Cinta Pada Pandangan Pertama

Cinta Pada Pandangan Pertama
Rumah sakit


__ADS_3

Jihan turun dari taksi tepat depan rumah nya.


Saat berjalan menuju pintu rumah, di terlihat sempoyongan, seperti tidak sanggup berjalan lagi, kaki nya lemah menahan tubuhnya seharian.


Dia duduk di sofa ruang tamu, tanpa kata sedikit pun dia mulai berbaring lalu tertidur, mungkin dengan mengistirahatkan tubuh nya dia mendapatkan isi ulang tenaga.


melihat hal itu asisten pribadi Jihan menelpon kakak Jihan tentang kondisi Jihan


kakaknya akan berencana pulang besok untuk melihat adik kesayangannya itu, kakaknya menyuruh menjaga Jihan dengan baik sebelum dia datang.


Pelayannya pun tidak berani membangun Jihan dari tidur pulasnya, sambil menunggunnya bangun pelayan menyiapkan makanan untuk makan malam.


Jihan bangun saat mencium aroma masakan yang menyebar di hidungnya, perut Jihan mulai terasa lapar, karena seharian dia memang belum makan.


Dia bergegas bangun dari tidur panjangnya.


"Nona silahkan makan dulu, anda pasti sangat lapar"


"Hmmm"


Ternyata memang benar setelah mengistirahatkan tubuhnya, semua tubuhnya menjadi ringan, walaupun masih tersisa rasa sakit di area kakinya.


Setelah makan dia naik ke atas kamarnya yang berada di lantai 2 rumahnya.


Dia segera mandi membersihkan dirinya setelah seharian berada di luar rumah.


Ponselnya berbunyi panggilan dari Dio


"Hmm, kenapa? " tanya Jihan di telpon


" Dari mana saja kau, aku menelpon mu dari tadi"


" aku habis mandi tadi, ada apa menelponku?


" aku cuma mau bilang kalau Ryan sudah sadar? "


" baguslah"


"Itu saja"


"iya itu saja, lalu apa lagi". Jawab Jihan cuek


"Apa kau tidak senang? "


" senang atau sedih, dia juga tidak penasaran bagaimana tanggapanku setelah dia siuman"


" Dia sempat menanyakan mu?, ibunya juga mencarimu. "


" terserah dia saja lah, itu tidak penting lagi untukku, aku sudah menyerah


"Jihan kamu ini kenapa sih, dulu nya kau sangat semangat jika aku menyebut nama Ryan"


"Kalau kau masih mnyebut namanya aku akan menutup telpon mu"


Yah sudah, Vino dan Dika mencari mu juga.

__ADS_1


Tidak menunggu waktu lama, dia segera mematikan panggilan dari Dio.


Panggilan kedua handphone Jihan kembali berdering, setelah melihat Ponselnya kembali itu kakaknya.


"Iya kak kenapa? "


" Apa kau baik-baik saja"


"Iya Jihan baik baik saja, kakak tidak usah khawatir"


"Kakak akan pulang besok, setelah pekerjaan kakak selesai disini"


"Iya kak"


"kamu hati hati yah, kakak sayang padamu"


"Hmmm, Jihan juga sayang sama kakak"


Panggilan singkat itu berakhir, Singkat namun penuh arti.


2 hari kemudian setelah weekend, Jihan tidak masuk kuliah karena sakit.


Ryan berangkat mengendarai mobilnya kekampus setelah pulih dari sakitny.


dia mencari Jihan diam diam, tapi dia tidak menemukan tunangannya itu.


dia mendapat kabar kalau Jihan sedang sakit, Ryan mulai mengkhawatirkan Jihan tapi Putri sedang bersamanya sebagai pacarnya.


Di siang hari Jihan ingin turun untuk pergi ke taman rumahnya karena bosan berada di kamar terus. Sekalian makan bersama kakak nya.


dia berjalan menuju tangga, saat mengangkatkan kaki di tangga pertama, kaki nya mulai lemas tidak berdaya seperti tidak ada kekuatan lagi dikakinya.


Johan berlari untuk segera menolong adiknya, tetapi dia sudah berada di lantai dasar, kepalanya berlumuran darah,


Johan berteriak memanggil nama adiknya mengkhawatirkan keadaan Jihan.


Menggoyang goyangkan tubuh kecil adiknya dengan raut wajah memucat ketakutan, Jihan hanya menghembuskan nafasnya beberapa kali, menatap kakak nya kesakitan


Dia langsung di larikan ke rumah sakit, didalam perjalanan kerumah sakit jihan sadar dan sempat bercerita dengan kakaknya.


Jihan : aku sudah tidak bisa menahannya lagi kak (dengan suara pelan dan terbata bata) karena sesak di dadanya


Johan : kamu tidak boleh meninggalkan kakak, kakak akan menyelamatkan hidup mu, bagaimana pun caranya, sekali pun harus mengambil nyawa kakak (air matanya sudah membasahi pipinya)


Jihan : menggelengkan kepalanya (kesakitan)


Jihan meneteskan air matanya, memegang tangan kakaknya.


Johan segera menelpon orang tuanya yang diluar negeri karena sedang ketakutan melihat adiknya.


Sesampainya dirumah sakit dia sudah pingsan dan tidak sadarkan diri. Johan menunggu adiknya diluar ruang UGD yang sedang dioperasi.


Dengan kekhawatiran Dio datang dirumah sakit sendirian, setelah mendapat telpon dari kak Johan


mereka berdoa untuk keselamatan Jihan.

__ADS_1


"Kak Johan, Jihan pasti akan baik baik saja" kata Dio yang sangat akrab dengannya.


"Bagaimana bisa dia baik baik saja Dio, Dia sangat kesakitan di dalam"


" tertusuk jarum suntik saja dia sangat ketakutan" lanjutnya


Dokter keluar memberitahukan keluarga pasien bahwa rumah sakit kami kehabisan darah yang cocok dengan Jihan.


"Dokter bisa mengambil Darah ku, Golongan darah kami sama" kata Johan


Operasi berhasil dilakukan, Jihan segera dipindahkan ke Ruang rawat , tapi saat ini Jihan belum sadar.


Dio menelpon Ryan yang sedang bersama Putri di ruang kuliah memberikan kabar bahwa Jihan masuk rumah sakit, mendengar hal itu Ryan langsung menuju rumah sakit dan tidak menghiraukan putri karena terlalu khawatir, Dika dan Vino juga datang menyusulnya setelah mendapat kabar itu.


Mereka menunggu menjaga Jihan sampai Siuman. Setelah 24 jam tidak sadarkan diri.


Alat pendeteksi denyut jantung (EKG) menunjukkan garis datar, mereka yang berada disana segera memanggil dokter, dokter mengambil alat Pacu jantung (Defibrilator) untuk memberikan pertolongan terakhir kepada Jihan.


Ryan menyaksikan Jihan yang sedang tidak tertolong lagi, melihat tubuhnya sudah terbaring lemas tidak berdaya.


Ryan benar benar merasa bersalah karena tidak mengingatnya setengah tahun ini, dia berdoa diluar ruangan untuk keselamatan Jihan.


setelah beberapa beberapa Menit Doktee menangani Jihan, akhirnya jantungnya normal kembali.


Setelah seharian menjaga Jihan yang sedang berbaring lemah. Johan yang melihat Ryan marah dengan perlakukan Ryan selama ini segera mengusir Ryan untuk tidak berada didekat Jihan.


Tiba tiba jihan memberikan tanda dengan meneteskan air matanya,tangannya mulai bergerak, dia pun membuka matanya perlahan.


Kakaknya segera memanggil dokter untuk memeriksa nya, orang tua jihan sudah datang untuk melihat anaknya.


Saat itu jihan yang sudah sadar terlihat bingung melihat orang yang berada di sekelilingnya.


dia sedang berfikir saat itu dan memutuskan untuk melupakan semua orang, kecuali orang tua dan kakaknya, Jihan hanya berpura pura agar mereka tidak berurusan dengan mereka lagi


Setelah beberapa menit beristirahat.


Jihan : mama, siapa mereka?


Mama : siapa yang kamu maksud ?


Jihan : sambil melihat orang yang berada disekitarnya


Mama : mereka semua temanmu, dan (menunjuk Ryan) dia tunanganmu.


Jihan hanya menatap mereka dan menggelengkan kepala nya.


Mama Jihan segera memanggil Dokter untuk memeriksa kembali keadaan jihan.


Saat itu Dokter heran ketika di panggil karena tidak ada masalah dengannya setelah dia sadar.


Jihan yang melihat Dokter memberikan pandangan bertanda ingin meminta tolong, Dokter menyuruh untuk keluar dulu karena ingin memeriksa Jihan.


Jihan berbicara ke Dokternya, agar menyembunyikan hal ini kepada semua orang, aku berpura pura hilang ingatan karena alasan pribadi, Jihan memohon dengan mengatup kan kedua tanganya, Dokternya pun membantu nya


Johan : bagaimana adik saya Dok?

__ADS_1


Dokter : sepertinya karena benturan yang terjadi yang berkali kali dikepalanya membuat dia kehilangan memorinya, aku akan melakukan CT scan untuk pemeriksaan menyeluruh.


Bersambung..


__ADS_2