
Bukan tanpa alasan hari ini Acha diantar supir. Untuk melaksanakan rencananya agar berhasil tentu saja ia harus melakukan pendekatan terlebih dahulu agar tidak kaku. Dan otak cantiknya memikirkan jika nanti harus nebeng atau pulang bareng dengan cabe boy. Rama.
"Tumben sama supir, biasanya pakai mobil, bangkrut lo?" Memang Fidelya ini kalo ngomong gak pernah pake filter tapi enaknya temenan sama orang kaya gini tuh jujur, nggak ada yang namanya muka dua.
"Mulut lo emang gak ada filternya. Nih, gue kasih filter instagram biar cakepan dikit, gimana?" Acha menaikkan satu alisnya sambil bersidekap dada.
"Ga perlu, bibir gue udah montok. Kylie Jenner aja sampe ngiri."
Acha memutar bola mata malas. Menarik kursi sebelah Fidelya kemudian mendudukinya, "Arin mana?"
"Tuh anak lagi ngebucin sama Rio”.
"Pagi-pagi gini? lo gak juga?"
"Lo g*b*ok atau gimana?" Fidelya mendengus kesal.
"Oh iya, lo jomblo dari orok". Acha tertawa sampai memegangi Perutnya. Senang sekali bisa membuat Fidelya kesal.
"Lo belum jawab pertanyaan gue, kenapa lo gak bawa mobil?"
"Gue nanti mau nebeng cabe boy biar makin akrab gitu. Keren kan rencana gue?" Acha berucap bangga dengan menepukkan tangan di dadanya.
"Hah? gimana gimana? Lo mau nebeng? Sama Rama? Belum juga naik udah kena damprat”. Fidelya menertawakan Acha. Skornya saat ini sama kan? 1-1.
See
Emang mulutnya lemes kayak kangkung rebus.
"Dasar sobat bangsat. Untung temen."
*****
Acha mengemasi buku dan alat tulisnya dengan cepat. Ia tak mau ketinggalan untuk misi satu ini. Melihat kolong meja, memastikan tak ada barang yang tertinggal, kemudian bangkit tak lupa menyampirkan sebelah tas saja di punggung.
"Gue duluan, ya”. Melambaikan tangan ke arah Fidelya dan Arin dengan senyuman genit andalannya.
"Semoga sukses, Cha”. Arin melambaikan tangan dengan senyum ceria.
"Oke, Rin".
"Lo jangan malu-maluin gue kalau gak bisa dapetin tuh cowok”. Dasar Fidelya, teori aja gede prakteknya nol. Jomblo emang.
"Ya ya."
Acha keluar dari kelasnya menuju parking area. Ia tersenyum lebar melihat sepeda tua itu masih berada disana.
Acha duduk di samping sepeda tersebut. Ia tak menghiraukan tatapan aneh dari siswa maupun siswi yang melewatinya. Ia tak ambil pusing, lebih baik ia menunggu Cabe boy.
"Hai, Rama. Kemarin gue chat gak lo bales. Sengaja, ya?"
Rama mendengus, "Ngapain lo disamping sepeda gue”.
"Emm... gue mau nebeng lo, mau ya”.
__ADS_1
"Gak”.
"Gue gak bawa mobil. Nebeng ya, please...please." Acha menatap Rama dengan tangan memohon dan tatapan se-imut mungkin.
"Gak. Minggir”.
"Please, Rama”. Bujuknya dengan raut macam anak kucing. Namun yang ditatap malah memilih tak perduli.
"Lo bisa suruh supir lo kesini atau nebeng temen lo, bukannya gue”.
Rama menaiki sepedanya. Ia sudah bersiap untuk mengayuh, tapi tangan yang menarik belakang bajunya membuat ia terpaksa berhenti. Karena tak mau jika bajunya sobek.
"Kali ini aja Ram. Gu-gue mandiri kok, nanti kalau ada apa-apa lo gak perlu kesusahan untuk gue. Please, ya."
Rama berpikir sebentar. Ia menyeringai. Sepertinya menarik.
"Oke”.
"Makasih Rama”.
Baru saja akan memeluk tapi sang empu malah menghindar, Acha jadi salah tingkah. Salah satu kebiasaan jika dia terlalu senang maka ia akan memeluk orang tersebut.
"E-eh ma-maaf. Yuk pulang."
...*****...
"Stop Ram, stop. Gue turun disini aja ya”. Acha mengipasi wajahnya yang kemerahan akibat terpapar sinar matahari langsung. Kepalanya sudah nyut-nyutan. Panas ibu kota tak main-main.
"Kenapa? Nyerah?” Rama melirik Acha sinis.
"Gue gak kuat, Ram. Sumpah, panas banget ini. Gue minta jemput sopir gue aja ya, kapan-kapan nebeng lo lagi”. Acha menyipit saat menatap Rama. Kulit putihnya sudah memerah akibat sunburn.
"Gak perlu. Ntar lo gosong kalo nebeng gue”. Rama bersiap mengayuh sepedanya. Ia melirik jam tangan murah di pergelangan tangan kiri yang menunjukkan pukul 2 siang.
"Ih, gak gitu. Mungkin gue belum terbiasa aja. Semua kan butuh proses, kayak lo ke gue. Butuh terbiasa aja lo sama kehadiran gue."
"Najis. Gue mau pulang."
Seakan tahu jika Rama akan bersiap pergi, Acha memegang lengan pemuda tersebut. Ia tak suka jika harus menunggu sendirian. Bibirnya mengerucut sebal.
"Masa lo mau ninggalin cewek secantik gue. Gak gentle banget. Kita ke caffe shop aja sekarang”. Acha menggandeng lengan Rama --Ehm... sedikit menyeret sebenarnya-- menuju caffe hits di sekitaran tempat ia berhenti.
"Gue gak mau." Rama menarik lengannya yang dipegang Acha. Ia tak mau membuang uang untuk hal yang menurutnya tak penting. Bukan untuk saat ini. Apalagi gadis ini malah menuju caffe dengan harga yang lumayan menguras dompetnya.
"Gue gak nerima penolakan lo ya. Gue traktir. Buruan atau gue nangis aja nih?”
Rama melihat sekitar. Banyak orang yang berlalu lalang, jika ia tak menuruti keinginan gadis di depannya ini. Siap-siap saja akan menjadi pelototan orang disini.
"Terserah”.
"Yeay. Let's go. Btw, posisi kita udah kayak pengantin baru aja ya. Boncengan pakai sepeda butut. Mesra banget kan?" Acha memegang baju Rama agar tidak jatuh.
"Ngomong lagi gue pites lo."
__ADS_1
...*****...
"Lo mau rasa apa?"
Rama menelan ludanya kasar. Ia meringis dalam hati melihat harga yang tertera di menu kasir. Es teh saja harganya 25k. Padahal es teh yang biasa ia minum bahkan harganya tak lebih dari 5k.
"Ram? gimana?” Acha mengeluarkan kartu debit dari dalam card walletnya.
"Gue nggak haus. Lo aja”. Ucap Rama tak enak.
"Ish, gak apa-apa Rama. Gue traktir". Acha menatap Rama gemas. Sedari tadi cowok itu hanya menatap menu tapi tak mau memesan.
"Niat beli gak sih. Daritadi liat menu mulu. Kalau susah gak usah gegayaan kesini dong”.
Rama tersenyum getir. Padahal sudah biasa dihina seperti itu. Tapi mengapa rasanya masih sakit?
"Jangan salah, gue bisa beli mulut lo juga kalau perlu". Acha mendengus sebal, ia memesan 2 cup ventie dengan menu paling mahal dan 2 red velvet roll cake di caffe berlogo putri duyung warna hijau.
"Silahkan ditunggu pesanannya”, ucap sang kasir ramah sambil mengembalikan kartu debit Acha.
"Lo seharusnya gak usah buang-buang duit buat minuman seperti ini”. Rama mulai bicara setelah pesanan mereka datang.
"Buang-buang duit gimana sih maksud lo? gini doang”. Acha menyendok kue berwarna merah dengan cream putih diatasnya kemudian ditimpa lagi dengan cake warna merah sampai bertumpuk beberapa layer.
Rama mulai menyendokkan kue yang sama dengan Acha. Lidahnya terasa di manjakan, rasanya sungguh enak tak seperti kue yang ia beli di toko biasa. Mungkin ini yang dinamakan harga sesuai kualitas.
"Lo sering kesini?"
"Seringlah, hampir tiap hari dan sama sahabat-sahabat gue juga kadang. Emang kenapa?"
Rama tersenyum tipis. Ia berusaha menguatkan hati, apa sih yang ia pikirkan. Memang benarkan sudah hal biasa jika anak konglomerat sering kesini. Sedangkan dia harus berpikir seribu kali, mungkin.
"Eh, itu supir gue udah datang Ram. Gue balik ya. Makasih untuk hari ini. Bye baby, Muach”.
“Terimakasih untuk traktirannya”.
Acha menganggukkan kepalanya kemudian tersenyum lebar. Melambaikan tangan ke arahnya kemudian menghilang dibalik pintu kaca.
AN :
Lanjut gak nih?
Kasih semangat dong
Oh ya, jangan lupa dukung Acha yuk!!!
Dengan cara klik star vote + komen
Untuk bab yang private bisa di baca di Kary*k*rsa : cutealpenlibe
Terimakasih :)
More Information follow instagram : cutealpenlibe01_
__ADS_1