
Dio mengantar Jihan pulang, saat di mobil jihan sangat sedih melihat Ryan bermesraan dengan Putri.
" Dio sampai kapan aku menunggu nya mengingatku kembali" suara yang sedih
"bersabar lah sedikit lagi, tidak se simple itu untuk langsung mengingat mu" ucap dio yang memberikan pengertian ke Jihan
" aku bahkan sudah ingin menyerah untuk mempertahankan cintaku ini" ucap Jihan
"Jika aku tau akan sesakit ini untuk mencintai nya, aku tidak akan berani membalas cintanya saat itu"
"Bodoh nya aku sampai tidak bisa melepaskan nya, jelas jelas dia sudah punya pengganti ku"
"Kau lihat kan tadi bagaimana mesra nya dia di hadapanku, bahkan tidak peduli dengan sakit yang kurasakan"
"Apa yang harus aku katakan padanya?, dia bahkan sudah menyerah" pikir Dio yang tidak bisa mnegeluarkan kata katanya.
Jihan yang sedari tadi menangis dan menyalahkan dirinya,tersadar sendiri agar dia semangat.
"Dio kau tidak usah mencari kata kata untuk menghiburku, aku sudah menentukan jalan hidup ku, apa dan bagaimana yang harus kulakukan" kata jihan yang
"Apa secepat itu?,kau jangan melakukan yang aneh aneh yah!" kata Dio terkejut
"Aku tidak sebodoh itu"
"Lalu kau sudah memutuskan apa? "
" Kau tidak perlu tau apa yang aku lakukan"
"Aku tidak akan menyusahkan mu lagi dengan kisah cintaku yang kelam ini"
"Jangan bilang kau mau berbuat senekad itu"
"Maksud kamu apa? "
" Kau mau bunuh diri lalu terbebas dengan semua ini. Jihan, jika kau mati aku tidak akan mengampuni orang yang membuat mu menderita."
"Heyy Tuan muda, apa kau masih waras, kau ingin aku mati" kata jihan
"Yah lalu maksud kamu itu apa? " tanya Dio
" Hahhh. Ternyata kau ini sedikit konyol yah. Jika aku mati, aku pasti akan menghantui mu"
"lalu Kau berencana mau apa? , cepat katakan padaku!"
"Aku ingin bercerita berdua dengan Ryan. Aku akan memberi tau segalanya, semoga saja saat aku menceritakan kisahku bersama nya, dia bisa mengingat ku walaupun terlintas sedikit pun kenangan ku dengan nya juga gak apa apa"
"Kalau dia tidak mau bercerita denganmu?.
" aku akan bercerita di depan umum sampai dia mendengarku"
"Wah kau sangat berani,jika dia tidak mau mengingat mu lagi bagaimana? "
"Seperti yang aku katakan tadi aku akan menyerah dengan dia. Kau kan bisa menikahiku" kata jihan yang bermain main dengan katanya
Menghentikan mobilnya tiba tiba.
"Hey kamu bisa nyetir gak sih" kata jihan
"Kau bilang apa tadi, mau menikah denganku"Hahha tertawa sangat keras
"Kenapa kau tertawa?, apa kau tidak ingin menikahi gadis cantik sepertiku"
__ADS_1
"Jihan jangan bercanda, aku sudah menganggap mu adik ku, jangan paksa hatiku untuk menganggap mu sebagai wanita lagi". Jawab Dio
"Yah aku kan hanya bilang, jika dia tidak akan mengingat ku, hanya Jika "
" Begini cara mu menolak seorang wanita". Kata jihan yang mengejek Dio
"Kau benar benar tidak bisa merangkai kata kata untuk menolak orang dengan cara halus" lanjut Jihan
Setelah beberapa menit menaiki mobil dan berbincang bincang tentang rencananya besok, mobil itu terparkir di depan rumah Jihan.
Pelayan berlarian menuju ruang Utama menyadari nona mereka sudah datang.
Jihan langsung menuju kamarnya di lantai atas dengan pelayan yang menunggu nya dari tadi siang.
"apa kakakku sudah ada dirumah? "
"Tuan Johan berkata tadi bahwa dia akan pulang agak larut, jadi tuan berpesan untuk tidak usah menunggu nya."
Oh baiklah, kalau kakak ku menelpon lagi, katakan kalau aku sudah sampai dirumah tepat jam 8. Beri tahu lagi kalau harus berhati hati saat di jalan.
Jihan masuk ke kamar dan bersiap siap mandi. Setelah selesai dia langsung menuju tempat Tidurnya, sebelum tertidur dia menatap foto berduanya saat di Taman dulu sampai dia tertidur.
Pagi mulai tiba, Jihan segera bangun lalu mandi, di meja makan sudah tersedia hidangan beberapa jenis makanan.
" selamat pagi kak" kata jihan yang menyapa kakak tersayangnya.
" selamat pagi juga jihan" balas Johan yang sudah Rapi menuju kantor.
" bagaimana jalan jalan mu kemarin, apa menyenangkan" tanya Johan
"Tentu saja kak, Dio sampai mengeluh karena capek menemaniku" jawab Jihan yang penuh semangat.
"lalu" balas Johan
"sudah lah, aku tidak mau membahas Ryan hari ini"
"Ya sudah kalau gak mau"
"Kakak aku berangkat kampus dulu yah"
"Oh iya aku akan mengendarai mobil ku ke kampus"
" sendiri"
"hmmm"
"Yah sudah, hati hati di jalan yah"
"iya kak, thank you" berbalik mencium pipi kakaknya.
Menggelengkan kepala nya lalu tersenyum melihat tingkah lucu adiknya itu.
Jihan mengendarai mobil sport nya itu tanpa sopir yang selalu ditemaninya.
Mobil jihan menyusuri jalan dengan hati hati. Tibalah dia di sebuah kafe yang sering dikunjungi nya setelah pulang kuliah.
"Mba, aku pesan seperti biasa yah, latte dengan cream yang banyak.
"baik mba"
Mengeluarkan kartunya untuk membayar pesanannya.
__ADS_1
"Terima kasih"
Jihan kembali ke mobilnya setelah membeli minuman favorit nya, lalu menuju kampus.
Saat tiba di kampus, terlihat Ryan dan Putri bergandengan saat memasuki kampus. lalu Jihan turun dari mobilnya.
Seakan akan hati nya itu teriris pisau saat melihat kemesraan mereka. Jihan berusaha tidak menghiraukan dia.
Dia masuk ke ruang kuliah yang tepat di depan ruangan ada Dio dan Vino yang menunggu nya.
Dio melambaikan tangannya, saat melihat Jihan.
" mereka ini kenapa sih, seperti anak kecil saja". Kata Jihan yang sedikit malu melihat tingkah ke kanak kanakan mereka
Jihan langsung masuk tanpa menyapa mereka berdua.
"Dia kenapa lagi, apa dia masih sedih karena semalam" kata Vino
Dio tertawa seakan tahu maksud Sahabatnya itu
Mereka masuk menemui Jihan.
"kalian bisa gak sih tidak mengganggu aku sehari aja" kata Jihan
"Biarkan dia, dia ingin sendiri dulu" kata Dio
"kamu berdua bertengkar semalam? " tanya Vino
" bukan seperti itu, intinya dia ingin sendiri, tidak ingin di ganggu, kalau sudah tenang dia juga akan menghampiri kita kok" Dio
"Dio, kau sangat mengerti tentang Jihan yah" kata Vino
perkuliahan selesai, mereka semua keluar dari ruang kuliah.
Jihan berdiri dari tempat duduknya menghampiri Ryan yang sudah berjalan ingin keluar.
"Ryan, apa boleh aku ngomong sebentar dengan mu? Tanya Jihan
" katakan saja aku akan mendengar mu" kata Ryan cuek
"Aku ingin berbicara berdua saja dengan mu" kata Jihan
"kenapa tidak berbicara disini saja" kata Ryan
"aku hanya ingin meminta waktu mu sebentar saja Ryan, kenapa kau begitu perhitungan padaku"
"Putri aku boleh meminjam Ryan sebentar saja? " kata jihan yang lemah lembut
" Ohh boleh, silahkan saja" jawab Putri
"Putri kau tidak apa apa aku tinggal sendiri? " ucap Ryan yang sedang mengkhawatirkan Putri
"Kau tenang saja Ryan, kami akan menemaninya" kata Vino
"ini yang terakhir kalinya aku berharap padamu, setelah ini terserah kau saja" ucap Jihan
"Baiklah" kata Ryan
Mereka berjalan sambil mengikuti Jihan yang berada di depannya.
Bersambung..
__ADS_1