
"Ba...!" kejut Rahmat,saat adiknya lagi asyik-asyiknya ngelamunin Edi.
"Ish... Resek bangat sih!" kesal Tari
"Kamu dari tadi aku lihat senyum-senyum sendiri,pasti ada sesuatu yang buat kamu senang iya,kan? Coba cerita sama aku!" pinta Rahmat penasaran.
Tari langsung menggeleng sambil beringsut bangun dari duduknya,dia berniat masuk ke kamarnya agar tidak diganggu sama kakaknya lagi.
"Jangan pergi dong,duduk disini sebentar! Aku ingin menanyakan sesuatu hal sama kamu,penting!" suruh Rahmat seraya tangannya menepuk-nepuk sofa disampingnya dan menyuruh Tari untuk tetap duduk ditempatnya.
"Males ah,mending Tari dikamar aja,lebih nyaman dan yang pasti enggak ada yang ngegangguin," ucap Tari
"Tadi kamu ke rumah Edi,kan?" tanya Rahmat yang membuat Tari seketika menjadi gugup.
"Kenapa kak Rahmat bisa tahu ya? Pasti Kak Edi nih yang kasih tahu." Batin Tari curiga.
"Hayo ngaku!!!" Rahmat kembali mengusili adiknya.
Tari menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan-lahan.
"Capek juga kalau sudah berurusan sama kak Rahmat." Tari bergumam,suaranya terdengar jelas ditelinga Rahmat.
"Aku cuma nganterin makanan buat kak Edi,itupun disuruh mama." Jawab Tari berbohong.
Wah kebangetan bangat Tari,nama mamanya ikut dibawa-bawa sama dia. 😂
"Jadi masakan mama tadi kamu bawa buat Edi?"
Kemunculan bu Dian yang tiba-tiba membuat Rahmat dan Tari sama-sama kaget. Bu Dian tidak menyangka kalau makanan itu dibawa sama Tari untuk Edi.
Pak Willi juga di sana,dia menggandeng tangan istrinya dan kemudian ikut ngumpul bareng kedua anaknya.
"Dia bawa makanan buat Edi?" pak Willi bertanya,matanya memandang Tari tak percaya.
Semua orang menatapnya,tatapan mereka membuat Tari terpojok,seolah meminta kepastian tentang hubungannya dengan Edi.
"Kenapa pada ngelihatin Tari kek gitu?"
"Kamu suka sama Edi,ya?" tanya Rahmat sengaja menggoda adiknya.
"Enggak!" dia menggeleng kuat-kuat.
Tari masih berusaha menyembunyikan perasaanya,jelas saja itu enggak berhasil.
"Pokoknya kamu enggak boleh jadian sama Edi,apapun ceritanya. Titik nggak pakek koma!" tegas Rahmat.
"Awas aja kalau sampai kamu suka sama dia,aku enggak bakal menyetujui hubungan kalian berdua." Rahmat mengingatkan sekali lagi.
__ADS_1
"Kenapa kamu yang sewot?" tanya Pak Willi heran,apa urusannya Rahmat dengan Tari? Suka-suka dia dong mau jatuh cinta sama siapa.
"Memangnya saat kamu dekatin Lili,adek kamu menghalangi kamu gitu? Kan enggak." Bu Dian ikut membela
Merasa ada yang berada dipihaknya,membuat Tari semakin bersemangat untuk mendekati Edi.
"Jadi mama sama papa setuju ni,kalau aku jadian sama kak Edi?" wajah Tari terlihat sangat senang
"Setuju dong!" sahut kedua orang tuanya kompak. Tari sangat senang mendengarnya.
"Tapi aku enggak setuju kalau Edi sama Tari,"jawab Rahmat menyatakan keberatannya.
"Kenapa?" mereka bertiga bertanya kompak lagi.
"Pokoknya enggak boleh,aku nggak setuju!"
"Emangnya kenapa sih?" tanya Tari gusar
"Ma,pa. Edi itu teman dekat aku,dan aku enggak mau kalau dia sampe jadi adik ipar aku,ih... Baru mikir aja sudah bikin merinding,apalagi kalau sampe beneran terjadi." Rahmat sampai menggeleng-gelengkan kepalanya,berusaha menepis jauh-jauh pikiran anehnya itu.
"Kalau kita sih setuju aja,ya enggak pa?"
"Ya,dong! Dan Edi itu kelihatannya juga anak baik-baik." Ucap pak Willi memberi lampu hijau.
"Tuh,dengerin! Mama sama papa aja setuju,dan lagian ni ya,aku enggak peduli kalau kak Rahmat nggak setuju,yang penting aku sudah dapat restu mama sama papa." Ucap Tari.
"Kasian banget,siapa juga yang perlu restunya kakak." Imbuhnya lagi.
"Oh ya Tari,kapan-kapan kamu ajak tu si Edi main ke rumah,ngajak makan malem sama keluarga kita," suruh sang mama.
"Oke sip!" Tari menjawab senang.
Tari melirik ke arah kakaknya dengan senyum usil seraya bertanya. "Kak Lili nggak di ajak,ma?"
"Ajak juga dong!" pak William yang menjawab
"Enggak perlu,enggak usah! Ngapain kita makan disini? Mending makan diluar,lebih nyaman dan yang pastinya enggak bikin eneg." Usai berkata seperti itu Rahmat langsung keluar.
"Hahaha..."
Gelak tawa pun terdengar menggema begitu dia keluar. Kedua orang tuanya dan juga Tari tengah menertawai kekesalannya saat itu.
\*\*\*\*
"Gimana? Kamu sudah punya jawabannya?"
Rahmat mulai bertanya kembali tentang keputusan Lili untuk menjadi kekasihnya.
__ADS_1
Lili meyakinkan lagi hatinya sebelum memberi jawaban pada Rahmat.
"Iya,aku mau!" jawabnya gamblang.
Rahmat tersenyum dan dengan reflek dia memeluk Lili.
Dia kesenangan banget tuh karena cintanya nggak di tolak Lili.
"Tapi...
"Tapi apa?" ucapan Lili yang menggantung membuat Rahmat langsung melepaskan pelukannya.
Dengan sedikit kekhawatiran di hati dia menatap Lili.
"Jangan bilang kalau kamu masih belum bisa percaya sepenuhnya sama aku," sambungnya.
"Aku cuma takut dikecewain lagi Mat,aku sudah pernah merasakan hal seperti itu dulu,saat menjalin hubungan dengan Rey." Ungkap Lili sedih.
"Aku tidak akan melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan. Aku ingin menjadi yang terbaik untuk kamu." Dia mencoba meyakinkan.
Lili diam,tatapannya tertuju ke arah karang yang di hantam ombak.
"Masih belum percaya juga?" tanya Rahmat,saat mendapati Lili hanya diam sambil memeluk kedua lututnya.
"Aku percaya kok." Lili tersenyum tipis.
Suasana hening sejenak,keduanya larut dalam pikiran masing-masing.
"Tari?" sepasang mata Lili membulat begitu matanya menangkap sosok yang sudah tak asing lagi baginya.
"Tari,dimana? Dimana Tari?"
Rahmat juga ikut melihat kemana arah pandangan Lili tertuju.
Cowok itupun tak sanggup menggerakkan mulutnya untuk mengeluarkan suara,saat melihat adiknya berjalan di tepi pantai sambil bergandengan tangan dengan Edi,sahabatnya.
"Ak-aku enggak salah lihat,kan?"
"Dia beneran Edi,sejak kapan mereka jadi sedekat itu?" tanya Lili.
Rahmat menggeleng lemah.
"Bagaimana kalau kita menghampiri mereka aja ke sana?" usul Lili.
"Enggak usah!" tolak Rahmat.
Dia tidak menyangka kalau Tari benar-benar serius dengan ucapannya. Adiknya itu benar-benar sudah jatuh hati sama Edi.
__ADS_1