Cinta Setelah Dia

Cinta Setelah Dia
Bab 1


__ADS_3

Ting


[Sayang, aku kangen] isi chat dari Leo, lelaki yang sudah dua tahun ini menjadi kekasihku.


[Aku juga. Kamu kapan pulang sih, sayang, tumben banget udah hampir seminggu belum selesai juga kerjaannya.] jawabku dengan manja.


[Iya, minggu depan kita ketemu yaaa. Sepertinya minggu depan kerjaan udah selesai. Aku masih sibuk urus kantor cabang, sayang ...] Jelasnya padaku.


[Minggu depan? Masih lama dong. Nggak bisa lebih cepat, yang? Aku kangen]


[Sabar ya sayangku, nanti kita langsung liburan bareng. Aku udah siapin surprise buat kamu, okay?]


[Hmm, Ya udah, aku tunggu ya. Oia yang, besok aku izin keluar ya, ada undangan pernikahan temanku.] Ucapku setelah itu.


[Sama siapa, yang?]


[Sama teman kantor.]


[Okay sayang, hati-hati ya besok. Oh iya aku minta maaf kalau besok kemungkinan aku ngga bisa hubungin kamu. Ada klien dari luar kota, aku harus menjamu mereka.]


[Nggak apa-apa, sayang. Kalau gitu sampai ketemu ya. Love you] Jawabku mengakhiri percakapanku dengan Leo.


[Love you more ...] Jawabnya. Setelah itu, kuletakkan gawaiku di nakas samping tempat tidur.


Besok aku akan menghadiri pernikahan sahabat Pak Raka, Bos ku. Ia memintaku untuk mendampinginya. Ia mengatakan sebelum acara pernikahan sahabatnya, akan ada meeting dengan klien juga. Jadi, selaku sekretaris Bos, aku harus mendampinginya.


Aku sengaja tidak mengatakan dengan detail acaraku besok kepada Leo, karena dia agak posesif. Dia tidak memperbolehkan aku pergi dengan laki-laki selain dia dan keluargaku.


Tapi tumben, saat chat tadi dia tidak menginterograsi aku seperti biasa. Kabar baik, bukan? Mungkin dia sudah semakin mempercayaiku.


🖤


Malam ini aku mengemasi semua keperluan kantor dan keperluan pribadiku. Setelah semua siap, aku makan malam dan bersiap untuk tidur karena esok jam lima pagi Si Bos akan menjemputku.


Kriiiing. Pak Raka menelepon.


"Malam, Pak"


"Malam, Luna, sudah packing kebutuhan untuk besok? Jangan sampai ada yang terlupa, ya," Sapa Bos ku dari seberang telfon.

__ADS_1


"Sudah, Pak Raka. Semua sudah siap," jawabku segera.


"Oke, besok kita boarding jam 6.30. Jadi sekarang kamu istirahat, ya."


"Baik, Pak. Terima kasih." Kuakhiri sambungan telepon. Kuletakkan kembali gawai ku di atas nakas tempat tidur. Rasa kantuk mulai datang, dan aku segera tertidur.


🖤


Alarm membangunkanku tepat pukul 04.00 pagi. Segera aku mandi, berpakaian, shalat shubuh, sarapan dan tak lupa merapihkan kamar.


Aku tinggal di kontrakan dua kamar tak jauh dari kantor. Alhamdulillaah selama tiga tahun bekerja di perusahaan ini aku sudah bisa mengontrak rumah sendiri tanpa bantuan keluargaku.


Pukul 05.00 aku sudah siap di teras dengan koper kecil dan hand bag yang selalu kubawa. Tak berapa lama, mobil Pak Raka sudah tiba di depan rumahku. Segera aku keluar dan mengunci pagar rumah. Pak Raka membukakan bagasi mobil agar aku bisa menaruh koperku.


"Pagi, Pak Raka." sapaku sambil menaruh koperku.


"Pagi, Luna. Sudah sarapan?" Tanyanya.


"Sudah, Pak" jawabku dengan mantap. Tadi aku memang sempat membuat sereal cokelat kesukaan sebelum berangkat.


"Oke, kita berangkat yaa," ajaknya sambil membantuku merapihkan koper.


Saat ingin menjawab, sepatuku tersandung batu dan menyebabkan tubuhku oleng ke depan.


Lalu aku merasakan tangan yang kokoh menahanku dari belakang. Bukannya menyeimbangkan diri, aku malah ikutan mundur dan,


"Bapaaaaak!"


'Ya ampun Luna. apa yang kau perbuat? Sepagi ini sudah jatuh tepat diatas Bos mu dengan bokongmu menempel pada dadanya' Ujar suara hatiku.


"Ma-maaf, Pak" Ujarku meminta maaf seraya bangkit dari posisiku. Ku ulurkan satu tanganku untuk membantu Pak Raka bangkit dari posisinya.


Pak Raka menerimanya, tapi kedua sudut bibirnya tertarik ke atas, menyunggingkan senyum yang membuatku benar-benar salah tingkah. Kuyakin dengan sepenuh hati dan jiwa ragaku, saat ini wajahku sewarna kepiting rebus. Oh Tuhan, aku malu!


"Hahahahaha. Luna, Luna, kamu tuh hati-hati dong kalau jalan. Dada saya sakit ..." Ujarnya sambil menepuk-nepuk bagian dadanya yang sepertinya sudah aku duduki tadi.


Kupalingkan wajahku sambil berkata dengan suara lirih, "Maaf, Pak, kesandung"


"Ya sudah ayo masuk. Nanti kita terlambat."

__ADS_1


Aku segera mengikuti perintahnya tanpa menoleh padanya. Malu!


🖤


Setengah jam perjalanan menuju bandara kami lewati dengan mendengarkan lagu-lagu lawas. Berbeda dengan di kantor, sikap Pak Raka aku perhatikan jauh lebih santai. Membuatku melupakan insiden setengah jam yang lalu.


Ia mengajakku menebak judul lagu yang sedang di putar di radio. Sering kali ia tertawa, bahkan mengejekku saat aku tak bisa menebak judul lagu itu. Ah, mengapa Pak Raka menunjukkan sifat berbedanya ini padaku ya? Ia juga terlihat lebih muda dari biasanya.


'Ahh Luna, apa yang kamu pikirkan sih? Ingat Leo, Lun!' Suara hatiku mengingatkan aku.


Pukul 08.45 kami tiba Bandara Internasional Juanda, Surabaya. Aku segera mencari supir mobil rental yang kupesan sebelumnya. Jauh-jauh hari, Pak Raka memintaku untuk memesankan dua kamar dan juga mobil rental beserta supirnya saat kami disini.


Kuamati satu-persatu papan sambutan yang ada di seberangku. Aku mencari nama Pak Raka ataupun nama perusahaan kami. Nihil. Dan seketika aku pun menjadi panik.


Segera ku telepon jasa rental mobil yang kupesan sebelumnya. Mbak Sari, sang customer service mengatakan kalau Pak Joko, sang supir sudah menunggu sejak setengah jam yang lalu di Bandara. Ia bilang Pak Joko memakai hem cokelat dan celana hitam plus kopiah cokelat.


Mataku berkeliling kembali, ku cari orang dengan ciri-ciri tersebut. Dan mataku dikejutkan dengan papan sambutan di ujung kanan yang membuatku malu luar biasa.


Tulisan Raka & Luna terketik rapi dengan dibingkai beberapa gambar bunga mawar dan sepasang burung merpati yang saling berhadapan. Oh My God. Mau ditaruh mana mukaku!


Khawatir Pak Raka melihatnya, aku segera berlari ke arah Pak Joko tanpa menoleh ke belakang. Berharap Pak Raka tidak melihatku.


"Pak, saya Luna. Dimana mobilnya?" Kuambil segera papan sambutan yang masih ia pegang. Lalu kutengok Pak Raka agar mengikutiku. Sial, ternyata dia sedang terkekeh melihat tulisan di papan itu. Ah, tak tahu bagaimana warna muka ku saat ini. Malu!


"Mari Pak, Buk, silahkan ikuti saya." Suara Pak Joko memecah kesunyian. Kami pun segera mengikutinya.


"Kamu yang pesan ini, Lun?" Tanya Pak Raka sambil menunjuk papan sambutan yang kupegang saat aku berusaha menaruhnya di bagasi bersama dengan barang-barang bawaan kami dengan senyumannya yang membuatku risih.


"Saya pesan mobilnya, Pak. Nggak dengan tulisannya. Maaf, Pak ..." Jawabku pelan.


"Duh, Luna. Makanya kamu cepetan nikah, sana. Jangan pacaran terus!" dia terkekeh, lalu diacaknya rambutku.


"Ish, Bapak nih. Bapak aja duluan cari pacar. Jangan jomblo terus!" Sanggahku sambil berlalu ke kursi penumpang.


"Hahahahah, Luna, Luna, sensi banget sih!" Di acaknya lagi rambutku.


"Ish, Bapaaaak". Kurapihkan poniku.


"Mari, Pak kita berangkat sekarang." Kata Pak Raka kepada Pak Joko setelah puas tertawa.

__ADS_1


"Luna, you've made my day ..."


Aku hanya menunduk tanpa menoleh ke arah suara itu. Dua kali aku membuatnya menertawaiku. Huh.


__ADS_2