Cinta Karena Taruhan

Cinta Karena Taruhan
13. Minta Maaf


__ADS_3

“Gue minta maaf soal kemarin”


Gadis beriris coklat madu mendongak, melihat cowok yang berdiri menjulang di depannya dengan tangan kirinya dimasukkan dalam saku celana olahraga, sementara matanya menatap datar ke arahnya dan jangan lupa keringat yang masih menetes dari rambutnya. Satu kata yang terlintas dalam otaknya.


Tampan.


Sumpah demi apa, tak ada angin tak ada hujan kekasihnya yang biasanya cuek malah berdiri dengan jarak dekat di depannya, hanya terpisah meja saja. Sungguh, ini Rama pacarnya kan? Kok bisa jadi beda begini? Pasti habis terantuk bola basket, jadi otaknya agak geser.


Sementara Arin menatap sinis pemuda tersebut. Ia masih marah mengenai kejadian sahabatnya yang dibentak padahal niatnya baik untuk menolong adiknya. Hanya karena tak mendengarkan penjelasan sahabatnya dulu, lelaki itu dengan se-enak jidatnya menyimpulkan bahwa dirinya dibuntuti. Hell, seganteng apa sih lo, sampai punya pikiran macam begitu?


Eh, tapi memang ganteng sih. Tapi, gak sampai membuat dirinya tertarik tuh. Emang sahabatnya aja yang suka cari penyakit hati. Padahal di luaran sana, yang ngejar-ngejar cintanya juga banyak.


Biasalah kalau gak nyari penyakit hati memang bukan cewek namanya.


“Dan ini, gue kembalikan”. Putri tunggal Adinata mengernyit heran. Menatap sang empu dan kunci motor yang diletakkan di mejanya secara bergantian.


Jadi, papanya langsung memberikan tanpa sepengetahuannya, ah baguslah. Jadi, ia tak perlu repot- repot menemui cabe boy duluan. Masih sakit hati tau atas bentakannya kemarin. Tapi, mengapa hadiah yang ia berikan malah dikembalikan?


“Hah? Kenapa? Gak suka sama modelnya? Mau model yang lain? Atau mau tipe motor yang lain?”


Rama mengepalkan tangan, sudah ia katakan belum kalau berdekatan dengan gadis di depannya ini kontrol emosinya tiba-tiba menjadi buruk. Dikiranya ia tak mampu beli sendiri?


Ya, iyalah.


Memang sih, untuk sekarang dirinya memang tak memiliki cukup uang untuk membeli motor, apalagi motor yang diberikan padanya ini. Hei, tapi jangan salah jika ia akan meminta- minta kepada putri tunggal Adinata. Itu bukan prinsipnya. Meski ia tak mampu membeli, setidaknya tertanam dalam dirinya untuk tak meminta- minta selagi dirinya bisa berdiri di bawah kakinya sendiri. Apalagi meminta-minta pada pacarnya. Memangnya dia siapa sampai berani meminta ini-itu. Hanya sekedar pacar saja kan? cewek pula.


Oh ****. Sejak kapan dirinya mengakui Acha sebagai pacar?


Tapi memang benar adanya. Kalau status hubungan sekedar pacaran, jangan pernah meminta ini-itu terhadap pasangan kecuali mereka sendiri yang berinisiatif untuk memberi. Takutnya setelah putus nyebar gosip matre atau yang paling parah barangnya ditagih kembali.

__ADS_1


Meski bagi gadis di depannya uang yang ia keluarkan tak seberapa atau bahkan tak ada nilai sama sekali. Rama tetap menolak. Tak enak saja rasanya.


“Meski gue orang gak punya, ekonomi pas-pas an, sekolah di tempat elit dengan mengandalkan beasiswa, tapi pantang bagi gue untuk minta-minta. Camkan itu”-


“Atau lo malu punya pacar yang bawanya sepeda butut kayak gue ini? Kalau iya, dengan senang hati gue menerima kalau lo mau putus dari gue. Memang hubungan ini dari awal udah salah”.


Acha menatap Rama kaget. Apa-apaan yang pacaranya itu katakan. Bahkan dalam pikiran piciknya sekalipun, ia tak pernah memikirkan jika memberi hadiah kepada orang yang ia suka termasuk merendahkan apalagi ia malu punya pacar seperti Rama.


Ia fine-fine saja ketika dibonceng sepeda milik kekasinya. Cuma kulitnya memang yang tak tahan panas akan memerah. Dan ia malas untuk meladeni omelan momynya karena menurut beliau anak gadis gak boleh terluka.


“Sebenarnya, itu hadiah dari daddy karena kamu sering mengharumkan nama sekolah ini. Dengan menjuarai lomba akademik”.


“Hadiah? Dari menang lomba aja udah dapat uang, Cha. Itu udah cukup buat gue pakai di keperluan mendesak. Lagian masih banyak murid lain yang sering memboyong piala di Cendikia Senior High School. Kenapa gue dong yang dikasih hadiah? Apa karena gue kekasihnya salah satu anak donatur disini?”


Skakmat


“Emh, tapi kamu yang paling sering dapat juara sih baby. Jadi terima aja ya. Jangan banyak alasan. Aku jadi pusing”.


Rama menaikkan satu alisnya, “Kalau gitu, gue kasih ke Damar. Dia juga sering dapat juara kan?”


Acha memutar bola mata malas, enak saja mau dikasih ke Damar. Orang yang mau ia kasih itu pacarnya. Yaitu Rama. Bukan malah si cupu Damar. Sana aja sama Daisy. Mereka cocok.


“Udahlah, kamu terima aja. Daripada nanti aku rongsokin gara- gara kamu gak mau nerima”.


Cowok jangkung itu melototkan matanya. Apa tadi, di rongsokin? sama saja dengan dibuang kan? wah, amazing sekali pemikiran gadis pemilik marga Adinata ini. Dirinya sampai speechleas dibuatnya.


Banyak orang yang kesusahan mencari sesuap nasi, dia malah mau buang sepeda motor vespa yang sebelumnya ia search di internet harganya bisa membuat ia membelalakkan mata karena harganya sama dengan 8 bulan full kerja parttime di tempat kerjanya saat ini.


“Rin, nanti temenin gue ke toko barang bekas”.

__ADS_1


Arin melirik sinis, “Ngapain ke sana, Cha? Mau buang kekasih lo yang kejam ini?”


Acha tercekat. Sahabatnya ini kalau sudah kesel sama orang mulutnya gak ada filter untuk diajak basa-basi. Acha menyebutnya cantik dan pemberani.


Sebelum kekasihnya menjawab perkataan sahabatnya yang terkesan sarkas. Acha lebih dulu memadamkan kilatan emosi diantara mereka. Bakal bahaya kalau ada adu cek-cok di kelasnya.


“Em... udah kamu terima aja. Anggap saja sebagai tanda Acha memaafkan Rama kalau nerima hadiah yang daddy Acha berikan-”


“Eh, bentar lagi bel masuk. Mending kamu ke kelas aja. Takut kalau kamu terlambat masuk dikira bolos. Udah nanti kamu telat. Kita bicara lagi nanti”.


Acha mengusap perlahan lengan kekasihnya guna meredam emosi dan mengantarkan sampai depan pintu kelasnya. Ia tersenyum simpul, menatap punggung kekasihnya yang hilang dibalik belokan koridor. Netranya melihat Arin gemas, andai saja hari ini Fidelya masuk. Pasti dia akan melihat seberapa sarkas sahabatnya ini.


“Cih, udah disakiti tapi masih goblok mencinta”.


Arin dan mulutnya memang perpaduan kombo dalam dunia sarkas.


AN:


Ajarin Acha masak nasi goreng dong.


Kasian Rama lidahnya nanti bisa keseleo. Wkwk.


Oh ya, jangan lupa dukung Acha yuk!!!


Dengan cara klik star vote + komen


Untuk bab yang private bisa di baca di Kary*k*rsa : cutealpenlibe


More Information follow instagram : cutealpenlibe01_

__ADS_1


__ADS_2