
Dengan tubuh yang sudah basah kuyup Razzi malah melihat hal yang tidak diinginkan. Jika saja Liandari jujur ia pergi dengan Dion, maka Razzi tidak akan merasa sekecewa ini. Razzi bertanya-tanya didalam hatinya mengapa harus berbohong. ia tidak akan pernah marah jika Lian berpergian dengan Dion, tapi MENGAPA HARUS BERBOHONG!.
**********
Malam gelap tanpa bintang yang menurunkan hujan disertai kilatan dan geluduk yang bagaikan saling berdentum mengiramakan hati yang terselubungkan rasa kecewa. Tidak ada kata yang tepat untuk memaparkan ketidakpercayaan atas kebohongan ini.
Disepanjang jalan dengan baju yang telah basah, hanya satu pertanyaan yang terus saja terlintas dan berputar-putar dibenakku, yaitu 'Kenapa?'
Rinai hujan terus berjatuhan. Menemani hati yang terluluh lantakkan. Ingin untuk tidak mempercayai semua ini, namun semua kebohongan yang ia ukir terlihat jelas didepan mataku.
Aku menunggu alasanmu, apapun itu. Jika kau bisa mengatakan bahwa yang kulihat adalah sebuah kesalahpahaman saja. Bahkan jika itu suatu kebohongan sekalipun aku akan tetap mempercayaimu, saat itu juga.
**********
Flashback.
Saat Liandari menanyakan kenapa Dion menerima pertunangan begitu saja.
"Jujur kakak pun sebenarnya tidak mau membuat kamu sedih seperti ini. Kakak juga tahu kalau Razzi itu orang baik, dan Kakak setuju saja jika kamu dengannya" ujar Dion. "Ya, lalu... kenapa kakak menerima pertunangan ini begitu saja? Kakak punya hak untuk tidak menerimanya kan! Lantas mengapa sekarang malah seperti ini?"
"Hutang budi" cetus Dion, "Haa... hutang budi?" kata Liandari dengan penuh pertanyaan.
"Ada apa sebenarnya ini? Budi apa yang telah Kak Dion terima, sehingga ia sudah tidak punya hak tolak dalam pertunangan ini?" Dalam hati Liandari.
**********
“Sudah sampai” ucap Dion, “Eh… tapi tunggu, jelasin dulu tentang hutang budinya” ujar Liandari yang dari awal tidak menyadari kalau ternyata sudah sampai kerestoran. Dan ia juga sangat tidak sabaran untuk mengetahui masalah hutang budi tersebut.
“Turun dulu, didalam kakak kasih tahu” kata Dion, “Oh... oke” jawab Liandari yang menurut saja. Ia mencoba sabar karena dion juga barusan bilang jika ia akan mengatakan masalah hutang budinya didalam.
Baru saja Liandari memegang pintu mobil untuk keluar Dion pun tiba tiba memanggilnya. “Lian” panggil Dion, “Ya” sahut Liandari.
“Diluar itu ada anak buah ayah kamu, jadi saat kita keluar nanti harus terlihat senang dan baik-baik saja, oke!” ujar Dion memperingati Liandari.
“Haa?? Huuff... ya sudahlah, aku juga malas cari perkara lagi sama ayah” kata Liandari yang tidak menyangka bahwa masih sempat sempatnya ayahnya mengirim orang untuk memata matai dirinya.
Dion pun turun dari mobil dan ia memutari mobilnya untuk membukakan pintu mobil Liandari. Mereka berdua masuk kerestoran dengan raut wajah yang senang dan sekali-kali mereka tersenyum serta tertawa kecil.
Dan akhirnya mereka masuk dan Dion pun menemukan tempat dan mereka duduk. “Huuff… lega” gumam Lian yang sebenarnya cukup tegang karena merasa diawasi sekali saat mereka masuk kedalam restoran.
Dion yang melihat Lian menghembuskan nafasnya, ia tersenyum kecil dengan mengaitkan sudut bibirnya.
Tidak lupa Dion memesan menu terbaik dan steak sapi lada hitam kesukaan Liandari. Tidak tanggung tanggung Dion memesan makanan. Ia memesan makanan-makanan yang terbaik direstoran elit berbintang itu, dan harganya pun begitu fantastis.
Hanya hidangan pencuci mulut saja mencapai harga 425 juta. Hidangan penutup yaitu chocolate pudding, yang dipadukan dengan cokelat belgia, kaviar, kaviar sampanye, dan tentu bukan itu saja. Selain paduan yang menggiurkan, desainnya pun sungguh cantik. Desain bunga dengan daun emas yang glamor.
Dengan harga yang cukup mengejutkan itu hanyalah sebuah makanan penutup, belum lagi hidangan pertama, dan makan besar, hingga minumannya.
Bagi orang awam itu akan sangat mengejutkan, tapi tidak bagi Liandari yang memang sudah terbiasa dengan makanan mewah dan harga yang fantastis.
Namun, semua itu tetap saja terlihat biasa-biasa saja baginya. Andai ada Razzi mungkin makanan pinggir jalan bisa menjadi sangat mewah dan special baginya.
Sebenarnya Liandari sangatlah tidak sabar untuk mengatahui masalah hutang budi. Tetapi karena Dion meminta untuk makan dulu dan berbicara tentang hutang budinya nanti saja saat sedang santai dan makan makanan penutup, maka dari itu Lian menekan rasa ingin tahu nya yang sangat besar. Ia menuruti permintaan Dion.
**********
Dirumah Caca.
Malam ini sangat dingin karena hujan yang sangat lebat. Tetapi semua rasa dingin ini seperti menepi ketika kedua sahabat saling bercerita dengan hangat. Dan tidak lupa pula susu coklat kesukaan Caca dan Mirza terletak dimeja belajar.
Hangat memang bisa bercerita dengan sahabat, namun ketika salah satu dari sahabat kini sedang susah atau sedih, pasti sahabat tersebut juga merasakannya dan mereka khawatir.
Sama halnya dengan Caca, dan Mirza yang sedang mengkhawatirkan Liandari yang harus dinner bareng Dion. Tetapi tidak ada juga yang bisa mereka lakukan. Hanya bisa berharap Liandari baik-baik saja dan menghiburnya dikala sedih datang, menyemangati hati yang sedang rapuh.
Malam dengan penuh rasa khawatir oleh kedua sahabat Liandari. Namun, malam ini bagaikan malam yang penuh tanda tanya besar bagi Liandari.
__ADS_1
**********
Direstoran.
Saat Dion mulai ingin bercerita tentang hutang budi.
Hingga saatnya makanan penutup dihidangkan, dan mereka berdua makan dengan santai. Dion mulai berbicara serius tentang hutang budinya.
"Untuk pertanyaan pertama, apa yang ingin kamu tanyakan Lian?" ujar Dion yang meminta Lian untuk bertanya apa yang ingin ia ketahui.
"Oh... oke, Kak Dion!" panggil Liandari serius, "Ya" sahut Dion yang menunggu pertanyaan apa yang akan Liandari tanyakan kepadanya.
"Kakak berhutang budi kepada siapa? Ayah? Bunda? Atau kakek?" tanya Liandari untuk pertanyaan pertamanya. Baginya ia harus tahu dulu dengan pasti awalnya kepada siapa Dion berhutang budi.
"Ayah kamu" jawab Dion, "Oke, terus... hutang budi apa yang telah Kak Dion terima dari ayah?" tanya Liandari.
"Sebenarnya hutang budi ini sudah tertanam begitu lama, semua berawal dari ayahku, hutang budi dari ayahku dan aku pun ikut terhutang budi sama Om Bram ayah kamu. Sekarang aku menanggung hutang budi ayahku dan juga aku sendiri" ungkap Dion sedikit mengerutkan keningnya.
"Apa?? Kok jadi kayak ribet begini sih?" ujar Liandari, "Ya memang seperti inilah Lian, makanya sulit untuk mengatakan tidak pada Om Bram" ucap Dion sembari tersenyum pahit.
Setelah itu Dion pun lanjut berbicara, "Ada sebuah cerita dibalik hutang budi ini, dan cerita ini akan menyeret tentang kakek kamu, kakek ku, dan kedua orang tua kita. Kamu mau dengar?" tanya Dion.
"Tentu, aku juga ingin tahu tentang semua ini" ujar Liandari yang mulai mendengarkan kisah yang akan Dion ceritakan.
Awalnya ayah Dion adalah pengusaha yang sangat sukses dengan kehidupan yang sangat cemerlang. Tidak ada perusahaan yang bisa bersaing dengan perusahaan ayah Dion, kecuali perusahaan kakeknya Liandari.
Dua perusahaan yang terkenal, dan bahkan mendapatkan julukan 'satu dan dua terbaik'.
Perusahaan kakek Liandari selalu menjadi yang pertama, tidak ada satu orang pun yang berani menyinggung perusahaan 'YZ ALBERT' dan perusahaan ayah Dion selalu menjadi posisi terbaik nomer dua, namun walau begitu perusahaan 'CTM' tetap gemilau dan jaya.
Tetapi pada suatu hari, kejayaan yang telah dibawa lama oleh kakek Dion hingga ke ayah Dion kini mulai mendapatkan penurunan hari demi hari. Sampai saham pun ikut turun dan hampir bangkrut.
Usut demi usut akhirnya ayah Dion mendapatkan kebenaran atas semuanya. Tidak disangka bahwa ada mata-mata yang sengaja dikirim dan dijadikan pegawai perusahaan ayah Dion dari perusahaan lain yang ingin bersaing secara tidak adil.
Semua berkas-berkas penting dan bahkan rahasia kantor bocor semua kepada pihak lawan. Tidak ada jalan keluar, tidak ada yang bisa dilakukan lagi.
Bagaikan kiamat bagi ayah Dion saat itu. Selain perusahaan yang hampir bangkrut, istrinya juga sedang sakit parah dan memerlukan biaya yang sangat besar. Semua sudah berada dijalan buntu, ayah Dion tidak tahu lagi harus bagaimana.
Dibandingkan dengan perusahaan yang bangkrut ia lebih memikirkan bagaimana nasib istrinya yang lagi sakit dan membutuhkan perawatan yang tentunya memakan biaya yang sangat besar.
Hingga pada saat itu ayah Liandari dikirim oleh kakeknya Liandari untuk menstabilkan kembali perusahaan ayah Dion. Waktu itu ayah Dion menerima bantuan tersebut karena rasa tidak enak untuk menolak kebaikan dari sahabat karibnya ayahnya dulu.
Padahal ayah Dion sendiripun tahu bahwa perusahaan itu tidak ada harapan lagi. Semua orang bahkan kakek Liandari sudah mengira bahwa perusahan itu sudah sampai pada titik kebangkrutan dan sudah tidak tertolong lagi.
Tetapi siapa sangka bahwa dalam satu bulan setengah ayah Liandari dapat menstabilkan kembali perusahaan tersebut.
Sangat mengagetkan untuk semua orang dan terlebih kaget ayah Dion dengan kakeknya Liandari. Sungguh, mungkin terima kasih saja tidak cukup untuk diberikan. Rasa lega dan senang sudah tidak bisa ayah Dion ucapkan lagi.
"Itu adalah hutang budi ayahku yang kutanggung sekarang, sedangkan hutang budi diriku sendiri masih ada" ungkap Dion yang baru saja selesai menceritakan hutang budi ayahnya yang ia tangggung.
"Hutang budi apa lagi?" tanya Liandari, "Kakak akan ceritakan lagi, dengarkanlah" pinta Dion yang mulai bercerita hutang budi dirinya sendiri.
Setelah badai diperusahaan ayah Dion mereda, akhirnya semuanya pun bisa kembali stabil. Ayah Dion kembali bangkit dan bertambah kuat, keuntungan yang didapatpun menjadi lebih besar.
Mommy nya Dion akhirnya mendapatkan perawatan yang bagus dan dengan berjalannya waktu mommy nya kembali sehat dan bersemangat lagi.
__ADS_1
Beberapa tahun berlalu dengan damai. Sampai dimana Dion baru saja tamat dan menduduki bangku SMA. Dua minggu setelah ia masuk SMA terjadilah insiden jatuhnya pesawat pribadi ayah Dion.
Dunia yang terlihat indah selama ini telah berubah menjadi kelam bagi Dion. Ia yang belum belajar atau memahami tentang perusahaan ayahnya, kini malah harus menanggung tanggung jawab yang besar, yaitu meneruskan perusahaan tersebut.
Umur 17 tahun yang belum mengetahui apapun tentang perusahaan. Kini ia telah dituntut untuk melanjutkan kerja keras ayahnya selama ini.
Belun rasa sedih dan dukanya menghilang atas meninggalnya ayahnya, ia sudah diminta untuk mulai belajar dan meneruskan perusahaan.
Ayahnya yang baru saja meninggal dengan tiba-tiba, ibunya yang terus sedih dan terlihat begitu kehilangan, dan ia yang tidak tahu apa-apa harus menanggung tanggung jawab.
Jika saja Om Bram yaitu ayahnya Liandari tidak datang kerumahnya dan menawarkan bantuan maka mungkin ia benar benar akan deppresi akan semua yang telah menimpa dirinya.
Semenjak Om Bram datang kerumahnya dan menawarkan bantuan. Om Bram secara tidak langsung membimbing Dion untuk terus belajar memahami tentang perusahaan yang akan Dion jalankan.
Setiap ada masalah Om Bram akan selalu menjadi orang pertama yang akan datang ke Dion dan membantunya. Jika pada saat itu tidak ada Om Bram maka entah apa yang akan terjadi kepada Dion saat itu.
"Begitulah Lian!" ujar Dion dengan suara rendah yang sedikit serak, "Aku tidak pernah tahu sebelumnya ternyata ada cerita antara kak Dion dan ayah" ucap Lian bingung dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Dulu yang aku tahu Kakak adalah tetanggaku dan sekaligus menjadi teman dekat ku di Australia, namun ternyata ada hal yang seperti ini" ujar Liandari yang sebenarnya cukup kaget mendengar cerita yang selama ini tidak pernah ia ketahui.
Sekarang Liandari marasa benar-benar tidak ada celah lagi untuk dia bisa bersama dengan Razzi. Awalnya ia berpikir jika saja Kak Dion tidak memiliki rasa terhadapnya mungkin akan lebih mudah.
Dan Liandari bisa mengajak Kak Dion untuk bertemu ayah dan membatalkan pertunangan dengan alasan saling tidak mencintai.
Tetapi dengan cerita yang telah ia dengar barusan, sepertinya Kak Dion memang sudah tidak punya hak tolak. Kak Dion berhutang dua kali dengan ayahnya Liandari.
Andaikan perusahaan ayah Dion benar-benar bangkrut saat itu, mungkin saja mommy Dion tidak bisa selamat karena tidak adanya perawatan.
Tetapi ayahnya Liandari menjadi penyelamat keluarga Dion. Budi yang telah ayah Liandari tanam malah bisa menyelamatkan satu nyawa, yaitu mommy nya Dion.
"Lian" panggil Dion yang membuyarkan lamunan Liandari. "Ya, apa?" jawab Lian cepat karena kaget.
"Kamu benar-benar suka dengan Razzi?" tanya Dion dengan tatapan yang seakan ingin memastikan. "Ya, sangat" Tanpa keraguan Liandari menjawab.
"Razzinya apa benar-benar serius dengan kamu?" tanya Dion untuk kedua kalinya memastikan. "Aku yakin dia serius" uajar Liandari.
"Dari mana keyakinan itu kamu dapatkan! Andai kata Razzi tidak setia, berkhianat, bahkan mempermainkan kamu! Apa kamu tidak akan menyesal memilihnya dan memperjuangkannya?" seru Dion dengan begitu banyak pertanyaan.
"Aku tidak peduli dengan hal buruk apa yang akan dia lakukan, aku tidak akan pernah menyesal walaupun suatu saat bisa saja dia meninggalkanku atau menyakitiku. Yang aku tahu adalah, aku akan berjuang untuk orang yang aku cintai" tegas Liandari memperjuangkan Razzi.
"Baiklah. Mulai sekarang mari buat rencana membatalkan pertunangan dan mendapatkan restu utnuk Razzi!" ujar Dion dengan senyum nakalnya.
"APAAAA....??!!!" teriak Liandari sangat sangat terkejut dengan apa yang Dion ucapkan.
"Ya... kita akan..." kata Dion yang terpotong karena handphone-Nya bergetar diatas meja, Dan ternyata itu adalah telepon dari kantor.
Maka Dion pun permisi angkat telepon dan ia meninggal kan Liandari yang masih duduk terpaku dengan wajah yang tidak percaya akan apa yang barusan Dion katakan.
Bersambung...
apakah yang dikatakan dion serius? jika benar, maka apa rencananya?
GAES JANGAN LUPA LIKE AND KOMEN YAH...DI LIKE DAN KOMEN BIAR CERITANYA LANJUT TERUS, BIAR SEMANGAT NIH YANG NULIS KALAU ADA DUKUNGANNYA... DAN TERIMA KASIH YANG SUDAH BACA LIKE N KOMEN.
uppppsss....dan jangan lupa tip nya juga ya guys, hehe... :)
__ADS_1