
Banyak yang bilang karena cinta seseorang rela melakukan apa saja demi orang yang disukainya, bahkan dengan melakukan kegiatan yang tak ia senangi ataupun mempelajari hal-hal diluar kebiasaannya.
Seperti halnya Acha, Putri Adinata sedang serius membaca aneka resep masakan khas nusantara sampai membuat kedua sahabatnya berdecak heran.
"Eh, buset gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba tuan putri kita bacaannya resep masakan khas nusantara dong. Apakah kita ketinggalan informasi penting?"
Arin mengangguk setuju dengan ucapan Fidelya. Pasalnya gadis bernetra coklat madu itu, memang sangat malas jika berkutat dengan peralatan dapur.
"sayang dong sama perawatan kuku yang gue jalani. Manicure seminggu sekali dan kulit mulus bila terkena cipratan minyak panas. Bisa ada bekas tuh, apalagi daddy bayar maid buat ngelayani gue", katanya.
Fidelya dan Arin masih speachlees dengan kegiatan yang Acha lakukan. Membaca buku resep masakan? Hello, yang benar saja, membaca buku pelajaran saja masih ogah-ogahan, apalagi ini? Siapakah gerangan yang telah membuat sahabatnya ini berubah?
"Kayaknya nih anak perlu disiram air pakai mantra gue lagi, Rin ambilin botol minum yang ada airnya dong."
Arin menunjukkan tanda jempol kemudian mengambil botol minuman berisi air bening milik temannya. Bodo amat jika nanti dimarahi bahkan ia bisa membelikan satu dus untuk ganti rugi. Se-tokonya kalau mau.
Lagian siapa sih yang mau marah sama mereka, secara orangtua mereka adalah donatur tetap apalagi daddynya Acha, donatur tetap sekaligus pemilik 25% saham di SMA Cendikia. Masih mau macam-macam?
“Gue gak kenapa-kenapa. Gausah lebay kalian.”
Arin dan Fidelya menghela nafas lega mendengar perkataan sohibnya itu.
“Kalau gitu nih air jadi disiram gak, Fid?”
Fidelya memutar bola mata malas, kenapa sih otak temannya ini lola alias loading lama. Tinggal meletakkan kembali itu botol minum kan sudah selesai urusannya, kenapa masih nanya lagi coba.
“Siram aja di muka lo”.
Arin memberengut kesal, netranya beralih menatap Acha dengan raut muka serius membolak- balik buku resep masakan tersebut. Seolah tak terganggu sama sekali dengan keadaan sekitar yang ramai karena jam kosong. Maklum, para guru sedang rapat guna membahas perjalanan wisata, angkatan kelas dua belas ke Bali.
__ADS_1
“Tumben gak ke kelas prince lo Cha? Mumpung lagi jamkos”.
Yang ditanyai hanya menghela nafas lelah kemudian menselonjorkan kepalanya untuk tidur dengan tas sebagai bantalannya.
“Rama lagi bimbingan”, Acha menjawab lesu. Entahlah, tak bertemu sehari saja rasanya ada yang kurang.
“Serius? Padahal bentar lagi liburan, ya meski kurang 2 minggu sih. Tapi, masih aja bimbingan tuh anak”.
“Maklum Rin, orang yang otaknya udah glow up emang beda kegiatannya. Kalau kita bahas liburan, dia masih bahas rumus”.
“Kalau gue ya mending bahas liburan lah, gila kali bahas rumus”.
“Kan itu lo, beda kali sama Rama. Ah, tau lah ngomong sama orang yang otaknya belum glow up”.
Arin menggeplak tangan Fidelya, “Heh, kita itu sahabat, satu tongkrongan, satu circle sejak jaman SMP. Gue yang lo katain otaknya belum glow up berarti lo juga dong”.
Acha mengubah tidurnya untuk menghadap tembok. Bodo amat dengan temannya ini. Bisa gak sih sehari gak ribut karena masalah sepele. Makin mumet aja rasanya. Mending tidur sajalah. Besok kembali lagi ke rutinitas. Menemui Rama dan membuatnya terjangkit virus merah jambu.
...*****...
“Kak Rama, Kak Acha itu sudah punya pacar belum?”.
Rama tersedak ketika mendengarkan pertanyaan yang terlontar dari mulut adiknya. Buru- buru ia mengambil minum kemudian meneguk hingga tandas.
“Kenapa kak? Belum punya ya? Asik. Kevin mau daftar kalau gitu”.
Bocah SD itu masih cekikian, tanpa melihat bola mata Rama seolah ingin keluar. Dalam otaknya pasti membayangkan yang iya- iya. Pertanyaan macam apa yang ia lontarkan tadi. Sungguh, bukan pertanyaan seumuran bocah SD. Apakah adiknya ini puber terlalu cepat?
Tak bisakah adiknya ini bersikap atau setidaknya memberi pertanyaan sesuai umurnya. Misal, tentang perkalian atau pembagian. Bukan malah tentang pacar. Apalagi yang dicalonkan ini bukan gadis seusianya. Bukan berarti Rama memberi akses untuk pacaran. Hanya saja gadis yang disukai adiknya ini sudah remaja dan umur mereka terpaut enam tahun loh. Ya, meski cinta tak berpatokan dengan umur. Intinya adalah adiknya masih bocah dan tak usah berurusan dengan yang namanya pacaran.
__ADS_1
“Gak usah senyum- senyum. Acha udah punya pacar”.
“Kevin ketikung dong kak?”
What the hell. Adiknya ini sungguh menguras kesabaran. Ketikung apanya coba, dasar bocah jaman sekarang.
“Emang Acha mau sama kamu?”
“Mau dong kak. Kevin kan ganteng, lucu dan imut”.
Rama mendengus kesal mendengar jawaban adiknya yang terlalu narsis. Tiruan dari mana adiknya ini, kok bisa narsisnya gak tertolong lagi. Belum juga pola pikirnya yang terlalu dewasa. Dalam konteks percintaan. Kalau di usianya dulu, ia hanya memikirkan belajar, lah adiknya ini sudah memikirkan tentang cewek, pacaran dan hal- hal yang sejenisnya.
“Mending kamu belajar, daripada narsis gak jelas gitu. Katanya kamu besok ulangan”.
“Ngapain belajar kak, kakak lupa kalau Kevin juara kelas berturut-turut. Udahlah Kevin mau tidur aja. Mau meratapi patah hati padahal belum pendekatan. Sakit tau kak.
Serius. Ini adiknya siapa. Bukan Rama banget waktu bocah dulu. Astaga.
AN:
Ajarin Acha masak nasi goreng dong.
Kasian Rama lidahnya nanti bisa keseleo. Wkwk.
Oh ya, jangan lupa dukung Acha yuk!!!
Dengan cara klik star vote + komen
Untuk bab yang private bisa di baca di Kary*k*rsa : cutealpenlibe
__ADS_1
More Information follow instagram : cutealpenlibe01_