
Dua hari sudah Kevin berada di rumah sakit Medika. Selama itu pula Rama yang mondar- mandir mengurus keperluan dirinya, tak jarang pula Kekasihnya ikut menemani dan hari ini adiknya yang cerewet sudah diperbolehkan untuk pulang.
“Kak Acha gak ikut jemput Kevin, kak?”
Ah ya. Kevin dan pemikiran remajanya memang tak jauh- jauh dari nama kekasihnya. Acha.
“Lagi sibuk”.
“Bilang aja Kak Rama cemburu, makanya nyuruh kak Acha gak ikut jemput Kevin. Takut tersaingi kan?”
Tuh kan. Gak ada angin, gak ada hujan, kakaknya sendiri malah dituduh takut tersaingi. Padahal yang pacaran kan dirinya, kenapa adiknya malah ikut campur urusannya sih. Satu lagi, Acha itu pacarnya. Seharusnya ia yang bilang begitu.
Memang bocah tak sadar diri.
“Narsis. Kakak udah pesenin mobil gr*b buat ngantar kita pulang”.
“Kenapa gak pakai goj*k aja kak? biar hemat”.
Rama tersenyum, adiknya ini memang pengertian dalam urusan hemat- menghemat, “Tadinya mau pakai goj*k cuma barang bawaan banyak sama keadaan kamu yang baru pulih, kakak jadi gak tega”.
“Makasih ya kak. Kak Rama memang kakak terbaik di dunia”.
“Sama-sama, little boy”.
...*****...
“Yang bener kerjanya”.
Yang disuruh mendengus. Gara- gara sahabatnya ini, ia gagal quality time dengan mamanya. Yang dimaksud quality time versinya adalah shopping, berburu barang limited edition, menghabiskan uang daddynya dengan sang mama.
Padahal sekarang sedang launching tas yang ia idam- idamkan dari dulu dan s*alnya itu limited edition. Da*n. Pastilah ia kehabisan.
“Yang ikhlas bantuinnya. Kalian ini harus memiliki rasa empati yang tinggi”.
Memang tak sadar diri sudah melekat dalam diri Acha. Lihatlah, ia seperti mengatai dirinya sendiri. Padahal tindakannya kepada orang yang tak ia sukai termasuk Daisy jauh dari kata empati.
__ADS_1
“Heh, demi kue klepon yang warnanya ijo. Gara- gara lo ya, gue gak bisa dapetin tas yang udah gue pengen. Padahal tas itu limited. Dan lo ngatain gue sama Fidelya gak sadar diri? What the hell. Lo sering bully anak orang, Cha. Itu yang namanya empati? gue kepret juga lo”.
“Lo kayak orang susah aja. Ntar juga reseller banyak yang jual. Gak akan miskin kan lo, kalau beli di resell?”
Wah, mulut sahabatnya ini memang perlu di kepret sekali- kali. Enak aja tinggal bilang beli di reseller. Arin tuh sebenarnya ingin merasakn effort saat ingin mendapatkan barang yang ia incar. Seperti saat kalian berburu diskonan gitu, tapi bedanya ini tas ber-merk dan limited. Ada kebahagiaan tersendiri gitu.
“Tuh kan, Rama bilang dia udah di halaman rumah. Kalian sih lelet. Cepet beresin kalau gitu”.
Yap, mereka bertiga memang merencanakan untuk memberi surprise ke adiknya Rama. Kevin. Sebenarnya ini idenya Acha sih.
“Sumpah ya, Cha. Lo tadi cuma merintah doang. Bantuin enggak, nyerocos mulu iya”.
“Shut up, Rin. Ayok siap- siap kasih surprise. Kuenya mana Fid, gue yang bawa”.
“Padahal surprise in orang yang habis sembuh dari sakitnya. Malah dibawain kue kayak orang ulang tahun aja, Cha”.
“Shut up, Fid. Lo jangan ikutan nerocos kayak Arin. Lagian ini kue gue jamin steril dan sehat. Karena gue pesen yang low sugar”.
“Ya ya, whatever”.
“Kak Acha. Kirain kakak lupa sama Kevin”.
“Eh, ya gak dong. Masak sama adik ipar sendiri lupa”.
Kevin tersipu, “Bisa gak kak, kata adik ipar diganti kata pacar?”
“Ehem”. Bisa- bisanya adijnya ini merayu pacarnya di depan mata langsung. Astaga.
“Eh, Kak Rama. Iya tau, Kak Acha pacarnya kak Rama”.
“Hai Kevin. Aku Arin dan ini Fidelya, kami temannya Acha. Kita bawain hadiah buat kamu. Ya, walaupun hadiahnya kecil. Semoga suka”.
“Woah bagus banget Kak. Ini kan sepeda mahal. Makasih ya kak. Besok Kevin mau berangkat sekolah pakai sepeda ini. Boleh kan kak?”. Kevin mendongak ke arah Rama. Meminta persetujuan. Rama mengangguk sebagai jawaban.
“Oh ya, kita potong kuenya yuk”. Kata Arin mengintrupsi. Mereka semua mengangguk apalagi Kevin yang menangguk bersemangat. Pasalnya baru kali ini ia diberi kejutan seperti ini. Terharu kan jadinya.
__ADS_1
“Gue letakkan ini dulu”, Rama berjalan lebih dulu sambil membawa peralatan Kevin untuk diletakkan di kamar adiknya.
“Gue izin ke kamar mandi ya, guys”.
“Eh, Fidelya kan baru pertama kali ke runah Rama. Kok gak tanya dulu arah kamar mandinya, Rin?”
Arin gelagapan. Untung saja ia pandai menormalkan ekspresinya, “M-mungkin tanya sama Rama di belakang, Cha”.
“Ah, iya juga sih”.
“Kak Acha”. Panggilan Kevin mengintrupsi pndangan Acha mengarah ke Fidelya yang hilang dibelokan dalam rumah Rama.
“Iya? Ada apa Kevin?”
“Kevin siap jadi pacar Kak Acha, kalau nanti Kak Rama nyakitin Kak Acha”.
Acha tertawa. Pemikiran bocah memang luar biasa. Lagian tak mungkin kan, kalau Rama mempermainkan hatinya?
“Kevin lucu ih, kayak badut. Mana mungkin sih kakakmu itu nyakitin aku. Ya gak Rin?”.
Arin tersenyum kaku, “h-ha ha, iya nih Kevin ada- ada aja”.
Semoga aja ya, Cha.
AN:
Masih dukung Acha perjuangin Rama gak?
Oh ya, jangan lupa dukung Acha yuk!!!
Dengan cara klik star vote + komen
Untuk bab yang private bisa di baca di Kary*k*rsa : cutealpenlibe
More Information follow instagram : cutealpenlibe01_
__ADS_1