Cinta Sejati Buaya Berkumis

Cinta Sejati Buaya Berkumis
Apa Yang Terjadi Sama Tari?


__ADS_3

Malam ini bu Dian dan keluarganya pergi bertamu ke rumah Lili,mereka ingin membicarakan tentang hubungan kedua anaknya lebih lanjut.


Tari tidak ikut masuk,dia lebih memilih duduk di teras depan sambil menikmati suasana malam.


"Kenapa enggak ikut masuk,Tar?" tanya Lili sembari duduk di samping Tari.


"Males aja kak,mending disini aja. Lagian kan mama sama papa lagi ngebahas masalah yang enggak ada kaitannya sama aku," jawab Tari lesu.


"Kamu lagi kurang sehat,ya?" Lili bertanya penuh perhatian.


Tari menggeleng lemah,dia sedikit tersenyum menanggapi pertanyaan Lili.


"Kalau ada masalah kamu bisa ceritain sama kakak,mungkin aku bisa bantu." Tawar Lili


"Enggak ada masalah apa-apa kak,Tari cuma lagi kepikiran soal ujian besok,banyak banget materi yang belum Tari pelajari,Tari pengen lulus dengan nilai yang memuaskan." Jawab Tari,tapi Lili tidak percaya begitu saja.


Lili terus memikirkan cara untuk bisa mendapatkan jawaban yang jujur dari mulutnya Tari,gadis itu tidak mungkin baik-baik saja,pasti dia sedang punya masalah dan ini ada kaitannya sama Edi.


"Kamu yakin enggak ada yang kamu sembunyikan dari,aku?" tanya Lili menyelidik.


"Iya,beneran enggak ada!" tegas Tari meyakinkan sembari menggelengkan kepalanya.


"Ada masalah sama Edi?"


"Kok jadi bawa-bawa nama kak Edi sih?" Tari tampak gusar.


Dari ucapannya itu Lili sudah dapat menyimpulkan bahwa Tari memang sedang memiliki problem sama Edi,Tapi apa?


"Lho,kan aku cuma nanya doang Tari. Kamu kenapa gusar begitu?"


"Ya,karena ini memang enggak ada kaitannya dengan kak Edi."


"Semalam aku ngelihat Edi sama perempuan lain dan mereka terlihat sangat akrab." Lili seperti sengaja memancing emosi Tari,sebenarnya dia ingin mengetahui tentang hubungan antara Tari dan Edi.


"Pacarnya mungkin,itu bukan urusan Tari juga kak," jawab Tari datar,dia berusaha bersikap sesantai mungkin supaya Lili tidak tahu keadaan hatinya saat ini.

__ADS_1


"Jadi kak Edi jalan sama perempuan lain? Ya Tuhan,sepertinya aku memang benar-benar harus segera move on dari kak Edi,mungkin keluarga kak Edi sudah menyuruh dia untuk menjalin hubungan dengan Lina,seperti yang dikatakannya dua minggu yang lalu." Batin Tari.


Melihat Tari yang diam saja setelah mendengar informasi dari dirinya tentang Edi,membuat Lili semakin yakin kalau Tari memang sedang memiliki masalah yang cukup rumit dengan Edi.


"Benar kan seperti yang aku bilang?"


"Apanya yang benar?" tanya Tari bingung.


"Kamu itu sedang memiliki masalah."


Tari akhirnya menganggukkan kepalanya tanda bahwa apa yang dikatakan oleh Lili benar.


"Jadi,kamu sama Edi sebenarnya enggak pacaran dong?"


"Ya enggak lah,aku sama kak Edi cuma temenan aja,dan aku terakhir bertemu sama kak Edi adalah dua minggu yang lalu,saat kak Lili melihat kami berdua jalan bersama di pantai hari itu." Ungkap Tari.


Lili tidak menyangka,ternyata Tari hanya berteman dengan Edi.


Dia sempat berpikir kalau Tari dan Edi memiliki hubungan,tapi mereka merahasiakannya dari orang lain.


"Sebenarnya kamu sangat mencintai Edi,kan?"tanya Lili,dia menatap begitu dalam sepasang netra Tari,ingin mencari jawaban yang jujur di sana.


"Aku memang cinta sama kak Edi tapi...


"Tapi apa?" Lili semakin tertarik mendengar pengakuan dari mulutnya Tari.


"Mamanya sudah pasti tidak setuju."


"Memang kamu tahu dari mana kalau mamanya Edi bakal enggak setuju kalau kalian berdua menjalin sebuah hubungan?"


Pertanyaan itu Tari tidak menjawabnya,dia hanya menggeleng pelan lalu tersenyum,senyuman yang menggambarkan rasa kecewa di hati.


...


"Bagaimana ma,apa keluarga Lili setuju dengan rencana mama sama papa?" tanya Rahmat begitu kedua orangtuanya pulang.

__ADS_1


"Ya setuju dong!" jawab bu Dian penuh semangat.


Bu Dian dan pak Willi,sepasang suami istri itu duduk sebentar di ruang tengah tempat dimana anak laki-laki mereka berada,sedangkan Tari langsung masuk ke kamarnya tanpa bicara apa-apa.


Tingkah anehnya kembali menimbulkan tanda tanya di pikiran mereka.


"Dia kenapa lagi,ya?" tanya pak Willi pada istrinya.


"Enggak tahu pa,tadi pas di mobil dia baik-baik aja."


"Ini pasti gara-gara kamu,kan?" bu Dian menuduh Rahmat sebagai pelakunya.


"Waduh... Kalau ada masalah kayak gini pasti aku yang disalahin." Ucap Rahmat tidak suka.


"Kamu kan biasanya paling suka bikin kesel adek kamu itu." Timpal mamanya.


"Itu kan biasanya ma,kalau sekarang ya beda." Jawab Rahmat. Dia terdiam,menjeda sejenak ucapannya kemudian lanjut bicara "Aku sendiri juga penasaran kenapa Tari jadi pendiam akhir-akhir ini,daripada menebak-nebak enggak jelas mending aku nanya langsung ke Tari." Ujar Rahmat dia segera berlalu pergi ke kamar adiknya,meninggalkan kedua orang tuanya.


Rahmat sudah berada di depan pintu kamar adiknya,dia tidak langsung masuk,tapi mengetok dulu dan bertanya apakah Tari sudah tidur atau belum.


Biasanya dia main nyelonong masuk gitu aja,jarang sekali dia mengetok pintu kamar sang adik,jadi hal itu membuat Tari heran.


"Tumben banget dia ngetok pintu dan minta izin dulu sebelum masuk kamar aku,kesambet setan apa kak Rahmat?" pikir Tari.


"Masuk aja,Tari belum tidur kok!" seru Tari dari dalam kamar.


Rahmat masuk,dan dia melihat Tari yang sedang rebahan di kasurnya seraya menatap fokus pada layar laptopnya.


"Kamu masih belajar,Tar?"


"Iya,soalnya aku ingin mendapatkan nilai yang memuaskan." Jawabnya,dia masih terus fokus pada layar laptopnya.


"Aku perhatikan akhir-akhir ini kamu jadi pendiam gitu,kamu ada masalah ya?"


"Dia kesini pasti ingin tahu sesuatu tentang aku." Batin Tari mulai curiga.

__ADS_1


Rahmat masih menunggu jawaban dari adiknya,enggak tahu deh Tari bakal mengatakan tentang apa yang tengah dirasakannya saat ini atau enggak,apalagi hal itu ada kaitannya dengan Edi,Rahmat kan tidak setuju kalau Tari menjalin hubungan sama Edi.


Ah... jatuh cinta benar-benar membuat kepala pusing.


__ADS_2