Cinta Karena Taruhan

Cinta Karena Taruhan
8. Bencana Nasi Goreng


__ADS_3

"Jangan panggil gue, baby. Jijik".


"Kan kamu sekarang pacar aku, seharusnya kamu juga panggil baby dong atau sayang juga boleh".


Rama menghela nafas berat, kepalanya pusing. Ia mau belajar saja untuk merefresh otaknya daripada bersama dengan orang yang sudah memaksanya menjadi pacar.


Rasanya Rama ingin tertawa saja. Kenapa tuhan menulis takdir untuknya yaitu menjalin hubungan atas dasar paksaan dengan cewek disampingnya ini. Yang bahkan sekedar untuk menggoreng telur saja masih kesusahan. Bagaimana jika nanti ia memasakkan makanan untuknya?


Eh, apaan sih Rama, emangnya lo berharap jadi jodohnya si Acha? Kurang minum air nih, jadi ngelantur yang gak mungkin.


"Kamu makan dulu, baby. Aku tau kamu lapar. Atau kamu mau aku suapi?” Acha menyendokkan nasi goreng buatannya kemudian diarahkan ke mulut sang pacar.


Meski tergolong masakan yang simple tapi putri tunggal Adinata cukup kerepotan karena ya, tidak pernah menyentuh peralatan dapur. Tanpa bergerak pun para maid selalu membawa apa yang ia minta.


Sultan mah bebas


“Enak?”


“Asin banget ini. Lo gila ya? Mau ngeracunin gue?” Rama memuntahkan kembali makanannya. Dengan cepat ia menyambar minuman yang dibawa oleh gadis disampingnya.


Sumpah ya, itu tadi merupakan rasa ter-asin yang pernah dicecap oleh lidahnya. Meski ia cowok, pertama kali masak dulu juga gak bego-bego banget buat masukin sekarung garam untuk seporsi nasi goreng.


“Masa sih Ram?” Tanpa pikir panjang Acha menyendokkan nasi tersebut menuju mulutnya.


Boom


Asin banget Gusti. Ini sih bukan lagi nasi goreng dikasih garam tapi garam lauknya nasi. Definisi anak micin banget ya ini.


“Gimana? Pantes lo gak pernah dapat peringkat 10 besar, orang makannya micin mulu”.


Acha memberengut kesal. Bisa gak sih gak usah bawa-bawa otak. Ya jelas kalah telak lah, nylekit pula itu mulutnya.

__ADS_1


“Tapi kan, ini pertama kalinya Aku masak, Ram. Jadi ya wajar aja gak sih kalau ke-asinan. Kamu peka dikit dong, mana ada sih cewek setangguh Acha, motong bawang sampai tangan keiris juga, terus terkena cipratan minyak panas. Ish, tegar banget Acha, gak ngeluh”.


Apa tadi dibilang tangguh, keiris bawang, terkena cipratan minyak gak ngeluh? Wah, otaknya udah mulai kongslet nih. Kalau gak ngeluh lah tadi itu apa? Kumur?


Oke Rama, tarik nafas kemudian buang. Jangan sampai lo terkena darah tinggi di usia muda karena pacar lo- tunggu, lebih tepatnya pacar paksaan lo yang manjanya kebangetan.


“Sudahlah, gue mau ke perpustakaan, otak lo sama jepit rambut di kepala lo ga ada bedanya. Pusing gue.”


“Lah apa hubungannya sih, baby”


“Ada. Sama- sama buat hiasan doang”.


Tuh kan. Kejam banget kalo ngomong. Pengen Acha pukul tapi sudah sayang. Pengen ngatain tapi pacar sendiri. Jadi bingung kan.


“Awas ya lo Ram, gue buat lo jatuh, sejatuh-jatuhnya sama pesona gue”.


Yang disumpahi malah mengangkat bahu seolah tak perduli, berjalan dengan membawa tas di punggung sambil membalas sapaan dari adik kelas yang menurut Acha cuma modus doang, tapi memang yang namanya good looking gak usah cari perhatian udah jadi pusat perhatian sendiri, beda lagi kalo kentang.


“Mama dapat laporan dari Bibi An kalau beberapa hari ini kamu bawa bekal. Kenapa? Uang sakunya kurang?” Tanya Citra—Mama Acha— .


Acha menghentikan suapannya, ia menoleh menatap mamanya yang sedang menuangkan nasi serta lauk pauk ke piring daddy nya. Bibirnya tersenyum ketika otak cantiknya sudah menentukan ide mana yang akan ia ucapkan.


“Ehm. Sebenarnya Acha tuh pengen beli motor Dad, buat temen Acha. Dia kalau ke sekolah naik sepeda dan sepedanya tuh sudah kemakan umur Dad, alias udah butut”. Citra menaikkan satu alisnya. Tumben anak gadisnya ini perduli.


“Memangnya kenapa, Cha?”


“Masa jaman sekarang ada yang bawa sepeda butut gitu? Dia salah satu murid terbaik loh, Dad. Murid teladan yang selalu nyumbang piala di SMA Cendekia. Daddy gak pingin gitu beliin dia motor? Ya, sebagai apresiasi gitu loh pa”.


“Boleh-boleh. Memang siapa namanya?”


Tersenyum manis Acha menyebutkan nama yang kini sudah menjadi pacarnya. Entah kenapa hatinya berdebar bahagia jika menyebutkan nama tersebut.

__ADS_1


“Cowok ternyata. Oke, besok Daddy belikan. Dia suka motor gede atau yang biasa aja?”


Acha memiringkan kepalanya mencoba mengingat-ingat barangkali ada perkataan Rama yang menyinggung sepeda bututnya. Ahh ya, Rama dulu pernah bilang jika ia tak mau pakai motor. Pencemaran udara katanya, halah bodo amat. Lagian sepedanya itu masih layak pakai. Katanya sih. Tapi menurut Acah kategori sepeda Rama ya patut dirongsokan.


“Boleh gak Dad, kalau beli vespa aja. Ituloh motor yang lagi hits sekarang. Itu kan murah pa. Daddy bisa beliin kan?”


“Yakin? Padahal daddy niatnya beli motor gede”.


Acha mengangguk mantap. Di otak cantiknya sudah tersusun rencana jika ia ingin uwu- uwu sambil dibonceng vespa. Khas anak kekinian banget. Jangan lupa kalau Acha anak yang mengikuti tren, apalagi didukung modal dari orang tuanya. Apasih yang gak bisa didapatkan dari nona muda Adinata? Oh ya, cinta Rama.


Bukan gak bisa sih, namun belum. Tunggu aja.


“Oke deal ya, daddy pesankan sekarang”.


“Siap Dad and thank you. Acha sayang Daddy”.


“Oh, jadi Daddy doang nih yang disayang? Mama enggak?”


“Mama juga”. Acha tersenyum senang. Rencananya akan segera terwujud.


AN:


Ajarin Acha masak nasi goreng dong.


Kasian Rama lidahnya nanti bisa keseleo. Wkwk.


Oh ya, jangan lupa dukung Acha yuk!!!


Dengan cara klik star vote + komen


Untuk bab yang private bisa di baca di Kary*k*rsa : cutealpenlibe

__ADS_1


More Information follow instagram : cutealpenlibe01_


__ADS_2