
Rahmat memulai paginya dengan senyum merekah di bibirnya. Sekarang,hari-harinya akan terasa lebih indah lagi karena ia sudah berada di rumahnya dan semua fasilitasnya sudah dikembalikan oleh sang mama. Seminggu tidak di rumah rasanya seperti setahun.
"Senyum-senyum terus dari tadi den,pasti lagi senang nih," cicit Inem yang mendapati Rahmat sedang tersenyum-senyum sendiri sambil berdiri di depan pintu masuk. Saat itu,Inem kebetulan sedang menyiram tanaman.
"Lagi senang aja bi,bisa kembali ke rumah," ucap Rahmat masih dengan senyumnya.
"Oh ya bi,mama kemana ya?" tanya cowok itu.
"Makanya,bangun itu jangan selalu kesiangan den,ibu jam segini kan sudah pergi ke restoran," jawab Inem tanpa menoleh ke belakang. Dia masih fokus menyirami bunga-bunga di depannya.
"Siapa bilang kesiangan bi,masih jam 09.00 tahu! Ini sih namanya masih pagi," pungkas Rahmat sambil berlalu pergi. Cowok itu kembali masuk ke dalam rumah.
Lima belas menit kemudian,dia keluar lagi dan kali ini dia terlihat lebih rapi. Mungkin ingin bertemu dengan pacarnya seperti kebiasaannya selama ini.
"Mau keluar ya,den?" tegur Inem.
"Iya bi,kebetulan mama juga ninggalin kunci mobil sama ATM dan kartu kredit gue. Kan mubazir kalau nggak dipake, mending jalan-jalan sama pacar,iya nggak?" ucap Rahmat.
"Huh,yang den ingat cuma senang-senang aja tiap hari," cibir Inem tidak suka.
"Yang penting happy bi,gue pergi dulu ya. Bi Inem,jangan takut deh,entar gue bawain oleh-oleh. Sekalian uang yang gue ambil,itu gue kasih balik tapi setelah gue pulang ya!" ucap cowok itu setengah berseru karena sekarang dia sudah berada di dalam mobilnya.
Bi Inem hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sikap bar-bar anak majikannya. "Terserah deh dia mau ngapain,setidaknya den Rahmat tidak sampai merusak sesuatu yang sangat berharga dari pacar-pacarnya itu," batin Inem.
\*\*\*
Seorang wanita muda turun dari mobil mewahnya dengan gaya yang terlihat begitu elegan. Di sisi kiri dan kanannya ada para pengawal yang mendampingi. Wanita itu pasti bukan orang sembarangan. Siapa dia dan apa tujuannya datang ke kosan bunda Airin?
Beberapa pasang mata penghuni kos tertuju ke arah wanita misterius itu.
__ADS_1
"Wah,kayaknya kosan kita kedatangan seleb deh," celetuk salah seorang anak kos.
"Ada apa,Vin?" tanya bunda Airin ketika melihat di depan teras kos ada seorang wanita dan dua pengawalnya yang sedang berdiri seperti menunggu seseorang.
"Nggak tahu,bunda. Coba bunda samperin deh,siapa tahu wanita itu orang yang mau memakmurkan kosan kita," ucap Vina sambil tersenyum kuda.
"Coba bunda samperin dulu ya!" bunda Airin langsung saja pergi menghampiri wanita yang memakai gaun cantik tersebut. Jelas sekali kalau wanita yang berdiri di depan kos mereka adalah orang kaya. Dari barang-barang yang dikenakannya saja barang branded semua.
"Maaf,anda mau mencari siapa,ya?" tanya bunda Airin dengan sopan.
Wanita itu menurunkan kaca mata hitamnya dan menatap bunda Airin dengan lembut. "Saya ingin bertemu dengan anak saya,bu," jawabnya memberitahu.
Bunda Airin tampak berpikir sejenak. Dia memperhatikan wajah wanita cantik yang sekarang berdiri di depannya. Kenapa terlihat begitu familier,apa mungkin mereka pernah bertemu?
"Hallo... kenapa malah bengong?" wanita itu kembali bertanya saat bunda Airin hanya diam.
"Oh maaf,saya seperti pernah melihat anda. Apa kita pernah bertemu?"
Sontak saja bunda Airin kaget. Begitu mengetahui kalau wanita yang kini berdiri di hadapannya adalah ibunya Lili,pantesan saja bunda Airin seperti pernah melihat wanita itu. Ternyata,ibunya Lili. Wajah mereka memang sangat mirip.
"Jadi,ibu ini mamanya Lili?" bunda Airin memastikannya. Dia juga tersenyum senang karena bisa bertemu dengan mamanya Lili. Sebenarnya,ada hal lain yang membuat bunda Airin senang. Dia senang karena akhirnya apa yang dipikirkan dirinya selama ini tidak terjadi. Ternyata,Lili memang anak orang kaya,bukan wanita simpanan seperti yang digosipkan oleh penghuni kos selama ini.
"Benar bu,dan Lili nya ada di dalam,kan?"
"Ya,Lili ada di dalam. Silahkan masuk dulu ya,bu!" bunda Airin mempersilahkan tamunya untuk masuk dan menunggu di ruang tamu.
Bu Mawar dan dua pengawalnya mengikuti bunda Airin menuju ruang tamu. Dia akhirnya bisa bertemu dengan putri kesayangannya.
\*\*\*\*
__ADS_1
Sementara itu,pada waktu yang sama di tempat yang berbeda,Rahmat justru sibuk berpacaran.
"Kamu sudah beberapa hari nggak nelpon aku,nggak ngasih kabar. Kamu udah bosan ya? Atau jangan-jangan,kamu sudah punya yang lain?" tuduh Nina. Dia terus mengomel karena kesal dengan sikap pacarnya itu yang suka berubah-ubah,kadang cuek,kadang romantis,dan kadang tidak peduli sama sekali.
"Baru ditinggal seminggu dan sekarang kembali bertemu,bukannya bilang rindu,eh malah ngomel-ngomel gitu. Nggak asik tahu!" gurau Rahmat. Nina memanyunkan bibirnya mendengar perkataan Rahmat.
"Karena sudah membuat aku menunggu begitu lama,maka sekarang kamu harus ganti rugi sama waktu aku yang terbuang cuma buat mikirin kamu." Ucap Nina. Dia lagi mencari kesempatan buat menghabiskan isi dompet pacarnya.
"Caranya pasti dengan aku memenuhi semua keinginan kamu. Iya,kan?" tebak Rahmat.
Nina hanya tersenyum saja,menandakan kalau tebakan Rahmat benar.
"Sudah aku duga," ucap Rahmat sambil memainkan kumisnya dengan tangan,seperti bapak-bapak.
"Gimana,sayang? Kamu mau kan?" Nina kembali bertanya,saat Rahmat masih sibuk memikirkan caranya supaya dia bisa menolak ajakan Nina untuk menemani gadis itu berbelanja.
"Gimana kalau lain kali aja,Nina? Soalnya,aku masih harus ketemu sama Jojo dan Edi nanti sore," jawabnya beralasan.
"Sayang gimana sih,kamu selalu aja beralasan kalau aku yang ngajak. Kamu pasti takut kan isi dompet kamu aku habisin?" tebak Nina.
"Eh,enggak kok!" Rahmat menjawab cepat. Padahal,dalam hati dia mengiyakan ucapannya Nina.
"Kamu tenang saja,kali ini aku pakai uang sendiri kok," kata Nina berusaha meyakinkan cowok itu.
"Pakek uang kamu? Nantinya juga uangku yang terpakai,seperti yang sudah-sudah,dasar cewek matre!" cibir Rahmat dalam hati. Dia tidak mengerti dengan anak itu,apakah sebenarnya ia cinta dengan Nina atau tidak. Di depan Nina,ia selalu ngomongnya manis banget,tapi dalam hatinya malah menyebut Nina matre.
"Gimana? Kamu mau kan?" tanya Nina berharap. Dan akhirnya Rahmat mengiyakan juga. Ia tidak bisa menolak Nina yang memohon seperti itu,bucin kali ya? Hehe... kalau dikatakan bucin kayaknya nggak juga,karena dia masih punya pacar yang lain selain Nina.
Ah, Rahmat. Nggak tahu deh mantra apa yang dipakainya hingga cewek-cewek pada nempel semua.
__ADS_1
"Ayo kita jalan sekarang,jangan sampai kesorean,soalnya aku ada janji sama teman," ajaknya kemudian,dan betapa senangnya Nina karena akhirnya cowoknya mau menemaninya shopping. Siap-siap deh Rahmat menghabiskan uangnya untuk sang pujaan.