
“Non, bangun non. Non Acha”.
Gadis beriris coklat madu mengerjapkan matanya. Netranya menatap sekeliling. Terlihat sepi dengan lampu caffe yang sebagian sudah padam.
Ah, ya. Ia bahkan hampir lupa jika dirinya sedang menunggu manusia tak peka terhadap kekasihnya sendiri bernama Rama Danta.
Bahkan Acha rela menunggu hingga ketiduran dan sekarang caffe sudah tutup untuk menemui pemuda tampan tersebut. Sekedar mengobrol agar tidak kaku-kaku banget gitu.
Halah modus.
“Jam berapa sekarang, Cik?” Putri Adinata masih menyesuaikan cahaya yang masuk ke netranya. Tak habis pikir jika sampai ketiduran karena menunggu sang pujaan.
“Hampir jam sepuluh malam, Non”.
“Beneran?” Iris coklat madunya melihat jarum jam yang memang menunjukkan pukul yang disebutkan. Gadis cantik tersebut masih menguap, tak perduli dengan muka bantalnya.
Ah, asal kalian tau, meskipun putri tunggal Adinata membuat wajah komuk sekalipun, dirinya masih tetap terlihat cantik. Entah sihir apa yang dipakainya. Eh, tapi daddy maupun mommynya juga sama-sama bibit unggul sih. Tak heran anaknya seperti serbuk-serbuk berlian.
“Rama masih di dalam?”
“Sudah pulang non. Tapi, tadi Rama ngeliatin non terus. Setiap kali mengantar pesanan ke pelanggan, tatapannya selalu berakhir di meja non. Bahkan tadi sampai ditegur Pak Rio.”
Pipi Acha bersemu merah. Apa benar yang dikatakan oleh karyawan daddynya ini? Jika iya, maka kupu-kupu di perutnya serasa bertebangan sekarang. Diberi perhatian begini saja hatinya sudah terbang entah kemana. Ah, dasar hati baperan.
“Dia juga titip jaketnya, Non. Aduh, so sweet banget.”
Hah, jaket?
Acha menoleh ke belakang. Tersampir jaket berwarna denim di bahunya. Terlihat kebesaran. Bahkan, sampai bisa menutup sempurna tubuhnya.
Ah ya, kenapa baru sadar. Mangkanya sedari tadi indra penciumannya menghirup bau yang familiar nan menenangkan. Ternyata wangi pemiliknya tertinggal di bahunya. Ia tersenyum. Dalam hati bersorak.
Spekulasi mengenai kekasih tampannya mulai membuat hatinya berdebar. Mungkin kekasihnya itu tipe orang yang cuek namun mempunyai perhatian yang dalam. Maybe. Karena setiap lelaki pasti memiliki cara yang berbeda untuk menunjukkan rasa kasih sayangnya kan?
“Mari, Non. Saya pulang dulu.”
__ADS_1
“Ah, ya. Silahkan, Cik. Hati-hati di jalan.”
Aaaa daddy, Acha dibuat baper anak orang.
Jeritnya dalam hati. Untung saja caffe sudah tutup, jika saja masih buka, orang- orang pasti menatap aneh dirinya karena ia menari kesenangan di kegelapan caffe disaksikan lentera yang menyala temaram.
...*****...
“Gak usah senyum- senyum, ngeri liatnya.”
Bukannya tersinggung, senyum putri tunggal Adinata malah makin merekah bak kuncup bunga baru mekar. Ya, se-bahagia itu memang. Tak usah gengsi, jika kalian di posisi Acha pasti sama juga kan?
“Aduh, Fidelya. Gemes banget gue sama mulut lo. Pengen gue pites kayak kutu.”
Fidelya hanya memutar bola mata malas. Netranya beralih ke jaket yang tersampir di pundak sahabatnya itu. Seolah mengerti, Acha langsung memberitahu dengan semgat. Ia sangat peka bukan?
“Aaa, pasti kalian mau tanya ini jaket siapa. Okay- okay akan gue jawab, ini tuh jaketnya My prince. Rama. So sweet banget kan.”
“Jijik banget. Gak usah dikasih prince- prince segala kali.”
Acha menjulurkan lidah, “Biarin aja. Jomblo syirik mulu.”
Atensinya beralih menatap Arin dengan gaya angkuh, “Ya, bisa lah. Acha gituloh”-
“Eh, udah dulu ya sesi tanya jawabnya, narasumber mau ke kelas my prince Rama dulu. Bye girls.”
Gadis beriris coklat madu itu melangkah dengan senyum lebar, membalas setiap sapaan yang dilayangkan untuknya. Dari kemarin hatinya berbunga- bunga. Pengaruh virus merah jambu memang sekuat ini ternyata.
“Lo yakin gak mau cerita hal ini ke Acha?”
“Gak usah, nanti kalo dia tahu, persahabatan kita jadi taruhan. Lo mau kita musuhan?”
Gadis yang ditanya malah menatap sinis, “Ya gak mau lah. Tapi, seenggaknya bisa dibicarakan baik- baik. Gue takut kalo dia tahu sendiri atau dikasih tau sama orang lain. Malah lebih sakit kan? bisa- bisa lo dibenci seumur hidupnya.”
“Selama lo diam. Semuanya akan baik-baik saja dan kita akan tetap menjadi sahabat.”
__ADS_1
“Oke, terserah lo. Kalau misal terjadi perpecahan diantara kita. Gue berada di pihak Acha, karena gue udah nyuruh lo buat jujur tapi lo nya yang gak mau.”
“Ya ya, terserah.”
...*****...
Dengan gaya mengendap-ngendap bak detektif handal, Acha melihat suasana kelas sang pujan di pintu kelas. Sebenarnya dirinya bisa langsung masuk sih, namun ia harus memastikan dulu apakah kekasihnya berada di kelasnya atau tidak.
“Lo mau cari siapa?”
Netrannya menatap pemuda yang duduk di bangku depan dengan buku paket tebal. Kelas sang pujaan memang tak main-main semangat belajarnya. Tak heran bila ada yang menyebut jika kelas sang pujaan merupakan kelas yang selalu menyebet perlombaan yang diselenggarakan.
“Ramanya ada?”
Pemuda yang ditanya menatap bangku yang berada di barisan kedua. Melihat sekeliling kemudian menggeleng.
“Kira-kira lo tau gak dia kemana?”
“Gak.”
“A-ah. Oke.” Acha kemudian pergi dari sana tak lupa mengucapkan terimakasih.
Seiring kakinya melangkah otak cantiknya memikirkan kemungkinan besar jika sang pujaan berada di taman belakang sekolah. Biasa menikmati suasana yang menurut kekasihnya tenang serta damai.
Dengan senyum ceria Acha menuju tempat tersebut. Mencium sekali lagi jaket sang kekasih sebelum nantinya akan ia kembalikan. Meski sebelumnya sudah ia cuci, tapi raksi dari sang pemilik entah mengapa masih tertinggal di sini.
AN:
Ajarin Acha masak nasi goreng dong.
Kasian Rama lidahnya nanti bisa keseleo. Wkwk.
Oh ya, jangan lupa dukung Acha yuk!!!
Dengan cara klik star vote + komen
__ADS_1
Untuk bab yang private bisa di baca di Kary*k*rsa : cutealpenlibe
More Information follow instagram : cutealpenlibe01_