
Di sebuah kamar bernuansa pink putih itu seorang gadis cantik sedang asik membaca Novel online nya , hingga suara kaki melangkah terus mendekati kamar itu dan …
braaakkkk…!
gadis itu terkejut menoleh ke arah pintu yang di buka secara kasar tanpa permisi
dia mengkerutkan dahinya ketika melihat kakaknya mengatur nafas ngos ngosan menahan amarah, dilihatnya wajah putih itu sudah memerah menahan amarah yang entah dia pun tak mengerti, dia semakin mendekat dengan tatapan tak suka
"elo itu emang munafik ya " teriaknya ke arah Nisa sambil mengatur nafasnya yang memburu
Nisa yang tak mengerti apa2 mencoba memegang tangan kakaknya dengan tujuan menenangkannya namun tangannya di tepis dengan kasar
"jangan sentuh gue anak ******"teriaknya di penuhi amarah
Nisa yang sedari tadi mencoba mencairkan suasana panas dengan tidak menanggapi kakaknya itu, seketika mengepalkan tangannya ketika ia mendengar kata2 yang membuat hatinya terluka
air mata Nisa mengalir tanpa pamit mendengar penuturan kakaknya tersebut
di tepisnya kasar air mata itu dan beralih menatap tajam kakaknya "elo boleh ngehina gue, boleh nginjek2 harga diri gue tapi jangan sekali kali lo menghina mendiang ibu dengan mulut kotor lo itu " balasnya dengan penuh penekanan menahan amarah
"elo berani sama gue anak ngga tau diri"ketusnya pada Nisa, di cengkramnya dagu gadis tersebut hingga dia meringis menahan sakit
Nisa menepis kasar tangan Dina di wajahnya "buat apa gue takut sama anak tukang perusak rumah tangga orang!" sinisnya "wanita murahan " menatap tajam Dina
Dina yang tak terima dengan ucapan Nisa melanyangkan tangannya namun dengan sigap Nisa menahan tangan itu dan di hempasnya kasar
"brengsek"! kesalnya " lo mulai berani ya sama gue" lanjutnya marah
"buat apa gue takut sama lo, selama ini gue diem lo ngehina gue, lo nyebut gue anak ******, gue masih belum mengerti, sampai akhirnya gue paham dan sebutan itu lebih pantas elo sematkan di nama belakang ibu lo itu " menunjuk tepat di wajah Dina
Ela yang mendengar keributan di kamar anak tirinya itu segera berlari kecil menaiki tangga ,sesampainya di kamar nisa betapa terkejutnya Ela melihat putrinya Dina di jambak sambil meringis menahan sakit
Ela pun melerai pertengkaran saudara tiri itu
"apa yang kamu lakukan "tanyanya marah
"ibu buta apa udah ngga punya mata hmm"jawabnya sinis menatap ibu tirinya itu
"kamu ! beraninya mulut sampahmu itu mengatakan seperti itu padaku !" geramnya menatap nisa
semakin kencang lah Nisa menjambak rambut Dina hingga sang empunya berteriak kesakitan
"lepaskan tangan kotormu itu dari Dina" perintahnya kesal namun Nisa makin memperkuat tarikan pada rambut Dina
"awwww sakit Nis" rengeknya
__ADS_1
Nisa melepaskan cengkraman pada rambut Dina, dihempas nya Dina hingga terjatuh di lantai
"awww " ringisnya
"Drama queen "sinisnya pada Dina
Ela yang tak mampu menahan amarah nya langsung melayangkan tanganya pada pipi putih nisa
plakkk !
satu tamparan hingga membuat gadis itu terhuyung memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan ibu tirinya itu
Nisa pun menoleh dengan tersenyum kecut
"hey ****** !,beraninya ya tangan kotormu mu itu menyentuh pipiku, "
"selama bertahun tahun aku diperlakukan tidak adil olehmu di rumahku sendiri "menatap benci pada Ela
Ela tertawa mendengar kata adil yang di ucapkan anak tirinya tersebut
"apa yang kau katakan ?,kau menuntut keadilan dariku ? iya itu yang kamu inginkan putriku ?" tanyanya lalu mencengkram dagu Nisa dengan kasar
"bagaimana aku berlaku adil terhadap anak yang terlahir dari rahim perempuan yang sangat aku benci hmmm?" tanyanya sambil tertawa melepaskan cengkramannya pada nisa dengan kasar lalu keluar kamar nisa menggandeng tangan putrinya
Air mata yang sedari tadi nisa tahan, luruhlah sudah,terduduk lemas di bawah tempat tidurnya, wajahnya bertumpu pada kedua lututnya sambil menangis sejadi jadinya
"aku ngga boleh nangis" katanya sambil menepis airmatanya lalu merapikan bajunya keluar kamar dengan langkah tergesa gesa ,bukan karna takut mengahadapi kedua perempuan keji itu namun merasa malas untuk bertatap muka apalagi berdebat dengan mereka
dengan memegang ponselnya dia berjalan kearah danau di tepi perkebunan teh itu, namun sekuat apa dia menahan air asin yang menggenang di pelupuk matanya, dia tetap tidak bisa, tangisnya kembali pecah mengingat betapa buruknya perlakuan ibu dan saudara tirinya tersebut
tangisnya pecah seketika
di lain tempat
cowok tampan itu keluar kamar dan berlari kecil menuruni tangga, entah mau kemana dia tak tau
Ayu yang berada di ruang tengah menoleh ke arah Gaesan yang sudah berpakaian santai itu ,entah apa yang dipikirkan anaknya hingga dia berjalan lurus kedepan tanpa sadar keberadaan bundanya di ruangan itu
"anak bunda tampan sekali !,mau kemana nak ?" tanyanya menatap Gaesan yang sudah siap keluar rumah
"ehh kok ada bunda ! ,kok aku ngga ngeliat ya " tanyanya sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal
"emmm kamu ini gee ada2 aja deh, masak bunda kamu anggap patung " pura2 merajuk pada anaknya itu
"eh eh jangan cemberut gitu dong bun, aku bneran ngga liat bunda tadi, suer " jarinya berbentuk huruf V
__ADS_1
"emang mau kemana sih kayaknya tergesa gesa gtu ? mau kencan " godanya pada Gaesan
"ihhhhh bunda apaan sih nanyanya gtu " ujarnya
"lagian mau kencan sama siapa ? ,pacar aja ngga punya bun" imbuhnya menatap bundanya
"yaudah deh Gaesan pergi dulu cari angin bun, si sekitar sini kok" lanjut Gaesan mengambil tangan bundanya lalu menciumnya takzim
"jangan pulang kesorean nak, katanya mau jemput Kevin di bandara "teriaknya pada Gaesan yang menjauh
" ok bunda " sahutnya berteriak
Gaesan menghirup udara pedesaan di daerah Jawa tengah tersebut, menatap hijaunya hamparan teh di depannya
tatapannya berhenti pada gadis yang sedang duduk di tepi danau sambil menenggelamkan wajahnya diantara lututnya
"Menangislah !" menatap nisa dengan senyumannya
"tapi jangan biarkan ingusmu keluar terus menerus seperti itu, itu sungguh menjijikkan "lanjutnya tertawa
Nisa bangkit dari duduknya lalu menatap cowok itu kesal
"apa liat liat ? gue tau gue tampan tapi jangan segitunya juga kali ngeliat gue ntar lo naksir lagi " tersenyum tipis
diambilnya sapu tangan itu lalu dia usap wajahnya yang penuh air mata dan ingus nya
dengan kasar dia lemparkan sapu tangan itu ke wajah cowok di depannya
"gue ngga butuh " pergi dari hadapan cowok itu sambil menghentakkan kakinya kesal
Gaesan tertawa melihat kelakuan Nisa yang menggemaskan itu, bagaimana bisa dia seperti itu
diciumnya sapu tangan yang di lempar nisa tepat pada wajahnya lalu di ciumnya dengan mesra
nisa pun yang melihat kelakuan Gaesan membulatkan matanya
bagaimana dia tidak merasa jijik pada sapu tangan itu
Gaesan menatap Nisa genit
" jangan bilang lo butuh pundak gue buat bersandar Anisa Saputri" jawabnya sambil mengerlingkan matanya pada Nisa
Nisa serasa ingin muntah melihat Gaesan seperti itu
namun perasaannya merasa senang dengan kehadiran cowok yang 2 hari ini selalu mengacaukan hidupnya
__ADS_1