
"Kak,kembalikan ponsel Tari!" Tari berjingkrak mencoba mengambil ponselnya kembali,Rahmat mengangkat tangan kanannya yang memegang hp Tari ke atas,dan tangan kirinya mencoba menahan Tari supaya dia tidak bisa merebut hp itu kembali.
"Kak,kembalikan hp Tari!" Tari melompat-lompat mencoba mengambil hpnya kembali. Rahmat semakin menjadi-jadi,dia sangat suka membuat Tari jengkel.
Tttrrrr!!!
Hp Tari bergetar. Dan hal itu membuat Tari semakin gelisah.
"Cie... ada pesan ni kayaknya,coba aku tengok dulu ya dari siapa," goda Rahmat,menatap usil ke arah adiknya.
"Mampus deh aku,kalau benar itu dari kak Edi." Batin Tari semakin resah gelisah.
"Aku sudah sampai Tari,aku tunggu di LUAR!!!" baca Rahmat dengan suara keras-keras.
"Kamu...
Mata Rahmat menatap Tari seolah tak percaya dengan apa yang barusan dilihatnya.
Dia mulai menggeser jempolnya ke atas,membaca satu persatu percakapan Edi dan adiknya.
"Wah,pantesan aja kamu kegirangan. Pasti karena Edi manggil kamu sayang. Iya,kan?"
Tari gelagapan,tidak tahu harus jawab apa.
"Enggak kok,enggak kayak gitu." Tari menyangkal tuduhan kakaknya.
"Jangan bohong!"
Tari jadi terpojok sekarang,dia tidak bisa lagi berkelit. Tapi,bukan Tari namanya kalau dia tidak punya seribu akal untuk menyangkal tuduhan kakaknya.
"Kakak jangan asal nuduh dong! Aku senang karena Kak Edi mau beliin nasi goreng buat aku,bukan soal dia manggil aku sayang." Ujarnya menjelaskan.
"Yang benar kamu,enggak bohong kan?" tanya Rahmat memastikan.
"Em... enggak," Tari menggeleng
"Non Tari!!!" seru si bibi dari lantai bawah
"Oh iya hampir lupa aku,kan kak Edi nungguin dari tadi." Tari buru-buru keluar,tidak lupa merebut kembali hpnya dari tangan Rahmat.
\*\*\*\*
Begitu Tari turun matanya langsung terpaku kepada sosok Edi yang saat itu sedang menunggunya di ruang tengah.
Tari menyambut kedatangan Edi dengan senyum manis dibibirnya.
"Duh,jadi ngerepotin kak Edi." Ucap Tari sambil menghempaskan pantatnya ke atas sofa.
"Enggak ngerepotin kok," jawab Edi sambil tersenyum dan senyumannya itu membuat Tari semakin klepek-klepek aja.
__ADS_1
Gini nih,kalau anak ABG jatuh cinta.
"Ngomong-ngomong,om sama tante kemana?"
"Mama sama papa lagi jalan-jalan keluar," jawab Tari.
"Edi!!!"
Panggil Rahmat setengah berteriak,suaranya terdengar menggema memenuhi rumah.
"Si bapak-bapak nyebelin datang lagi deh." Tari menggerutu dalam hatinya.
"Sini Mat! Gue juga bawain nasi goreng buat lo." Ucap Edi,seraya mengeluarkan kotak nasi goreng dalam plastik yang di bawanya.
Dia mulai mengeluarkan kotak itu satu persatu.
Tari menatapnya bingung,kok ada tiga kotak padahalkan Tari mesannya cuma satu.
"Satu buat Tari,satu buat Lo dan satu lagi..."
Edi memutar pandangannya ke seluruh sudut rumah,seperti sedang mencari seseorang.
"Nah,itu bi Inem."
Edi langsung memanggil Inem yang kebetulan lewat di depan mereka.
Inem melangkah menuju tempat mereka duduk.
"Ini nasi goreng buat bi Inem. Nasi gorengnya enak loh."
"Wah,makasih banget ya den,baik banget den Edi." Puji bi Inem saat mengambil kotak nasi goreng itu.
Tari jadi bengong sendiri melihat Edi. "Nasi gorengnya jadi enggak spesial lagi deh,aku kira kak Edi belinya cuma buat aku doang." Lirih Tari dalam hati.
Rahmat tersenyum miring ke arah adiknya,dia tahu apa yang sedang dipikirkan Tari saat ini.
"Di,tumben lo datang kesini malem-malem. Nggak ngabarin gue lagi." Ucap Rahmat,matanya sedari tadi terus memperhatikan gerak gerik adiknya.
"Oh,itu tadi Tar..."
"Kan kak Rahmat udah tahu dari tadi,kalau kak Edi datang kesini karena aku yang suruh." Tari menyela omongannya Edi.
Tari sudah tahu maksud kakaknya bertanya seperti itu pada Edi.
"Makasih kak sama nasi gorengnya,ni uangnya buat bayar tuh nasih goreng." Tari meletakkan selembar uang seratus ribu di hadapan Edi. Dia melenggang pergi dari sana,tiba-tiba saja perasaannya kecewa.
Dia merasa aneh dengan perasaannya,dia juga merasa dipermalukan oleh kakaknya sendiri.
Entahlah,Tari mendadak bad mood.
__ADS_1
Rahmat menatap kepergian Tari dengan pandangan bingung.
"Tari marah ya?" tanya Edi ikut heran.
"Entah! Gue juga enggak tahu dia kenapa. Dan lagian,kenapa dia harus marah? Seharusnya kan dia senang karena lo udah mau repot-repot beliin nasi goreng buat dia."
Edi merasa aneh dengan sikap Tari,dia memandang uang seratus ribu itu dengan perasaan tidak enak. Padahal dia ikhlas membelinya.
"Udah,nggak usah lo pikirin tu anak,Ed. Dia cuma ngambek doang. Entar juga baikan lagi," ucap Rahmat menghibur.
🌹 \*\*\*\* 🌹
Sedari tadi Lili hanya memandangi saja makanannya,dia tidak menyentuhnya sama sekali.
Mirna dan Aleta sudah menghabiskan setengah makanan mereka. Tapi,makanan Lili masih utuh tidak tersentuh sedikit pun.
"Kamu lagi mikirin Rahmat,ya?" tebakan Mirna tepat sekali.
"Iya ni Mir. Dia bilang kalau dia suka sama aku,dan aku bingung harus jawab apa." Lirih Lili
"Ngapain bingung? Kamu kan bisa mengatakan yang sejujurnya kalau kamu itu enggak suka sama dia,gitu!" ucap Aleta. Dia tidak tahu bagaimana perasaan Lili yang sebenarnya.
"Tapi aku suka sama dia!" Lili mengatakan tentang perasaannya yang selama ini terus ditutup-tutupi dari kedua sahabatnya itu.
"Apa???"
Kagetnya kebangetan deh,membuat semua mata memandang ke arah mereka.
"Co-coba kk-kamu ulangi sekali lagi Li,kayaknya tadi aku salah dengar deh!" suruh Aleta,dia tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya dari mulut Lili.
"Aku suka sama dia!" tegas Lili mengulang kembali ucapannya.
"Li,lo enggak kena rayuan atau gombalan maut dia kan?" Mirna juga masih tidak percaya dengan ucapan Lili.
Tidak disangka ternyata Lili bisa jatuh cinta juga sama cowok buaya itu.
"Kalian kenapa jadi enggak yakin gini? Kalian masih enggak percaya sama Rahmat?" tanya Lili,menatap kedua sahabatnya secara bergantian.
"Bukan kita enggak percaya,tapi kamu kan tahu sendiri dia gimana." Ujar Mirna.
Aleta paham bagaimana perasaan Lili saat ini,dia pasti kecewa karena mereka tidak memberi dukungan akan perasaannya terhadap Rahmat.
"Lili,kalau memang kamu yakin sama Rahmat,kamu yakin dia sudah berubah dan kamu memang benar-benar cinta sama dia,kamu katakan aja yang sebenarnya! Kita bakal ngedukung kamu kok." Ucap Aleta kemudian. Dia berusaha menghibur Lili. Bagaimanapun,sebagai seorang teman mereka harus saling mendukung.
"Iya,kamu terima aja dia. Tapi,kalau dia ngecewain kamu,kamu enggak boleh mempertahankan dia lagi,mengerti!" pesan Mirna.
Lili mengangguk senang mendengar omongan kedua temannya. Akhirnya mereka setuju juga kalau Tari jadian sama Rahmat.
\*\*\*\*
__ADS_1