
Keesokan paginya Lili pergi menemui Mamanya,dia pulang ke rumah,dilihatnya rumah yang luas itu masih sama seperti saat pertama kali dia meninggalkannya.
Lili masih berputar-putar di ruang tengah,sambil terus memperhatikan foto-foto keluarganya,gadis itu tersenyum manis ketika melihat fotonya waktu kecil.
"Duh,senyum-senyum sendiri anak Mama." Ucap Bu Mawar,begitu mendengar suara sang mama langsung saja Lili menoleh.
"Eh Mama,udah disini aja," Lili mulai berjalan ke arah sofa dan duduk di sana.
"Tumben kamu pulangnya nggak bilang-bilang sama Mama,Li?"
Lili menyibakkan rambutnya yang panjangnya kebelakang,mencoba menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Pasti ada hal penting yang ingin kamu omongin sama Mama," Tebak bu Mawar,
"Ya,ma. Dan ini tentang Sera."
"Ada apa lagi dengan anak itu?" bu Mawar heran.
"Apa mama tahu,untuk apa Sera meminjam duit itu?" tanya Lili dengan sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Sepertinya kamu mulai suka ngepoin hidup orang,ya?"
"Jawab dulu pertanyaan aku!"
"Memangnya sepenting itu,ya?" bu Mawar masih belum memberi jawaban.
"Penting banget,mama!" Lili mulai tidak sabaran
"Di surat itu sih tertulis kalau dia membutuhkan biaya untuk berobat ibunya," bu Mawar baru menjawabnya,dan sekarang wanita itu kembali diam,memperhatikan ekspresi di wajah putrinya.
Beberapa hari yang lalu,dia sendiri yang mengatakan bahwa tidak suka terhadap sikap Sera,dan sekarang dia bahkan terlihat begitu peduli. Gadis itu memang benar-benar aneh.
"Dia sudah membayar hutangnya itu. Tapi, sekarang dia punya pinjaman lain sama ibu kos," adu Lili,dia berharap mamanya mau membantu.
"Apa urusannya sama mama?"
"Ya mama bantuin dong!" suruh Lili.
"Dia kan punya kerja Li,dengan membiarkannya masih bekerja di salon mama,itu sudah termasuk membantu. Coba aja kalau mama langsung pecat dia,begitu mama tahu kalau dia sudah dengan lancangnya mengatakan anak mama sebagai wanita panggilan,nggak tahu deh nasibnya sekarang gimana!" omel bu Mawar penuh emosi.
Beliau masih tidak bisa memaafkan apa yang sudah di katakan Sera untuk Lili.
"Sudahlah ma,itu sudah berlalu. Aku juga sudah memaafkan dia kok,"
"Dia tidak tahu pemilik salon tempatnya bekerja itu adalah mama. Dan besok mama akan membuat dia bertekuk lutut di hadapan kamu,dan meminta maaf dengan tulus." Ujar bu Mawar bersungguh-sungguh.
"Ah! Mama terlalu lebai,nggak perlu segitunya juga kali ma,aku sudah tidak punya urusan dengan dia."
__ADS_1
Lili tidak setuju dengan rencana mamanya.
"Ma!" panggilnya pelan
"Apa lagi,sayang?"
Lili masih agak ragu untuk mengatakannya,saat itu dia ingin menanyakan tentang cowok yang hendak di jodohkan dengan dirinya.
"Tanya nggak,ya?
"Tapi,mama kan sudah lama tidak menyinggung soal perjodohan itu,nanti kalau aku tanyain dikira aku suka lagi," Lili jadi bimbang,tapi dia juga tidak sanggup menahan rasa penasarannya.
"Mau nanya soal apa,nak?"
Lili kembali memutar otaknya,berusaha mencari kata-kata yang cocok sebelum masuk ke inti pembicaraan.
"Mama masih ingat nggak,sama teman mama yang namanya bu Dian?" tanya Lili.
"Ingat,mama bahkan baru kemarin datang kerestorannya." Ungkap bu Mawar.
"Anak yang ingin mama jodohkan sama aku,itu teman aku sendiri,ma."
Bu Mawar tidak kaget sama sekali saat mendengar perkataan Lili,karena beliau sudah tahu soal itu.
"Mama sudah tahu Li,dan kamu juga sudah datang menemui bu dian,kan?"
"Kemarin itu mama memperlihatkan foto kamu sama bu Dian,eh katanya dia sudah ketemu sama kamu,dan beliau nggak nyangka ternyata kamu itu temannya Rahmat," bu mawar tampak semangat saat menceritakannya.
"Aku sangat bersyukur karena tidak menerima tawaran mama hari itu." Ujar Lili
"Kamu tidak menyukai Rahmat,ya?"
"Jadi mama berharap kalau aku suka sama dia?" tanya Lili ketus.
"Wajahnya biasa aja lagi Li,kayak dia najis aja!" ucap bu Mawar saat melihat gaya bicaranya Lili yang terlalu berlebihan ketika mengatakan nama Rahmat.
"Bukan najis,mama! Tapi memang Lilinya nggak suka kalau di jodohin sama teman sendiri." Ungkap Lili beralasan,semoga aja kali ini mama percaya sama alasannya.
"Bilang aja kamu nggak suka sama kumisnya. Iya,kan?" tebak bu Mawar.
Lili langsung menggeleng,memang bukan karena itu,dia tidak suka dengan sifat Rahmat yang masih playboy.
Meskipun dia sudah insaf dari sifat playboynya itu,Lili tetap tidak mau. Dia bukan tipenya Lili.
\*\*\*\*\*
.
__ADS_1
.
Ditengah suasana makan siang bersama di kantin kantor,Jojo langsung saja menceritakan nasib sial Edi semalam,dan mereka semua tertawa ngakak mendengarnya.
"Kok sampe dua kali gitu sih,Ed?" tanya Aleta di sela-sela tawanya,dia juga ikut prihatin dengan nasib kurang beruntungnya Edi.
"Kalau gue sih masih mendingan Al,daripada si pak de,dia udah diputusin sama kedua pacarnya,terus kena tamparan gratis lagi,hahah..." cerita Edi,di iringi tawanya.
"Jadi,dia diputusin sama Nina juga?" Mirna hampir aja tersendat.
"Iya,bagaimana nggak diputusin sama si Nina, dia kan sudah ketahuan selingkuh,gitu. Nggak mungkin juga kan dia terus di pertahankan?"
"Jadi ya Edi,ini tuh jadi pelajaran buat kamu,kalau besok-besok nyari pacar itu,ya di wawancarai dulu!" Aleta memberi saran.
"Idih! Kayak nyari calon istri aja,sampe segitunya." Ucap Jojo merasa konyol dengan saran Aleta.
"Ogah! Gue mah lebih milih nggak pacaran aja untuk sementara waktu,gue mau nunggu si kumis insaf dulu. Gue kapok dapat bekas dia mulu," cicit Edi geram.
Mirna yang sedang menyeruput es teh manisnya segera berkata "Kenapa nggak kamu dekatin aja adiknya Rahmat,kamu jadiin tuh gebetan baru!" saran Mirna lebih parah dari pada Aleta.
Tidak hanya Edi yang dibuat shok mendengarnya,Jojo dan Aleta juga tak kalah shok mendengar saran dia yang bisa dibilang cukup gila itu.
Tidak ada satupun diantara mereka yang memikirkan hal segila itu.
"Kalian berdua tahu nggak? Rahmat itu sekarang sedang berusaha mendekati Lili." Ungkap Edi memberitahu,Aleta dan Mirna kaget setengah mati
"Apa???"
\*\*\*\*\*
Disisi lain,Rahmat yang saat itu juga tengah menikmati hidangan makan siangnya di rumah,tiba-tiba aja keselek.
"Uhuk-uhuk!!"
Sampe terbatuk-batuk itu cowok,kasian banget.
Bi inem yang melihatnya cuek-cuek aja,dia bertambah kesal dari hari kehari dengan sikap pemalas anak majikannya.
"Bi,ambilin gue minum dong!" suruh Rahmat
"Minumannya kan disamping den Rahmat,di ambil sendirilah Den!" jawab bi Inem,dia tidak mau disuruh oleh cowok itu.
"Ya di tuangin dong!"
"Males ah!" bi Inem langsung pergi,setelah selesai meletakkan semua makanan di atas meja makan.
"Pasti lagi ada yang ngomongin gue,ni." dia mulai curiga,dan yang dijadikan tersangkanya adalah Edi dan Jojo. Padahal,Mirna dan Aleta juga sedang membicarakannya di kantin. Hehe... kuat juga instingnya si cowok kumis.
__ADS_1