
Tari mulai memutar otaknya,dia ingin supaya Edi saja yang mengantarkannya ke rumah Elena,ini benar-benar kesempatan bagus,begitulah yang tengah dipikirkan Tari. "Aku mau ke rumah Elena,kakak mau enggak nganterin Tari?" tanya Tari dengan lembutnya. Rahmat menatap bingung ke arah sang adik.
"Dia kenapa bersikap begitu manis di depan Edi? Enggak biasanya dia seperti itu,apa mungkin diam-diam dia mulai menyukai Edi?" batin Rahmat berprasangka,dia menatap adiknya dengan penuh tanda tanya.
"Em,gimana ya?" Edi berpikir sejenak,sebelum akhirnya mengangguk setuju.
Tari senang banget,hatinya berbunga-bunga saat ini.
"Di,enggak usah repot-repot,biar gue aja yang nganterin dia," cegah Rahmat,dia tidak ingin Tari beneran menaruh rasa sama sahabatnya.
"Biar aku pergi sama kak Edi saja,yuk kak!" Tari menarik lengan Edi dan mengajaknya untuk segera masuk ke dalam mobil.
"Tadi waktu aku suruh nganterin,kakak enggak mau,sekarang giliran ada kak Edi kak Rahmat sok baik gitu,basi tau!" cicit Tari di samping telinganya Rahmat.
Setelah itu dia dan Edi langsung masuk ke dalam mobil,meninggalkan Rahmat yang hanya bisa terperangah melihat sikap adiknya.
Edi langsung menghidupkan mesin mobilnya,sebelum benar-benar pergi dia menoleh ke luar jendela,berpamitan pada sobatnya. "Gue anterin Tari dulu,ya! Entar gue balik lagi ke sini," ucapnya,yang di jawab dengan anggukan kepala oleh Rahmat.
Melihat mobil Edi yang sudah melaju pergi dari hadapannya,Rahmat mulai menaruh rasa curiga,dia yakin kalau Tari memang menyukai Edi.
Suasana dalam mobil terasa begitu canggung,Tari ingin bicara,tapi,dia tidak tahu harus mulai dari mana.
Jadi akhirnya gadis itu memutuskan untuk diam saja,membiarkan suasana tetap hening. Sesekali Tari mencuri pandang ke arah Edi.
"Diam aja Tar,biasanya mulut kamu yang paling banyak bicara." Tegur Edi memulai obrolan.
"Ini kak,aku lagi enggak punya bahan untuk di bahas,jadi untuk apa bicara? Mending diam aja," jawab Tari seadanya.
"Kamu dekat sama Elena,ya?" tanya Edi sekedar basa basi.
"Iya,kenapa jadi nanyain Elena? Kakak suka,ya?" hati Tari mendadak cemburu.
"Enggak kok,cuma aku enggak nyangka aja kalau kamu sama dia ternyata teman karib," jelas Edi,dia masih fokus menyetir.
Tari sebenarnya ingin menanyakan sesuatu hal yang sangat pribadi. Tapi,dia takut Edi berpikir macam-macam.
Tari tidak mau Edi tahu tentang perasaannya,dia masih bimbang,ingin bertanya tapi tidak berani,kalau diam saja maka dia sendiri yang akan penasaran.
"Ah,bodoh amat! Biarkan saja,mau dia punya pacar mau enggak,yang pasti aku akan berusaha buat ngedapetin cintanya kak Edi," tekad Tari dalam hati.
Edi adalah tipe cowok yang disukainya. Menurutnya,Edi itu baik,perhatian,tampan dan sikapnya juga dewasa,cowok itu juga punya rasa tanggung jawab,tidak seperti kakaknya.
"Kak Edi!" panggil Tari lembut.
"Iya," Edi menjawab tak kalah lembutnya.
"Duh,mulut ini,kok jadi manggil dia sih?" gerutu Tari dalam hati,nama Edi lolos begitu saja dari mulutnya tanpa dia sadari.
__ADS_1
Sekarang dia tidak tahu mau ngomong apa,jadi salah tingkah sendiri kan?
"Kamu terlihat pucat,apa kamu sakit?" tanya Edi.
DEG!!
Pertanyaannya semakin membuat Tari deg-degan,sekarang suhu badannya jadi panas dingin,detak jantungnya jadi tak terkontrol.
"Kalau saja kak Edi tahu,bahwa wajahku berubah pucat karena tidak sanggup lama-lama berada di dekat dia,pasti kak Edi bakal ngetawain aku."
"Kok malah bengong? Kamu baik-baik saja,kan?" tanya Edi memastikan.
"Eh,iya kak. Aku baik-baik aja kok," Tari menjawab gugup.
Obrolan mereka berakhir sampai disitu,karena mereka sama-sama diam lagi,suasana hening hingga Tari sampai di tempat tujuannya
.....
Lili terus memandangi ponselnya,berharap rahmat menghubunginya malam itu,sudah berjam-jam dia menunggu,waktunya juga habis terbuang sia-sia.
"Aku enggak mungkin duduk diam aja,dan menunggu dia yang nyamperin aku duluan,dia sudah bersusah payah mencari alamat aku. Tapi,dengan jahatnya aku malah ngerjain dia,pastinya dia sangat marah sekarang,"monolog Lili.
Akhirnya Lili memutuskan untuk menghubungi Rahmat dan mengajak ketemuan,dia ingin meminta maaf sama cowok itu. Bagaimanapun Lili sudah bersalah,dan dia harus meminta maaf.
\*\*\*\*
Malam ini mereka bertemu,Lili jadi kikuk sendiri tadi dia dengan penuh percaya diri ngajakin Rahmat buat ketemuan.
Rahmat membuang wajah ke arah lain,berusaha menghindari tatapan Lili. Lili gugup,tidak tahu harus mulai dari mana.
Taman yang begitu ramai dengan pengunjung terasa sepi bagi Lili.
"Bicara dong Rahmat,jangan nunggu aku yang ngomong duluan!" ucap Lili dalam hati.
"Ehem!!"
Rahmat berdehem sedikit keras. Membuat Lili semakin gugup,otaknya seolah berhenti berputar.
"Ma-maaf!" satu kata keluar dari mulut Lili,dia memilin ujung bajunya persis seperti bocah yang sedang dimarahi.
"Kenapa meminta maaf?" tanyanya dengan pandangan masih sama seperti tadi,tidak menatap Lili.
"Aku sudah membohongi kamu."
"Kamu merasa bersalah sekarang?" tanya cowok itu menatap dingin ke arah Lili.
"Kamu masih marah ya?"
__ADS_1
"Tidak." Rahmat menggeleng pelan.
"Kalau kamu tidak marah,kenapa kamu tidak pernah menghubungi aku lagi setelah kejadian hari itu?" Lili ingin Rahmat menjawab jujur setiap pertanyaannya.
Mendengar pertanyaan Lili,Rahmat tersenyum pahit. "Kau tahu Lili,aku bukannya tidak menghubungi kamu,tapi setelah kejadian hari itu aku berpikir mungkin kamu memang tidak ingin lagi bertemu denganku,"
"Aku hanya melampiaskan kekesalanku saja Rahmat. Aku pikir kamu akan kembali dan mencari aku,nyatanya tidak. Dan sekarang aku mau pertemanan kita kembali seperti dulu." Ucap Lili berharap.
Semangat Rahmat mulai bangkit,sepertinya Lili mulai jatuh hati sama dia.
Mungkin ini saatnya,saat yang tepat untuk dia mengungkapkan isi hatinya pada Lili.
Rahmat mulai mencari kata-kata yang tepat untuk mengatakan cintanya kepada sang pujaan hati.
Dengan sangat hati-hati dia meraih jemari Lili dan menggenggamnya.
Menatap dalam sepasang netra Lili yang indah,dia mulai mengatur nafasnya yang terasa memburu.
Lili sendiri juga gugup. Rahmat terlihat begitu serius.
"Aku suka sama kamu!"
DEG!
Lili langsung menarik jemarinya dari genggaman Rahmat.
"Kamu tidak bisa dipercaya! Kamu punya pacar dimana-mana,mana mungkin kamu menyukai aku!" tuding Lili. Dia masih takut kalau Rahmat membohonginya,dia tidak mau jadi korban janji manis cowok itu.
"Kamu masih curiga sama aku,kalau aku bakal mempermainkan hati kamu?" Rahmat meraih wajah Lili,memegangnya lembut dia menyuruh Lili untuk menatapnya.
"Lihat kesini! Pandang aku! Lihat mata aku,apa terlihat seperti orang yang sedang bersandiwara?"
Lili akui,Rahmat memang serius,tidak ada tanda-tanda kalau dia sedang berbohong.
"Tidak!" lirihnya.
Mungkin benar seperti kata mamanya,Rahmat sudah berubah. Dia akan berubah jika hatinya sudah menemukan tempat berlabuh yang tepat.
Lili menatap penuh arti wajah tampan lelaki di depannya,dia sudah berubah. Dia juga merubah penampilannya untuk Lili.
Rahmat yang dulunya dikenal dengan kumis tebalnya,kini menjelma menjadi sosok lelaki tampan di depan Lili.
"Apa kamu juga memiliki rasa yang sama,Lili?"
pertanyaan Rahmat membuyarkan lamunannya.
"A-aku..." Lili kembali dibuat gugup dengan pertanyaannya.
__ADS_1
"Aku tidak memaksa,kalau memang...
"Beri aku waktu untuk memikirkannya." Potong Lili,dia langsung menyela omongan Rahmat,supaya cowok itu tidak salah paham.