
❤️ Bantu LIKE & VOTE ya, Dear ❤️
.
.
.
Tak ada kata yang keluar dari bibir kami saat memasuki restoran hotel. Dengan tanganku yang masih menggamit lengannya, ia menuntunku masuk.
Saat memasuki restoran, kami disambut oleh seorang petugas yang memegang buku berukuran besar untuk mendata para tamu. Lalu Pak Raka menyebutkan namanya, kemudian kami diarahkan ke meja yang telah dipesan oleh Thalia dengan posisi agak ke pojok, dekat dengan jendela.
Restoran yang terletak di lantai 1 hotel ini memiliki konsep casual dining dengan interior desain bergaya modern classic dilengkapi kombinasi kayu dan batu alam yang membuat suasana restoran terasa hangat dan nyaman.
Dekorasi restoran didominasi oleh warna emas dan putih. Pun dengan peralatan makan yang tersedia, mayoritas didominasi oleh warna putih. Semua berpadu dengan cantik, modern dan elegant.
Tak berapa lama, kami tiba di meja yang telah dipesan oleh Thalia. Terlihat Thalia yang mengenakan mini dress berwarna navy melambaikan tangannya kepada kami. Pak Raka membalas lambaiannya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya masih menempel padaku.
Aku perhatikan sekilas wanita yang ada di seberangku. Dia memang cantik. Mungkin lebih cantik dibanding aku yang biasa-biasa saja. Ah, pantas Leo memilihnya.
Kulit kami sama putih. Rambut kami sama panjang, Hanya saja rambutnya berwarna blonde, mirip seperti Barbie, sedangkan aku setia dengan warna asli rambutku. Dia memiliki bentuk mata bulat dengan bulu mata yang lentik yang membingkai matanya. Dan saat ini, matanya berwarna cokelat. Sepertinya dia menggunakan soft lense.
Posturnya yang tinggi langsing seperti peragawati menjadi kelebihannya. Dia sangat cantik, seketika aku jadi tidak percaya diri di hadapannya. Bukan salah wanita ini jika Leo tertarik kepadanya.
Setibanya di meja, Thalia menyambut kami dengan senyuman ramahnya. Saat ia mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Pak Raka, aku mengendurkan peganganku agar Pak Raka lebih leluasa bergerak.
Namun bukannya melepaskan tanganku, Pak Raka malah ganti menggenggam tanganku lebih erat. Aku sedikit kaget. Lalu ia menoleh padaku sambil mengatakan "it's okay, ada saya" tanpa suara, lalu tersenyum. Ya Allah, rupanya dia tahu aku sedang dilanda perasaan minder akut.
Thalia tersenyum melihat reaksiku. Berbeda dengan laki-laki di sebelahnya, dia memandang Pak Raka dengan sinis. Aneh, harusnya aku yang begitu, bukan dia!
Thalia dan Pak Raka lalu berjabat tangan, aku melakukan hal yang sama sambil mengatakan namaku padanha. Setelah itu Pak Raka beralih pandangan ke sebelah kanan Thalia. Ia menjabat tangan Leo.
Ada pemandangan aneh disini. Aku tak tahu apa persisnya, namun Pak Raka malah makin mengeratkan genggamannya padaku. Membuat Leo cemburu? Entahlah.
Saat tiba giliranku, Pak Raka melepaskan genggamannya. Aku menjabat tangan Leo dengan sekenanya. Tak ingin berlama-lama dipandangnya, segera kulepaskan jabatan tangan kami tanpa memedulikan dia yang masih memandangku. Kemudian kami duduk di seberang mereka.
🥀 🥀 🥀 🥀 🥀
"Ka, lo apa kabar? Udah berapa tahun ya kita nggak ketemu?" Sapa Thalia di seberang meja memecah keheningan.
"Baik, sekarang gue di Jakarta. Mungkin sudah 4 tahunan lebih ya kita nggak ketemu?"
__ADS_1
"Hemm, iya. Waktu cepat sekali berlalu ya ..." Ujar Thalia.
"... ini calon? Kapan nyusul?" Tanya Thalia kembali sambil memamerkan deretan giginya yang rapi.
"Belum tahu. Tergantung dia siapnya kapan" Jawab Pak Raka sambil menoleh menatapku, dan mengelus jemari tangan kananku yang saat ini sedang digenggamnya dengan senyuman nakal yang bisa menusuk jantungku.
Duh Gusti, ampun, Pak Raka ternyata jago akting. Dia benar-benar menjiwai perannya. Aku saja dibuat baper begini.
"Ngga usah lama-lama, Ka. Pacaran lama tuh ngga enak. Kelamaan, ntar malah diambil orang ..." sahut Thalia sambil memerhatikan aku yang sedang tersipu malu.
"Ya kan, sayang?" lanjutnya seraya menantap lelaki yang baru saja resmi menjadi suaminya hari ini.
Leo tersenyum kaku. Ia menatapku penuh selidik, lalu memanggil waiter untuk memesan menu makanan. Ah biar saja dia mau apa, aku tak perduli. Tiba-tiba cacing-cacing di perutku berteriak dan meronta. Untung saja hanya aku yang mendengarnya.
Aku sekarang memang sangat lapar, tapi aku malas memilih makanan yang ada di menu. Terlalu banyak pilihan membuat kepalaku pusing. Akhirnya aku meminta Pak Raka memilihkan menu untukku. Kami memesan menu yang sama. Yang membedakan hanya minuman saja. Pak Raka memilih jus jeruk sedangkan aku jus melon.
"Kalian ketemu dimana?" tiba-tiba Leo bertanya pada kami saat menunggu pesanan tiba. Huh dasar, kepo.
"Di kantor saya, Bro. Luna sudah beberapa tahun ini jadi sekretaris saya. Dia sih masih punya pacar sekarang. Setia pula sama pacarnya." Ujar Pak Raka tanpa jeda. Kulihat Leo mulai salah tingkah.
"Kita kesini juga karena tadi pagi ada meeting dengan klien disini. Karena Luna paham sekali dengan jadwal dan segela urusan kerjaan saya, ya saya sekalian ajak saja. Lagipula Luna bilang lagi nggak ketemu sama pacarnya, karena pacarnya lagi ada urusan bisnis juga di luar kota. Jadi dia bisa urus kerjaan juga sama saya," sambung Pak Raka.
Rahang laki-laki di seberang meja mengeras seketika, kedua tangannya terkepal, sepertinya Leo mulai terpancing. Aku hanya mampu menunduk. Aku takut terjadi apa-apa.
Pak Raka sepertinya melihat perbedaan emosi yang Leo tampilkan, namun dia sama sekali tidak terpancing. Tangan kami masih bertautan. Pak Raka tak sedikitpun merubah posisinya dariku.
"Jadi, kamu sudah punya pacar tapi masih jalan sama orang lain, begitu? Dan pacar kamu nggak tahu?" pertanyaan Leo membuatku kaget.
"Sayang, ssshh, jaga omongan kamu, jangan kaya gitu sama orang yang baru kamu kenal" Thalia berbisik di sebelah Leo.
"Hah, baru aku kenal? Aku sudah lama mengenalnya. Luna itu perempuan baik-baik yang nggak pernah sedikitpun melawanku, aku nggak nyangka kalo di ..." kalimatnya terputus saat Thalia tiba-tiba bangun dari kursinya, kemudian menarik lengan Leo dengan paksa.
"Lo tau, Ka?" dia menatap Pak Raka penuh tanya, nafasnya memburu. Keramahan yang tadi terlihat berganti dengan kemarahan yang terpemdam. Lalu dia menghela nafas.
"Luna, maaf, saya nggak tahu kamu wanita keberapa yang dipacarinya dibelakang saya. Tapi saya tahu ini bukan kesalahan kamu, melainkan kesalahan suami saya. Saya mohon maaf ..."
"Kami pamit duluan. Kalian lanjutkan saja makannya. Maaf sekali lagi atas ketidaknyamanannya. Raka, just keep in touch"
Kemudian dia berjalan melewati kami. Aku dapat menangkap tatapan bersalah pada mata Leo. Entah, dia merasa bersalah kepadaku atau kepada istrinya. Aku masih terdiam. Namun aku lega. Aku tak perlu berbuat apa-apa. Kebenaran terungkap dengan sendirinya.
🥀 🥀 🥀 🥀 🥀
__ADS_1
"Kamu nggak apa-apa, Lun?" Pak Raka menggeser tubuhnya hingga hanya tersisa satu jengkal saja jaraknya dariku. Suara Pak Raka terdengar khawatir.
Tiba-tiba saja aku memeluknya. Kubenamkan wajahku pada dada bidangnya. Sepertinya sejak tadi aku tak kuasa menahan tangis, namun aku mencoba untuk menahannya. Sesak sekali tadi di dada ini hingga rasanya ingin meledak. Namun sekarang aku lega. Dada Pak Raka menjadi tempat ternyaman untukku saat ini.
"Sudah, Lun, sudah. Saya ada disini. Sudah jangan menangis" Kata-katanya seperti nyanyian yang sangat merdu. Diusapnya air mataku dengan sapu tangannya. Dibelainya rambutku.
"Terima kasih, Pak. Maafin saya"
"Sudah, ssshhh"
"Lun, makan yuk. Tuh udah datang makanannya." Ujarnya. Kemudian aku melepaskan diri dari tempat ternyaman.
Kami menghabiskan makan dalam diam. Seperti deja vu, aku mengalaminya lagi dengan Pak Raka. Makan dalam diam, seperti siang tadi.
Setelah menghabiskan makan malam kami, Pak Raka memanggil waiter untuk membayar semua hidangan termasuk yang telah Thalia dan Leo pesan. Namun ternyata Leo telah lebih dulu membayarnya. Pak Raka hanya memberikan tip kepada waiter.
"Kamu mau balik ke kamar, Lun? Kelihatannya kamu capek banget. Kamu butuh istirahat, karena besok kita pulang" Ujar Pak Raka setelah mengecek gawainya.
"Iya, Pak" jawabku.
"Yaudah, yuk!" Ajaknya sambil mengulurkan tangannya padaku.
'Ya Allah, kenapa Pak Raka begini baik sih sama aku?'
Aku menerima uluran tangannya, kemudian kami berjalan menuju lantai lima menggunakan lift. Badanku rasanya lelah sekali, seperti habis lari tanpa henti. Aku ingin segera merebahkan diri di kamar.
Sesampainya di lantai lima, aku melihat sosok Leo disana. Dia berdiri seorang diri di depan akuarium besar. Lalu dia segera menghampiriku sesaat setelah melihat kami keluar dari lift.
"Bisa bicara berdua aja, Lun?" tanyanya padaku.
"Nggak ada yang perlu dibicarakan lagi antara kita. Kita bukan siapa-siapa lagi." Jawabku dengan intonasi yang tegas. Aku tak ingin dia tahu aku baru saja menangis lagi karenanya.
"Sebentar aja, Lun, please ...?"
Kelemahanku adalah tidak dapat dengan mudah menolak permintaan seseorang. Tapi kali ini aku tidak mau berurusan lebih lama dengannya. Sungguh aku lelah. Aku ingin merebahkan diri.
Lalu tanpa ancang-ancang, Leo menarikku ke pelukannya.
Buggggh.
"Dia bilang nggak ada yang perlu dibicarakan lagi, Bung. Jangan paksa dia!"
__ADS_1