Cinta Sejati Buaya Berkumis

Cinta Sejati Buaya Berkumis
Kemarahan Rahmat


__ADS_3

"Sekarang kamu jujur sama aku,kamu tahu aku di sini dari siapa?" dia menatap Intan dengan perasaan curiga.


"Oh itu ya? Instingku ini cukup kuat sayang,tahu aja dimana kamu berada," Intan mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum menggoda.


Dalam hati dia tertawa bahagia,karena sudah berhasil menghancurkan rencana Rahmat untuk mendekati Lili.


Sekarang Rahmat menyesal,dia sangat menyesal. Kenapa tidak memutuskan saja Intan semalam,kalau dia memutuskan cewek itu sudah pasti hubungannya dengan Lili tidak akan ada yang mengganggu.


"Kamu sudah selesai makannya,sekarang ayo temenin aku ke tempat yang tadi aku bilang!" ajak Intan.


Rahmat segera menarik tangannya yang dipegang Intan,seraya berkata. "Aku masih ada banyak pekerjaan hari ini,aku juga harus kembali ke restoran." Tolaknya,sengaja menghindar.


"Ya sudah kalau begitu,aku tidak akan memaksa." Intan malah bersikap santai,dia tidak terlihat marah mendengar penolakan Rahmat.


Intan langsung saja pergi dari warung makan mbak Chika dengan berjalan lenggak lenggok khasnya.


Gadis seperti Intan sebenarnya lebih cocok untuk Si Kumis. Tapi,kalau Lili bisa dikatakan terlalu baik untuk menjadi pendampingnya.


"Aneh! Seharusnya kan dia marah,tapi kok ini malah santai saja? Pasti ada yang disembunyikan dari aku." Rahmat bergumam. Dia yakin ada campur tangan seseorang dalam mengacaukan pertemuannya dengan Lili hari ini,tapi siapa?


Rahmat bertekad akan mencaritahu sendiri,dia harus menemukan biang kerok itu.


\*\*\*


Jauh dari warung makannya mbak Chika,tampak Edi dan Jojo sedang nongkrong di bawah pohon rindang,yang tumbuh di dekat jalan masuk gang.


"Gimana Tan,lancar nggak?" tanya Jojo tidak sabar ingin mendengar cerita menarik dari gadis itu.


"Lancar dong,aku bahkan bisa merasakan emosi Rahmat yang hampir membludak." Dia tertawa kecil,saat membayangkan wajah Rahmat yang merah padam begitu melihat dirinya datang.


Ternyata ini semua adalah ulah mereka berdua,kalau Rahmat tahu ini ulah Edi dan Jojo,sudah habis mereka kena bogem mentahnya.


"Kalau Lili,gimana? Dia terlihat marah tidak?" tanya Edi.

__ADS_1


"Kalau Lili sih menurut aku ya,dia itu cuma kesal biasa aja. Dia sepertinya kesal dengan tingkah laku aku," ujar Intan.


"Makasih sekali lagi atas kerja samanya,lain kali kamu mau kan bantuin kami lagi?" Edi bertanya,Intan segera menganggukkan kepalanya.


Kelihatannya dia senang sekali mengganggu hidup si cowok bermata keranjang itu.


"Kamu kelihatan senang banget,memangnya kamu nggak cemburu melihat Rahmat mau mendekati Lili?" Jojo bertanya heran. Karena setahu dia biasanya cewek itu suka cemburu,tapi Intan kok malah biasa aja.


"Ngapain aku cemburu? Aku sama Rahmat itu sudah putus sekitar tiga atau dua hari yang lalu,kalau nggak salah," jawab Intan mencoba mengingat-ingat.


"Apa???"


Terbelalak mata Edi dan Jojo saat mendengarnya,kalau sudah putus kenapa Rahmat sendiri tidak tahu?


"Nggak usah terkejut gitu kali,aku sama dia memang sudah putus,mungkin saja dia lupa,soalnya pacarnya kan banyak banget,jadi dia lupa siapa-siapa aja yang sudah dia putusin." Tutur Intan panjang lebar.


"Terus,tadi waktu kamu bilang kalau kamu itu pacarnya Rahmat,dia nggak jawab apa-apa gitu?" tanya Edi masih kurang yakin.


"Enggak.!" Intan menggeleng.


"Aku itu sebenarnya kesal banget sama Rahmat,makanya pas kalian suruh aku buat mengganggu pertemuan dia dengan Lili,aku langsung mau saja,karena dia itu cowok playboy!" Kata Intan.


"Kamu itu benci banget ya sama dia?" tanya Edi penasaran.


"Benci banget Ed,kalian tahu nggak waktu dia pacaran sama aku,ternyata dia juga pacaran sama teman aku,enggak tahu deh di luaran sana dia masih punya pacar lagi atau nggak." Celetuk Intan,dia menggenggam tinjunya,tangannya sudah sangat gatal ingin meninju wajah mantan pacarnya yang super duper playboy itu.


"Wah,benar-benar nggak bisa dibiarin ni,gue nggak mau Lili kena tipu sama rayuan gombal lidah buaya itu." Ucap Jojo,segitu tidak setujunya dia kalau Rahmat mendekati Lili.


"Buk!


"Buk!!!


Dua hantaman keras tepat mengenai punggung Jojo dan Edi,Intan yang berdiri di samping mereka ikut kaget melihatnya.

__ADS_1


Dan yang lebih mengangetkan lagi adalah orang yang tadi memukul mereka berdua,dia ternyata Rahmat.


Sejak kapan dia datang? Intan bahkan tidak menyadari kedatangan mantan pacarnya itu,saking sibuknya dia bercerita dengan Edi dan juga Jojo.


"Lo datang-datang mukulin kita sampe segitunya,sakit tahu!" pekik Edi,menahan amarahnya.


"Tahu ni Rahmat,seenaknya aja mukulin kita." Timpal Jojo.


"Sakit? Sakit kalian bilang? Lo berdua yang rencanain semua ini,kan? Gue nggak nyangka banget kalian sampe tega berbuat segitunya sama sahabat sendiri." Omel Rahmat,dia masih merasa kesal dengan ulah kedua sohibnya itu.


"Salah kamu sendiri,siapa suruh selingkuh di belakang aku," cicit Intan,dua bola matanya menatap Rahmat dengan sinis.


"Selingkuh? Kamu bilang selingkuh? Mungkin tadi aku lupa,tapi sekarang aku sudah ingat,kalau kita sudah putus tiga hari yang lalu. Dan kamu sengaja datang hanya untuk merusak citra aku di depan Lili. Iya,kan?" amarah Rahmat semakin menjadi-jadi.


Kali ini dia benar-benar marah sama Intan dan kedua sohibnya.


"Lo marah sama kita berdua,Mat?" tanya Jojo berlagak bodoh.


"Gimana gue enggak marah,dengan lo berdua melakukan hal ini,itu sama aja dengan menjelek-jelekkan gue di depan Lili,gue nggak bisa terima sikap lo berdua."


Jojo dan Edi hanya diam,tidak mungkin membela diri di saat seperti ini,yang hanya akan membuat Rahmat semakin marah.


"Jangan marah sama mereka berdua,seharusnya kamu itu intropeksi diri dulu Mat,kamu itu nggak pantas buat Lili,dia itu cewek baik,lah kamu cuma cowok playboy dan pengangguran." Cibir Intan.


"Plak!!!"


Satu tamparan keras mendarat dipipi halusnya Intan. Tangan Rahmat melayang begitu cepat tanpa bisa dicegah oleh Edi dan Jojo. Intan tidak tahu kalau Rahmat pantang diprovokasi saat sedang emosi seperti itu.


Jojo dan Edi segera menarik Rahmat supaya berdiri lebih jauh dari Intan,untuk menghindari bencana selanjutnya.


Intan bungkam,dia tidak menyangka Rahmat tega menamparnya. Matanya mulai berkaca-kaca.


"Rahmat!! Lo gila ya? Bisa-bisanya lo main tangan sama cewek." Ucap Edi membentak.

__ADS_1


"Lo dengar sendiri tadi kan,apa yang dia katakan? Gue itu paling nggak suka cewek songong kayak dia,apa urusannya dia sama hidup gue? Mau gue nganggur kek,mau enggak,yang penting gue nggak minta duit sama dia!" kata-kata Rahmat terdengar keras. Dia menatap Intan penuh kebencian.


Intan baru sadar sekarang,cowok yang dulu di anggapnya lembut dan baik itu,sifat aslinya ternyata kasar. Intan pikir Rahmat cuma playboy doang,eh nggak taunya dia juga berani main tangan sama cewek.


__ADS_2