Cinta Karena Taruhan

Cinta Karena Taruhan
5. Usik


__ADS_3

Rama menundukkan kepalanya, berusaha konsentrasi mempelajari setiap kata demi kata di buku yang ia baca, telinganya panas. Pasalnya sedari tadi cewek disampingnya terus mengoceh dan tak mau diam. Padahal, seminggu yang lalu ia sudah merasa kehidupannya kembali seperti awal--damai dan tenang-- eh, sekarang kehidupan suramnya datang lagi.


"Baby. Belajarnya nanti aja dong. Ujian masih lama. Tanpa belajar pun kamu udah jago”. Acha melirik buku di depan Rama yang menampilkan angka-angka serta rumus yang tak ia mengerti sama sekali, ya kali dia mau susah-susah mempelajari materi anak IPA, pelajaran sejarah saja dirinya sering bolos. Ya, seperti sekarang ini.


"Gue bawain lo bekal nasi rendang. Dari berita yang beredar, katanya lo suka nasi yang lauknya cita rasa Indonesia gitu, jadi gue bawain menu ini deh”. Acha mengeluarkan kotak bekal dalam totebagnya kemudian menyusunnya di meja.


Meja yang semula dipenuhi oleh buku, kini sudah tertata hidangan yang menggugah selera.


Rama menatap penuh minat. Perutnya demo meminta untuk segera di isi, apalagi ini kan makanan yang ia suka. Sebenarnya Rama bukan tipe pemilih, tapi ia kurang suka menu makanan western secara ia tumbuh di lingkungan yang selalu menjajakan makanan Indonesia. Apalagi ini rendang loh, makanan yang hanya bisa ia nikmati ketika awal bulan saja, saat gajinya cair. Itu pun kalau lagi pengen pakai banget.


"Ah, jadi gosipnya itu benar ya, lo suka?" Acha menatap Rama yang memakan makanannya dengan lahap. Ia kira gosip yang beredar hanya isapan jempol semata. Mungkin setelah ini Acha akan mentraktir Fidelya karena memberikan informasi yang valid.


Rama hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Ia terlalu fokus untuk menikmati cita rasa makanan ini, daging empuk dan bumbunya enak sekali, berbeda dengan yang biasa ia beli di warteg dekat rumahnya.


Rama berdehem sebentar, menoleh ke arah Acha yang sedang menatapnya berbinar. "Lo gak makan?"


Acha menggelengkan kepala sebagai jawaban. Melihat cowok disampingnya ini makan dengan lahap membuat perutnya terasa kenyang. Seolah-olah ia ikut makan bersama Rama.


"Makasih. Rendangnya enak, tapi pandangan gue ke lo gak berubah. Kita ini asing”.


Acha menghiraukan ucapan Rama. Tangannya terulur untuk mengambil sebutir nasi di sudut bibir cowok di sampingnya, "Kalo makan yang bener jangan belepotan”.


Rama mencekal tangan Acha. Cukup sudah, ia tak mau terlibat lebih jauh dengan gadis beriris coklat seterang madu ini. Katakanlah ia seperti orang yang tak tau terimakasih.


Tapi, ia tak mau dikira lelaki yang suka mempermainkan perasaan wanita. Lagian niatnya memang hanya fokus belajar tanpa memasukkan rencana lain semacam pacaran atau mendekati cewek seperti yang kebanyakan remaja lakukan. Bukan ia tak normal, tapi ini prinsipnya.


"Cukup sampai sini. Gue minta sekali lagi. Lo pergi dari hidup gue”. Rama berucap tajam, seolah-olah pernyataannya itu mutlak dan tak ada bantahan. Ia tak memperhatikan sorot mata yang menatapnya kaget bercampur bingung.


"Salah gue apa?"


"Dari awal sudah salah, lo tanpa diminta hadir di kehidupan gue yang damai dan tenang”.


Hati Acha sedikit tersentil, ia tak percaya jika Rama mengatainya seperti itu. Jadi, secara tak langsung Rama menganggapnya sebagai pengganggu kehidupannya?

__ADS_1


"Gue gak tau dengan jalan pikiran lo. Tapi, menurut gue damai ataupun tenang dalam kamus lo adalah kata lain dari ungkapan kesepian. Seharusnya lo sadar itu”.


Acha mengemasi barang- barangnya, moodnya sudah terjun bebas sekarang. Tapi sebelum pergi ia berkata, "Satu lagi meski lo ngusir gue tapi pendirian gue masih sama. Gue gak akan pergi dari lo. Jadi, siap-siap aja kehidupan lo yang katanya damai dan tenang akan terusik dengan kehadiran gue."


Rama menghela nafas kasar setelah melihat tubuh ramping itu menghilang di belokan koridor.


Apa iya gue kesepian?


...*****...


Sesuai dengan ucapannya minggu lalu, Acha benar-benar membuktikan ke Rama jika ia tak akan membiarkan kehidupan cowok bermulut pedas nan tampan itu tenang. Mulai dari membawakan bekal dengan cita rasa khas Nusantara, merengek minta diantar pulang padahal sudah ditolak serta membuntutinya ke perpustakaan padahal ia sangat jarang menginjakkan kaki ke daerah yang biasanya dihuni para kutu buku tersebut.


Ayolah, semua murid pasti lebih senang nongki-nongki di kantin daripada menghabiskan waktu di perpustakaan. Ya, kan?


"Berisik. Keluar lo”.


Acha menyunggingkan senyum tipis. Rencananya berhasil. Setelah sekian lama ia mengajak cabe boy bicara namun diabaikan, tak membuatnya putus asa. Ia malah memainkan game dengan volume yang sengaja dikeraskan.


"Gue bosen tau, daritadi kalah saing mulu sama buku”.


Minggu depan sudah memasuki ujian semester dan ia harus belajar agar nilainya tidak turun jika mau mepertahankan beasiswanya di sekolah elit ini. Tidak bisakah gadis beriris coklat madu disampingnya diam dan berkompromi dengannya?


"Gimana kalau kita makan? dari tadi kan lo belajar terus, gue yang liat aja jadi lapar”.


Acha membuka bekalnya. Kali ini ia membawa nasi goreng dengan telur mata sapi dan toping irisan sosis serta taburan bawang goreng di atasnya. Lezat bukan?


Meski sudah diperingatkan oleh Rama agar tidak usah membawakan bekal untuknya tapi reaksi Acha malah bebal dan sekarang malah ingin mengajaknya makan di perpustakaan, astaga.


Apakah perempuan ini tidak tau jika itu melanggar peraturan? Ehm, sebenarnya daritadi sih sudah melanggar karena berisik. Namun, Acha malah menjawab 'Peraturan dibuat untuk dilanggar kan?'


"Makan dulu ya baby, apa mau aku suapin?" Bukannya menerima uluran sendok penuh nasi, Rama malah membereskan buku-buku yang ia baca tadi kemudian meletakkannya di rak.


"Loh, mau kemana baby? Bekalnya ini masih utuh, kamu kok malah mau pergi sih". Acha mengerucutkan bibir sebal. Ia jadi ikutan membereskan bekalnya dan menaruhnya kembali dalam totebag secara terburu-buru saat melihat targetnya yang berjalan keluar dari perpustakaan.

__ADS_1


Sementara itu, saat melewati bangku dengan desk name bertuliskan nama dari pustakawan, Acha hanya menyunggingkan senyum wajah tanpa dosa meski sang penjaga melihatnya tajam dan ingin memarahi, namun dirinya malah berlari mengikuti langkah Rama yang berjalan dengan cepat.


Hey, ingatkan Rama jika satu langkah kakinya setara dua langkah kaki Acha. Ia jadi ngos-ngosan sekarang.


"Baby. Mau kemana kamu."


Sialan. Acha misuh- misuh dalam hati ketika ia harus mengejar cabe boy dengan membawa tentengan totebag yang ia sampirkan di lengan kirinya. Sudah seperti emak-emak belum?


Bahkan saat berpapasan dengan sahabatnya--Arin dan Fidelya--mereka berdua malah terbahak keras. Menertawakan dirinya, seolah ia seperti ibu yang meminta anaknya untuk makan tapi anaknya malah kabur.


"Bayi lo kenapa tuh, gamau makan? mangkanya suapin”.


Acha mengabaikan ucapan Fidelya, ia malah menyerobot minuman Arin tanpa menghiraukan tatapan kesal dari pemiliknya.


"Nanti gue ganti, gue harus ngejar tuh cabe lagi”.


****. Acha kehilangan jejak. Memang sih, langkah kecilnya tak sebanding dengan Rama. Tapi, baru ditinggal minum sebentar masa sudah hilang?


"Besok usaha lagi. Nanti, ikut kita ke mall gak? itung-itung refreshing dulu".


Sebenarnya Arin kasihan melihat sahabatnya yang mengemis perhatian dari Rama tapi mau gimana lagi, empunya sendiri yang bilang tak mau menyerah selagi bisa. Sebagai sahabat hanya bisa mendukung saja kan?


"Hm. Baiklah."


AN :


Lanjut gak?


Oh ya, jangan lupa dukung Acha yuk!!!


Dengan cara klik star vote + komen


More Information follow instagram : cutealpenlibe01_

__ADS_1


Ayo drop komen!! Nanti aku post di feed instagram



__ADS_2