
Waktu terus berlalu, tidak terasa kegiatan PBB sudah memasuki hari H.
"Famela kamu sudah lihat belum dari grub kelas? Katanya nanti siang kita disuruh kumpul ke sekolah." ujar Nadia yang berada di rumah ku.
"Belum Nad. memangnya kenapa kita kok disuruh ke sekolah? Bukannya ini jadwalnya PBB tingkat SMP?" jawabku bingung dan penuh pertanyaan.
"Katanya ada persiapan untuk kegiatan karnaval, terus kumpulnya setelah anak-anak selesai PBB." jawab Nadia.
"Oalah ya udah kalo gitu, yang lain udah tahu semua kan?" ucap ku.
"Iya sudah tahu semua" jawab Nadia.
Siang hari yang sangat panas. Kami pun berkumpul di sekolah untuk mendengarkan pengumuman serta persiapan kegiatan karnaval memperingati hut RI.
"Duhh panas sekali ya guyss." kata Hikma.
"Iya nih, males banget aku kumpul kayak gini." gerut Fitri.
"Mending bolos aja tau gini." kata Mela.
"Tapi sayang juga kalo kita ketinggalan info." sahut Putri.
"Udah lah kita nikmati aja panas-panas gini." tukas ku.
"Iya dinikmatin aja." kata Nadia menengahi.
"Tqpi banyak yang gak dateng loh." sahut Hikma.
"Gak papa kita kan siswi yang taat aturan." kata ku menenangkan Hikma.
"Untuk seluruh siswa dan siswi diharapkan berkumpul di lapangan sekarang juga!" perintah Pak Bambang dari speaker.
"Baiklah terima kasih telah menyempatkan waktu anak-anak untuk berkumpul di sekolah ini guna berpartisipasi dalam rangka hut RI. Pada kesempatan ini yang akan bapak serahkan kepada Pak Anton." ucap Pak Bambang setelah kami berkumpul di lapangan.
"Terima kasih Pak Bambang dan anak-anak. Baiklah disini bapak bersama tim akan membagi kalian dalam beberapa kelompok." ucap Pak Anton.
Tibalah saat pembagian kelompok
"Si A si B si C, dan bla bla... Baris di sebelah sana kalian tari." ucap salah satu tim Pak Anton.
"Kamu, kamu dan kamu baris di sebelah sana berdasarkan urutan ketinggian." ucap salah satu tim Pak Anto lagi. Dan ketika pemilihan yang ini aku terpilih.
"Ini kita dipilih jadi apa ya?" tanyaku pada beberapa temanku yang terpilih.
"Gak tau juga aku Famela." jawab Bella.
"Ya udah kita laksanakan yang diperintahkan tadi." kata Salsa si adik kelas.
Aku terkejut saat kami diberi pasangan masing-masing.
"Lah kok ada anak cowoknya ya?" tanya Bella.
"Iya Bel, kok ada anak cowok?" kata ku bingung.
__ADS_1
"Kalian yang ada disini dipilih untuk mengenakan pakaian adat!" ucap Pak Anton
"What? Pakaian adat?" ucap ku kaget.
"Sekarang bapak akan menyebutkan pakaian adat kaluan masung-masing." ucap Pak Anton.
Tibanya di barisan ku.
"Kalian pakai pakaian adat Bali!" ucap Pak Anton.
"Hah??" ucap ku kaget.
"Oh ya sekalian cari bunga kamboja terus di rangkai untuk dinampan yg akan dibawa!" tambah Pak Anton.
"Waduhh cari dimana Pak?" tanya ku.
"Dikuburan lah" jawab cowok yang disampingku sambil ketawa terbahak-bahak.
"Haduhh masak disuruh cari bunga di kuburan." teriak ku frustasi.
"Nanti aku bantu." kata cowok disampingku yang menjadi pasanganku saat memakai pakaian adat Bali dengan wajah yang serius.
"BTW kita belum kenalan loh, namaku Wawan." dia pun memperkenalkan dirinya.
"Famela" jawabku singkat dan masih frustasi dengan pemilihan tadi.
"Kenapa harus Wawan kenapa gak Alvaro ya? Padahal aku pengen lebih mengenal Alvaro." gumam ku dengan rasa yang sedikit kecewa.
Keesokan harinya yaitu gladi untuk hari H yang tinggal 1 hari lagi.
"Baik anak-anak hari ini jadwal kita gladi semoga besok akan tampil dengan maksimal." ucap Pak Anton.
"Baik Pak" ucap seluruh siswa dengan semangat.
Hari yang dinanti yaitu hari karnaval. Sedari pagi kami sudah berkumpul di rumah pak anton untuk make up dan lain sebagainnya.
"Eh kita udah pada cantik gini pasangan kita di make up juga gak ya?" ucap salsa untuk meramaikan suasana yang hening dengan tawanya yang khas.
"Ehhh iya juga ya." kata Mei.
"Udah ah gak usah bahas itu aku males" jawab ku dengan raut wajah yang lesu.
"Jangan gitu lah semangat biar tambah cantiknya Famela" goda Bella teman satu kelasku.
"Ehh itu dia pasangan kita." kata Mei dengan suara cemprek khasnya.
Disisi lain.
"Wan itu Famela. Dia kelihatan beda banget hari ini." kata Rian sahabatnya Wawan sembari menunjuk kearah kami.
"Mana Yan?" tanya Wawan penasaran.
"Itu loh yang duduk di tengah." jawab Rian.
__ADS_1
"Wow makin cantik aja tuh anak." kata Wawan.
"Ayo langsung di pepet jangan sampai keduluan yang lain." goda Rian.
"Ihh apaan sih." kata Wawan malu-malu.
Tibanya di garis start kami pun menyusun barisan dan harus selalu tersenyum saat berjalan itu dua pesan dari Pak Anton.
Cuaca hari ini cukup panas karena matahari bersemangat dalam menyambut hari hut RI. Tapi ketika rasa panas itu datang dan keringat mulai bercucuran tiba-tiba ada angin yang meniup dengan pelan yang dapat menyejukan.
"Masih panas gak?" ucap Wawan seraya mengipasi aku dengan kipas dari pakaian adat kami.
"Lumayan." jawabku sembari mengipasi diri dengan kipas yang aku pegang sendiri.
"Haus gak? Aku mintain minum ya sama mbak yang mengiringi kita?" tanya Wawan.
"Enggak usah." jawabku singkat.
"Kamu butuh tissu?" tanyanya lagi.
"Enggak" jawabku singkat.
"Bener kata temen-temennya, emang susah deket sama Famela" gumamnya yang masih bisa aku dengar.
Ditempat yang seramai ini, dengan banyaknya teriakan dari penonton yang sedang menikmati karnaval hut RI ada hati yang merasa sepi tak tau apa penyebabnya dan mengapa bisa ada rasa sepi ketika berada di tempat yang seramai seperti ini. Pertunjukan demi pertunjukan yang sekolah kami berikan di perayaan karnaval itu mengundang antusias dari para penonton. Aku yang merasa kesepian harus bisa memposisikan diri yang harus tetap tersenyum walau keadaan hati sedang tidak baik. Aku yang mengharapkan dia ada disini untuk melihat aku yang sedang tampil pun hanya terbalas oleh rasa kecewa. "Aku yang terlalu kepedean orang Alvaronya aja gak kenal sama aku mana mungkin misal dia nonton karnaval dia mau lihat aku." gumam ku dalam hati.
Sampailah kami di garis finish dengan tepukan yang meriah serta teriakan antusias dari penonton saat melihat sekolah kami tampil. Setelah melaksanakan kegiatan itu kami langsung kembali ke rumah Pak Anton untuk mengembalikan semua fasilitas yang kami gunakan dan langsung bergegas pulang kerumah masing-masing.
Hari-hari telah aku lewati bersama para sahabat ku di sekolah. Hari ini aku dikejutkan dengan pernyataan temanku.
"Famela mending kamu agak menjauh deh dari Wawan" saran Putri.
"Emang kenapa Put? Lagian aku gak deket loh sama orangnya. Aku juga gak pernah ngobrol sama orangnya kami kan hanya fatner acara itu aja setelah itu sudah gak deket lagi." jawabku jujur.
"Iya emang gitu, tapi ada yang cemburu. Soalnya semenjak dia kenal kamu terus dia jarang.." ucap Putri yang kepotong.
"Jarang apa?" tanyaku penasaran.
"Wawan itu lagi PDKT sama Mela" jawab Septi dengan polosnya.
"Oalah bilang dong kalo gitu aku kan bisa jelasin sama si Melanya. Lagian aku sama Wawan gak ada apa apa kok. Lihat aja chatan dari dia aku jawab seperlunya aja." jawabku sambil ketawa.
"Iya Famela, maaf kami tadi bukan bermaksud menyinggung kamu kami cuma pengen supaya persahabatan kita enggak terpecah bela dengan yang namanya cowok." ucap Putri dengan rasa bersalah.
"Iya gak papa kok, aku malah seneng kalo kalian terbuka begini, biar gak ada yang salah faham." ucapku dengan santai.
Keesokan harinya aku yang sudah berada di sekolah lebih dulu dibandingkan para sahabat ku. Aku pun duduk di tenpat favorit ku yaitu di depan kelas sambil menghirup udara pagi yang sejuk dan melihat setiap aktivitas yang ada di sekolah saat pagi hari.
"Eh di samping lab IPA itu siapa ya? Kok dari tadi kayak lihat ke arah ku. Eemm mungkin cuma perasaan ku saja." gumam ku dalam hati.
Pengen tau siapa yang disamping lab itu? jangan lupa like dan komen sebanyak-banyaknya dan terus lanjut baca ceritanya semoga terhibur 😊
Maaf jika ceritanya masih agak kaku. Maklum baru pemula 😁
__ADS_1