Cinta Karena Taruhan

Cinta Karena Taruhan
7. Awal Perasaan


__ADS_3

Fidelya bergidik ngeri melihat Acha yang senyum-senyum sendiri sedari tadi. Pasalnya, cewek beriris coklat madu itu menatap cincin di jari manisnya lalu melamun kemudian tersenyum lebar, seolah ia sedang membayangkan kejadian yang menurutnya menyenangkan, tapi menurut Fidelya itu gila.


"Rin, tolong ambilin air dong di baskom".


"Emang buat apa, Fid?" ucap Arin bingung.


Fidelya mengkode lewat matanya, menunjuk ke Acha dan jari tangannya disilangkan di kening-- seolah memperagakan sinting--.


"Buat nyiram nih anak. Dari tadi senyum-senyum mulu, takutnya kesambet".


Arin ber'oh ria. Tanpa diminta dua kali, ia mengambil air dalam wadah berukuran sedang kemudian memberikannya ke Fidelya.


"Thanks, Rin".


Fidelya mulai membacakan mantra, seolah-olah dalam mantra tersebut terdapat do'a mujarab yang menyembuhkan sahabatnya dari ketidakwarasannya ini. Kemudian menyipratkannya. Tak tanggung-tanggung, ia menyipratkan se-baskom. Berharap sang sahabat cepat sadar.


"Lo apa-apaan sih goblok. Jadi basah muka gue, aduh skincare gue yang mahal. Anjing banget sih lo". Acha misuh-misuh sambil mengibaskan baju serta mengusap pelan wajahnya dengan tisu kering.


Ia tak tahu dimana letak otak sahabatnya ini. Entah masih bertahan di posisnya atau sudah bergeser di dengkul. Bisa-bisanya menyiramnya dengan air, padahal ia sedang asik membayangkan kisah uwu yang akan ia jalani bersama Cabe boy a.k.a Rama. Pacar pertamanya. Ish, jadi buyar kan sekarang.


"Gue takut lo kesambet. Untung lo punya sobat care kayak gue. Jadi gue siram deh. Tuh kan, langsung sadar lo". Fidia berujar bangga bahkan sampai menepuk dada kiri dengan muka songongnya. Duh, tangan Acha sudah gatel nih Pengen nabok. Sumpah.


"Lo emang hebat banget Fid, ya ampun gak nyangka gue punya temen kayak lo. Entar lo bisa buka praktik buat nyembuhin orang-orang, yang gretongan aja, kan lo udah kaya tuh".


Ah, satu lagi kelakuan sohibnya yang mempunyai otak seperempat sendok nyam-nyam. Arin malah memuja kelakuan Fidelya dengan mata berbinar. Padahal kan Acha memang tidak gila, cuma lagi melamun aja. Astaga, kenapa heboh banget sih.


Duh, Gusti kenapa hamba harus dikelilingi orang-orang macam mereka ini.


"Boleh juga, entar gue pikirin. Tapi bisnis ya tetap bisnis. Mungkin kalau ada orang yang gak mampu bayar, gue kasih diskon lah".


Arin hanya mangut-mangut setuju. Toh, yang punya bisnis kan Fidelya. Sebagai sahabat Ia cuma bisa mendukung.


"Mau kemana, Cha?"

__ADS_1


Acha memutar bola matanya, malas meladeni ucapan Arin yang polosnya kelewat goblok. Kembali melanjutkan langkah menuju kamarnya di lantai dua. Sudah tau bajunya basah ya ingin gantilah, masih nanya lagi.


"Acha mau ke kamar. Ganti baju dia dan lo disini aja ntar lo di amuk sama singa betina lepas". Fidelya menatap TV berukuran 42 inch dengan keripik kentang di pangkuannya.


"Lo emang harus buka praktek, Fid".


Fidelya menyunggingkan senyum. Tangannya beralih mengganti saluran televisi. Dalam hati ia tertawa ngakak sahabatnya ini polosnya emang kelewatan.


"Rin, lo emang gak usah pacaran dah”.


“Emang kenapa, Fid?”


“Takutnya dimanfaatin. Lo polosnya kelewat goblok".


...*****...


Cewek beriris cokelat madu itu menatap aneh siswa jangkung disampingnya. Bahkan guru di depannya ini menatap tak suka. Untuk dirinya yang sering ditatap seperti itu sih, sudah biasa. Tapi tatapannya kali ini untuk cowok di sampingnya loh. Padahal imagenya disekolah ini nyaris sempurna. Heran gak sih?


"Apa alasan kamu terlambat, Rama?" Guru berperawakan bongsor itu menghela nafas kasar ketika melihat anak didiknya yang tergolong murid teladan melanggar tata tertib sekolah, meski baru pertama kali. Tapi ia tak mau jika itu menjadi kebiasaan.


"Apa karena perempuan disamping kamu ini? Iya?"


Merasa ditunjuk, gadis beriris cokelat madu menoleh. Putri Adinata itu tak terima jika harus disalahkan dan dirinya juga kaget ketika melihat Rama datang terlambat, "Kok saya sih, bu?"


"Ya emang karena kamu. Gosip yang beredar, katanya kalian sekarang pacaran. Saya gak mau ya, kamu memberi pengaruh buruk ke Rama, apalagi dia murid teladan loh”.


Acha mengerucutkan bibir sebal. Baru saja menjalin hubungan dengan salah satu most wanted sekolah a.k.a cabe boy sudah ada hatersnya. Memang hidup di negara +62 harus perbanyak sabar.


"Nggak kok bu, ini murni kesalahan saya”. Acha menoleh, melihat pria jangkung yang sekarang menjadi pacarnya. Garis bawahi ya, menjadi pacarnya. Pacarnya. Yaitu Rama.


Ugh, so sweet banget gak sih dibela pacar sendiri, apalagi ini Rama loh. Spesies langka di muka bumi ini. Bukan kebanyakan cowok kadal diluaran sana.


Tenang Acha. Gak boleh baper, biasa aja.

__ADS_1


"Kali ini saya maafkan, jangan diulangi lagi. Dan untuk kamu, Acha. Jangan seret Rama ke habit burukmu. Dia anak baik dan murid teladan".


Acha menganggukkan kepalanya walaupun itu bukan kesalahannya. Ia hanya ingin mempersingkat ocehan guru di depannya ini. Ah, anggap saja ia murid yang sangat pengertian karena tak ingin gurunya berdiri di bawah matahari yang mulai terik.


Pemuda jangkung mengucapkan maaf dan pamit undur diri di ikuti Acha. Mereka berjalan menyusuri koridor menuju taman bunga yang beraada di belakang sekolah. Itu pun karena Acha yang memaksa Rama. Lagian, sebentar lagi bel istirahat. Percuma kan masuk kelas. Ya, itu menurut Acha sih.


"Apaan sih lo?"


"Jadi, apa alasan kamu datang terlambat? Kamu begadang? Atau keluyuran gak jelas?”


Rama menatap lurus tanpa mau repot-repot menjawab ucapan cewek beriris cokelat madu di sampingnya ini. Karena menurutnya tak penting. Lagian, ngapain repot-repot keluyuran gak jelas. Pekerjaannya sudah menguras waktu dan tenaga dan satu lagi, Rama masih menganggap jika Acha orang asing.


"Ya, sudah kalau kamu gak mau jawab. Oh ya, aku bawain kamu bekal baby. Dimakan ya". Acha meletakkan bekalnya di tangan Rama. Ia masih nyaman menatap cowok disampingnya ini. Garis wajah tegas, alis lebat, hidung bangir, ciri fisiknya pun seperti terdapat campuran gen bule tapi ini versi lokalnya.


Mata yang selalu menatapnya tak bersahabat dan bibir tipis yang selalu mengucapkan kata pedas. Tapi anehnya jantungnya kini malah berdebar tak karuan. Agh, dasar lemah.


"Gue mau ke perpustakaan". Rama meletakkan kembali kotak bekal itu. Langkahnya mulai beranjak namun tangan halus menggapai lengannya.


"Tunggu, kamu harus makan dulu baby". Acha kembali menyeret Rama untuk kembali duduk. Ia ingin lebih lama menikmati wajah seseorang yang statusnya kini sudah menjadi pacarnya.


Hanya butuh waktu dua minggu untuk membuat putri Adinata jatuh ke pesona seorang Rama Danta. Bodo amat tentang TOD, sekarang perasaannya tulus. Bolehkah sekarang Acha berharap jika waktu perlahan berjalan melambat agar bisa memandang wajah tampan yang sementara ini menjadi miliknya, sebelum ia melepas sesuai target?


AN :


Siapa nih yang ingin cari pacar kriteria seperti Rama?


Angkat tangan.


Oh ya, jangan lupa dukung Acha yuk!!!


Dengan cara klik star vote + komen


Untuk bab yang private bisa di baca di Kary*k*rsa : cutealpenlibe

__ADS_1


More Information follow instagram : cutealpenlibe01_


__ADS_2