
Rama mendaratkan pantatnya di kursi panjang berwarna hitam dengan aksen bunga matahari di bagian sandaran kursi. Lokasinya berada di taman bunga belakang sekolah.
Tak banyak orang yang berlalu- lalang disini, sehingga membuat suasananya terkesan damai, tenang dan satu lagi, ia terhindar dari cewek bar-bar bin cerewet bernama Acha.
Aish, kenapa sih ia harus bertemu dengan Acha. Sungguh, Rama merindukan kehidupannya dulu yang penuh ketenangan. Tak ada yang membuntutinya macam anak ayam, belajar di kelas atau di perpustakaan pun oke, dan tak menjadi trending topik dengan sensasi murahan. Cukup dengan namanya saja yang menyebet penghargaan olimpiade tanpa bumbu-bumbu sensasi macam lambe turah.
Sekarang ketenangannya seolah dirampas oleh cewek itu. Meski cewek yang mendekatinya termasuk dalam jajaran cewek famous SMA Cendikia, tak sedikit pun membuat Rama tertarik. Ya, karena menurut Rama cewek modal good looking sudah umum, ia ingin yang satu spesies seperti dirinya (Read : Kepintaran & sifat).
Rama membayangkan jika nanti ia bertemu dengan seseorang seperti Acha di masa depan dan mungkin saja menjalin cinta dengannya. Ah, apa mungkin hari-harinya akan di isi dengan kecerewetan serta kebawelan gadis tersebut? Membayangkan saja membuat kepalanya pusing. Ish, kenapa juga ia membayangkan?
"Ehm, boleh duduk di sini?"
Rama menoleh ke samping. Cewek berambut sebahu dengan kacamata bulat bertengger di hidung mancungnya, tangannya mendekap buku tebal yang biasa ia baca di perpustakaan. Dilihat dari sampulnya saja dirinya sudah tahu.
Dilihat dari penampilan sepertinya gadis ini tipikal gadis yang tak suka membuat ulah. Seragamnya standar SMA Cendikia yaitu rok selutut, baju tidak press body serta dasi dan ikat pinggang sebagai aksesoris murid pada umumnya.
"Hm”.
Meskipun ia beranggapan jika cewek disampingnya ini tipikal siswi teladan, tapi Rama tak suka jika ada orang lain di tempat tenang, selain dirinya. Karena tujuannya untuk menenangkan diri. Ia akan beranjak.
"Ehm, kalau lo gak nyaman mending gue aja yang pergi, lo kan yang lebih dulu disini", ucap gadis itu sambil membenarkan kacamata.
"Nggak, duduk aja". Rama menggeser duduknya merapat ke lengan kursi untuk mengosongakan tempat di sebelahnya, agar di isi oleh gadis tersebut.
"Makasih".
"Sama-sama".
"By the way, kenalin nama gue Kesya Wijaya panggil aja Kesya. Nama lo Rama kan?" Gadis bermata empat itu mengulurkan tangannya, mengajak berkenalan. Namun, belum sempat menjabat, sebuah suara mengintrupsi mereka dan menyalami tangannya.
"Rama Danta pacarnya Acha Adinata. Salam kenal". Acha menyunggingkan senyum lebar namun terkesan sinis. Duh, gimana tuh, ada yang tau?
Sementara cewek di samping Rama melongo kaget. Oh, bahkan mulutnya terbuka lebar, guys. Acha tersenyum puas melihatnya.
"Eh, sudah punya pacar ya?"
"Menurut lo?" Acha melihat gadis di depannya dari bawah sampai atas kemudian menatap tajam saat bertemu dengan iris mata gadis tersebut. Mengintimidasinya, karena sudah berani mendekati targetnya.
Drama apa lagi kali ini. Astaga, lihatlah Rama sekarang, seperti pacar yang ketahuan selingkuh. Padahal kan Acha bukan siapa-siapanya.
Gadis bernama Kesya itu menelan saliva gugup. Niat hati ingin mendekati sang pangeran, eh ketemu macan. Ehm, Maksudnya Acha.
Kesya berdehem untuk menutupi kegugupannya, "Aku ke perpustakaan dulu. Lupa tadi ada tugas”. Tanpa diminta, Kesya berdiri dengan tergesa-gesa karena melihat pelototan Acha seolah memintanya segera menyingkir.
__ADS_1
Siapa sih yang tak tau marga Adinata, meski yang bersekolah disini rata-rata rata anak seorang pembisnis maupun pejabat, sebisa mungkin jangan berurusan dengan marga tersebut apa lagi menyakiti sang nona muda a.k.a putri tunggal mereka 'Acha'. Karena dengan menyakiti maka hukuman menanti, Acha memang selalu dimanjakan sedari kecil. Apapun yang tuan putri minta, tentu saja selalu dituruti kedua orang tuanya apalagi ia anak tunggal. Makin berkuasalah dia. Tapi yang satu ini mau disogok pakai apa? duit?
"Baby, aku cariin kamu. Eh, kamu malah di sini. Sama si cupu pula".
Rama kembali mendengus. Dipikir-pikir jika saat bertemu gadis ini, kenapa ia sering kali mendengus? lama-lama bisa jadi banteng nih. Ish.
Acha mendaratkan bokongnya di tempat yang sebelumnya terisi oleh Kesya. Melihat Rama dari samping yang tengah fokus menatap ke depan.
Dilihat dari sudut manapun, pemuda ini unggul sekali dalam hal ketampanan. Ah, kenapa Acha baru sadar kalau cabe boy satu ini tampan pakai banget. Tak heran banyak yang mengidolakannya. Selain tampan, otak pun encer.
"Baby, mulai sekarang kamu jadi pacar aku!"
Melotot. Itulah ekspresi pertama kali yang tergambar dari mimik wajah pemilik julukan cabe boy. Ya, siapa yang tidak kaget jika diajak jadian tanpa tedeng aling-aling. Yang nembak cewek duluan pula. Astaga.
"Oke baby, kita sekarang sudah resmi jadi sepasang kekasih”.
Acha mendekat ke arah Rama. Memasangkan kalung dengan bandul cincin.
“Tuh liat, lucu kan cincinnya. Untuk kamu, aku pakein di leher, sebagi kalung. seperti badboy gitu pakai kalung di leher. Biar kamu selalu ingat, kalau Rama Danta sudah resmi jadi pacar Acha Adinata".
What the ****.
Sejak kapan kalung dengan bandul cincin itu terpasang sempurna di lehernya? dan apa tadi, badboy? badboy apaan? mau ditabok prestasi sama kepedasan omongan Rama? Iya?
****.
Acha masih menyunggingkan senyum manisnya. Ia mulai terkontrol jika mulut pedas Rama menyemprotnya tanpa saringan. Meski sumpah serapah dalam hati ingin ia lontarkan.
Tak taukah Rama jika cincin berwarna silver itu terdapat ukiran namanya di dalam ringnya, desain sederhana tapi terkesan mewah. Karena Acha memesan secara khusus di toko perhiasan langganan mamanya. Tiffany and Co. Eh, malah dikata buy one get one.
Sabar Cha, sabar.
"Ya, gak gitu juga konsepnya, baby. Kan sekarang kita sudah menjadi sepasang kekasih dan cincin ini buat momen kalau kita sudah resmi jadian".
Rama memandang ngeri. Ia menyentuh kening Acha. Tak panas. Tapi kenapa gadis di sampingnya ini malah membuat lelucon tak masuk akal seperti ini.
"Jadian pala lo? Halu lo ketinggian".
"Gak mau tau, pokoknya kamu pacar aku. Titik." Acha bersidekap dada dengan bibir mengerucut. Sementara Rama tak perduli, ia akan beranjak, tapi lengannya di cekal.
"Rama... ", ucap Acha manja.
"Pacarnya ngambek kok gak di rayu sih. Ish, aku aduin papi loh". Masih dengan nada pura-pura ngambeknya, berharap pemuda yang beberapa menit yang lalu menjadi kekasihnya luluh. Tapi, lihatlah bahkan Rama seoalah ingin muntah melihat tingkah Acha.
__ADS_1
"Bocah".
Melihat Rama mulai meninggalkan taman, Acha memutar otak cepat. Ia harus menemukan ide agar bisa membujuk cabe boy dan memuluskan rencananya. Momen seperti ini tak mungkin Acha lewatkan begitu saja.
"Tunggu, Ram. Masih ingat sama beasiswa lo?"
Jackpot
Pemuda jangkung itu berhenti tanpa diminta.
"Mau apa lo. BERHENTI MAIN-MAIN SAMA GUE, ACHA," ucap Rama penuh penekanan.
Acha tersenyum lebar. Ah. Kenapa tidak dari dulu ia menggunakan cara seperti ini untuk mendapatkan cabe boy. Kekuasaan memang jurus mutlak.
"Gue gak main-main, gue cuma mau lo jadi pacar gue. Kalau nggak, gue akan telfon daddy, terus bilang kalau lo sudah memperlakukan anak kesayangannya dengan tidak baik. Lalu gue minta daddy cabut beasiswa lo. Gimana?"
Rama mengepalkan tangannya, Raut mukanya berubah merah menyiratkan jika ia dalam mode marah, iris hitamnya menatap tajam seolah siap menghunus cewek beriris coklat madu itu.
Topik ini sangat sensitif baginya. Karena dengan beasiswa lah ia bisa menempuh pendidikan di SMA elit dengan fasilitas lengkap serta meringankan beban ekonominya. Kalau dicabut. Nasib pendidikannya bagaimana? Bisakah membiayai dengan kerja part timenya? Belum lagi uang sekolah untuk adiknya. Argh. Pusing.
"Dasar rubah".
Acha mendekat ke Rama. Ia sangat yakin jika cabe boy ini sudah terpojok dan tidak bisa mengelak.
"Jadi, bagaimana baby? Mau atau tidak? Waktu ku gak banyak. Lagian jadi pacar Acha Adinata banyak keuntungannya. Ah, kamu masih gak mau ya?" Acha memasang wajah pura- pura sedih, padahal dalam hati bersorak senang. Tinggal selangkah lagi.
"Hallo, daddy".
"Ya, say-"
Tak ada cara lagi. Sebelum seseorang di seberang menjawab, Rama merebut ponsel berlogo apel kegigit milik Acha kemudian mematikan sambungan teleponnya sebelum gadis rubah di sampingnya ini berkata yang tidak-tidak.
"Fine, gue mau. Puas lo". Rama memejamkan netra hitamnya sejenak, kemudian meninggalkamn taman dengan pikiran yang berkecamuk, setelah melemparkan hp Acha asal dan untung saja ditangkap sang pemiliknya dengan baik. Bodo amatlah. Ia masih bimbang atas keputusan yang ia ambil. Takut akan menimbulkan hal yang tak ia inginkan di kemudian hari.
AN:
Rama sama Acha udah jadian nih, senang gak?
Oh ya, jangan lupa dukung Acha yuk!!!
Dengan cara klik star vote + komen
Untuk bab yang private bisa di baca di Kary*k*rsa : cutealpenlibe
__ADS_1
More Information follow instagram : cutealpenlibe01_