
"Kamu enggak penasaran sama mereka?" tanya Lili,dia jadi bingung saat melihat wajah Rahmat yang mendadak murung.
"Ngapain penasaran,sudah pasti Tari sama Edi punya hubungan,ya kamu bisa mikir sendiri hubungan apa yang aku maksud," dia menjawab cuek.
"Ya sudah kalau enggak mau,biar aku saja yang nyamperin mereka ke sana,sekalian mencari informasi tentang hubungan mereka berdua," tanpa menunggu respon dari kekasihnya,Lili langsung berdiri dan melangkahkan kakinya di pesisir pantai untuk mencaritahu tentang hubungan Tari dan Edi.
"Tari!!!"
Seru Lili,dia berlari-lari kecil menghampiri mereka.
Tari tidak menoleh sama sekali,mungkin Tari tidak mendengarnya.
"Tari!!!" Lili memanggil sekali lagi.
Rahmat hanya melihat aksi kekasih barunya itu dari jauh.
"Sepertinya itu suara kak Lili deh," dengan cepat Tari langsung melepaskan tangan Edi yang melingkar memeluk pinggangnya.
Edi jadi gugup,mereka berdua serentak membalik arah,dan saat itu Lili sudah berada di depan mereka.
Senyuman Lili membuat Edi dan Tari jadi salah tingkah.
Keduanya seperti maling jemuran yang ketangkap basah lagi mencuri cucian tetangga.
"Hai,ternyata kalian disini juga," omongan Lili terdengar aneh ditelinga Tari.
"Iya,kenapa memangnya?" tanya Tari bersikap cuek.
"Enggak kenapa-kenapa,aku hanya penasaran saja tadi saat melihat kalian dari jauh,aku pikir itu bukan kalian. Jadi,untuk memastikan aku menyusul kesini." Lili menjelaskan.
"Lo jangan berpikir yang bukan-bukan ya Li,gue enggak punya hubungan apa-apa sama Tari. Kita cuma temenan aja kok,enggak lebih." Edi berkata terus terang,biar Lili tidak salah sangka.
Dengan santainya Lili menjawab, "Mau kalian pacaran itu juga enggak jadi masalah buat aku,"
Rahmat yang duduk dibawah pohon palem terus memperhatikan Lili yang tampak masih ngobrol bersama adiknya dan juga Edi.
Dia yang juga merasa penasaran akhirnya pergi menyusul Lili.
"Tari,Edi lo berdua ngapain disini?"
Tatapan Rahmat tajam seperti hendak menerkam mereka berdua.
"Kita cuma jalan-jalan aja disini,memangnya kenapa?" Edi bertanya balik,dia tahu saat ini Rahmat pasti sedang mencurigainya,kalau dia dan Tari punya hubungan spesial.
"Jalan-jalannya kenapa harus sama adek gue?" wajah Rahmat terlihat tidak senang.
"Kenapa kakak yang sewot,suka-suka kita lah,dan lagian kami juga enggak ikut campur soal hubungan kak Rahmat sama kak Lili," jawab Tari membela.
Lili yang merasa keadaan semakin memanas,langsung mengajak Rahmat untuk pergi dari sana.
__ADS_1
"Maaf ya Tari,kak Rahmat memang suka bikin kesel,ya sudah kalian lanjut aja jalan-jalannya,kita juga udah mau pulang ni." Ucap Lili,dia menarik paksa tangan Rahmat untuk segera pergi dari hadapan mereka berdua.
Tari tidak menjawabnya,dia hanya melongos dengan kesal karena sikap kakaknya itu.
"Jangan bersikap seperti itu dengan kakak sendiri,enggak baik tahu!" Edi mengingatkan,dia sangat baik terhadap Tari akhir-akhir ini,dia juga tambah perhatian,bahkan ke mana pun Tari mengajaknya pergi,Edi selalu mengikutinya.
Sambil melangkah di pesisir pantai dengan angin yang bertiup sepoi-sepoi,Edi bertanya. "Apa tante tahu kalau kita berdua sedang dekat?"
"Tak hanya mama,papa juga tahu kalau kak Edi dekat sama aku," jawab Tari gamblang.
BUK!!!
Tubuhnya seperti tertimpa batang kayu,Edi tidak menyangka kalau ternyata hubungannya dengan Tari diketahui oleh pak Willi dan bu Dian.
Kalau begitu bisa-bisa mama dan papanya juga tahu soal ini. Sebab,mamanya Edi adalah rekan bisnis papanya Tari.
\*\*\*\*
Menjelang waktu makan malam tiba,saat semua keluarga Rahmat sudah berkumpul di satu meja makan yang sama,dia dan Tari terlihat saling buang muka,enggan bertatapan.
Hal itu membuat kedua orangtuanya bingung,apa yang terjadi di antara kedua anak mereka.
"Kenapa kalian pada diem-dieman kayak gini? Lagi ada masalah,ya?" tanya bu Dian penuh perhatian.
"Iya,ni. Biasanya mereka berdua saling nyindir-nyindir,tapi kok sekarang jadi saling cuek kayak gini,ada masalah apa emangnya?" giliran pak Willi yang bertanya.
"Ini ma Tari,kan aku sudah pernah bilang kalau aku enggak suka dia dekat sama teman aku."
"Iya,tadi siang aku ngelihat dia lagi asyik jalan-jalan sama Edi di pantai," jawab Rahmat memberitahu.
"Beneran Tari,apa yang dibilang sama Kakak kamu?" tanya pak Willi tercengang.
Rahmat tersenyum senang saat melihat ekspresi wajah papanya.
Dia sedang berharap kalau papanya berubah pikiran,dan kemudian tidak menyetujui hubungan adiknya dan Edi.
"Iya,pa." Jawab Tari singkat,dia tidak perduli dengan ekspresi terkejut papanya atau pendapat papanya soal kedekatan dirinya dan Edi. Tari malah sibuk memotong daging ayam goreng yang ada di piringnya saat itu.
"Wah,tambah bagus dong!" pak Willi tersenyum bahagia dan kemudian memuji Tari.
"Lho,papa enggak jadi berubah pikiran gitu?"
"Berubah bagaimana maksud kamu?" bu Dian kembali bersuara.
"Berubah menjadi menentang hubungan mereka berdua gitu?" pak Willi memastikan.
"Ya iyalah!"
"Huh,jadi orang ngiri banget." Celetuk Tari yang membuat Rahmat kesal.
__ADS_1
"Rahmat,kamu jangan begitu dong sama adek sendiri,dia kan juga berhak memilih orang yang dia suka. Seharusnya kamu itu ngedukung," ujar mama menasehati.
Tari yang ngerasa topik pembicaraan malam ini tidak enak didengar,dia pun memutuskan untuk menghabiskan makan malamnya dikamar.
Dia pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Sikapnya itu menimbulkan tanda tanya dibenak mereka.
"Dia pergi bukan karena marah,kan?" tanya pak Willi pada istrinya.
"Aku rasa bukan,pa" jawab bu Dian.
"Biarin aja dia ngambek,sekalian mogok makan kayaknya seru tuh!" cicit Rahmat.
"Mogok makan,emang kamu pikir Tari sedramatis itu? Palingan ni ya,kalau dia lagi ngambek makannya itu lebih banyak dari biasanya." Tutur sang mama.
"Bahkan dia bisa nambah dua kali," lanjut pak Willi ikut menimpali.
Mereka hanya bisa menduga-duga saja karena tidak tahu apa yang sebenarnya tengah di alami oleh Tari.
Di kamarnya Tari menelan makanannya dengan susah payah.
Dia kembali teringat dengan kata-kata terakhir Edi saat mereka masih berada di pantai.
"Tari,setelah hari ini kamu jangan menghubungi aku dulu,ya!"
"Kenapa?" tanya Tari heran.
"Kalau papa sama mama kamu sudah tahu tentang kedekatan kita,pasti kabar ini bakal sampai di telinga mama aku juga,dan aku yakin mama akan memaksa aku untuk segera menikah dengan Lina."
Pengakuan Edi jelas saja membuat Tari bagai ditampar berulang-ulang,seolah memaksa dia untuk segera bangun dari mimpi indahnya.
"Siapa Lina?"
"Dia wanita yang dekat dengan aku juga. Tapi,aku menganggap dia hanya teman biasa enggak lebih. Jika disuruh memilih,mama pasti lebih milih Lina,karena Lina sudah punya pekerjaan sendiri. Sedangkan kamu... Kamu masih sekolah."
Plak!!!
Lagi-lagi omongan Edi seperti menamparnya,Edi terlalu jujur mengatakannya,dia tidak sadar kalau ucapannya itu sudah membuat Tari patah hati.
Tari pun hanya tersenyum menanggapinya,dia ingin bersikap lebih dewasa.
"Apa yang kak Edi bilang memang tidak salah,Tari bisa memahaminya kok. Kak Edi tenang saja mama dan papa tidak akan berpikir kalau kita punya hubungan yang lebih dari sekedar teman."
Hari ini mungkin hari terakhir dia bertemu dengan Edi.
Tari sudah berjanji dalam hatinya untuk menfokuskan pikirannya hanya pada sekolah saja,sebentar lagi dia akan mengikuti ujian akhir semester dan dia ingin mendapatkan nilai terbaik.
Tapi,bisakah dia melupakan Edi?
__ADS_1
"Kalau aku tahu endingnya bakal seperti ini,aku enggak akan pernah mendekati kak Edi,aku benar-benar malu dibuatnya." Monolog Tari.
🌹🌹🌹