
Semenjak Tari sadar dia tidak banyak bicara,gadis itu hanya diam dan terbaring lemah.
Acara pertunangan Rahmat dan Lili juga sudah dilaksanakan,semua berjalan lancar. Meski saat itu Tari masih terbaring di rumah sakit.
Sudah seminggu lebih Tari berada di rumah sakit,keadaannya masih sangat lemah. Bu Dian bahkan terus berada didekatnya,wanita itu tidak sekalipun meninggalkan anaknya.
Hari ini Edi kembali datang menjenguk,padahal dia sudah berkali-kali di tolak oleh Tari.
Tari masih tidak ingin bertemu dengan cowok itu.
"Sayang,ada Edi di luar,apa mama suruh masuk aja?" tanya bu Dian dengan sangat hati-hati,
wanita itu tidak mau membuat Tari marah seperti kemarin.
Tari sebenarnya juga sangat merindukan cowok itu,dia ingin mengatakannya pada sang mama,tapi dia menahannya.
Kata-kata Rahmat masih tersimpan rapi dalam memori ingatannya,bahwa dia tidak mau Tari memiliki hubungan apa-apa dengan sahabatnya itu.
"Biarkan saja dia di luar ma,Tari sedang ingin sendiri mama sebaiknya juga keluar!" suruh Tari,bu Dian tidak bertanya lagi,dia tahu putrinya sedang berusaha menenangkan perasaannya.
Begitu mamanya keluar,air mata yang sejak tadi dibendung langsung jatuh mengalir. Tangis gadis itu pecah seketika,rasanya sangat sakit karena dia tidak bisa mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya.
Andai saja Rahmat tidak ikut campur dalam hubungan mereka,mungkin Tari tidak akan bersikap seperti ini. Sekarang dia hanya bisa menyimpan sendiri perasaannya.
Tari menggigit bibir bawahnya,berusaha menahan suara tangisnya agar tidak keluar dan di dengar oleh mamanya yang saat itu tengah berada di luar.
Edi masih menunggu di luar,dia sangat ingin bertemu Tari. "Tante,apa Tari masih marah sama aku?" tanya Edi,dia terlihat sedih saat itu.
Bu Dian tidak tahu bagaimana menjawabnya,akhirnya dia menyuruh Edi untuk masuk saja ke dalam kamar tempat Tari di rawat,karena bu Dian tahu kalau Tari sebenarnya rindu sama Edi,tapi dia tidak mau mengatakan yang sejujurnya.
\*\*\*\*
"Ngapain kak Edi kesini lagi?" tanya Tari bersikap dingin.
Tari bertanya dengan menampakkan wajah tidak senang.
"Memangnya enggak boleh ya kalau aku datang kesini buat jengukin kamu?"
"Heh..." Tari tersenyum sinis. "Ngapain kesini? Buang waktu saja,mending kak Edi pergi sana! Kan enak berdua-duaan sama Lina!"
Omongan Tari tidak membuat Edi marah,tapi malah membuat dia tertawa.
"Tari,jangan bilang kalau kamu sedang cemburu?" ujar Edi tersenyum.
Tari masih cemberut,dia memalingkan wajahnya dari tatapan Edi. "Enggak,aku enggak cemburu!" Tari menegaskan.
__ADS_1
"Kalau kamu memang tidak cemburu,kenapa kamu bicara seperti itu tadi?"
Tari diam lagi,tidak bisa menjawab pertanyaan Edi.
Edi meraih tangannya Tari dan menggenggamnya erat, "Tolong katakan yang sejujurnya Tar,kamu cinta atau enggak sama aku?" Edi ingin mendengar jawaban jujur dari pujaannya itu.
"Menurut kak Edi sendiri?"
"Kamu cinta sama aku,tapi tidak mau mengungkapkannya,kamu takut Rahmat tahu akan hal ini,ya?"
"Iya," Tari mengangguk lemah.
"Aku enggak marah kok kalau kalian jadian!" ucap Rahmat yang nongol tiba-tiba kayak jelangkung di siang bolong.
Dia datang bersama Lili,mereka berdua semakin lengket aja,udah kayak lem ama perangko.
"Kak Rahmat sejak kapan ada di sini?" Tari jadi gugup begitu menyadari kedatangan kakaknya,dia langsung melepas tangannya dari genggaman Edi.
"Enggak usah malu-malu gitu,kita setuju lho sama hubungan kalian,iya kan sayang." Ucap Lili dengan tingkah manjanya.
"Tentu dong!"
"Lalu,bagaimana dengan Lina?" Tari masih penasaran dengan perempuan yang bernama Lina itu,bagaimana hubungan dia dengan Edi sebenarnya.
"Aku enggak ada hubungan apa-apa sama Lina,dia juga tahu kalau aku tidak pernah mencintainya dan tidak akan pernah bisa. Dan satu lagi,mama sudah setuju kalau kita berdua memiliki hubungan yang lebih serius lagi," ungkap Edi.
Lili tertawa dan berkata "Yuk kita keluar sayang,enggak enak lama-lama di sini,nanti jadi ngegangguin orang pacaran lagi," ucap Lili menanggapi omongannya Tari.
"Ayo,kebetulan aku juga mau ngajakin kamu ke suatu tempat yang indah banget." Ujar Rahmat,dia bersikap sok romantis di depan adiknya dan Edi.
"Dih,jijik gue lihatnya." Cibir Edi.
"Sama,perut aku juga rasanya mau muntah," timpal Tari.
"Dih... Ada yang cemburu ni,jangan ngiri ya,entar kamu kalau udah boleh keluar dari rumah sakit juga bisa lebih romantis dari kita lho,tapi jangan sekarang,tunggu setelah nikah ya?" ucap Rahmat,sikapnya bikin orang yang ngelihat jadi jengkel.
"Hahaha..."
Lili dan Rahmat tertawa kompak,mereka berdua usil bangat ya,bikin Tari sebel aja.
"Kalian berdua kapan keluarnya sih?" Edi yang sudah tidak sabaran langsung bertanya,dia sengaja tidak menanggapi lagi omongan Rahmat dan Lili,supaya mereka cepat-cepat angkat kaki dari sana.
"Duh, jangan marah-marah gitu dong,entar cakepnya ilang loh!" goda Lili cekikikan.
Semakin kesal aja Edi di buatnya. "Kak Lili kok jadi ketularan sifat nyebelin kak Rahmat,ya?" ucap Tari yang sejak tadi memperhatikan cara Lili bicara.
__ADS_1
Mendengar ucapan Tari,Rahmat langsung menimpali. "Namanya aja jodoh Tar,ya pasti ngikut lah!"
"Idih,aku enggak mau punya sifat sama persis kayak kamu. Jodoh ya jodoh,tapi kalau soal sifat aku enggak mau di samain sama kamu,amit-amit deh!" tegas Lili,seraya menggeleng-gelengkan kepalanya,karena tidak mau sifatnya di samain sama Rahmat.
"Jadi kapan ni kalian pergi dari sini?" Edi kembali menanyakan pertanyaan yang sama.
"Kita bakalan pergi kok," jawab Lili,dia segera mengajak Rahmat untuk keluar dari ruangan itu. Mereka tidak ingin lagi mengganggu kebersamaan Tari dan Edi.
Biarlah dua insan itu melepas rasa rindunya,dan bicara dari hati ke hati supaya semua masalah di antara mereka jelas dan hubungannya akan segera membaik.
\*\*\*
"Aku pikir kamu tidak akan menyetujui hubungan Edi dan Tari. Eh enggak tahunya kamu sudah berubah pikiran." Ucap Lili.
"Mana mungkin aku tega menghancurkan kebahagiaan adik aku sendiri Li,kamu tahu enggak,aku bahkan sudah berjanji pada diri aku sendiri,kalau Tari bisa melewati masa-masa kritisnya saat itu,aku akan memberikan apa aja yang di inginkannya." Ungkap cowok itu.
"Aku tahu sayang,kamu sangat menyayangi Tari,hanya saja sulit bagi kamu untuk memperlihatkannya."
"Iya,kamu benar. Dari pada membuat Tari tersenyum dan bahagia aku malah lebih sering menyakiti perasaannya dan membuat dia kesal," raut wajah Rahmat terlihat sedih.
"Jangan sedih gitu dong! Sekarang kan Tari sudah sadar dan keadaannya sudah lebih baik dari sebelumnya. Jadi untuk ke depannya kamu bisa bersikap lebih baik terhadap Tari,jadilah kakak yang lebih untuk dia." Ucap Lili menghibur.
"Makasih,makasih karena sudah mau menerima aku apa adanya." Ucap Rahmat,dia merengkuh tubuh Lili dan mendekapnya erat. Rahmat mencium kening Lili berkali-kali,dia sangat bahagia karena Lili adalah wanita yang di takdirkan untuknya,seorang wanita yang siap mendampinginya di kala susah dan senang.
"Em,tapi ingat ya,kalau kita sudah menikah nanti kamu jangan jadi playboy lagi,kalau enggak...
"Kalau enggak???"
"Kalau enggak kamu bakal aku coret dari kamus hidup aku,dan... Aku bakalan cari suami lain lagi yang lebih tampan dari kamu,yang pastinya juga lebih setia daripada kamu" ucap Lili mengancam.
"Emangnya kamu sanggup ninggalin aku?" tanya cowok itu.
"Enggak!" jawab Lili menggeleng,lalu dia tersenyum.
"Aku sayang kamu,aku enggak akan menduakan kamu,kamu itu hadiah terindah dalam hidup aku."
Rahmat memeluk Lili semakin erat,mereka berdua terlihat bahagia sambil menikmati keindahan di atas bukit itu,tempat di mana Lili pernah menolak cintanya dulu.
"I LOVE YOU!❤️" lirih Lili,saat berada dalam pelukan kekasihnya.
Saat sedang di mabuk cinta seperti itu yang mereka rasakan adalah,dunia hanya milik mereka berdua dan yang lain cuma numpang.
"Sekarang gue benar-benar bahagia bisa bersatu dengan orang yang gue cintai. Gue berharap hubungan gue sama Lili bisa akur selamanya,menjalani hari-hari tua bersama hingga maut memisahkan. Dan benar seperti yang temen-temen gue bilang,kalau kelak gue bisa menemukan cinta sejati gue dan orang itu adalah Lili. Kalau kalian mungkin akan menyebutnya sebagai 'Cinta Sejati Buaya Berkumis' Ini kisah cinta gue bersama gadis pujaan gue,Lili."
🌹THE END🌹
__ADS_1
\*\*\*\*