
Tidak lama kemudian pun Liandari datang dengan bibi dan kak Dion yang ikut membantu membawakan cemilan, dan air minum. setelah itu Lian mengenalkan Dion ke sahabat dan teman-temannya. "All... kenalin ini Kak Dion, teman kecil aku dulu diAustralia dan Kak kenalin juga ini teman-teman aku disekolah" ucap Lian, "Ya, salam kenal semua... oya sepertinya kamu lupa Lian" ujar Dion, "Apa?" tanya Lian, "Kenalin aku juga sebagai calon tunangan kamu!" ungkap Dion kepada Lian, "Hah..." Apa-apaan ini dalam hati Lian.
**********
Suasananya kok enggak enak sih… dan sekarang mengapa aku jadi duduk ditengah-tengah Kak Dion dan Razzi. Senyuman Kak Dion sama Razzi tajam banget sih.
Flashback
"All... kenalin ini Kak Dion teman kecil aku dulu diAustralia dan Kak kenalin juga ini teman-teman aku disekolah"
ucap Lian, "Ya, salam kenal semua... oya sepertinya kamu lupa Lian" ujar Dion, "Apa?" tanya Lian, "Kenalin aku juga sebagai calon tunangan kamu!" ungkap Dion kepada Lian, "Hah..." Apa-apaan ini dalam hati Lian.
Razzi yang tadinya duduk kini berdiri dan menjabat tangan Dion dan ia memperkenalkan dirinya, “Kenalin aku Razzi pacar Lian” kata Razzi sambil membalas senyuman Dion.
“Oh... Cuma pacar ternyata, haha…” Tertawa ramah yang penuh akan kebusukan, “Iya cuma pacar tapi RESMI sudah diakui oleh Lian dan bukan sekedar CALON, hehe…” balas Razzi dengan menekankan kata resmi sudah diakui Lian.
“Wah… mantap kali suasananya” gumam Jino, “Kepala lu mantap, bego” ujar Mirza yang mendengar gumamnya Jino, “Hah… aku dibilang ****, hancur sudah image gue didepan Mirza pula, akkhhh…” kata dan teriakan hati Jino, dan kini Jino hanya tertunduk setelah mendengar kata **** dari Mirza.
“Buat apa resmi jika tidak direstui, haha… itu judul buku lo, bagus sekali… coba deh dibaca, pasti seru” sindir Dion
yang padahal tidak ada judul buku tersebut.
“Bakal ku baca, sekalian bacalah buku judulnya memaksa cinta hanya akan menimbulkan luka walau direstui ibu
bapak” balas Razzi akan sindiran dari Dion.
“Jino… kayaknya makin panas ya?” tanya Jeki kepada Jino dengan sedikit gurauan\, “Enggak usah mancing deh\, cukup sudah dibilang bego” kata Jino yang sepertinya masih syok saat mendengar kata **** dari orang yang ingin iya dekati\, “Hahahaa…” tawa pelan Jeki\, “Ba**s*t pakai ketawa lagi” ujar Jino yang kesal\, sedangkan Jeki masih saja menahan ketawa dengan menggepal tangannya untuk menutup mulutnya.
“Emm… Kak, Zi… mending duduk dulu yuk, enggak capek apa berdiri mulu” sela Lian untuk mengubah suasana yang sudah tegang dari tadi.
“Iya… yuk duduk dulu bro” ajak Razzi kepada Dion, “Ya… sini Li duduk dekat kakak!” pinta Dion untuk duduk disampingnya.
“Haha… kakak terlalu sayang dengan adiknya ya, tapi kayaknya Lian lebih suka duduk disini” Razzi dengan cepat
memegang tangan Lian dan menariknya hingga Lian duduk disamping Razzi.
“Iya juga sepertinya Lian lebih suka duduk disamping kamu… kalau begitu kakak saja yang pindah kesana, karena kakak lebih suka duduk disamping Lian” ujar Dion dengan sedikit sinis.
“Heh… terlalu memaksa” gumam Razzi yang juga membalas tatapan sinis Dion kepadanya.
“heeeeeee… Suasananya kok enggak enak sih… dan sekarang mengapa aku jadi duduk ditengah-tengah Kak Dion dan Razzi, tatapan dan senyum Kak Dion dan Razzi tajam banget sih” kata hati Lian yang sekarang jadi enggak enak banget.
Kini walau suasananya tegang tapi akhirnya lama-lama menjadi lebih santai karena adanya candaan dan gurauan dari jino, jeki, edik, dan ditambah pula cerewetan dari caca dan mirza. Sedangkan Razzi dan dion lebih banyak hanya mengikuti pembicaraan yang lain saja. Disini dengan adanya dion, Razzi jadi terlihat lebih posesif terhadap lian. Selama mereka saling bicara dan mengobrol dengan yang lain, Razzi terus saja merangkul dan terkadang menyenderkan kepalanya dibahu Lian.
Sangat terlihat bahwa dion tidak senang dengan sikap Razzi, tetapi apa yang mau dikatakan oleh dion tidak bisa
disampaikan secara langsung. Bagaimana pun dion cukup sadar diri karena dia sekarang bukanlah siapa-siapa bagi Lian. Dia hanya dianggap kakak oleh Lian, dan ia pun tidak memiliki hubungan yang special seperti Razzi dan Lian yaitu berpacaran.
Tatapan sinis dion terus saja tertuju kepada Razzi, dan semakin dion tidak suka maka semakin pula Razzi melakukan apa yang dion tidak sukai. Razzi terus memanas-manaskan dion dengan maksud ia harus sadar diri kalau ia bukan siapa-siapa Lian selain hanya kakak itupun tidak kandung hanya kenalan semasa kecil Lian diAustralia.
Walau kedua orang itu terlihat santai dan terkadang ikut tertawa bersama tetapi Lian juga sangat mengerti didalam diam mereka tersimpan banyak kata yang saling tidak senang terhadap sama yang lain, tatapan mereka berdua cukup untuk membuat Lian mengerti.
Diruangan yang dipenuhi gelak ketawa itu juga tersimpan kegelisahan dari Lian. Dibanding tatapan mereka, Lian lebih merasa cemas karena ia tidak pernah kasih tahu Razzi kalau ia dijodohkan oleh orang tuanya dan kini ia mempunyai calon tunangan yaitu dion. Liandari sebenarnya sangat takut kalau nanti Razzi menjadi marah atau kecewa karenanya.
“Kesalahpahaman akan terjadi, bagaimana jika aku dan Razzi menjadi putus gara-gara ini…padahal baru saja kami
berpacaran masak putus secepat ini” Pikir Lian yang sangat cemas dengan apa yang akan terjadi nanti.
“Aku tidak ingin ia pergi, entah mengapa dan sejak kapan rasa yang kupunya menjadi dalam dan aku takut ditinggalkan olehnya karena kesalahpahaman” Kegelisahan Lian.
Tidak terasa waktu telah berlalu dengan cepat. Sekarang telah menunjukkan jam delapan malam. Canda tawa terhenti ketika Lian mengajak teman-temannya untuk makan malam bersama.
__ADS_1
Rencananya Razzi dan sahabatnya akan ikut makan, tetapi karena edik ada acara pengajian dimesjid dekat rumahnya jadi Razzi dan para sahabatnya pun pamit langsung pulang saja. Lian, caca dan mirza mengantarkan mereka keluar, hingga didepan pintu.
“Zi…” panggil Lian, “Ya?” tanya Razzi yang tadinya ingin pergi menjadi berbalik menghadap ke Lian, “Itu… aku,
soal dion…” Sebelum Lian menyelesaikan kalimatnya Razzi langsung memotong saja dan berkata, “Aku tahu… besok saja kita bicarakan ini, sudah malam makanlah dulu, cuci muka dan tidur…aku pulang dulu” Sambil memegang kedua bahu Lian.Liandari hanya mengangguk dan melambaikan tangannya ketika Razzi pergi, dan Razzi tersenyum melihat Lian.
“Ayo Li kita masuk” kata Caca kepada Lian, “Iya” ucap Lian, dan mirzapun mengikuti mereka masuk.
Tok tok tok… suara ketukan pintu kamar Lian, “Non, makanannya sudah siap” kata Bibi Sumi yang memanggil Lian
untuk makan malam. “Iya Bik aku turun” jawab Lian.
Lian beserta sahabatnya pun turun kebawah, dan ternyata Dion sudah duduk dimeja makan menunggu Lian dengan teman-temannya. Lian dan sahabatnya duduk dan menyantap makan malam bersama-sama, makan malam ini sungguh hening sekali… tidak ada suara sedikitpun.
Hingga akhirnya semua telah siap makan dan Lian dengan temannya ingin naik keatas lagi, Dion memanggil Lian,
“Li… tunggu, jangan naik dulu” ucap Dion yang membuat Lian berhenti.
“Ada apa kak” tanya Lian penasaran, “Ada yang ingin kakak bicarakan, penting!” ujar Dion yang terlihat serius dan
membuat Lian makin bertanya-tanya, kenapa.
“Lian kalau begitu, kita berdua naik keatas dulu saja ya… kamu bicara saja sama Kak Dion” ucap Caca yang mengerti kalau sudah seharusnya mereka diberi ruang untuk berbicara berdua.
“Iya naik saja Ca… Mir, nanti aku nyusul” ujar Lian sambil tersenyum, “Ya sudah kita duluan Li” kata Mirza dan ia
pun naik keatas bersama Caca.
“Duduk dulu dek” pinta Dion, “Hmm…”jawab Lian. Dan mereka berdua duduk, 10 menit sudah mereka lewati dengan hanya duduk dan diam. Keheningan selama sepuluh menit dipecahkan oleh Lian.
“Pendapat kamu seperti apa tentang perjodohan kita” tanya Dion yang sedikit gugup, “Aku hanya anggap kak Dion
sebagai kakak… dan aku sudah punya pacar” tegas Lian, “Aku tahu kamu sudah punya pacar, tapi ayah kamu bukannya tidak setuju?” ucap Dion dengan menundukkan kepalanya.
Liandari tersenyum melihat Dion yang berbicara seperti itu tetapi sambil menunduk. “Aku yakin suatu saat akan ada
jalan untuk ku dan Razzi direstui ayah” terang Lian dengan sangat yakin bahwa suatu saat ia akan direstui.
“Kenapa kamu seyakin itu” tanya Dion yang heran dengan keyakinan Lian, “Aku yakin, karena Razzi adalah orang yang baik dan aku mencintainya… bagaimanapun aku bakal perjuangin dia, agar dia selalu bersamaku” ungkap Lian.
“Anggaplah dia juga mencintaimu dengan tulus tapi… apa dia akan berjuang juga demi kamu, jika ia tidak sanggup
untuk memperjuangkanmu bagaimana?” tanya Dion yang ingin meruntuhkan keyakinan Lian akan cintanya.
“Tidak apa-apa, kalau ia tidak sanggup berjuang maka biar aku yang memperjuangkannya, selagi ia masih
mencintaiku dan masih ada keinginan untuk tetap bersamaku” kata Lian dengan matanya yang penuh akan keyakinan.
“Kenapa kamu harus sampai seperti itu, apa kurangnya kakak… dari pada kamu harus berjuang deminya lebih baik kamu bersama kakak saja, kamu tidak perlu susah payah untuk berjuang… kamu cukup menerima cinta yang akan kakak berikan, kakak yakin kamu akan bahagia” ucap Dion meyakinkan Lian.
“Ya… aku yakin bahagia jika bersama kakak tetapi… aku mencintai Razzi, aku akan mengikat hatiku untuknya, walau ku tahu nanti akan ada banyak rasa yang kurasakan… sedih, kecewa, pertentangan, sakit, aku tahu akan sulit… apapun yang terjadi aku tidak akan pernah melepaskannya kecuali ia yang melepaskanku, maka aku akan pergi disaat itu. Ucap Lian yang tadinya duduk kini ia berdiri.
“Baiklah kita lihat saja sampai mana kamu bisa bertahan untuk terus berjuang demi nya, jika kamu sudah lelah
datanglah kekakak, kakak tidak akan pergi… naik lah Li, sudah malam saatnya kamu tidur” kata Dion yang juga ikut berdiri sambil memegang satu pundak Lian.
“Kakak juga, istirahatlah” ucap Lian yang ingin naik, “Lian tunggu…” panggil Dion yang membuat Lian berbalik badan dan melihat kearahnya.
__ADS_1
“Iya” sahut Lian, “Jangan larang kakak untuk berjuang juga untukmu, tolong izinkan kakak untuk tetap berjuang”
pinta Dion memelas, “Silahkan kak, tidak akan pernah ada larangan itu… tapi kakak juga harus ingat bahwa yang kucintai adalah Razzi” Lian pun lanjut berjalan menuju keatas, ia berjalan tanpa memandang kebelakang.
Saat ini Dion terdiam ditempatnya sambil melihat Lian yang terus naik tanpa melihat kebelakang.
“Kau tidak tahu Lian mengapa aku harus melakukan ini semua, sebenarnya aku tidak ingin merusak kebahagianmu,
maafkan kakak… berjuanglah sekuat mungkin dan wujudkan keyakinanmu bahwa suatu saat restu akan ada dipihak kalian berdua, maaf” Kata hati Dion yang sebenarnya juga tidak ingin melakukan ini semua.
“Hmm… Caca dan Mirza sudah tidur ya, good night my best friend” ucap Lian dengan suara yang pelan sambil menyelimuti kedua sahabatnya.
“Malam ini lagi lagi tidak ada bintangnya, begitu gelap tapi tidak hujan, kalau hujan apa Razzi akan datang
ya… haa tidak mungkin, sudah lah Lian saatnya tidur” gumam Lian kepada dirinya sendiri.
**********
Ditempat lain
“Bro… ngapain sih lihat langit mulu, itu dilangit enggak bakal hilang… lagian alay banget kali lihat langit malam malam sambil bengong kayak gitu” ejek Jino sambil ketawa, “Masalah emang, dan lagi kalian semua ngapain disini” balas Razzi sambil bertanya, “Ya pengen nginap lah” sahut Jeki.
“Kayak enggak ada rumah saja” ujar Razzi kepada temannya, “Emang enggak boleh, kalau enggak boleh kita pulang ni” ucap Edik, “Suka-suka kalian sajalah… yang penting jangan sentuh bantal guling gua” ucap Razzi yang melarang temannya menyentuh bantal guling kesayangannya.
“Siapa juga yang mau sentuh bantal guling yang kumal dan bau itu” balas Jino, “Kepala lu kumal dan bau, sudah lah tidur sana… besok harus bangun pagi sekolah” terang Razzi sambil baring dan memeluk bantal gulingnya.
**********
“Yuk kakak antar kesekolah!” ajak Dion kepada Lian, Caca dan Mirza, “Enggak usah kak, kan ada supir yang bakal
antar… seperti biasa” jawab Lian yang menolak untuk diantar kesekolah, “Kakak ada urusan diluar dan satu arah kesekolah kamu, jadi sekalian saja kan” jelas Dion.
Dikarenakan mereka satu arah akhirnya Lian setuju dan mereka pun pergi bersama. Sampai disekolah Lian dan
sahabatnya turun dari mobil dan ternyata Razzi telah menunggu Lian di halaman depan sekolah.
Tatapan yang sudah tidak asing lagi… Razzi dan Dion bertemu untuk yang kedua kalinya, tapi kini Dion tidak turun dari mobil ia hanya bertatapan muka saja dengan Razzi... setelah itu ia lanjut pergi. “Lian…” panggil Razzi yang melambaikan tangannya. Liandari yang melihat Razzi melambaikan tangannya pun ia langsung berlari kecil-kecil dan menghampiri razzi, ketika itu razzi pun mendekat keLian dan mereka saling berpegangan tangan.
“Nunggu ya?” tanya Lian yang tersenyum ke Razzi, “Iya” jawab Razzi singkat, “Ngapain sih ditunggu, kalau aku
lama datangnya… kamu kelamaan deh berdiri disini” ucap Lian, “Karena pagiku yang indah tidak ingin kulewatkan tanpamu” terang razzi yang membuat Lian tersipu mendengarnya, dan kini Razzi pun merangkul Lian.
“Masih pagi ini, dasar bucin” ejek Mirza kepada mereka berdua yang sudah mesra saja padahal masih pagi, “Yang
jomblo diam sajalah” sindir Razzi yang menohok ke Mirza, “Dia memang jomblo, tapi ada yang suka sama dia kok” sela Jino yang tiba-tiba datang.
“Eh *****, ini bocah datang dari mana pula lah…” ujar Razzi yang kaget dengan kedatangan Jino, “Dasar sok tahu…
mana ada yang suka, jangan sebar gosip deh” kata Mirza, “Ini fakta kali” jawab Jino, “Emang siapa orangnya Jino” tanya Caca penasaran, “Aku, aku suka sama Mirza… dan ini fakta” jawab Jino sambil mengusap samping lehernya dan ia terlihat sedikit menundukkan kepalanya, sedangkan Mirza terdiam.
Ucapan Jino membuat Mirza terdiam karena terkejut dan malu, beda halnya dengan Caca. Ini seperti sambaran petir dipagi hari baginya, rasa sesak memenuhi rongga dadanya. Mulutnya terbungkam dan matanya sedikit berkaca-kaca tetapi bibbirnya ia paksakan sebisa mungkin tersenyum.
Bersambung...
#Apakah caca akan menangis ditempat itu atau ia akan tetap diam dan akankah ia marah dan menjauhi mirza...?
__ADS_1
GAES JANGAN LUPA LIKE AND KOMEN YAH...DI LIKE DAN KOMEN BIAR CERITANYA LANJUT TERUS, BIAR SEMANGAT NIH YANG NULIS KALAU ADA DUKUNGANNYA... DAN TERIMA KASIH YANG SUDAH BACA LIKE N KOMEN.