Cinta Sejati Buaya Berkumis

Cinta Sejati Buaya Berkumis
Kecelakaan


__ADS_3

"Tari,tunggu!" Edi terus memanggilnya.


Tapi,Tari tidak peduli sama sekali. Dia terus berlari berusaha menghindar dari cowok itu.


"Tari!" seru Edi lagi,Tari tidak memperdulikan panggilan Edi.


"Nyesel banget aku,kalau aja aku tahu bakal bertemu sama dia,aku pasti sudah pulang sama Elena." Cicit Tari sambil terus berlari meninggalkan gedung sekolah.


"Tari,berhenti!!!


Hap...


Sia-sia aja Tari lari menghindar dari Edi,kalau pada akhirnya ketangkep juga.


"Dengerin penjelasan aku dulu!" Edi memohon.


"Mau jelasin apa lagi sih,kak?" tanya Tari gusar.


"Tari,aku sama Lina enggak ada hubungan apa-apa,kita cuma temenan."


Edi berusaha menjelaskan,dia ingin Tari mendengar penjelasannya.


"Itu bukan urusan aku. Mau dia pacar kak Edi atau bukan aku enggak peduli,kak."


"Kalau kamu tidak peduli,kenapa kamu menghindar?"


Tidak tahu harus jawab apa,Tari gelagapan.


"Aku bukan menghindar,aku lagi sibuk sama ujian akhir sekolah!" bantah Tari.


Tari semakin tidak nyaman,dia ingin cepat-cepat pergi dari sana,kendaraan yang terus berlalu lalang membuatnya susah untuk mencerna apa yang dikatakan Edi.


"Sudah berkali-kali aku hubungi kamu,tapi selalu di matiin,kenapa?"


Lagi-lagi Tari harus berhadapan dengan pertanyaan yang tidak ingin di jawabnya.


"Aku mau pulang,kak!" ucap Tari mulai gusar.


"Ini yang aku maksud,kamu mau menghindar lagi,kan?" Edi memegang erat pergelangan tangan Tari supaya dia tidak pergi lagi.


"Aku mau pulang kak,lepasin aku!" Tari memberontak. Ingin secepatnya lepas dari cengkeraman Edi.


"Enggak,aku enggak akan lepasin kamu sampai kamu mau bicara sama aku!" Edi tetap ngotot tidak ingin melepaskan Tari.


Tari bersikeras,dia bahkan mengancam akan berteriak,supaya orang-orang pada datang dan memukul Edi.


"Lepasin,atau aku teriak!" gadis itu mengancam.


Edi tidak takut,dia bahkan menantang Tari.


"Ayo teriak! Teriak sekeras yang kamu bisa biar semua orang datang kesini dan aku akan bilang kalau kamu itu hamil anak aku,tapi kamu ingin menggugurkannya." Edi balik mengancam.


Ancaman Edi ternyata lebih menakutkan dari ancaman Tari.


"Lepasin kak,aku mau pulang. Lepasin akuuu!!!" ucap Tari memohon.


"Aku bakal lepasin tangan kamu asalkan kamu tidak kabur lagi." Edi mulai membuat janji.


"Iya," Tari menjawab singkat,tapi tak ikhlas.


"Aku tidak percaya."

__ADS_1


"Tari!!!"


Seseorang memanggilnya dari seberang jalan,Tari langsung menoleh.


"Bagus!" ucapnya dalam hati. "Kak Rahmat datang di saat yang tepat,berarti sekarang aku bisa membuat alasan." Tari berpikir.


"Kak Rahmat sudah datang,aku pulang sekarang." Tari langsung kabur setelah Edi melepaskan tangannya.


"Sial! Kenapa Rahmat datang sih," geram Edi.


Tari berjalan menuju tempat di mana Rahmat menunggunya,dia berjalan tanpa melihat kiri kanan.


Edi menatap hampa kepergian gadis pujaannya.


Dari arah kanan,sebuah truk melaju kencang.


Tak ada yang melihat kalau truk itu semakin dekat,Rahmat saat itu sedang asik telponan sama Lili,sedangkan Edi sudah membalikan badannya hendak kembali masuk dalam mobilnya.


Tiittt...


"Aaaa...


BRUK!!!


Tubuh Tari terpental ke aspal,dan kemudian terguling mengenai pinggiran trotoar.


Edi terkejut mendengar jeritan itu,hatinya begitu deg-degan,perasaannya tidak nyaman,dia tahu di belakangnya pasti telah terjadi kecelakaan.


Ponsel yang di pegang Rahmat jatuh begitu saja. Dia dapat melihat tas adiknya yang jatuh di samping truk.


Darah mengalir di jalanan,banyak orang berdatangan.


Edi membalikkan badannya dan melihat siapa korban kecelakaan itu.


"Bukankah itu Tari?"


Beberapa orang yang mengenal Tari ikut berlari untuk membantu.


"Ya Tuhan,benarkah itu Tari?"


Lemas seketika tubuh Edi,begitu melihat Tari tergeletak bersimbah darah dengan mata masih terbuka lebar.


Tari masih sadarkan diri dan sekarang dia berada dalam pangkuan kakaknya.


"Sakit kak." Lirih Tari.


"Kita harus ke rumah sakit sekarang,kakak akan membawa kamu ke rumah sakit." Rahmat tak bisa membendung air matanya.


"Jangan sentuh aku!" ucap Tari terdengar memohon.


"Kenapa???"


Omongannya membuat Rahmat bingung,kenapa tidak boleh di sentuh? Tidak mungkin membuat dia menunggu lebih lama lagi dalam keadaan kritis seperti ini.


"Badan Tari sakit,sakit banget." Tari semakin lemah.


Edi terpaku diam,dia berdiri tepat di belakang Rahmat,tak sepatah katapun keluar dari mulutnya.


Dia merasa seperti mimpi,kejadiannya begitu cepat.


Dalam hati dia sangat takut kehilangan Tari,air matanya mengalir deras dia menatap Tari dalam keadaan diam,semua orang di sekitar mereka sibuk karena Ambulance belum datang juga.

__ADS_1


Tari menatap Edi dengan mata hampir tertutup rapat,beberapa kata keluar dari mulut Tari.


"Jangan menangis,air matamu hanya akan terbuang sia-sia." Masih ada sorot kekecewaan dalam matanya.


Rahmat sadar ucapan Tari bukan di tujukan untuknya,melainkan untuk Edi yang sekarang berdiri di belakangnya.


Wiww...


Wiww...


Wiww...


Ambulance yang di tunggu-tunggu akhirnya datang juga.


"Mas,ambulancenya sudah datang!" teriak beberapa orang di sana.


Dua petugas turun sambil membawa tandu.


Rahmat menepi,membiarkan mereka menangani adiknya.


Saat itu Tari sudah tidak sadarkan diri,sepertinya dia juga kehilangan banyak darah.


\*\*\*\*


"Pa,sudah sore begini anak-anak kok belum ada yang pulang,ya?" bu Dian sangat gelisah.


Wanita itu tidak bisa duduk tenang,dari tadi mondar-mandir terus,membuat pak Willi ikut pusing melihatnya.


"Ma,mama bisa enggak duduk yang tenang! Jangan bikin papa tambah khawatir,pusing ni!" ucap pak Willi.


"Gimana enggak khawatir pa,sudah dari tadi siang loh mama hubungi mereka,sudah dua-duanya ponsel di matiin lagi."


"Coba deh papa hubungi Edi,siapa tahu mereka ada di tempatnya dia," usul bu Dian.


Pak Willi langsung melakukan seperti apa yang di katakan istrinya.


Tapi...


Tut... tut... tut...


Nomor Edi ternyata juga tidak bisa di hubungi.


"Enggak bisa di hubungi juga, ma." Lirih Pak Willi,beliau juga semakin khawatir.


"Coba hubungi Lili pa,mungkin Lili tahu mereka ada di mana!" ucap bu Dian.


Sama saja hasilnya,Lili juga tidak bisa di hubungi.


Mereka mulai berpikir yang bukan-bukan.


"Mungkinkah Lili kabur bersama Rahmat? Dan Tari kabur bersama Edi?"


"Ma,kalau bicara itu ya di pikir dulu dong,jangan asal-asalan gitu!"


"Terus,mereka pada kemana dong?"


Pikiran mereka sama-sama buntu. "Gini aja deh ma,kita tunggu sampai malem,kita lihat apa mereka menghubungi kita atau enggak," pak Willi mengusulkan.


"Terserah papa aja deh,tapi perasaan mama tidak tenang dari tadi,mama takut terjadi sesuatu sama mereka."


Tak bisa berbuat apa-apa,mereka hanya bisa menuggu.

__ADS_1


\*\*\*\*


__ADS_2