
“Baby”.
Rama menoleh. Melihat gadis bernetra coklat madu yang beralari mendekat ke arahnya. Netranya menyipit ketika melihat penampilan dari gadis di depannya.
“Bagus gak?”
Sesuai dugaannya pacarnya itu pasti kaget melihat penampilan barunya. Acha tersenyum lebar, ia ingin merubah penampilan menjadi good girl. Mungkin dengan cara seperti ini Rama mau membuka hati untuknya.
“Cantik kan? eh, aku gak keliatan cupu kan?”
“Biasa aja”.
Dam* Rama. Perempuan secantik Acha malah dibilang biasa aja, padahal dalam hati sangat mengagumi, karena penampilannya sudah seperti wanita kalem, manis, dan imut sekaligus.
Memang dasar lelaki dan segala gengsinya.
Acha mengerucutkan bibir, “Ish, tinggal bilang cantik gitu aja kok gengsi”.
“Loh, ini Acha kan? Kok bisa jadi gadis manis nan kalem begini?”
Acha menoleh ke samping. Melihat Arkan dengan menenteng bola basket di tangan kirinya. Bibirnya tersenyum lebar saat ada orang yang memuji penampilan barunya. Ah, memang ia tak salah menyewa designer untuk fashion barunya ini.
“Makasih, Arkan”.
“Sama-sama Cha. by the way, ada hal apa yang membuat lo merubah penampilan? Mau tobat dari image badgirl?”
Sebelum mendengar jawaban Acha, Rama segera menarik tangan Putri Adinata. Jengah saja rasanya mendengar Arkan pandai cari muka dengan pacarnya dan s*alnya pacarnya ini tak tau atau pura-pura bod*h dengan perasaan Arkan.
“Gue balik dulu ya Arkan. Bye”
Arkan menjawab dengan senyum tipis. Ia bisa melihat pancaran keposesifan dari seorang cowok ke ceweknya. Untuk kesekian kalinya ia kalah dengan Rama, entah itu dalam hal akademik maupun asmara.
...*****...
“Gak usah senyum-senyum. Gue lakuin ini biar lo gak terlambat masuk kelas”.
“Bilang aja cemburu”.
“Siapa juga yang cemburu”.
“Ini buktinya, tangan Acha digandeng terus dari tadi. Gak mau Acha direbut yang lain ya?”
__ADS_1
Acha tertawa dalam hati. Melihat ekspresi pacarnya yang salah tingkah, membutnya ingin mencubit gemas untuk menyadarkan pacarnya itu agar tidak gengsian dalam mencinta.
Iya kan? Cemburu tanda cinta.
“Masuk kelas sana”.
“Ciee udah cemburu nih. Jadi kapan cintanya?” tanya Acha sambil menaik turunkan alisnya bermaksud menggoda Rama.
“Masuk kelas”.
“Ish, iya- iya baby. Kamu juga masuk kelas sana. Jangan genit sama cewek lain. Ingat! Kamu punya aku. Titik!”.
“Hm”.
Singkat. Padat. Dan tidak jelas.
*****
Satu minggu sudah, Acha merubah penampilan lamanya, tak sedikit yang mengatakan jika ia sangat cocok dengan penampilan barunya ini. Bukan berarti dengan penampilan lamanya Acha terlihat jelek, hanya saja dengan penampilannya yang ini ia terlihat seperti gadis kalem dan manis. Wajah serta proporsi tubuhnya pun mendukung. Tak ayal banyak yang mengatainya imut.
“Gue serasa lagi main sama adek, Fid”.
“Lah, kok bisa Rin?”
Fidelya tertawa mendengar omelan Arin, sementara Acha mengembungkan pipi sebal. Padahal banyak yang bilang imut loh, eh sobat somplaknya malah mengatainya kayak bocah. What the hell.
“Dih, sok imut. Gue yakin Rama pasti muntah liatnya”.
“Ih, apa sih Rin. Ganggu mulu deh lo. Gue ngelakuin ini juga biar disukai sama Rama atau lo yang gak suka kalau Rama bakal suka sama gue?”
Arin menghela nafas, “Bukan gitu maksudnya, Cha. Kalau dia beneran suka sama lo. Berarti dia harus nerima lo apa adanya, bukan karena lo berubah jadi orang lain. Itu sama aja bohong”.
“Lah gue berubah jadi siapa emangnya?”
“Aduh, ini nih akibat terpapar virus cinta. Yang go*lok makin go*lok”.
Fidelya masih tertawa, persahabatan mereka memang ajaib. Sebentar bertengkar lalu baikan lagi.
“Udah guys, kalian gak malu apa diliatin?”
Acha membuang muka, dari jauh netranya melhat sang pujaan hati, tapi yang membuatnya makin kesal ialah Rama berjalan berdua dengan si cupu Daisy. Perempuan itu benar- benar cari masalah dengannya.
__ADS_1
“Heh, mau kemana?”
“Mau nonjok orang”. Acha berjalan dengan sedikit berlari. Ketika sampai ditempat yang ia tuju, kakinya ia layangkan di tulang kering perempuan di depannya. Sampai ia mengaduh kesakitan. Bo*o amat.
“Udah gue tegasin berapa kali. Rama udah punya pacar dan itu gue. Masih ganjen aja. Mau rasain tonjokan gue?”
Ah ya, Acha dan sifat bar- barnya. Meski penampilan sudah berubah sifat masih sama. Bar-bar.
“Aku tadi cuma tanya tentang olimpiade”.
“Halah alasan, yang ikut olimpiade gak Rama doang. Masih ada Damar. Lo nya aja pengen sama Rama terus. Dasar ganjen”.
Daisy menunduk. Matanya tak kuat menatap seisi kantin seolah mengejek dan meremehkannya. Padahal niatnya memang bertanya pasal olimpiade tapi selalu berakhir seperti ini. Perasaannya pun ia babat habis agar tak makin sakit hati. Jadi ia tak salah kan?
“Dia tadi cuma nanya tentang olimpiade”. Rama menghela nafas lelah, kenapa dia selalu seperti pacar yang ketahuan selingkuh sih. Nyatanya kan tidak.
“Tapi baby, dia tuh sebenarnya suka sama kamu. Tuh liat tatapannya ke kamu. Beda. Pokoknya aku gak mau kalau liat kamu deket-deket sama si cupu ini”.
Malas berdebat, Rama menarik tangan Acha agar mengikuti langkahnya, “Gue antar ke kelas lo. Bentar lagi bel masuk”.
Acha mengangguk dengan senyum ceria, hatinya berbunga saat melihat tangannya tergenggam tangan besar pacarnya. Bahkan ia melupakan pertengkarannya tadi dengan Daisy. Berjalan meninggalkan penghuni kantin dengan tatapan masih mencemooh Daisy.
“Lo liat kan se-marah apa tuh bocah, padahal Daisy gak ada niatan ngerebut pacarnya sama sekali. Lo yakin gak mau jujur?”
“Udah gue bilang berapa kali sih, kalo lo diam. Semuanya bakal baik- baik saja”.
“Tapi gue gak yakin, serapat-rapatnya lo sembunyiin bangkai pasti terendus juga. Gue harap semoga gak ada perpecahan diantara kita”.
Ya, semoga saja.
AN:
Ajarin Acha masak nasi goreng dong.
Kasian Rama lidahnya nanti bisa keseleo. Wkwk.
Oh ya, jangan lupa dukung Acha yuk!!!
Dengan cara klik star vote + komen
Untuk bab yang private bisa di baca di Kary*k*rsa : cutealpenlibe
__ADS_1
More Information follow instagram : cutealpenlibe01_