Cinta Karena Taruhan

Cinta Karena Taruhan
10. Rama Cemburu?


__ADS_3

Rama mengepalkan tangannya di bawah meja. Baru saja dua hari yang lalu cewek beriris coklat madu memintanya untuk belajar mencintainya. Tapi apa yang ia lihat sekarang? Gadis itu malah asik tertawa cekikikan dengan Arkan- kapten basket Cendikia senior high school.


Hei, bukan karena dirinya cemburu. Maksudnya itu, kenapa para betina seringkali menjanjikan kata tetapi dirinya sendiri yang melanggar.


Tanpa ba-bi-bu cowok pemilik julukan cabe boy berjalan mendekat ke pinggir lapangan basket. Menghampiri dua orang yang saling tertawa karena candaan yang mereka lontarkan.


Cih, lusa saja gadis itu bilang jika dirinya tak boleh kecentilan dengan lawan jenis. Lah yang ia lihat ini apa?


Dasar egois.


Pemuda jangkung itu mengecup sekilas rambut Acha dan merangkul bahunya tanpa memperdulikan sekitar yang menatapnya speachlees. Ya, gimana gak speachlees, ini Rama loh. Cowok introvert dengan segudang prestasi yang tak mau melibatkan skandal apapun demi meraih kepopuleran.


Bisa-bisanya kelakuannya berubah 180 derajat seperti ini. Bahkan akun lambe turah sudah bersiap menuliskan artikel dengan highlight ‘cabe boy Cendikia Senior High School sudah bertekuk lutut dengan Putri tunggal Adinata’. Ada pula yang berkomentar jika Rama sudah menjadi bucinnya Acha.


Persetan dengan itu semua, Rama hanya ingin berlaku adil dalam hubungan ini. Enak saja dirinya dikekang, sementara yang membuat peraturan malah bebas bercanda dengan lelaki lain.


Sekali lagi, Rama tidak cemburu.


Tangan kirinya ia masukkan dalam kantong celana dengan tangan kanan merangkul bahu Acha dengan gaya cuek, seolah-olah ia tak melakukan apa-apa.


Tak taukah Rama jika jantung Acha berdebar tak karuan. Bahkan, gerakannya ikut terhenti saking kagetnya. Seolah sel-sel ditubuhnya berjalan melambat.


“Ayo ke kantin”. Kembali mengecup rambut Acha sekilas. Harum strawberry semerbak di indra penciumannya. Mungkin setelah ini aroma favoritnya adalah wangi shampo strawberry yang berasal dari cewek mungil di sampingnya ini.


Arkan menatap tajam Rama. Segala macam kemungkinan hinggap diotaknya. Tak mungkin kan apa yang ia pikirkan itu benar?


Oh, ****. Kalau begitu ceritanya ia keduluan nih? Ah, kenapa tak dari dulu saja ia ungkapkan, entah itu responnya diterima ataupun ditolak. Itu urusan nanti. Yang penting ia sudah jujur.


Karena si cantik milik sang pemberani.


“Tumben kamu nyamperin?”


“Emang kenapa? Gak boleh nyamperin pacar sendiri?”

__ADS_1


Blush


Acha menundukkan wajahnya yang seketika bersemu merah. Ia menggigit bibir atasnya untuk mengurangi rasa gugup. Percayalah guys, meski sering kecentilan ke Rama tapi kalau digoda balik Acha gugup setengah mampus. Ia bahkan tak berani mengangkat wajahnya.


“Dih, alay.” Arkan menatap sinis adegan roman picisan di depannya. Terselip kalimat tanya yang mengganggu otaknya.


Sejak kapan mereka dekat?


Bahkan dirinya saja yang sudah menaruh rasa sejak lama namun tak bisa mendapatkan si cantik.


“Sorry, ganggu. Tapi, gue mau ngajak pacar gue ke kantin. Dan untuk lo, jangan lupa cari pasangan, yang nyukai lo banyak-


“Gue gak suka milik gue masih ditatap memuja oleh cowok lain.”


Skakmat


Arkan mengepalkan tangannya kuat, sampai buku- buku tangannya memutih. Menatap pemuda di depannya penuh emosi yang terpancar dalam onix hitam miliknya. Untuk satu ini, Rama berhasil menghempaskan hati Arkan sampai ke dasar.


Tanpa disadari, cewek berkaca bulat menatap mereka dengan sendu. Sungguh, kalau bisa ia ingin berbicara dengan hatinya agar segera mundur dan melupakan.


Bersanding dengan Rama adalah ketidakmungkinan yang selalu ia semogakan. Sama saja seperti dirinya bercita-cita untuk menggapai bintang.


Mustahil dan tak akan pernah mungkin.


...*****...


“Astaga itu tadi beneran Rama, Cha? Bisa posesif juga itu cowok”. Fidelya datang dengan wajah kaget yang terlalu kentara. Asli. Menurutnya ini harus masuk ke dalam salah satu keajaiban indonesia.


Pemuda yang biasanya hanya menampilkan wajah datar dengan waktu yang super padat karena dihabiskan di perpustakan, malah mendatangi putri tunggal Adinata tanpa disuruh.


Memang itu cowok pesonanya kuat banget. Sekali datang ke lapangan basket indoor malah membuat hampir seluruh sekolah gempar karena ulahnya.


“Sumpah, kaget banget. Gue rasa Rama udah mulai suka deh sama lo, Cha atau jangan-jangan karena doi mau balas dendam? Kan kemarin lo udah labrak dia bareng cewek lain. Jadi, dia sekarang balas ke lo gitu.”

__ADS_1


Senyum Acha luntur seketika. Praduga Arin sukses membuat otaknya berkecamuk. Kenapa ia tak berpikir sampai kesana? Menyambungkan beberapa kejadian yang menurutnya di luar nalar untuk dilakukan seorang Rama.


“Eh, ya gak apa-apa, Cha. Artinya di depan orang-orang, Rama bisa berlagak jadi pacar yang baik, siapa tau ke depannya doi beneran suka sama lo. Kayak yang lo alami. Lo kan jadi suka beneran sama Rama.”


Acha membulatkan bola matanya lucu. Terlihat seperti anak kucing. Bahkan Arin sampai mencubit pipinya gemas, “D-ari ma-na lo bisa tau?”


“Halah, dari tatapan lo itu udah beda ke doi. Lo ngeremehin persahabatan kita yang udah berjalan beberapa tahun? Dari lagak lo aja udah keliatan banget, Cha. Apalagi tatapan berbinar saat lo ketemu dia. Udah menjelaskan sekali.”


Pipi Acha bersemu merah mendengar penuturan Fidelya. Ia tak mengira jika sahabatnya itu mengetahui perasaannya secepat ini. Apa memang terlalu kentara ya?


“Kucing kecil kita udah jatuh cinta nih, ya. Udah gede sekarang.” Arin tersenyum lebar sambil mengusap rambut Acha, persis seperti apa yang ia lakukan pada kucingnya di rumah.


Memang sih, Acha ini mungil. Netra matanya coklat madu dengan bentuk mata bulat. Belum lagi aroma strawberry yang menguar di tubuhnya. Aduh, persis seperti kucing mahal yang melakukan perawatan di salon mahal.


“Mumpung lagi istirahat. Samperin deh pujaan hati lo. Gue tau kok daritadi lo pingin kesana.”


“Be-neran?”


“Iya dong. Udah sono.”


“Aaaa, makasih. Kalian emang sahabat terbaik deh.” Acha tersenyum lebar. Hatinya ikut berbunga-bunga karena sahabatnya sangat mendukung perasaannya. Ia merasa beruntung mendapatkan sahabat seperti mereka.


AN:


Masih dukung Acha perjuangin Rama gak?


Oh ya, jangan lupa dukung Acha yuk!!!


Dengan cara klik star vote + komen


Untuk bab yang private bisa di baca di Kary*k*rsa : cutealpenlibe


More Information follow instagram : cutealpenlibe01_

__ADS_1


__ADS_2