
Dion bertanya siapa laki-laki dan perempuan itu sehingga Caca berteriak dan berkata enggak boleh. Dengan tersedu-sedu Caca berkata, "Cowoknya adalah jinodan perempuan itu adalah mirza, dan aku tidak boleh merebutnya, bagaimana pun rasa ini harus kutekan sebisa mungkin" lirih Caca tersedu-sedan.
Dion kaget sekali ketika mendengar bahwa perempuan itu adalah mirza, seketika Dion terdiam memikirkan bahwa perempuan yang ingin ia singkirkan tadi adalah mirza. Kini Dion bingung, apa yang harus ia lakukan sekarang, disatu sisi ada mirza dan disisi lain juga ada Caca, dua-duanya adalah adiknya walau tidak kandung.
Caca tahu bahwa Dion tidak tahu harus berbuat apa sekarang dan ia pasti sedikit syok karena perempuan yang ia ingin singkirkan tadinya adalah mirza, melihat Dion seperti itu Caca pun berkata, "Tidak perlu disingkirkan dan aku pun tidak akan pernah merebutnya, aku cukup menekan rasaku maka semua akan baik-baik saja, dan kak Dion jangan bingung karena kak Dion tidak perlu lakukan apa pun untukku... aku hanya mohon jangan cerita kan tentang ini ke siapapun" Seraya tersenyum dan menghusap sisa air matanya serta pergi naik kekamar.
Kini Dion terpaku sambil menghusap-usap muka dengan kedua telapak tangannya, disela kebingungan Dion bel rumah lianpun berbunyi.
**********
“Bik, biar aku saja yang buka” pinta Dion, “Iya, kalau begitu Bibi balik kedapur dulu” ujar Bibi pergi menuju kedapur dengan sopan. Dion pun berjalan menuju kepintu dan baru saja ia membuka pintu Jino langsung menyapa Dion yang sedang membukakan pintu, “Hai Kak… ini aku pulangin Mirzanya tepat waktu, selamat tanpa lecet sedikitpun” terang Jino bahagia karena akhirnya punya kesempatan mengantarkan Mirza, “Iya, Lian, Mirza enggak masuk?” tanya Dion, “Eh… iya Kak” jawab Lian, “Sayang aku pulang ya, kita pamit Kak” ucap Razzi sopan terpaksa karena Dion memang lebih tua darinya beberapa tahun dan Dion juga hari ini tidak ada mencari masalah dengannya,sedangkan Dion menjawabnya dengan cuek, “Hmm…”
“Kenapa masih disini, masuk sana” ujar Dion kepada Lian dan Mirza, “Kakak sendiri kenapa masih disini?” tanya Mirza, “Suka-suka dong, sana masuk… sebelum kakak buat hari esok kalian tidak akan seperti hari ini lagi” ujar Dion mengancam, “Wah… parah, Kak Dion mengancam anak dibawah umur” canda Mirza yang langsung merangkul Lian dan berjalan menuju ketangga atas untuk kekamarnya sambil tertawa karena candaan mereka tadi.
Razzi dan Jino kini lagi duduk dimotornya dan hendak pergi, tetapi suara Dion menghentikan kedua orang itu, “Jino” teriak Dion karena mereka sudah agak jauh sedangkan dion berada didepan pintu rumah, setelah mendengar teriakan Dion… Razzi dan Jinopun memutarkan kunci motornya agar motornya mati. Jino turun langsung dari motornya ketika melihat Dion mendekati mereka sedangkan Razzi menstandarkan motornya kesamping dan ia tetap duduk.
“Ada apa Kak” tanya Jino heran, “Ada yang mau aku bicarakan” ucap Dion, “Oke, apa?” kata Jino santai, “Tidak
disini, mungkin disana sajalah” Menunjuk ketempat duduk ditaman rumah Lian yang agak jauh dari tempat Razzi duduk dimotornya sekarang.
“Ada apa ya\, masak ia gara-gara Jino dekat dengan Mirza dan apa bakal ada kejadian tidak direstui juga?” Pikir Razzi\, melihat Jino pergi berjalan menuju kebangku taman bersama Dion dan Razzi dengan spontan berteriak\, “Berjuanglah temanku” teriak Razzi memberi semangat dan Jino membalasnya dengan menunjukkan Jari tengah nya dan menjulurkan lidahnya serta memperlihatkan wajah nakal bak preman ke Razzi\, “B*ngs*t” gumam Razzi menyesal telah menyemangati bocah itu.
Setelah sampai dibangku taman, Dion dan Jino pun duduk. Rasa ragu terus saja datang bagaikan asap yang
menyelimuti hati dan pikiran Dion, ia sangat ragu untuk mengatakan yang ingin dia katakan. Hingga ia menghabis kan 5 menit duduk dan diam saja, sehingga akhirnya keberanian mendatanginya dan ia berkata, “Kamu menyukai mirza?” tanya Dion, “Ah… iya kak” jawab Jino heran karena mengapa Dion harus bertanya seperti itu.
“Kamu serius?” tanya Dion sekali lagi yang seperti membawa hawa dingin kepada Jino, “Aku serius” ucap Jino lantang tanpa ragu yang terlihat diwajahnya, “Jika ada perempuan lain yang tulus suka sama kamu, apa kamu mau berpindah hati?” tanya Dion dengan hati-hati.
“Apa maksudnya, apa ia sedang mengujiku atau ingin menghancurkan hubunganku… padahal hubungan ini baru
saja ingin dumulai, dan tidak akan ku biarkan hancur secepat itu tetapi tidak mungkinkan ia menjadi rivalku karena seharusnya ia menjadi rivalnya Razzi, hmmm…” Pikir Jino yang berkecamuk.
Tidak memerlukan waktu lama untuk Jino menjawab pertanyaan dengan lantang dan tegas ia menjawab, “Tidak… secantik apapun, tulus, baik, kaya, pintar, dan sebagaimana pun ia memiliki kelebihan yang tidak ada dimirza, tetapi aku akan tetap memilih mirza… karena yang aku cintai adalah mirza” tegas Jino dengan mata yang tajam tertuju ke Dion.
“Baiklah, sepertinya memang tidak bisa” ucap Dion serius dengan wajah yang kusut, “Sebenarnya percakapan ini apa maksudnya, apa intinya dan apa yang kau maksud memang tidak bisa?” Pertanyaan yang begitu banyak ditujukan ke Dion, “Kau tidak perlu tahu!” tegas Dion dengan suasana hati yang buruk, “Apa maksudmu… tentu saja aku harus tahu karena ini tentangku, jika bukan tentangku kenapa kau harus bertanya ini semua kepadaku s*al” ucap Jino yang mulai terbakar amarah.
“huff” menghembuskan nafas, dan akhirnya Dion membuka suara, “Baiklah, tapi aku tidak akan menyebutkan nama orang itu” ujar Dion, “Ya, terserahlah” balas Jino menahan amarahnya, “Aku tidak bisa banyak menceritakannya, dan mungkin aku hanya bisa memberikan pesan untukmu saja bocah” kata Dion.
__ADS_1
Jino masih diam, kaena ia menginginkan jawaban, bukan sesuatu yang panjang lebar, “Karena kamu tidak tahu, jadi… satu hal saja yang sebenarnya perempuan itu inginkan, perempuan yang menyukai kamu, ia hanya ingin kamu menjaga mirza dan jangan sampai ia terluka dan kalian jika memang saling cinta maka bersamalah” ungkap Dion.
“Siapa perempuan itu?” tanya Jino penasaran, “Tidak bisa ku beritahu, aku telah berjanji padanya dan ini pun sebenarnya hanya keegoisanku untuk bertanya ini dan itu serta memberitahu kamu” jawab Dion merasa bersalah.
Jino terdiam pada saat itu dan Dion pun berkata, “Dan ingatlah ini, jika suatu hari nanti kamu menyakiti mirza atau kalian berpisah maka pada saat itu bukan hanya kalian saja yang terluka tetapi pengorbanan perempuan itu juga menjadi sia-sia, bertepuk sebelah tangan itu bukanlah rasa yang mudah, jadi hargailah perempuan itu karena ia telah menekan rasanya hanya demi kalian” kata Dion memberi peringatan.
"Bro... sudah selesai wawancaranya?" gurau Razzi pada Jino. Tetapi Jino pada saat hanya diam dan duduk dimotornya dengan wajah yang kusut dikarenakan suasana hati yang buruk\, Razzi sebenarnya mengerti bahwa suasana hati Jino lagi tidak bagus tapi ia bertanya sekali lagi\, "Sok misterius deh\, pakai acara diam kayak begitu\, ngomong-ngomong kok lu sendiri kesini\, mana Dionnya?" tanya Razzi\, "Sudahlah... yuk pulang" Langsung menghidupkan motornya dan menancapkan gas meninggalkan Razzi\, "Dasar\, apa sih yang Dion br*ngs*k itu lakuin\, sampai Jino kayak begitu" gumam Razzi sambil menghidupkan motornya dan menyusul Jino.
"Akhhh... g*la, apa sih yang sudah aku lakuin, seandainya Jino mau berpindah hati dan pada saat itu bagaimana dengan mirza, bodoh dasar aku bodoh banget" Baru sadar dengan apa yang ia lakukan dan berakhir dengan menyalahkan diri sendiri.
"Bukannya sudah aku katakan, kakak tidak perlu lakukan apapun, cukup dengan menekan rasaku maka semua akan baik-baik sajakan... tapi mengapa kakak lakuin ini?!" ujar Caca protes dengan menahan amarahnya.
"Ca...Caca... kamu dengar semuanya?" tanya Dion gugup karena terkejut.
"Iya... aku dengar, aku dengar kakak yang bisa-bisanya mengucapkan kata-kata seperti itu, ada tiga masalahnya kak, pertama... jika pada saat itu Jino mau pindah hati memang aku bisa apa...?" teriak Caca terpotong.
"Ca, dengerin kak Dion dulu" pinta Dion memelas.
"Aku sudah cukup mendengarkan kak Dion tadi, sekarang kakak yang harus dengerin aku" seru Caca.
"Memang... memang aku bisa apa, aku tidak bisa merebutnya kan, dan..." Dengan suara pelan yang bergetar.
"Maaf..." terpotong.
"Dan yang kedua, jika nanti Jino jadi tahu kalau aku suka sama dia... bagaimana" lirih Caca yang meredam emosinya.
"Kakak tahu kakak salah, kakak..." terpotong untuk kedua kalinya, saat ini Caca seperti tidak ingin mendengarkan penjelasan dari Dion.
"Diam!" sergah Caca yang sudah pada batasnya, Dion langsung terdiam mendengar sergahan Caca dan Caca pun menyambungkan perkataannya tadi, "Bagaimana... bagaimana dengan perasaan mirza jika ia ikut tahu juga... dan bagaimana dengan perasaanku, aku tahu yang disukai jino itu mirza, maka dari itu aku mundur... tetapi rasanya juga sakit harus mendengar bahwa bagaimanapun ia akan memilih mirza" ungkap Caca menunjukkan matanya yang tegas tapi juga terlihat membekaskan luka.
"Maaf maaf maaf Ca, tapi kakak bisa kok jelaskan semuanya" ujar Dion yang sangat menyesal.
"Sudahlah... tidak perlu, biar aku urus hatiku sendiri, dan untuk kedua kalinya kutegaskan pada kakak untuk tidak perlu melakukan apapun!" tegas Caca yang langsung pergi meninggalkan Dion tanpa mendengarkan penjelasannya dahulu.
Dion sangat menyesal dengan apa yang telah ia lakukan, ia tidak menyangkan bahwa semuanya akan menjadi seperti ini. Dion tidak berfikir panjang sebelum melakukan semuanya, kini Dion hanya duduk dibangku taman dengan rasa sesal sesesalnya, ia merasa sangat bodoh.
__ADS_1
Kreeek... suara pintu kamar dibuka, "Oh Caca, kirain siapa" ujar Mirza sedikit kaget, "Hehe... ia" jawab singkat Caca masuk dan melemparkan tubuhnya dikasur serta merentangkan tangannya dan memejamkan matanya, "Ca, kamu kenapa sih hari ini aneh banget?" ujar Lian yang lagi santai duduk didepan jendela kamarnya.
"Iya... tadi juga kenapa kamu duduk sendiri ditaman sudah itu saat diajak bicara malah bengong" Sambung Mirza ikut bertanya, "Eh... kapan, kok kamu enggak cerita tadi" sela Lian penasaran, sedangkan Caca tetap saja diam sambil memejamkan matanya.
"Itu saat istirahat kedua, waktu bunyi bel mau masuk kekelas nah, rencananya sih aku sama jino mau kekelas tapi enggak jadi karena lihat anak ini duduk sendiri, parahnya... ketika diajak bicara dianya malah bengong" ungkap Mirza menceritakan kejadian disekolah tadi sambil memegang handphone nya.
"Kamu bilang Caca parah, kamunya sendiri lebih parah tahu" ujar Lian, "Lah... kenapa aku?" balas Mirza mengernyitkan alisnya, "Parahnya kamu itu sudah ditunggu malah makan duluan sama Jino dikantin tapi... bagaimana ceritanya kamu bisa langsung dekat dengan jino" ucap Lian penasaran.
"Ah... itu gampang ceritanya, yang penting ini Caca kenapa?" Mengalihkan pembicaraan, "Oh iya, kamu sakit Ca?" tanya Lian khawatir, "Sepertinya" ucap Caca singkat dengan nada yang datar, "Apanya yang sakit, gimana rasanya" ujar Lian yang sangat khawatir, "Sesak... sudah itu ada sakit-sakitnya begitulah pokoknya" jawab Caca yang masih memejamkan matanya.
Liandari dan Mirza yang tadinya santai duduk dijendela dan main hp langsung berdiri dan pindah duduk kesamping Caca. "Mir, angkat itu Caca aku cari kunci mobil, kita kerumah sakit" tegas Liandari yang khawatir sekali, sedang kan Caca yang tadinya terpejam kini matanya terbuka lebar mendengar akan dibawa kerumah sakit.
"Tunggu, kenapa harus aku yang angkat, bukannya kita bisa sama-sama saja" Protes Mirza, "Karena kamu yang kuat boy" ujar Lian sibuk mencari kunci, "Kepala lu boy" ucap Mirza kesal, "Eh... tapi enggak perlu kerumah sakit kok, akunya enggak apa-apa" sela Caca dari pertengkaran kecil kedua sahabanya, "Enggak perlu apanya, enggak usah protes deh, kita tetap akan kerumah sakit!" tegas Lian yang sedari tadi juga belum menemukan kunci mobil nya.
"Haduh... kalau hati dan perasaan gua yang jadi masalahnya rumah sakit bisa apa sih, masa harus ke psikolog, punya sahabat kayak begini amat, tapi care sih" Keluh Caca dalam hati. "Ca kamu mau dipapah atau digendong bak seorang putri?" tanya Mirza dengan gurauannya, "Rumah ini ada tandu enggak ya, atau kita pakai tandu saja, supaya mudah angkatnya" kata Lian yang akhirnya mendapatkan kunci mobilnya, "what... sekalian saja ada keranda tidak, aku tidak mau kena sinar matahari walau hanya sedetik dan biar nyaman tidurannya" ujar Caca sambil telungkup dan membenamkan mukanya dikasur.
"heee... ih Caca kok begitu sih, ayolah kerumah sakit" pinta Lian memelas, "Tidak tidak dan tidak" balas Caca, "Anak ini, sudahlah seret saja dia" ucap Mirza mulai tidak sabaran, "Guys... please, aku cuma butuh istirahat oke" lirih Caca yang kini duduk.
Kedua sahabatnya kini sudah tidak bisa memaksa Caca lagi, mereka berdua hanya menghembuskan nafas dan menyetujui permintaan Caca. Liandari menyelimuti Caca dan menyuruhnya tidur dan mereka pun keluar dari kamar.
"Seandainya kalian tahu, tapi tidak apa-apa... aku yakin rasaku akan hilang karena rasaku tidak lebih penting dari pada kamu mirza, aku tidak akan mengecewakan kamu sahabatku" Dalam hati Caca.
Dua Jam Kemudian...
"Eh... lama banget aku tidurnya, sudah jam 18:03 jadi haus deh, malas banget rasanya mau turun kebawah tapi dahagaku tidak bisa menunggu" gumam Caca dikamarnya.
"Jadi kamu suka juga sama jino, tapi hanya ingin waktu sedikit lagi untuk lebih saling kenal saja ya?" tanya Lian yang lagi duduk bersama Mirza diruang TV, "Haha... iya, enggak apa-apa kan kalau kayak begitu" ujar Mirza malu dengan muka yang kemerahan.
"Ya tidak apa-apa lah, tidak akan ada juga orang yang akan merebut Jinomu itu" sela Dion menggoda Mirza yang datang tiba-tiba, "Ya, benar... tidak akan ada yang merebutnya jadi, tenanglah... kamu segalanya bagi dia" Sambung Caca yang turun dari tangga dan rupanya telah mendengar pembicaraan mereka. "Haa... Caca, dari kapan dia disitu?" Pikir Dion terkejut.
Bersambung...
Sebenarnya seberapa kuatkah hati caca untuk menekan rasanya, berapa lama ia bisa bertahan?
GAES JANGAN LUPA LIKE AND KOMEN YAH...DI LIKE DAN KOMEN BIAR CERITANYA LANJUT TERUS, BIAR SEMANGAT NIH YANG NULIS KALAU ADA DUKUNGANNYA... DAN TERIMA KASIH YANG SUDAH BACA LIKE N KOMEN.
__ADS_1
uppppsss....dan jangan lupa tip nya juga ya guys, hehe... :)