
Hari libur di Minggu pagi Dio mengajak Jihan untuk berjalan jalan di sebuah tempat wisata alam, tidak ketinggalan Vino dan Dika pasti ikut.
Dio menjemput Jihan tepat depan rumahnya.
Jihan sudah menunggu Dio 15 menit yang lalu,
"Kenapa kau begitu lama? " tanya Jihan yang sudah lelah menunggu kedatangan Dio.
" kamu itu tidak sabaran banget sih"
"Aku bahkan hampir tertidur karena menunggu mu"
"iya iya, nih anak, aku yang ngajak malah dia yang ngomel" menurunkan nada suaranya
"ayo masuk, Vino sama Dika udah nunggu"
Sesampainya disana,
Mereka mencoba beberapa permainan termasuk naik di jembatan gantung yang membuat Vino takut karena fobia dengan ketinggian yang kedalaman jembatan yang sangat curam,
Jihan menertawakan Vino yang ketakutan itu. sambil tertawa, Jihan meraih tangan Vino lalu menuntun nya ketengah jembatan itu untuk menghilangkan ketakutannya.
" Vino kau pasti bisa"
Dika yang dari tadi menatap Jihan, membuat Dio menyadari bahwa dia menyukai Jihan Juga,
Menyenggol lengan Dika
"mata mu hampir keluar karena menatap jihan, kau bahkan tidak melepaskan pandanganmu padanya".
"sangat sulit untuk tidak memandang dia"
Dio tertawa karena dia menyadari dirinya juga seperti itu
"Kenapa kau tertawa?"
"Hanya melihat dia senyum saja, hidupmu ikut bahagia juga"
"kau benar, seandainya aku di posisi Ryan tidak akan ku lepas wanita itu"
"Lebih baik urungkan niat mu itu, Jihan hanya cinta dengan Ryan"
"Jika kau ingin selalu dekat dia, berteman dengannya sudah cukup"
Dika yang diam diam suka dengan Jihan pun tidak berani menyatakan cintanya karena perkataan Dio barusan, selain itu dia tahu ternyata Jihan pernah menjadi tunangan Ryan.
Sebenarnya Jihan tahu kalo Dika menyukainya, tapi Jihan tidak menyimpan perasaan suka padanya, sekalipun Dia termasuk tipe lelaki idamannya, dia hanya menganggapnya sebagai teman sama seperti Dio dan Vino.
Jihan masih menaruh harapan ke Ryan, berharap waktu akan membuatnya kembali mengingatnya,walaupun Ryan melupakan Jihan dan berpacaran dengan putri.
Ditempat wisata Jihan melupakan sedihnya dia bahkan bersenang senang dengan ke 3 lelaki tampan itu, melepaskan tawa nya sampai terbahak bahak karena kekonyolan mereka bertiga.
__ADS_1
Disisi lain Ryan bersama Putri sedang membeli buku untuk Putri, Putri bertemu dengan Cindy
Cindy yang cemburu bercamour kesal karena Putri hanya sibuk berpacaran dengan Ryan dan tidak pernah bersama dia lagi.
Cindy mengatakan
“kau benar benar orang yang tidak tahu malu, disaat kau tidak punya teman sama sekali aku selalu bersama mu, tapi disaat kau sudah punya pacar bahkan punya pengaruh di kampus kau sudah melupakanku” (dengan marah )
"apa kau iri denganku? "
" Buat apa aku iri dengan orang sepertimu, setelah manis kau pasti akan dibuang, karena kau sudah sangat sombong"
Putri dan Cindy bertengkar beradu mulut,
ketika itu Ryan datang yang ingin melerai berdebatan mereka karena takut Putri akan terluka, tiba tiba lemari yang ada dibelakang mereka tertabrak saat melerai perdebatan mereka dan jatuh menimpa Ryan.
Ryan melihat kenangan nya bersama Jihan setahun yang lalu, ingatan Ryan kembali bahkan sempat menereskan air matanya tetapi dia pingsan karena benturan lemari yang menimpa nya,
dia dibawa kerumah sakit untuk di tangani, Putri menunggu Ryan di luar Ruang perawatan, karena ketakutan dia menelpon Dio.
Dio mendapat kabar bahwa Ryan masuk rumah sakit, mereka bergegas datang kerumah sakit melihat keadaannya.
Jihan yang merasakan sakit di kaki nya tidak kuat berjalan lagi menuju ruang perawatan, akhir akhir ini Jihan selalu merasakan sakit di kaki nya karena kecelakaan yang terjadi waktu itu.
Kekhawatiran terlihat jelas di raut wajah Jihan, bahkan memaksakan dirinya untuk melihat keadaan Ryan.
Saat itu Jihan mendapat telpon dari kakaknya mengatakan ingin ke Bandung untuk mengambil alih perusahaan yang sedang di tangani Jihan itu.
Jihan memberikan kepercayaan penuh kepada Johan untuk mengurus perusahaan itu karena ketidakmampuan dia menanganinya.
saat itu ryan sudah sadar, Jihan mendengar dari luar ruangan segera masuk ke ruang pasien, tapi disaat ingin masuk dia melihat Putri yang sangat khawatir menunggu Ryan untuk sadar.
akhirnya Jihan pulang karena merasa tidak dibutuhkan disana.
Ryan yang telah mengingat kembali ingatannya sedang mencari Jihan untuk ditemuinya.
Menatap beberapa orang yang mengelilinginya, tetapi tidak ada sesosok wanita yang di carinya.
dia merasa bersalah karena telah melupakan Jihan yang selama ini telah sabar menunggunya.
Jihan menelpon Dio karena kembali lebih dulu karena sedang tidak enak badan.
" apa dia sakit, sepertinya dia sehat aja tadi" kata Vino
"Mungkin dia sangat lelah" kata Dika
"Biarkan dia istirahat saja" Dio mengerti perasaan Jihan saat ini.
Orang tua Ryan berada disana disaat Jihan sudah pulang, ibu Ryan menatap tajam Putri yang berada disana.
Tidak tanggung tanggung tentu saja menuduh Putri yang membuat Putra kesayangannya bisa celaka atas kejadian tersebut.
__ADS_1
Ryan membela Putri yang sudah di pojokkan.
"Bu jangan memojokkan Putri, Ini kesalahan Ryan sendiri"
" tapi dia yang bersama mu, pasti kau menolongnya kan" jelas Ibu Ryan
" aku tidak ingin berdebat dengan ibu karena kecelakaan kecil ini"
Ibu Ryan menarik Putri keluar dari Ruangan itu.
"berhenti mendekati Ryan, sudah ku katakan berulang kali dia sudah punya tunangan".
"Kenapa kau tidak pernah mengerti yang ku katakan, apa kau tidak tau malu"
"Jangan berharap aku akan merestui mu walaupun Ryan tetap memilih mu, ingat itu baik baik"
Putri membeku mendengar setiap kalimat makian dari Mulut ibu Ryan, wajahnya sangat terlihat sedih bahkan tidak bisa mengucapkan satu kata pun karena menyadari posisinya sebagai anak yang miskin, tidak selevel dengan kriteria wanita yang diinginkan ibu Ryan.
Saat masuk kembali ke Ruang Pasien setelah mengusir Putri.
"kenapa ibu sangat kasar dengannya?, dimana Putri? " tanya Ryan
"Ibu sangat muak melihat muka nya yang berpura-pura polos itu, ibu sudah menyuruhnya pulang" ucap ibu Ryan kesal
"Ryan kenapa kau tidak bisa membedakan mana wanita yang tepat untuk mu sih". Tanya Ibu Ryan yang tidak tau jalan pikiran anaknya
Ibu Ryan melihat kearah teman teman Ryan, tapi tidak melihat keberadaan calon menantu nya itu
"Dimana Jihan? "
Yahh kata itu yang Ryan tunggu untuk mewakili penasaran nya
"Jihan baru saja pulang tante, dia tidak enak badan makanya tidak sempat menunggu Ryan sadar" kata Dio
"apa dia sakit? " tanya Ryan spontan
" Tidak, mungkin sangat lelah seharian bersama kami"
Putri pulang dari rumah sakit, menggunakan taksi ke kosannya.
Perasaan sedih dan kecewa yang menyelimuti perasaannya. Bahkan menuduh Jihan sebagai penghalang restu dari ibu Ryan.
Dio, Vino dan Dika berpamitan pulang untuk kembali kerumah mereka.
"Tante kami pulang dulu yah"
"Ryan masih ingin istirahat"
"Ryan cepat sembuh yah"
" kalian sudah meluangkan waktu mu menemani Ryan"
__ADS_1
"Terima kasih yah"
Bersambung..