
Lili mulai memberesi semua bajunya dan memasukkan ke dalam koper,hari ini adalah hari terakhir dia berada di kosannya bunda Airin,sebelum pergi dia akan berpamitan dulu kepada wanita itu.
Semalam dia juga sudah mengatakan pada Aleta bahwa dirinya akan kembali tinggal di rumah,jadi kalau nanti Aleta pulang dari kantor tapi tidak melihat dirinya berada di kamar,Aleta tidak akan khawatir.
Kalau Sera,dia juga sudah tahu akan rencana Lili,soalnya Lili juga mengatakannya pada Sera semalam.
Sera sekarang sudah kembali bekerja di salon kecantikan mamanya Lili,dan ternyata apa yang dikatakan Lili benar. Kalau mamanya melakukan semua itu untuk membuat Sera kapok.
Tidak hanya itu,mamanya Lili rupanya juga membayari semua biaya operasi ibunya Sera,benar-benar baik hati,mertua idaman banget itu mah.
"Ma,aku sudah selesai ngeberesin semua baju ni,entar lagi aku pulang,mama jangan kemana-mana,ya? Tunggu aku di rumah!" ucap Lili saat menelpon mamanya.
Klik!
Setelah mengucapkan salam,dia kembali mematikan handphonenya.
---
Kediaman Lili...
Lili duduk bersama kedua orang tuanya diruang keluarga,sudah lama sekali dia tidak menghabiskan waktu bersama mama dan papanya.
"Lili sangat merindukan suasana hangat seperti ini." Ucap gadis itu.
"Kamu akan terus berada di rumah kan,nak.?" Tanya Pak Andi.
"Iya dong pa!" jawab Lili seraya mengangguk dan tersenyum.
"Oh iya Li,dengar-dengar sekarang kamu sama Rahmat sudah lebih dekat,ya?" bu Mawar bertanya.
Lili sudah dapat menebak kemana arah dan tujuan sang mama menanyakan hal itu pada dirinya.
"Teman dekat biasa aja ma,mama sama papa jangan berpikir yang bukan-bukan." Ucap Lili mengingatkan.
"Kok nama papa dibawa-bawa sih Li,biasanya kan mama kamu yang suka berpikir kayak begitu." Pak Andi tidak setuju dengan perkataan anaknya.
"Lho,memangnya apa yang mama pikirkan?" bu Mawar berpura-pura tidak mengerti maksudnya Lili.
__ADS_1
"Mama kan biasanya suka ngejodoh-jodohin Lili sama Rahmat,jadi siapa tahu aja ni ya,mama sedang berpikir kalau hubungan Lili dan Rahmat semakin dekat mereka mau kalau dijodohin lagi." Jelas Pak Andi secara gamblang.
Apa yang dikatakan oleh lelaki itu sama persis seperti yang istrinya pikirkan. Bu Mawar hanya bisa menahan senyumnya saat mendengar penuturan suaminya.
"Tuh kan,benar!" ujar Lili,saat melihat senyum yang terukir diwajah sang mama.
"Memang apa salahnya sih,Li. Kamu kan memang sudah cocok untuk segera menikah,mama juga sudah kepingin menimang cucu." Ungkap bu Mawar.
Ternyata wanita itu masih ingin Lili dan Rahmat bersatu,menjadi pasangan suami istri.
"Mama mulai lagi deh,nanti kalau Lili ngambek lagi dan kabur dari rumah gimana?" pak Andi menegur istrinya,beliau tidak mau hal itu terjadi lagi,jangan gara-gara keinginan konyol bu Mawar membuat Lili kembali minggat dari rumah.
"Ma,Lili bukannya enggak setuju sama usulan mama tadi,yang harus mama tahu,Rahmat itu masih sama aja seperti dulu." Ucap Lili.
Dia mengatakan alasannya tidak setuju dengan rencana mamanya.
"Ya ampun Lili... Huh!" bu Mawar menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
"Kebiasaan kayak gitu bisa di ubah sayang,kalau memang dia sudah menemukan yang terbaik." Ujar mamanya,bu Mawar sudah tahu maksud Lili saat mengatakan Rahmat masih sama seperti dulu.
"Kenapa ma? Apa Rahmat itu playboy juga?" tanya pak Andi penasaran. Soalnya beliau kurang tahu mengenai Rahmat.
Pak Andi tertawa mendengarnya,tak disangka ternyata Lili juga mendapatkan calon seperti dirinya dahulu.
Bu Mawar dan Lili menatapnya dengan pandangan berbeda-beda.
Lili baru tahu kalau papanya itu juga playboy kayak Rahmat.
Tapi,wajar aja sih. Soalnya,pak Andi waktu mudanya tampan banget.
Enggak kayak Si Buaya Berkumis itu tuh,wajah sudah hampir tertutup semua sama kumisnya. Hihihi... Enggak tahu deh,gimana caranya sampe-sampe Lili bisa jatuh hati sama si dia.
Kalau diperhatikan sih dia sebenarnya tampan juga,coba aja itu kumis dicukur,mungkin ketampanannya bisa mengalahkan ketampanan wajah Edi. Mungkin aja ni ya,bukan berarti dia beneran tampan meski tanpa kumis tebal itu.
"Kamu jangan salah paham dulu sama papa sayang,papa ini bukan playboy,hanya saja saat itu papa sedang mencari yang tepat untuk menjadi calon istrinya papa." Tutur pak Andi bercerita.
"Ya,dan caranya dengan memacari hampir seluruh siswi di kelasnya mama,kebangetan banget kan papa kamu!" celetuk bu Mawar,dengan gemas wanita itu mencubit pipi suaminya.
__ADS_1
"Wah,kalau itu sih bukan nyari yang tepat namanya ma,tapi ngumpulin pacar,hehe..." Lili tertawa mendengar cerita masa muda papanya.
"Meski playboy gini,mama tetap mau kan sama papa?" goda pak Andi.
"Itu juga karena papa selalu ngedeketin mama." Jawab Bu Mawar beralasan.
"Bukan karena papa yang deketin mama,tapi karena mama sudah terpesona sama ketampanan papa." Pak Andi menerangkan,bu Mawar tidak setuju dan beliau langsung menyangkalnya. "Saat itu kan papa selalu berusaha ngedeketin mama,makanya mama jadi luluh."
Kedua orang tua itu terus berdebat dengan kisah masa muda mereka,Lili hanya diam saja mendengarkan sambil sesekali tertawa,dia tidak ikut menimpali,soalnya waktu itu dia masih belum hadir di dunia. Lili masih berada didunia yang entah berantah.
Melihat keakuran antara mama dan papanya membuat Lili mulai berangan-angan ingin cepat menikah dan membina rumah tangga yang harmonis,sama seperti kedua orangtuanya.
\_\_\_\_\_
Hari-hari terus berlalu,semenjak kejadian di rumah makannya mbak Chika,Lili tidak pernah mau bertemu lagi dengan Rahmat.
Sudah berkali-kali Rahmat mencoba untuk menghubunginya,tapi tetap saja tidak direspon.
Lili sebenarnya kasihan melihat kesungguhan hati cowok itu. Namun,Lili tetap pada pendiriannya,dia tidak ingin ditipu lagi sama Rahmat. Lili takut jatuh hati pada Rahmat,yang pada akhirnya akan membuat dia sendiri terluka.
Hari ini Aleta dan Sera pergi bertamu ke rumah Lili,mereka baru kali ini datang ke rumahnya.
Kedua orang itu sangat kagum melihat kemewahan rumahnya Lili.
"Sepertinya kalian sudah menjadi teman yang cukup akrab setelah kepergian aku dari kos itu," sindir Lili.
"Ya elah Li,memangnya kita harus bertengkar terus kayak kucing sama tikus?" ucap Sera.
"Harusnya kamu itu senang,melihat aku punya teman,meski teman itu Sera." Tambah Aleta melirik ke arah Sera seraya tersenyum tipis.
Lili terlihat tidak bersemangat hari ini,Aleta bisa melihatnya dengan jelas.
"Kemarin,pas jam makan siang di kantor aku dengar sama Edi kalau kamu sedang menghindar ya dari Rahmat?" tanya Aleta hati-hati.
Sera hanya diam mendengarkan,sebab dia tidak kenal dengan yang namanya Rahmat.
"Iya,aku sengaja Al." Jawabnya jujur.
__ADS_1
"Lho,kenapa? Memangnya dia ada salah sama kamu?" tanya Aleta penasaran.
Untuk apa Lili menghindar dari Rahmat,biasanya orang yang melakukan hal seperti itu hatinya pernah disakiti sama yang bersangkutan. Tapi,Lili kan enggak ada hubungan apa-apa sama Rahmat,selain teman biasa.