
“Ram, tunggu. Jangan menghindar. Please. Bisa kita bicara sebentar?”
Rama berhenti namun tak berniat menoleh ke belakang. Karena, itu pasti akan teringat dengan kejadian di masa lampau.
“kita bisa kayak dulu lagi gak?”
Rama mengangkat alisnya. Terpaksa menoleh ke sumber suara yang mengingatkannya akan masa lalu.
“Maksudnya itu, bisa gak kita mengulang cerita. Iya, cerita yang sempat tercipta dulu. Lo dan gue. Kasih gue kesempatan kedua, Ram. Please”.
Rama tertawa sinis. Bahkan ia ingin tertawa keras karena permintaan konyol perempuan di depannya. Dulu, ia dicampakkan saat berada di titik terpuruk hidupnya, padahal keadaannya saat itu benar- benar butuh seseorang untuk berbagi keluh- kesah. Setidaknya mendengarkan jeritan hatinya. Hanya mendengarkan.
But, she chose to leave instead.
Tapi hidup terus berjalan kan? Perlahan ia mulai bangkit dari keterpurukan masa lalu. Mencoba berdamai dengan keadaan. Bukan saatnya lagi untuk bersedih. Adiknya butuh figur ayah dan ibu sekaligus.
Dan sekarang apa? Seenak jidat perempuan di depannya ini meminta untuk mengulang cerita seperti dulu lagi. Hah, lelucon macam apa ini?. Apa ada pementasan film disini? Kalau iya, ia ingin mengatakan kepada sutradara karena peran yang dimainkan perempuan ini sungguh luar biasa.
Menerbangkan hatinya setinggi langit, kemudian menghempaskan hingga berkeping- keping lalu mengambilnya kembali.
“Wake up from your fucking dream, girl. It’s not funny! Sekarang gue udah punya pacar”.
Perempuan di depannya menatapnya kaget. Pasalnya baru kali ini ia mendengar penolakan sadis dari mantan kekasihnya.
Ternyata benar, yang tulus pun bisa pamit juga.
“Memang lo beneran suka sama Acha? Atau lo cuma jadikan Acha sebagai pelampiasan rasa lo?
-Ck. Rama. Asal lo tau, Acha memang suka sama lo, bahkan sekarang udah jatuh hati sama lo. But, you know what dude? Sebenarnya dia deketin lo karena kalah dari permainan TOD”.
Rama tercenung sejenak, tapi kembali menampilkan ekspresi datar. Akhirnya ia tahu alasan putri Adinata tiba-tiba mendekatinya. Tak ada kemarahan dalam dirinya, memang dari awal ia jadian pun karena beasiswanya tak ingin dicabut. Lagian, ia sudah menduga pasti ada alasan dibalik ini semua. Karena memang sejak dulu mereka tidak dekat. Jadi, impas kan?
“So, keputusan lo bagaimana?”
__ADS_1
“I’ll stay with her. And for you, go away from me and my girlfriend. Jangan coba-coba berfikir kalau gue mau menerima permintaan konyol lo. Cerita kita udah selesai semenjak lo tinggalin gue”.
“Oh ya, satu lagi. Yang Acha tau, lo sama gue gak ada apa- apa. Awas aja kalo dia tau yang sebenarnya. She is my lover now and you just my ex”.
Tanpa kata Rama berbalik meninggalkan perempuan yang menatapnya menyesal. Andai waktu bisa diputar. Ia pasti tidak akan menyia- nyiakan seorang pria tulus seperti mantannya itu. Sayangnya ini dunia nyata, bukan oreo yang bisa diputar, dijilat, lalu dicelupin.
Meski tak langsung bilang cinta, tapi ia tahu jika bola mata mantan kekasihnya itu menyiratkan perasaan sungguh-sungguh atas ucapannya. Ia tahu, karena ia juga pernah merasakan berada di posisi Acha.
Sesuatu memang terasa berharga saat sudah tak lagi tergenggam.
...*****...
Baby, whats wrong? What happend with you. Please, jangan menghindar Rama. Don’t do that!”
Acha kembali mengejar Rama di koridor jurusan IPA, tak memperdulikan tatapan para murid yang memandangnya heran akan tingkahnya. Acha pun memilih tak perduli.
Semenjak acara penyambutan kepulangan adik iparnya dari rumah sakit, entah kenapa tiba- tiba kekasihnya itu kembali asing seperti dulu.
Apakah ia telah membuat kesalahan? Tapi apa? Waktu merencanakan surprise, hubungannya dengan Rama masih baik- baik saja, bahkan dirinya juga ikut merencanakan surprise itu. Tapi kenapa sekarang menjadi seperti ini?
Rama makin mempercepat langkah kakinya, hingga membuat Putri Adinata terseok-seok mengejarnya. Ya, bagaimana gak terseok. Orang Acha itu cewek pokemon, tingginya hanya 155 cm. Jika disandingkan dengan Rama, hanya sebahunya. Mungil banget kan?
“Jangan kayak anak kecil. Kalau aku ada salah. Kamu bilang, baby. Jangan lari-larian kayak gini”.
Acha berhasil menarik lengan Rama meskipun ia hampir terjungkal. Tak apa. Cinta memang butuh pengorbanan kan?
“Lepas”.
“No!”
“Mau lo apa?”
“What? Kamu tanya mau aku? Seharusnya aku yang tanya mau kamu. Setelah acara surprise adik kamu, kenapa sifat kamu berubah? Am i make mistakes?”
__ADS_1
Putri Adinata berhasil mengeluarkan unek-uneknya selama seminggu ini. Lima hari ia bermain kejar- kejaran seperti Tom and Jerry dan akhirnya, ia berhasil mengutarakan benang- benang kusut akan perubahan sifat Rama dalam otaknya.
“Lo jadikan gue pacar karena lo kalah TOD, iya kan?”
Kedua bola mata Acha membola. Kenapa cowok di depannya ini bisa tau. Oh astaga. Apa ini akhir dari hubungannya?
“Dengan lo diam kayak gini, lo udah membuktikan ucapan gue tadi. Jadi, mulai sekarang lo dan gue gak ada hubungan apa- apa lagi. Go away.”
Sebenarnya Rama tak tega memutuskan sepihak seperti ini, tapi mau bagaimana lagi, ia masih bimbang dengan apa yang mantannya katakan. Apa ia sudah bisa Move on atau hanya menjadikan Acha sebagai pelarian akan kesepiannya?
Makanya ia tak mau menyakiti Acha lebih dalam, apalagi jika ia sampai tahu akan masa lalunya. Makin runyam pasti. Meskipun tak dapat Rama hindari, sejak kapan benih-benih kenyamanan akan kehadiran gadis cerewet di depannya ini mulai ada.
“Gak mau. I’m still your girlfriend, Rama. Meski dulu kamu aku jadikan bahan taruhan. Tapi, asal kamu tahu, now! I’m *****ing falling in love with you. Tarik kata- katamu Rama. I’m still you girlfriend.”
Entah sudah berapa kali kristal bening meluncur dari pipinya. Bukannya mereda, tangisannya malah makin menjadi. Namun pacarnya malah mengalihkan pandangan ke arah lain. Seolah tak perduli dengan tangisannya. Entah lelaki jangkung di depannya ini masih bisa disebut pacar atau sudah menjadi mantan pacar setelah perkataannya tadi.
“Please Rama, beri Acha kesempatan kedua. Acha udah suka sama Rama”.
“Sorry, gue harap lo bisa temukan seseorang yang lebih baik dari gue”.
“Bullshit. Acha maunya Rama! Don’t leave. Katanya Acha milik Rama dan Rama milik Acha. Why did you even go? Hiks... Rama”.
Rama memilih berbalik, meninggalkan Acha masih sesenggukan. Tak tau kenapa hatinya ikut berdenyut nyeri. Namun ini keputusan terbaik yang bisa ia ambil untuk kebaikan Acha maupun dirinya agar tak ada korban lagi akan kesakitan mencinta.
Bye, anak ayam.
AN:
Masih dukung Acha perjuangin Rama gak?
Oh ya, jangan lupa dukung Acha yuk!!!
Dengan cara klik star vote + komen
__ADS_1
Untuk bab yang private bisa di baca di Kary*k*rsa : cutealpenlibe
More Information follow instagram : cutealpenlibe01_