Cinta Sejati Buaya Berkumis

Cinta Sejati Buaya Berkumis
Menghindar


__ADS_3

"Ngomong aja Tar pakai mikir segala,kamu lagi patah hati,ya?" mendengar pertanyaan dari kakaknya membuat wajah Tari seketika berubah masam.


"Sok tahu!" Tari menjawab ketus.


"Bisa jadi kan,lagi pula aku juga ikut senang kalau kamu enggak memiliki hubungan sama Edi,itu artinya aku tidak perlu susah payah buat memisahkan kalian berdua." Ucap Rahmat tertawa lucu.


Hanya dia sendiri yang tertawa,sedangkan Tari menatapnya tajam. Dia marah dan matanya memerah menahan amarah yang hampir meledak.


Rahmat merasa aneh melihat ekspresi adiknya.


"Mungkin hujan akan segera turun." Dia bergumam


Dengan emosi yang sudah memuncak sampai ke ubun-ubun,Tari mengambil guling di sampingnya dan memukul kakaknya dengan sekuat tenaga.


Dia menyuruh Rahmat untuk segera keluar dari kamarnya.


"Keluar! Keluar dari kamar aku!" suruh Tari berteriak.


Buk!


Buk!


"Keluar!" teriak gadis itu dan tangannya terus memukul Rahmat dengan kesal.


"Ampun! Ampun!"


Rahmat memohon sambil tertawa,ia senang karena sudah berhasil membuat Tari marah.


"Oke, oke... Aku bakal keluar," Rahmat mencoba menenangkan adiknya.


"Kamu kenapa jadi marah sama aku sih,Tar? Seharusnya kamu marah sama Edi karena dia sudah nolak cinta kamu." Tambah cowok itu.


Lagi-lagi omongan Rahmat membuat Tari semakin emosi. Duh,itu mulut kenapa enggak diem aja sih?


"Kak Rahmat itu enggak usah banyak ngomong,mending diem aja! Kalau bicara cuma bisa nyakitin perasaan aku." Tari menghentikan pukulannya,kini dia terduduk di atas kasurnya.


Pandangannya menatap kosong ke lantai tempat Rahmat berpijak. "Keluar sekarang!" suruh Tari pelan,ia sudah tidak ingin berdebat lagi.


Kedatangan Rahmat hanya mengganggu pikirannya saja. Rahmat juga tidak bicara lagi,dia cukup mengerti dan langsung keluar dari kamar Tari,sekarang dia baru sadar setelah melihat sendiri kesedihan yang terpancar di mata adiknya.


"Ini yang terjadi kalau aku terlalu berharap," gumam Tari.


Ponselnya mendadak berbunyi memecahkan keheningan di kamarnya yang luas itu.

__ADS_1


Sebelum mengangkat,dia terlebih dulu melihat siapa yang menelpon malam-malam begini.


"My love"


Nama itu tertera di layar ponselnya,Edi menelpon? Untuk apa? Tari bahkan tidak tertarik sama sekali untuk menjawab telfon dari dia.


Klik!


Tari dengan santai mematikannya,dan hal itu terus dilakukan berkali-kali. Dia sudah tidak ingin mengangkat telpon dari Edi.


Telponnya terus berdering tapi Tari tidak peduli,dia membiarkan saja Edi menghubunginya,Tari ingin melihat sejauh mana Edi mengkhawatirkan keadaan dirinya.


"Terus saja menghubungi aku. Percuma kak,aku tidak akan mengangkatnya,kita lihat nanti sejauh mana kamu sanggup berusaha untuk membuat aku kembali dekat dengan kamu,ini salah kamu sendiri. Kamu sudah menyuruh aku untuk menjauh,dan sekarang aku akan menjauh. Jadi,berhenti untuk menghubungi aku."


\*\*\*\*


Edi terus mondar mandir di kamarnya,pikirannya benar-benar kacau.


"Minggu depan mama akan melamar Lina untuk kamu,dan kamu enggak boleh membantah!" ucap mamanya tegas. "Lina adalah calon istri yang terbaik untuk kamu." Lanjut bu Maya.


"Tapi Edi sudah punya pilihan sendiri,ma." Ucap Edi.


"Kenapa sih Ed,susah bangat menerima Lina? Dia itu anaknya baik,pintar,cantik,punya pekerjaan sendiri dan dia juga berasal dari keluarga terpandang,dia itu wanita idaman banget." Pungkas mamanya.


"Edi! Kamu mau nikah sama anak yang masih bau kencur? Tari itu masih sekolah,dan dia tidak bisa apa-apa. Sedangkan Lina,dia wanita dewasa dan sudah cocok untuk menjadi seorang istri. Mama enggak mau tahu,pokoknya kamu harus sama Lina bukan sama Tari!" bu Maya kembali menegaskan.


Dia tidak ingin Edi membantah.


"Ma,dengerin aku!" Edi mencoba membuat mamanya mengerti. "Tari mungkin tidak seperti Lina. Tapi,setiap manusia itu punya kelebihan masing-masing,mama coba kenal lebih dekat dulu sama Tari siapa tahu nanti mama bakalan suka sama dia." Ujar Edi memberi saran.


"Tari itu anaknya pak Willi,kan?"


"Mama cuma kenal papanya aja,tapi tidak dengan anaknya."


"Dia itu masih anak-anak Edi,bisa apa dia? Mama pengennya kamu menikah tahun ini,dan Lina adalah pilihan yang tepat,sedangkan Tari dia bahkan belum lulus SMA."


"Dia lulus tahun ini,ma," ujar Edi,berharap mamanya merestui hubungan mereka.


"Mama tetap mau kamu sama Lina,bukan Tari!"


usai berkata begitu,bu Maya segera pergi dia menghempaskan pintu kamar Edi dengan cukup keras,membuat Edi kaget.


"Ya ampun,gue punya nyokap gitu banget,bahkan enggak bisa di ajak kompromi," keluh Edi begitu mamanya keluar.

__ADS_1


"Tari kenapa sih,dari tadi gue telponin kagak di angkat,chatt dari gue juga enggak dibalas,mungkinkah dia marah?" Edi hanya bisa menerka-nerka,sikap Tari membuatnya gelisah,dia juga menyesal karena sudah melukai perasaannya Tari disaat terakhir mereka bertemu di pantai itu.


Kata-kata yang di ucapkannya sudah menggores luka di hati gadis itu.


E : "Tari,kamu marah sama aku,ya?"


Edi berharap Tari segera membalas pesan darinya. Satu menit,dua,tiga bahkan sudah sepuluh menit Tari masih juga tidak membalasnya.


Setengah jam kemudian pesan dari Tari masuk,dan ini membuat Edi bersorak gembira,dia dengan penuh semangat langsung membacanya.


T : "Aku tidak marah,ada apa?"


Setelah membaca balasan pesan dari gadis pujaannya Edi merasa kecewa sekali,ternyata balasan dari Tari tidak sesuai dengan apa yang dibayangkannya.


E : "Tadi aku telponin kamu,kenapa kamu matiin gitu aja,apa coba namanya kalau bukan marah?"


T : "Aku sedang belajar untuk ujian besok,aku tidak ingin di ganggu!"


E : "Itu cuma alasan kamu aja,sebenarnya kamu marah kan sama aku,jawab yang jujur Tari!"


T : "Sudah dulu ya kak,aku mau tidur dulu by."


Tari bukannya menjawab,dia malah menghilang gitu aja. Edi mencoba menghubungi Tari lagi,tapi kali ini bahkan Tari mematikan ponselnya,nomornya tidak aktif.


"Akh... sial! Kenapa bisa jadi seperti ini?" Edi kesal pada dirinya sendiri,dia menyesal sudah menyuruh Tari supaya tidak menghubunginya untuk saat ini,dan tentu saja hal itu membuat Tari sakit hati.


Di saat yang sama Tari menangis sedih,dia menutup wajahnya dengan bantal. Benci sama sikap Edi yang mengabaikannya begitu aja.


Di saat cinta sudah mulai tumbuh di hatinya,disaat itu pula dia harus merasakan kecewa.


"Maafkan aku kak,bukan aku tidak mau bicara sama kamu,tapi kamu sudah membuat aku malu dengan omonganmu hari itu,seolah-olah aku yang ngejar-ngejar kak Edi." Isak Tari.


Tok... tok... tok


"Tari,kamu sudah tidur,nak?" Tari buru-buru menghapus air matanya begitu mendengar suara mamanya dari luar.


"Baru mau tidur,ma!" dia langsung menjawab supaya mamanya tidak curiga.


"Boleh mama masuk.?"


"Tari mau tidur,pintunya juga sudah Tari kunci." Ucap Tari.


Suasana kembali hening,sepertinya bu Dian sudah pergi dari depan kamarnya,karena dia mendengar langkah kaki yang berjalan menjauh dari kamarnya.

__ADS_1


Mungkin bu Dian ingin melihat keadaan putri bungsunya,apakah dia baik-baik saja atau tidak.


__ADS_2