
“Baby, kamu disini. Siapa yang sakit?”
Rama mendongak. Netranya bertumbukan dengan iris mata coklat madu kemudian menunduk lagi. Pikirannya kacau. Adik satu- satunya tiba-tiba terkena tipes dan ia baru tau setelah warga memberitahunya, jika adiknya itu sedang dirawat di rumah sakit Medika. Padahal kemarin ia dan adiknya masih bisa bercanda seperti biasanya. Ia takut. sungguh. Satu-satunya keluarga yang ia miliki hanya adiknya.
Dokter sudah mengatakan jika keadaannya baik- baik saja dan berdo’a untuk kesembuhan adiknya. Pikirannya mumet saat memikirkan biaya perawatan di rumah sakit swasta yang terkenal mahal. Tapi bukan itu fokusnya. Urusan uang bisa dipikir belakangan yang terpenting adiknya bisa sadar dan tersenyum cerah kembali.
“Baby?”
“Kali ini aja lo diam. Bisa?”
Acha tersentak saat tubuhnya bertubrukan dengan dada bidang milik pacarnya. Otaknya blank seketika. Jantungnya berdegup sangat kencang, semoga saja Rama tak mendengar detakan jantungnya.
Lelaki ini menyembunyikan wajahnya di ceruk lehernya, menghirup banyak- banyak aroma strawberry yang entah sejak kapan sudah menjadi candu baginya.
Acha yang mengerti situasi langsung merengkuh kembali tubuh pacarnya. Mengelus bahu yang biasanya berdiri tegap. Hatinya ikut sedih ketika orang yang ia cintai seperti ini.
“Nangis aja baby, aku gak akan lihat”.
Rama makin mengeratkan pelukannya. Melesakkan wajahnya untuk menyembunyikan butiran kristal bening, Ia tak mau dunia melihat kesedihannya. Stigma lelaki tak boleh menangis juga selalu ditanamkan oleh ayahnya sejak kecil. Ia ingin dunia selalu melihatnya kuat, tegar dalam menjalani hidup.
Ingat! Kita dituntut kuat oleh kerasnya dunia.
Rama tak perduli lagi jika ini masih di lobi rumah sakit. Lagian jam sudah menunjukkan pukul 10 malam dan aktivitas di rumah sakit sedikit lenggang sehingga ia sedikit lega untuk menumpahkan air mata. Pertahanannya roboh, ia ingin seseorang untuk berbagi sandaran dan luka.
“You’re mine, Cha. Jangan pernah tinggalin gue”.
Kacau. Perkataan Rama sangat berdamage bagi kesehatan jantungnya. Ah, akhirnya. Tak ada yang sia-sia dalam penantiannya.
Terimakasih Gusti. Engkau telah mengabulkan do’a hambamu ini.
“Of course baby. I’m yours. Mulai sekarang aku tempatmu bersandar, berbagi cerita. Baik suka dan duka. Tolong jangan dipendam sendiri. Kamu punya aku”.
“Ehem”.
Acha buru-buru melepaskan pelukannya. Salah tingkah karena kepergok supirnya berpelukan dengan Rama. Ia takut kalau supirnya itu mengadu ke daddy atau mommynya.
“A-ada apa pak?”
“anda sudah ditunggu tuan di mobil, non”.
“Iya pak, nanti saya kesana. Tunggu 5 menit”.
“Baik, non”.
Acha kembali melihat Rama, guratan khawatir tak bisa disembunyikan dari mimik wajahnya. Mungkin saat ia punya adik, ia akan bersikap sama seperti pacarnya. Sayangnya ia anak tunggal, daddy sibuk kerja dan mommy sibuk arisan dengan geng sosialitanya sana sini. Meski banyak maid dirumahnya, ia tetap merasa sepi.
Poor Acha
“Sorry”.
__ADS_1
“Hey, it’s ok. I’m your girlfriend. Sekarang aku harus pulang. Maaf ya, gak bisa nemenin. Besok aku kesini lagi kok. Bye, baby”.
Rama hanya mengangguk sebagai jawaban.
Acha bangkit dari kursi tunggu, berjalan melewati koridor demi koridor. Hatinya masih tak tenang, ia ingin cepat- cepat besok supaya bisa ikut menemani Rama menjaga adiknya.
Ia pacar yang pengertian kan?
...*****...
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Silahkan hubungi beberapa saat lagi. Tut.
Rama menyandarkan tubuhnya, memijat pelipis saat panggilan yang ditujukan kepada orang tuanya tak mendapat respon sama sekali. Jangankan telfon, chat yang kemarin ia kirimkan saja belum terbalas sampai sekarang.
Meski sudah memiliki keluarga masing- masing, bukan berarti harus melupakan anaknya kan? sejatinya memang tidak ada mantan anak.
Sampai situasi seperti ini pun orangtuanya memilih tak perduli. Ia sama sekali tak mengeluh. Baginya perceraian kedua orangtuanya sangat egois. Mereka pergi dengan ego masing-masing, seolah lupa jika perbuatannya mengorbankan perasaan sang anak.
Pilihannya dulu memang benar, tak memilih siapa pun baik ibu maupun ayahnya. Ia lebih memilih mengajak sang adik untuk tinggal bersama dirinya di kontrakan kecil. Meski begitu, ia nyaman tinggal disana. Berperan menjadi sosok ayah sekaligus kakak bagi adiknya.
“Hay, selamat pagi”.
Rama mengalihkan atensi ke gadis beriris coklat madu yang sedang menenteng beberapa paper bag dari restoran terkenal. Hari ini ia tampak manis dengan dress baby blue, tak lupa polesan make up natural yang menambah kecantikannya.
“Kok kesini?”
Acha tersenyun lebar sampai memamerkan gigi putihnya, ”Hari ini aku bolos. Hehe”.
Ia tahu susahnya mencari uang, lelahnya bekerja. Makanya, saat berkesempatan untuk menempuh pendidikan, ia tak menyia- nyiakannya.
Pendidikan aja diprioritasin, apa lagi Acha. Ehem. Balik lagi ke topik.
“Kak Acha. Bawa apa tuh?”
Acha menatap Kevin masih dengan senyum mengembang, “Aku bawa mainan sama cemilan buat kamu. Kalau masih kurang bilang aja ya, ntar aku belikan”.
“Asik, makasih ya kak. Sayang banget deh, andai kak Acha belum punya pacar. Pasti Kevin mau jadi cowoknya kak Acha”.
Rama tersedak dengan ucapan adiknya. Gigih sekali adiknya ini untuk menjadi calon pacar dari pacarnya. Belum lagi merayu di depan kekasihnya pula.
“Emang kamu tau arti pacar?”
“Ish, tau lah kak. Dikiranya Kevin masih bocah apa”.
Rama mendengus, Benar- benar tak sadar diri.
Acha menatap jahil ke arah cowok jangkung disamping ranjang Kevin, “Mau tahu nggak pacar kak Acha siapa?”
“Siapa kak?”
__ADS_1
“Tuh, orangnya”.
Rama menatap tajam Acha, namun yang ditatap malah cekikikan. Sementara Kevin menatap Rama dengan pandangan kesal. Pantas saja selama ini kakaknya itu menentang hubungannya dengan sang pujaan, ternyata kakaknya ini malah berpacaran dengan calon pacarnya. Menyebalkan sekali.
“Tega sekali kau kak, aku yang berjuang malah kakak yang dapat. Sakit ini tak ada bandingnya dengan sakit di dada Kevin”.
Rama kembali mendengus, lama- lama ia ingin menukarkan adiknya saja.
“Kak Acha tolong elus kepala Kevin, agar Kevin sedikit lebih tenang menerima kenyataan ini.”
Dasar modus.
Acha tertawa, tak ayal ia juga menuruti permintaan dari adik pacarnya.
“Oh ya, aku bawa nasi rendang buat kamu. Dimakan ya”. Acha mulai menata satu persatu lauk pauk beserta pelengkapnya untuk dihidangkan di atas meja. Untuk Rama saja ia rela melakukan ini, sebelum- sebelumnya tak usah ditanya.
“Kak Acha, yang sakit kan Kevin. Kenapa kak Rama yang diurusin?”.
“Eh, jadi Kevin mau apa?”
“Suapin dong kak”.
Benar- benar tukang modus, batin Rama. Ia bangkit dari kursi untuk menanyakan biaya administrasi.
“Mau kemana, baby?”
“Keluar”.
Terdengar helaan nafas dari Acha. Cuek sekali. Ia pikir saat kemarin sifat Rama ke dirinya akan berubah. Bahkan saat memikirkannya pun pipinya bersemu merah. Tapi tak apalah, setidaknya ia tak diusir.
“Tuh kan, kak Rama cuek banget. Mending sama Kevin aja Kak”.
“Kakak potong uang jajan kamu ya!”
Setelah pintu tertutup sempurna, Rama mendengar teriakan dari adiknya.
“KAK RAMA GAK ASIK MAIN POTONG- POTONG UANG JAJAN KEVIN!”
Ia tersenyum kecil. Sekali- kali adiknya memang harus ditegasin.
AN :
Pernah memperjuangkan seseorang seperti Acha gak?
Komen dong gimana rasanya
Oh ya, jangan lupa dukung Acha yuk!!!
Dengan cara klik star vote + komen
__ADS_1
Untuk bab yang private bisa di baca di Kary*k*rsa : cutealpenlibe
More Information follow instagram : cutealpenlibe01_