Cinta Karena Taruhan

Cinta Karena Taruhan
11. Salah Paham


__ADS_3

Rama menajamkan netranya ketika melihat mini copeer merah nangkring apik di halaman rumahnya. Berjalan cepat ketika mengetahui plat nomor lengkap beserta pemiliknya sedang duduk di teras rumahnya. Sungguh, ini sudah kelewatan, “Ngapain lo disini?”


Acha mengerutkan kening bingung, “Hah? Kamu yang ngapain di sini?”


“Justru gue tanya sama lo. Ngapain lo ada di rumah gue. Lo ngikutin gue?” merasa lelah dengan kelakuan gadis yang berada di depannya ini.


“Berapa kali gue bilang kalau hubungan antara lo dan gue bukan hubungan yang orang lain sebut pacaran pada umumnya. Gue jadian sama lo karena terpaksa, jadi berhenti melangkah lebih jauh ke kehidupan gue”. Rahangnya mengetat bahkan urat di lehernya sampai terlihat. Nada bicaranya pun meninggi. Dirinya tidak tau sampai kehilangan kontrol seperti ini. Itu karena gadis di depannya yang mencoba masuk dalam kehidupan tenangnya.


Sudah ia bilang kan, pacaran versinya hanya sebatas status bukan dalam artian sebenarnya. Dia hanya butuh pengakuan saja kan? Lagipula dirinya juga tak mencintai gadis di depannya ini. Jadi, tak perlu bersusah payah berharap cintanya.


Jikalau memang gadis ini memiliki perasaan terhadapnya, tentu tak memanfaatkan kekuasaan orang tuanya agar mereka bisa jadian. Sangat kekanakan.


Minimal melakukan pendekatan dulu lah. Bukan dalam hitungan minggu langsung menyatakan perasaan. Jelas saja ia tolak, toh dulunya memang mereka tak saling kenal.


“Ta-di ta-di ada anak kecil mau nyebrang. Te-terus diwaktu bersamaan ada sepeda motor lewat. Jadi aku selamatin bocah itu terus aku antar pulang. Takut dia kenapa- napa, memangnya dia siapa kamu?”


“YA JELAS ADEK GUE LAH. LO KIRA?”


Liquid bening mulai menggenang di pelupuk mata putri tunggal Adinata. Mungkin dengan satu kedipan saja kristal bening tersebut bisa meluncur bebas. Tak pernah sekalipun ada yang berani membentaknya, bahkan kedua orangtuanya. Dirinya selalu diperlakukan bak puteri, dan kini ia harus dibentak oleh orang yang ia cinta. Sakit banget rasanya.


“A-acha g-gak tau kalau itu adek kamu”. Katanya menahan tangis.


Rama yang melihatnya pun menjadi merasa bersalah. Air mukanya sedikit melunak. Ah, kenapa ia tak mendengarkan terlebih dahulu alasannya sebelum membentak. Bahkan gadis itu sekarang sedikit menjaga jarak dengannya.


Tanpa kata pemuda jangkung itu langsung masuk ke dalam rumahnya tanpa mengidahkan sang gadis yang mulai terisak perlahan. Biar saja ia dibiliang tak sopan, lebih bagus lagi jika gadis tersebut berhenti mengejarnya.


Berurusan dengan Acha selalu membuat ia muak. Muak karena ia harus terikat dengan seseorang, muak karena ia dibicarakan dimana- mana karena beritanya yang sedang menjalin hubungan dengan seseorang, padahal dulu gelar kepopulerannya karena prestasi dan satu hal lagi ia takut jatuh dalam lubang yang sama. Bernama cinta.


Ia takut cita-citanya akan pupus jika sampai ia jatuh cinta. Ingat, cinta membuat orang buta dan bodoh. Kalau kalian menganggap jika cinta itu sumber kebahagian mengapa masih ada perselingkuhan, Toxic relationship bahkan yang lebih parah dating violence.


Jika kalian kira sikap Rama kemarin sudah menunjukkan tanda- tanda membuka hati, kalian salah. Itu hanya bentuk rasa balas dendam karena kemarin lusa putri Adinata mempermalukannya.


Ah, untuk satu ini tebakan Fidelya sangat benar.


“Loh, kak Rama udah pulang, kenapa kakak cantik gak disuruh masuk?”

__ADS_1


“Gak tau. Lagi lihat-lihat suasana luar mungkin”.


“Oh, gitu ya kak. Gimana orangnya, cantik banget kan?” Kevin menaikkan alis menunggu jawaban kakanya. Tapi dasarnya Rama itu seseorang yang denial terhadap perasaannya sendiri, ia malah menjawab biasa aja, membuat Kevin cemberut. Ia kira kakaknya akan terpesona.


“Kevin mau ke teras dulu deh. Mau nemuin kakak cantik”.


Rama hanya mengangguk sebagai jawaban. Tak lama kemudian ia mendengar deru mobil perlahan menjauh dari pekarangan rumahnya, bagus lah jika gadis cerewet itu pergi. Kembali ke habitat aslinya, memang puteri raja tak pantas berada di pemukiman padat penduduk.


“Kak Acha kenapa ya, kak? Mukanya murung sama kayak habis nangis gitu. Rama hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban. Rasa bersalahnya kembali muncul. Meski muak ia harus minta maaf dengan gadis beriris coklat madu karena sudah membuatnya menangis.


Berani membentak, harus berani meminta maaf. Be a gentleman.


...*****...


“A-arin…”


Merasa terpanggil gadis tersebut menoleh, melihat sahabatnya yang tiba-tiba berada di kamarnya serta suara gadis tersebut yang memanggilnya dengan serak khas seseorang yang sedang menahan tangis.


“Lo kenapa, Cha?”


Padahal dirinya kesini untuk meminta pendapat Arin mengenai apakah dirinnya terlalu over ke Rama? Hingga pemuda tersebut membentaknya tanpa perasaan. Ah ya, sejak kapan kekasihnya itu memiliki perasaan terhadapnya.


“It’s okay, baby. It’s okay”.


Tangannya menepuk kepala sahabat mungilnya. Arin memang sudah menganggap Acha sebagai saudara sendiri. Ralat, mereka bertiga memang sudah menganggap satu sama lain layaknya saudara. Sekian tahun bersama, saling melindungi dan menjadi suppport system satu sama lain.


Setelah isakannya sedikit mereda, Acha melerai pelukannya. Namun, masih terdengar isakan-isakan lirih dari mulutnya. Tetapi, tak sekeras tadi.


Dihirupnya pasokan oksigen untuk mengisi paru-parunya. Kemudian meminum air yang disodorkan sahabatnya.


“Lo mau cerita sama gue?”


Tuh kan, ingin menangis lagi rasanya. Mengingat perlakuan yang diterimanya tadi. Mungkin kalian menganggap bahwa Acha terlalu cengeng, karena dibentik gitu aja udah nangis sesenggukan.


Hell, tolong mengerti. Dirinya tak pernah diperlakukan seperti itu oleh lingkungan sekitarnya, apalagi orang tuanya. Bahkan jika dirinya salah sekalipun orang tuanya hanya mengingatkan, tak sekalipun mengucap dengan nada tinggi.

__ADS_1


Semua orang tua memiliki cara masing-masing untuk mendidik anaknya. Jadi, gak usah disama ratakan, please.


“Kalau lo belum siap cerita, gak apa-apa. Gak usah dipaksakan”.


“Hiks... G-gue salah ya? Hiks”.


Arin mengernyit. Salah yang mana yang sahabatnya maksud. Help, dirinya bukan peramal. Tapi, menanyakan pun sungkan. Biarlah dulu sahabatnya ini selesai bercerita. Barangkali ada clue yang bisa ia tarik kesimpulan.


Tangannya masih menepuk-nepuk bahu sahbatnya untuk menenangkan. Tak sedikitpun menyela ucapan yang dilontarkan meski terkadang ia tak mengerti maksudnya. Karena ia tahu, posisi Acha saat ini adalah butuh orang untuk mendengar keluhnya, bukan malah mengajak berdebat dengannya.


“P-padahal g-gue c-cuma, hiks... nganter adiknya pulang. Dan gue juga gak tahu kalau itu adiknya yang gue antar pulang”.


Nah kan, jadi belibet bahasanya. Ini adik siapa yang diantar pulang.


“Terus Rama tiba-tiba bilang k-kalau gue ngikutin dia s-sampai rumahnya. D-dan dia bentak gue... hiks”.


Oh ternyata gara-gara Rama. Eh, tunggu. Rama? Kekasihnya kan? Lah, memang Rama mana lagi yang dekat dengan sahabatnya ini kecuali Rama Danta.


Sekarang ia jadi emosi. Pemuda itu, sekali aja gak bikin sahabatnya capek hati gak bisa apa?


Mana gak bisa bersyukur pula.Udah dikasih cewek yang baik, tulus eh malah disakitin terus. Nanti kalau sahabatnya capek berjuang, eh yang cowok mulai ada rasa. Basi.


“Calm down, baby. Lo gak salah. Emang tuh cowok yang tempramennya agak bermasalah. Udah lo jangan nangis lagi”.


AN:


Masih dukung Acha perjuangin Rama gak?


Oh ya, jangan lupa dukung Acha yuk!!!


Dengan cara klik star vote + komen


Untuk bab yang private bisa di baca di Kary*k*rsa : cutealpenlibe


More Information follow instagram : cutealpenlibe01_

__ADS_1


__ADS_2