
Acha menghembuskan nafas kasar. Sudah bolak-balik ia menoleh ke arah handphonenya yang kedip-kedip menyala, pertanda ada notifikasi masuk. Tak hanya satu melainkan banyak. Bukan itu masalahnya, ia kira notifikasi tersebut dari Kekasihnya—Rama—. Seenggaknya satu notifikasi gitu. Lah ini gak sama sekali.
Ih, boleh gak sih Acha marah? Pengen gitu punya pacar yang peka. Ngabarin duluan, pingin apa- apa diturutin, mau kemana diantar. Biar gak melulu nonton yang uwu-uwu, dirinya pun juga ingin uwu-uwuan, kan sekarang sudah punya pasangan. Tapi yang namanya realita ya tak seindah ekspetasi.
“Gak usah diliatin. Mungkin dia lagi sibuk”. Acha menoleh, ia melihat Fidelya membawa mangkuk mie ayam kemudian menyodorkannya ke Arin.
“Iya, Cha. Mending lo makan itu daripada lo aduk-aduk gak jelas. Kasian tau makanannya. Pusing”.
Tuh kan, Arin tuh garing banget kalo mau ngajak bercanda. Udah tau suasana hati Acha lagi gundah-gulana, mana mungkin bisa ketawa cekikikan. Beda lagi kalau moodnya bagus. Gak pakai ngelawak pun udah ketawa sendiri.
“Tapi sibuknya kok lama banget ya? Dari kemarin gak bales chat gue. Emang gue gak cantik ya?”
“Bukan masalah lo cantik atau enggaknya sih, masalahnya itu, lo prioritasnya atau enggak”.
Ah iya, kenapa baru sadar kalau ia bukan prioritas. Jadiannya aja terpaksa, mana mungkin jadi yang utama. Sekali lagi, Acha menghembuskan nafas kasar. Melihat room chat nya dengan sang kekasih. Masih tak ada perubahan.
“Lagian lo juga jadian sama Rama karena kalah taruhan, Cha. Gak usah dibawa serius. Masih banyak cowok yang ngantri buat lo”, Untuk satu ini Fidelya setuju dengan ucapan Arin. Sahabatnya itu memang cantik, modis, selebgram tak lupa juga gelar Adinata yang menjadi marganya. Jadi, untuk apa mengejar Rama yang acuh serta dari kalangan biasa.
Begini, bukan maksud Fidelya sombong atau merendahkan. Tapi, ia berpikir secara realistis. Kasian dong perawatan mahal yang dijalani sahabatnya itu rusak gara- gara sering terpapar sinar matahari karena naik sepeda butut.
“Gue mau ke kelasnya aja deh, pusing lama- lama kalau harus menerka- nerka”. Acha bangkit dari duduknya. Ditangan kanannya menenteng sterofoam berisi bubur yang sudah ia pesankan tadi. Memang hari ini ia tak membawa bekal, karena Rama sendiri yang bilang ia latihan untuk OSN dan ia tak mau diganggu waktunya dalam belajar.
“Emang, lo kan bukan Raisa”.
“Apaan sih Rin, garing banget tau gak lelucon lo”.
“Ih, siapa juga yang ngelucu”.
“Sudah, makin pusing gue liatnya. Begini nih kalau bergaul sama otaknya belum glow up. Kagak ada yang nyambung”.
“Ye, mentang-mentang udah jadian sama Rama omongannya ngatain otak gak glow up. Diajak debat sama Rama kicep lo”.
Acha tak meladeni lagi ucapan sahabatnya. Langkah kakinya berjalan menuju kelas Rama.
__ADS_1
...*****...
Dari kejauhan Acha sudah bisa melihat jika pacarnya sedang mengobrol dengan cewek berkaca mata bulat dengan menggendong buku tak lupa rambut yang di kuncir kepang.
Iyuh, cupu banget.
Ia kira suasananya akan sama seperti saat ia mengobrol dengan Rama. Kaku, tak ada senyum maupun tawa. Persis seperti ulangan dadakan yang sering gurunya adakan.
Namun apa yang kali ini ia lihat, Rama bahkan bisa tersenyum mendengar celotehan gadis di sampingnya. Ya, meski tersenyum tipis. Tapi, itu juga tersenyum kan? Satu minggu pacaran Acha tak mendapatkan senyuman itu. Jangankan senyum bicara saja selalu ketus, harus berjuang yang bagaimana lagi coba?
“Oh, jadi ini alasannya gak balas chat aku. Kamu kan tau sekarang sudah punya PACAR. Bisa gak sih prioritasin aku sedikit. Malah kecentilan sama cewek lain. Mana bentukannya kayak begitu pula”.
Acha menatap sinis gadis didepannya, mulai dari atas sampai bawah dengan bersidekap dada. Tak perduli jika sekarang ia menjadi pusat perhatian karena omongannya yang sengaja ia keraskan. Memang, itu niatnya.
Agar perempuan bermata empat ini tau batasan mana yang harus diambil ketika bersama miliknya. Iya, Rama miliknya. Mereka sudah pacaran. Tak perduli karena kalah taruhan atau yang lainnya. Yang ia tahu hatinya gerah melihat kebersamaan mereka.
Melihat penampilannya saja Acha sudah tau jika dirinya dan gadis di depannya tak sederajat. Jauh. Jelas modis dan cantikan dirinya. Perwatan mahal tak pernah berbohong soal itu.
“Dan lo. Gak usah deket- deket lagi sama pacar gue. Ganjen banget. Gak sudi gue mau saingan sama lo”.
Seharusnya ia bisa berkaca bukan malah menjatuhkan hati lebih jauh. Sedari lama ia menyukai Rama, bahkan sampai belajar mati- matian agar bisa mengobrol sefrekuensi dengan sang pujaan.
Sekarang apa? Rama sudah menjadi milik Acha. Ia ingat kata kang parkir.
Mundur mbak.
...*****...
Rama menghempaskan tangan Acha setelah sampai di taman bunga belakang sekolah. Menatap tajam gadis yang sudah membuat drama beberapa menit yang lalu.
“Kenapa? Marah? Selingkuhan lo, gue permaluin? Gak kira selingkuhannya macam itik buruk rupa gitu”. Acha tertawa meremehkan. Mengabaikan tatapan tajam pemuda di depannya.
Pergelangan tangannya memerah karena tarikan kuat kekasihnya. Namun, bukan itu fokusnya. Harga dirinya sedikit tersentil ketika Rama tiba- tiba menariknya demi membela wanita lain.
__ADS_1
Apa sih yang kurang dari dirinya daripada cewek cupu tadi. Cantik? jelas cantikan dirinya lah. Modis? aduh itu kacamata udah kayak gelas dikasih gagang.
Dilihat dari segi mana pun masih unggul dirinya kan?
“Maksud lo tadi apa?”
“Lo tanya maksud gue?” Acha tersenyum sinis. Netranya menatap iris hitam legam di depannya. Menyelami warna pekat hingga dirinya ikut hanyut dalam tatapannya. Terdapat sorot mata lelah disana. Tangannya reflek mengelus pipi kanan cabe boy.
Rama makin menatap tajam. Ia menghempaskan tangan Acha dari pipinya. Tak habis pikir dengan gadis di depannya ini, datang tiba- tiba kemudian membuat drama. What the hell. Siapa yang gak malu coba?
“Aku mau kamu ngehargai aku sebagai pacar. Kalau aku chat kamu balas, kalau bisa balas juga perasaan aku”.
Rama menghembuskan nafas kasar. Netranya berpaling ke sekitar asal tidak menatap iris cokkat madu di depannya yang sedang menatapnya memohon.
Dirinya jadian tanpa ada perasaan suka sama suka dan gadis di depannya meminta dirinya untuk merubah sikap layaknya pasangan pada umumnya. Yang jelas saja.
“Gue gak bisa”.
“Bukan gak bisa Ram, tapi kamu yang gak mau berusaha. Oke, kalau kamu memang gak bisa cinta sama aku, seenggaknya ingat kalau kamu sudah punya pacar. Apa yang jadi milik aku gak boleh di pandang memuja oleh orang lain”.
Rama menghembuskan nafas kasar, untuk saat ini dirinya masih tak bisa memutuskan. Satu sisi ia tak ingin menjalin cinta menye-menye, satu sisi lain ia tak ingin beasiswanya dicabut. Lantas dirinya harus bagaimana?
AN :
Pernah memperjuangkan seseorang seperti Acha gak?
Komen dong gimana rasanya
Oh ya, jangan lupa dukung Acha yuk!!!
Dengan cara klik star vote + komen
Untuk bab yang private bisa di baca di Kary*k*rsa : cutealpenlibe
__ADS_1
More Information follow instagram : cutealpenlibe01_