aku senang banget walau tidak bisa jalan sama lian" ucap Razzi seraya tertawa.
"Alasannya? kok bisa senang karena tidak bisa jalan?" ungkap Edik penasaran.
Flashback.
Diperjalanan saat ingin pergi jalan-jalan dengan Liandari. Tiba-tiba telepon Razzi berdering. Dan Razzi pun memberhentikan motornya ditepi jalan dan mengangkat telepon yang sudah berdering sedari tadi. Razzi berbicara dengan wajah yang mulai tidak enak dilihat, selesai berbicara dan ia mematikan telponnya.
"Siapa yang nelpon Zi?" tanya Lian, "Oh... ini" terlihat serba salah.
"Lian aku minta maaf ya" ujar Razzi dengan wajah yang tidak enak dan kusut, "Untuk?" tanya Lian heran.
"Hari ini kita enggak jadi jalan dulu ya, adik aku masuk rumah sakit" kata Razzi sembari menunduk. "Apa?" teriak Lian.
Pada saat itu aku mengira ia akan marah. Aku sudah mempersiapkan diri untuk menerima teriakan dan ocehan kekesalannya. Tetapi aku dikejutkan dengan perkataan yang keluar dari mulut mungilnya setelah berteriak "Apa" kepadaku.
"Jadi bagaimana keadaannya? kok bisa?" tanya Lian khawatir. "Aku juga enggak tahu pastinya bagaimana" ucap Razzi dengan nada rendah.
"Kalau begitu buat apa kamu bingung begini? ayo pulang! biar kamu bisa cepat lihat keadaan adik kamu" terang Lian.
"Haa...? kamu enggak marah?" ujar Razzi terkejut.
Liandari tidak menjawab Razzi. Ia langsung duduk dimotor dan menepuk-nepuk tempat duduk motornya. Dan tidak lupa pula ia menebar senyumnya.
Tanpa pikir panjang Razzi menancapkan gasnya, walau ia khaawatir dengan adiknya namun disepanjang jalan ia tersenyum lebar.
"Tidak bisa jalan seharusnya membuat aku sedih, tapi kini... aku bahagia kembali hanya dengan senyuman Liandari" Razzi.
**********
Selesai bercerita kepada temannya mengapa ia bahagia walau tidak jalan Razzi pun kembali mencerita kisah yang membuatnya kesal juga sedih dihari ini. Kini sahabatnya menjadi pendengar terbaik, sedangkan Razzi menjadi penceritanya.
Dia menceritakan bagaimana sikap ayah lian kepada dirinya tadi sebelum ia kerumah sakit. Sahabatnya terbakar emosi mendengarnya. Tapi mau bagaimana lagi, tidak ada yang bisa mereka perbuat kecuali memberi nasihat dan dukungan.
Mereka bercerita panjang lebar dengan serunya, dan sampai dimana Razzi mengatakan bahwa ia akan kerumah liandari malam nanti. Membuat sahabatnya sangat sangat tidak percaya dibuatnya.
Setelah ayah lian berkata seperti itu, tapi Razzi tetap saja ingin kerumah lian walau hanya akan berada diteras atau lebih parahnya hanya berada didepan pagar yang ditutup rapat . Hanya bisa melihat liandari dijendela kamar atasnya dari kejauhan.
Saling menelpon tapi bisa melihat senyum yang saling merekah dengan pipi yang memerah. Dan apakah benar jika cinta membuat kita tidak mengerti arti dari kata menyerah?
Bersambung...
sebatas mana kau sanggup?
GAES JANGAN LUPA LIKE AND KOMEN YAH...DI LIKE DAN KOMEN BIAR CERITANYA LANJUT TERUS, BIAR SEMANGAT NIH YANG NULIS KALAU ADA DUKUNGANNYA... DAN TERIMA KASIH YANG SUDAH BACA LIKE N KOMEN.
uppppsss....dan jangan lupa tip nya juga ya guys, hehe... :)
__ADS_1