
Negara Australia.
"Sayang" panggil Bundanya Lian, "Ya, apa bun" jawab Ayahnya Lian sambil mengupas apel, "Kamu serius mau jodohin anak kita dengan Dion?" tanya Bundanya Lian sambil memakan apel yang telah dikupas dan dipotong.
"Tentu saja, mengapa tidak? Dion berpendidikan, pintar, baik, ganteng, mapan, dan yang kita tahu bebet bobotnya bagus" ujarnya begitu semangat.
"Bagaimana dengan perasaan kedua anak itu?" tanya Bundanya Lian khawatir, "Dion? sudah pasti ia mau, anak kita tidak memiliki celah kekurangan sedikitpun, dan dion juga setuju" ungkapnya begitu yakin sambil tetap mengupas apel dan memberikannya keistri tercinta.
"Lian? setahuku anak kita tidaklah setuju, jangan memaksa jika tidak ada yang setuju" ucap Bundanya lian menatap tajam suaminya"
**********
“Sayang, kamu tahu aku tak bisa marah sama kamu” ujar Ayah lian.
“Kenapa? Marah saja jika marah!” balas istrinya menantang.
“Huff…” Suaminya menghembuskan nafas sembari tersenyum.
“Sekesal apapun aku, aku tak akan bisa! Jika itu karenamu” ucap suaminya meyakinkan.
“Apa? Karena aku berpenyakitan, iya kan?!” pungkas istrinya sambil memegang apelnya.
“Jangan salah paham. Itu semua karena rasa cintaku padamu, akan selalu lebih besar dari amarahku, mengerti!” tegas Ayah lian.
“Sudahlah… kita sudah tua, tidak ada waktu untuk menggombal!” cetus istrinya.
“Itu bukan gombalan, aku serius!” ujarnya.
“Aku mau tidur” ucap Bunda lian meletakkan apel dimeja samping tempat tidur, dan ia pun baring.
Dengan sigap dan perhatian suaminya, ia langsung menarik selimut dan menyelimuti istrinya sambil berkata, “Ya… istirahatlah”.
Ayah liandari pun berjalan menuju pintu, ia ingin keluar sebentar. Tetapi tiba-tiba istrinya
memanggil.
“Sayang!” panggilnya, “Ya?” jawabnya singkat.
“Ingatlah! Jangan pernah memaksa kehendakmu” ujar istrinya. Sedangkan suaminya hanya diam mendengarkan.
Setelah itu Bundanya lian melanjutkan bicaranya. “Bahagia tidak diukur dari materi atau apa yang kau punya. Bahagia adalah tentang apa yang kau rasa dengan orang yang kau cintai” ucap istrinya yang masih berbaring dan memunggungi suaminya.
Tidak sampai disitu saja, istrinya bahkan berkata, “Kau tahu rasanya tidak direstui, dan akupun tahu. Maka dari itu janganlah mengulang kejadian dimasa lalu” ungkapnya.
“Kau mungkin kuat, mampu, dan beruntung. Tapi… tidak dengan orang lain” cetusnya.
Setelah mendengar perkataan istrinya ia pun keluar dengan wajah yang kusut.
“Bagaimana ceritanya? Kalau aku saja kuat! Maka pendamping putriku juga harus kuat. Kalau aku saja mampu, maka pendamping putriku juga harus mampu. Dan didunia ini tidak ada yang namanya beruntung. Semuanya adalah usaha dan tergantung diri kita” gumam Ayah lian.
**********
Senin Pagi.
Kini setiap pagi Dion selalu mengantarkan tiga orang putri yang cantik-cantik kesekolah, yaitu Liandari, Mirza Niufuza, dan Caca. Tetapi diwaktu pulang sekolah hanya Cacalah yang ikut pulang dengan Dion sedangkan Liandari seperti biasa diantar oleh Razzi dan Mirza sekarang ini juga sering diantara oleh Jino.
Pembelajaran terus berlangsung hingga tak terasa waktu terus berjalan dan akhirnya yang ditunggu-tunggu semua murid yaitu pulang sekolah.
Dion sudah menunggu di depan pagar. Mirza dan Liandari langsung pulang dengan pasangan mereka masing-masing. Caca sudah terbiasa ditinggal oleh temannya. Ia masuk kemobil dan pulang dengan Dion.
Disepanjang jalan mereka berdua sangatlah hening. Pada saat itu dion melirik kearah Caca yang terus saja diam melihat kearah jendela disampingnya. Ia sama sekali tak bersuara, dan ia pun tak melihat kedepan atau kearah Dion walau hanya sekali.
Dion tahu jelas bahwa perasaan Caca lagi tidak enak. Maka dari itu ia diam saja, walau sebenarnya ia ingin membuka mulutnya dan berbicara.
Disela itu hp Dion berdering menandakan ada yang menelponnya. Sekilas ia melirik kesamping tempat ia meletakkan hpnya. Dan ternyata yang menelpon adalah ayahnya lian. Dengan cepat ia mengambil hpnya.
Karena ia tak memegang hp itu dengan benar, maka hp tersebut malah terjatuh kebawah tepat dibawah kakinya. Sedangkan ia masih menyetir. Dion ingin memangggil Caca untuk meminta tolong tetapi mulutnya malah terbungkam melihat sikap Caca yang hari ini tampak dingin.
Dion ingin meminggirkan mobilnya tetapi ia berada ditengah jalan yang sangat ramai. Sehingga membuatnya kesusahan untuk meminggirkan mobilnya. Sampai ia melihat ada sedikit celah dan ia langsung mengesamping, kan mobilnya.
Tapi, sambil mengesampingkan mobilnya ia juga berusaha mengambil hp yang terjatuh tadi. Dion tak ingin ayah lian menunggu lama untuk ia mengangkat telepon nya.
Berangsur-angsur Dion mengesampingkan mobilnya dan mulai mengatur kelajuannya untuk berhenti. Namun ia masih saja belum mendapatkan handphone nya.
Hingga, Caca yang tadinya diam malah berteriak kencang ketika Dion menginjak rem mobil nya dengan sangat kuat dan berteriak. Pada saat itu ketakutan melanda Dion dan Caca, Dion berusaha sekuat tenaga menghentikan mobilnya agar tidak menabrak seseorang yang berada didepannya. Dan "AAAAAKKHHHHH..." teriak Dion dan Caca.
__ADS_1
**********
"Ya ayah, ada apa?" tanya Liandari menjawab telepon ayahnya, "Kamu lagi ada dimana, Nak?" tanya balik ayahnya.
Liandari kebingungan harus bilang apa. Karena sekarang ia lagi bersama razzi ditoko peralatan sekolah. Liandari menjawab dengan terbata-bata.
"A...itu...aku lagi ditoko peralatan sekolah, yah" jawabnya jujur. Toh memang ia berada disana, mengapa ia harus berbohong? pikirnya. Liandari berpikir bahwa ayahnya hanya sedang rindu saja, makanya bertanya seperti itu. Tetapi ternyata ayahnya bertanya lagi lagi dan lagi.
"Kamu lagi sama Dion, kan?" cetus ayahnya. Membuat Lian berkata dalam hatinya, "******, kan kak dion lagi enggak sama aku, kasih alasan apa ya".
"Eh... enggak yah, kenapa yah?" balas Liandari, "Haaa...." Ayahnya kaget sekaligus heran mengapa mereka tak bersama. "Terus kamu sama siapa ke toko peralatan sekolahnya? dan Dionnya kemana?" tegas ayahnya.
"E... anu yah... aku tadinya ada pelajaran tambahan, jadi aku suruh kak dionnya pulang dulu. Tapi ternyata ada masalah disekolah, makanya hari ini enggak jadi belajar tambahannya dan kak dion sudah pulang, aku ke toko sama supir pribadi kita" ujar nya dengan susah payah membuat alasan.
Razzi menatap Liandari yang lagi menelpon sedari tadi seraya tersenyum nakal. Sesekali ia mengedipkan matanya yang membuat Lian menunjukkan senyum simpulnya.
"Pintar sekali ya, pacarku membuat alasan" Dalam hati Razzi. Tidak sengaja Lian melirik pacarnya dan ia melihat Razzi yang menahan ketawa melihat dirinya. "Huppfff" Razzi yang menahan ketawanya dengan merapatkan bibir atas dan bawahnya.
Melihat Razzi yang menahan ketawa, Raut muka Lian berubah menjadi cemberut dan ia memalingkan mukanya.
"Heh... dia kesal, hahaha..." pikir Razzi dengan gelak tawanya didalam hati.
Dengan berlahan tapi pasti Razzi mendekat kearah Lian dan ia mengusap-usap rambut Liandari. Kini rambut Lian menjadi sedikit kusut karena Razzi mengusapnya.
Tetapi... awalnya mengusap dengan pelan dan lama kelamaan ia menjadi gemas. Dan Razzi pun malah mengacak- acak rambut Lian.
Terlihat Lian sedikit menghindar ketika rambutnya diusap dan diacak-acak. Tetapi dibalik itu semua. Bibir yang tadinya cemberut kini merekahkan senyuman, serta tak lupa pula dengan pipinya yang sudah sedari tadi merah merona.
Kecemasan karena harus berbohong sedikit berkurang karena tingkah Razzi. Liandari sekarang dengan lancar meluncurkan aksinnya.
**********
Dirumah Liandari.
Jino dan Mirza kini sudah sampai dirumah, mereka pun masuk dan Jino dipersilahkan duduk diruang tamu. Bibi membuatkan minuman serta cemilan untuk Jino sedangkan Mirza naik keatas dan berganti baju. Ia memakai baju yang santai, kaos polos longgar warna pink berlengan pendek dengan celana berbahan jeans pendek seatas lutut.
Padahal seharusnya mereka sampai duluan karena tadi Mirza dan Jino sempat mutar-mutar dulu sebelum pulang. Ya... jika Lian mungkin dapat ia maklumi. Karena mungkin saja mereka nyangkut dulu entah kemana. Namanya juga orang pacaran, itu semua bisa saja terjadi.
Tetapi apa kabar dengan caca? pikirnya. Caca pulang dengan kak dion. Mana mungkin mereka nyangkut dulu entah kemana. Jadi... kemana kak dion dan caca?
Disampimg kebingungn Mirza. Dia turun kebawah menghampiri jino yang sedang menyeruput minumannya yang diberikan oleh bibi.
Jino yang melihat Mirza turun dari tangga langsung terperangah. matanya yang tajam seketika membulat dan senyuman tersungging dibibirnya.
"Mengerikan ya, melihat kamu tersenyum begitu" canda Mirza yang menghampiri Jino, "Haaa..." Jino menghembuskan nafasnya sembari tetap tersenyum.
"Tak adakah pembelaan atau hanya hembusan nafas?" ujar Mirza yang kini duduk disamping Jino.
"Hahaha... memang aku harus membuat pembelaan seperti apa" balasnya ke Mirza.
"Wah... berarti kamu mengakui bahwa kamu mengerikan jika tersenyum ya?" ucap Mirza sembari mengambil makanan dimeja dan duduk menghadap kearah Jino sambil menyilangkan kakinya.
"Aku tak peduli jika aku tersenyum dan itu mengerikan" ungkap Jino yan kini juga menghadap keMirza dengan menyilangkan kakinya.
"Oh ya..." ucap Mirza seakan tak percaya, "Yang aku pedulikan adalah... kamu menyukaiku sekarang" ujarnya yang membuat pipi Mirza merah dan jantungnya berdetak kencang.
"Mirza" panggil Jino, "Ya" ucap Mirza singkat, "Kondisikan jantungnya ya, kayakny degupannya kencang, hahaha..." kelakarnya menggoda Mirza, "Apa?" Mirza kesal tapi pipinya yang tadinya sudah merah malah bertambah merah sekarang.
Mungkin kini sudah seperti kepiting rebus. Jantungnya juga berdegup dengan lebih cepat lagi.
Mirza yang kesal, dan ia pun menutupi suara detak jantungnya dan malunya dengan memukul Jino dengan bantal yang ada disofa.
Walau kesal dan malu tapi kini suara tawa mereka berdua memenuhi ruang. Mirza terus saja memukul Jino sedangkan Jino tidak membalas. Jino hanya menghindar dan terkadang menjadikan kedua tangannya sebagai perisai.
Jika ditempat mereka berada adalah dunia fantasi dan mereka berada didalam komik. Mungkin diantara mereka akan ada bunga-bunga yang berterbangan disekitar mereka dengan warna pink yang menghiasi menambahkan sisi romantisnya.
Tidak terduga, bukan? jika bibi melihat mereka berdua sedari tadi sembari tersenyum dan mengingat masa mudanya. Bibi tersenyum simpul dengan pikiran yang telah melayang ke beberapa tahun lalu. Disaat ia masih muda dahulu.
"Jadi teringat almarhum suamiku, ahhh... rindunya" gumam bibi mengingat masa mudanya dengan seseorang yang ia cintai, yaitu suaminya.
__ADS_1
**********
Flashback
Berangsur-angsur Dion mengkesampingkan mobilnya dan mulai mengatur kelajuannya untuk berhenti. Namun ia masih saja belum mendapatkan handphone nya.
Hingga, Caca yang tadinya diam ia malah berteriak kencang ketika Dion menginjak rem mobil nya dengan sangat kuat dan berteriak. Pada saat itu ketakutan melanda Dion dan Caca, Dion berusaha sekuat tenaga menghentikan mobilnya agar tidak menabrak seseorang yang berada didepannya. Dan "AAAAAKKHHHHH..." teriak Dion dan Caca.
Akhirnya mobil terhenti juga. Jika tidak mungkin ada masalah yang sangat gawat. Dua kemungkinan terjadi jika mobil tidak berhenti.
Pertama, akan adanya mayat didepan mobil ini. Kedua, akan adanya borgol ditangan ini. Tapi untung saja, itu tidak terjadi.
Kini nafas Dion dan Caca terengah-engah, mata mereka masih terbelalak melihat kedepan. Tangan yang dingin, tubuh yang gemetar hebat, jantung yang berdetak begitu kencang.
"Huuufff..." Caca menghembuskan nafas untuk menenangkan dirinya. Dion tersadar dan melihat kearah Caca, "Kamu enggak apa-apa kan Ca, ada yang luka?" tanya Dion yang masih syok.
"Aku baik-baik saja, ayo keluar!" ajak Caca, "Haa?" ucap Dion yang masih linglung, "Haa apanya haa ! ayo turun, lihat orang yang hampir kamu tabrak kak" ujar Caca menyadarkan Dion.
Merekapun membuka pintu mobil dan keluar. Orang yang hampir ditabrak tadi masih saja berjongkok didepan mobil. Dia gemetaran dan meneteskan air matanya karena ketakutan.
Sedangkan orang-orang disekitar mengerumuninya dan bertanya apakah ia baik-baik saja. Seketika Caca terhenti melihat kerumunan orang disekitar. Kaki Caca serasa begitu lemas.
Dion yang melihat Caca yang sepertinya masih kaget dan ketakutan ia langsung menggenggam tangan Caca dan mengatakan, "Semua akan baik-baik saja, tenanglah" ujar Dion menenangkan Caca.
Yang padahal dirinya sendiri juga masih kaget, jantungnya pun masih berdegup kencang, tetapi ia mencoba tenang agar semuanya tak menjadi runyam.
Caca yang mendengar perkataan Dion menjadi lebih tenang. Dia serasa memakai jubah pelindung. Tangan yang awalnya sangatlah dingin kini berangsur-angsur membaik dan hangat kembali karena Dion yang menenangkannya dan tangan dion yang hangat serta lebar menggenggam tangannya yang kecil.
Salah satu dari orang yang mengerumuni seseorang yang hampir dilanggar oleh Dion, kini menghampiri kami berdua.Tanpa aba-aba orang langsung menarik kerah baju Dion dan menggenggamnya. Dia berteriak kepada kami dengan keras dan berkata.
"Hei... enggak punya mata ya? dasar! ini nyawa orang dipertaruhkan karena kecerobohan kalian!" teriaknya kepada kami.
"Iya pak, bapak tenang dulu... saya pasti akan bertanggung jawab" ungkap Dion kepada bapak yang manarik kerah bajunya.
"Jangan bicara saja, buktikan sana... awas kalian kalau kabur!" seru bapak itu yang masih menggenggam erat kerah baju Dion.
"Saya tidak bakal kabur pak, jika saya memang mau kabur, maka buat apa saya turun dari mobil?" ujar Dion menjelaskan dengan tenang. Bapak itupun perlahan lahan melepaskan tangannya dari kerah baju Dion.
Dan Dion pun melanjutkan bicaranya, "Sepertinya sudah jelas dan tidak ada kesalahpahaman diantara kita ya pak... jadi saya permisi dulu, saya mau lihat korban yang hampir saya tabrak tadi" ucapnya agar bapak itu membiarkannya melihat orang yang hampir ia langgar.
Dion yang masih menggenggam tanganku ia langsung menarik dan mengajak ku untuk melihat orang yang hampir ia langgar sembari tersenyum seperti sedang memberikan dukungan atau kekuatan untukku.
Kami berdua memasuki kerumunan orang-orang tersebut. Sementara orang -orang yang berada disana memandangi kami dengan begitu sinis. Dan bukan hanya itu... disana mereka ada yang berbicara terang-terangan dan ada juga yang bebisik-bisik.
Tetapi tetap saja terdengar. Mau yang terang-terangan ataupun berbisik... topik pembicaraan mereka tetaplah sama. Disana aku dan Dion mendengar banyak hujatan dan makian.
Walaupun kami tidak kabur dan mau bertanggung jawab, tapi tetap saja hujatan tidak akan berhenti, ya... itu wajar saja. Karena memang salah kami.
Aku tertunduk. Tidak berani memandang mereka karena hujatan dan tatapan yang begitu sinis.
Sedangkan Dion pada saat itu terlihat tenang menanggapi situasi yang runyam seperti itu. Tetapi aku yakin, ia juga pasti masih kaget, takut, dan cemas.
Pada saat itu, Dion sangatlah hebat bagiku. Aku kagum. Dia menyingkirkan rasa takut dan cemasnya agar aku tenang. Aku merasa Dion adalah jubah pelindungku yang hebat saat ini.
Aku dan Dion menghampiri orang yang hampir kita langgar. Dion pun bertanya kepada orang itu, " Kamu tidak apa-apa? apa ada yang luka?" tanya Dion yang berjongkok karena orang tersebut terduduk lemas dijalan sambil menutup mukanya.
"A... Aku..." Terbata-bata.
Bersambung...
dia akan mengatakan apa??
GAES JANGAN LUPA LIKE AND KOMEN YAH...DI LIKE DAN KOMEN BIAR CERITANYA LANJUT TERUS, BIAR SEMANGAT NIH YANG NULIS KALAU ADA DUKUNGANNYA... DAN TERIMA KASIH YANG SUDAH BACA LIKE N KOMEN.
uppppsss....dan jangan lupa tip nya juga ya guys, hehe... :)
__ADS_1