
Akhir pekan seperti ini,enaknya memang pergi shopping ke mall,dan itulah yang dilakukan oleh Lili dan Elena. Tapi mereka hanya pergi berdua saja,padahal rencananya ingin mengajak Aleta tapi Aleta keburu ada janji sama pacarnya,begitu juga dengan Mirna,jadi akhirnya mereka hanya bisa pergi berdua.
Belum juga sampai di mall,eh tiba-tiba mobil yang dikendarai Lili dan Elena mogok di tengah perjalanan.
"Gini amat nasib para jomblo,mbak." Ucap Elena murung.
"Kamu sih,ngotot banget pengen pergi naik mobil ini,kan jadinya begini sekarang!" tukas Lili kesal.
"Kok nyalahin aku mbak,kalau tahu mobilnya bakalan mogok kayak gini,aku juga nggak bakalan mau pergi dengan mengendarai mobil ini." Jawab Elena nggak mau di salahkan.
"Terus sekarang kita harus apa dong?"
"Ya kita harus menunggu sampai montirnya datang,aku sudah menelponnya tadi," jawab Lili.
"Lho,itu kan mas Edi sama si om-om resek,lihat deh!" Elena menunjuk ke arah mobil yang berhenti tidak jauh dari tempat mobil mereka mogok. Lili melihat ke arah yang ditunjuk Elena,dan terlihatlah Edi yang sedang makan bubur ayam yang dijual dipinggir jalan,dia bersama lelaki yang Lili tidak kenal sama sekali,mungkin dia yang dipanggil Elena sebagai om-om berkumis,tapi kumisnya nggak tebal juga,tipis-tipis gitu dan nggak terlihat seperti om-om. Mungkinkah matanya yang sudah tidak jelas? Atau memang mata Elena yang sudah rabun?
"Kita ke sana yuk mbak! Jadi laper ni,makan bubur ayam pasti enak," ajak Elena sambil mengelus-elus perutnya yang gendut itu.
"Ya ampun El,kemana-mana pikiran kamu itu memang nggak bisa jauh-jauh dari makanan," cibir Lili.
"Biarin,yang penting perut kenyang dan hati senang," jawab gadis itu sambil melangkah menuju tempat dimana tukang bubur nangkring.
"Buburnya tiga ya mang!" suruh Elena,tukang bubur itupun melirik ke arah Elena,menatapnya bingung,mungkin karena dia pesan tiga porsi sekaligus kali ya,namun si mamang bubur cuma melihat aja tidak mengomentarinya.
"Makan di sini mbak?"
"Iya mang," jawab Elena. Rahmat yang saat itu masih menikmati bubur ayam,perhatiannya jadi teralihkan dengan suaranya Elena.
"Kayaknya gue kenal itu suara," batinnya. Baru saja dia ingin melihat siapa pemilik suara itu,eh Elena sudah lebih dulu menyapanya.
"Om kumis ada di sini juga.?" Ucap Elena,tidak tahu apakah itu sapaannya atau sindiran.
"Wah nggak salah lagi ni dugaan gue,ternyata si gentong," balas Rahmat ikut meledek.
"Lili...!" panggil Edi,wajahnya tampak senang saat melihat Lili di sana.
"Hai..." sapa Lili,singkat bangat tapi kesannya sangat manis.
__ADS_1
Mendengar Edi memanggil nama Lili,Rahmat segera menoleh melihat ke arahnya,dan dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang,dengan agak ragu dia memberanikan diri untuk bertanya.
"Kamu yang bernama Lili?" tanya Rahmat memastikan.
"Iya saya Lili,ada apa ya om?"
"Buset,dia manggil lo om?" hampir saja bubur dalam mulut Edi menyembur keluar.
"Gue Rahmat,lo masih ingat kan?" tanya Rahmat,berharap Lili mengenalnya.
"Jadi dia yang dipanggil Rahmat tadi,aku kira cowok yang pakek baju hitam ini." Lili membatin,ternyata dia sudah salah menduga,tadinya dia pikir yang namanya Rahmat adalah cowok ganteng yang sedang berdiri di samping gerobak bubur ayam itu,eh nggak tahunya itu cuma pelanggan aja,dan Rahmat yang sebenarnya adalah lelaki yang duduk di dekat Edi,yang kumisnya benar-benar tebal.
"Wah om salah orang kali." Lili menyangkal,karena dia memang tidak kenal.
"Masa sih kamu nggak kenal,aku Rahmat teman SMP kamu dulu,kamu ingat kan?" dia bersikeras membuat Lili mengingatnya.
"Mbak temannya dia.?" Elena ikut bertanya,dia juga tidak percaya kalau Lili adalah temannya si kumis.
Lili mencoba berpikir sejenak,memperhatikan wajah Rahmat dengan seksama,semakin diperhatikan wajahnya semakin terasa familiar.
"Lo ingat?" Rahmat memastikan.
"Iya,aku ingat!" Lili tersenyum senang,ternyata mereka adalah teman dekat masa kecil.
"Gue baru aja berharap Lili nggak ingat." Ucap Edi,mengatakan isi hatinya.
"Harapan busuk lo nggak bakal kesampaian," ledek cowok itu.
"Mbak yakin,dia temannya mbak?" tatapan mata Elena seperti merendahkan.
"Mbak,buburnya sudah siap dari tadi," ujar tukang bubur,menyela obrolan mereka.
"Iya makasih bang." Elena segera mengambil kursi plastik,baru saja dia ingin duduk namun si tukang bubur langsung berkata. "Kursinya di tindih aja sama kursi ini mbak!" ucap lelaki itu memberikan satu kursi lagi buat Elena.
Mata Elena melotot garang, "Emangnya abang kira badan saya seberat itu apa? Sampe harus double kursi segala?" ucap Elena jengkel dengan sikap penjual bubur.
"Kan biar kursinya nggak hancur El." Rahmat ikut nimbrung.
__ADS_1
Lili tidak ikut-ikutan,dia tidak mau membuat Elena tambah bad mood.
"Maaf mbak,soalnya itu kursi sudah tua,takutnya nanti malah membuat mbak sendiri yang celaka." Lelaki itu menjelaskan,supaya Elena tidak salah paham.
"Sudahlah El,jangan di perpanjang,kan tadi kamu ke sini niatnya mau makan." Lili menenangkan.
"Kalian pesan tiga mangkok,satu lagi memangnya buat siapa?" tanya Edi penasaran. Lili baru menyadarinya,mereka sama-sama menatap ke arah Elena,ternyata gadis itu malah terlihat santai aja,tidak terkecoh sama sekali dengan tatapan ketiga orang dewasa di depannya.
"Kamu mau menghabiskan kedua mangkuk ini El.?" Rahmat bertanya.
"Aku nggak makan mangkuknya tahu! Yang aku mau cuma buburnya doang," elena memperjelas dengan sedikit mengeraskan suaranya.
\*\*\*
Setelah selesai makan ...
"Kalau mobilnya belum selesai diperbaiki bagaimana kalau kita anterin pulang?" tawar Edi.
"Enggak usah." Elena menjawab cepat.
"Cepat banget lu jawabnya tong,yang di tanya itu sama Lili,bukan sama elo." Ucap Rahmat sewot.
"Tang tong,tang tong,emang om kum pikir aku tong sampah apa?" hati Elena semakin dongkol.
"Bukan tong sampah,tapi gentong minyak lebih tepatnya," usai meledek Elena dia tertawa lepas,akhirnya mereka juga ikut tertawa,sedangkan Elena hanya bisa menggepalkan tinjunya yang sudah terasa sangat gatal,ingin menonjok satu persatu wajah mereka.
"Sudah... Sudah!!! Kalian membuat Elena semakin kesal aja." Lili menyuruh mereka untuk berhenti tertawa.
"Kita bisa pulang sendiri kok,aku sudah menyuruh sopir untuk menjemput kami disini," ujar Lili.
"Bagus lah kalau begitu," ucap Edi.
"Lili,kapan-kapan bisa dong kita jalan-jalan berdua," sepertinya Rahmat sudah memulai aksinya untuk mendekati Lili.
"Hati-hati Li,dia punya banyak cewek." Edi mengingatkan,dia berkata terus terang di depan Rahmat.
"Itu memang sudah menjadi kebiasaanya dari SMP,Ed" jawab Lili,sepertinya dia mengetahui dengan baik sifat playboy temannya.
__ADS_1