
❤️ Bantu LIKE & VOTE ya, Dear ❤️
.
.
.
Selesai menyantap sarapan, Pak Raka beranjak ke ruang tengah yang terdapat televisi layar datar berukuran 29 inch. Ia mengganti musik klasik yang tadi mengiringi sarapan kami dengan musik masa kini. Sayup-sayup terdengar suaranya mengikuti lagu yang sedang diputar, "Say You Won't Let Go" dari James Arthur.
🎵🎵
I knew I loved you then
But you'd never know
'Cause I played it cool when I was
Scared of letting go
I know I needed you
But I never showed
But I wanna stay with you
Until we're grey and old
Just say you won't let go
Just say you won't let go
🎵🎵
Suara bariton Pak Raka yang terdengar sedikit serak, sukses membuatku meleleh. Walaupun sudah beberapa tahun menjadi sekretaris nya, tetap saja aku terpana setiap kali menndengarnya bernyanyi. Kenapa sih dia tidak menjadi penyanyi saja?
"Pak Raka kenapa nggak jadi penyanyi aja, Pak? Suara Bapak bagus, tahu ..." Ujarku tiba-tiba. Ish, mulutku ini kenapa sih? Berani-beraninya mengajukan pertanyaan konyol kepada Bos sendiri.
Pak Raka berhenti bernyanyi, ia menatapku dengan tatapan bingung. Lalu diacaknya rambutku.
"Kamu ngomong apa sih, Lun?"
"Ish Bapak, saya ngomong jujur, kok nggak percaya sih?" Aku mencebik sambil merapihkan kembali rambutku yang diacaknya.
Lalu, seperti janjiku sebelumnya, segera kuambil kapas, kain kassa dan betadine untuk mengobati luka-luka Pak Raka. Buku-buku jari yang semalam dipakainya untuk memukul Leo, kini memar dan berwarna biru keunguan, sama seperti warna pelipisnya.
Sedangkan di sudut-sudut bibirnya masih terlihat ada beberapa luka. Kuusap perlahan sudut bibirnya dengan kapas yang telah kurendam air hangat. Setelah itu, kuberikan betadine agar lukanya mengering.
Pandangan kami bertemu saat aku mengusap bibirnya perlahan. Segera kutundukkan pandangan, merasa tidak enak. Dia meringis kesakitan saat aku tak sengaja menyenggol bibirnya dengan sedikit kasar. Maklum, aku gugup dengan pandangan mata kami.
"Lun, pelan-pelan."
"Eh i-iya, Pak. Maaf" Sahutku.
__ADS_1
Kemudian terdengar nada panggilan masuk di gawainya. Segera diambilnya gawai yang ada di meja. Ia perhatikan sejenak nama sang penelepon.
"Ya Sara," sapanya. "Ini lagi sama aku. Kita baru selesai sarapan"
"....."
"Oh, langsung kesini aja ya. Kamu sama siapa, Sar?"
"....."
"Okay. Aku tunggu ya"
Klik. Ditutupnya panggilan tersebut.
"Sara sudah di parkiran, Lun. Dia mau kesini sama Arsen. Semalam dia sudah kabari saya" Ujarnya menjelaskan. Aku hanya mengiyakan saja.
🥀 🥀 🥀 🥀 🥀
Ting Tong.
Pak Raka bangkit membuka pintu kamar.
"Hai jagoan ..."
"Hai, Om. Tante Luna mana?" Tanpa menunggu jawaban Pak Raka, Arsen berlari memasuki kamar. Pandangannya menyapu segala penjuru ruangan, sepertinya dia mencari aku.
Aku yang sedang berada di dapur segera menunduk untuk bersembunyi dari lelaki kecil yang menggemaskan itu.
"Tante ... Where are you. Acen udah sampai nih." Dari balik meja makan aku melihat sosoknya yang sedang mencariku. Sebentar lagi dia akan menuju ke tempatku. Aku yang berniat untuk mengejutkannya, kini berisap-siap di balik kursi makan.
"No!" Serunya dengan suara yang sangat pelan. "Jangan kejutkan dia!" suaranya tak terdengar namun aku dapat membaca gerakan bibirnya. Aku mengangguk.
"Om Aka, Tante Luna mana? I can't find her" Ia berlari ke arah ruang tengah sambil sedikit berteriak, mencari Om kesayangannya.
Pak Raka segera bangkit dari posisinya. Ia melepaskan mulut dan tanganku.
"Arsen memiliki masalah pada jantungnya. Ia tidak boleh terlalu kaget, apalagi dikagetkan. Bisa koma, dia" Aku terdiam mendengar penjelasannya. Aku tidak menyangka anak sekecil itu memiliki masalah kesehatan yang cukup parah.
Untung saja Pak Raka datang disaat yang tepat, kalau tidak, bisa-bisa aku menjadi penyebab Arsen masuk Rumah Sakit. Tiba-tiba lututku terasa lemas. Terbayang-bayang senyum ceria anak cerdas yang akan menghilang jika Pak Raka tak datang tepat waktu.
"Maafkan saya Pak." Ujarku menyesal.
"Nggak apa, Lun. Kamu nggak tahu. Maaf tadi saya begitu. Arsen pernah masuk Rumah Sakit karena dikejutkan" Ujarnya.
Tiba-tiba saja dadaku sesak. Kalau saja Pak Raka tidak datang tepat waktu, aku tak tahu apa yang akan terjadi pada Arsen. 'Ya Allah, mengapa aku begitu ceroboh!' rutukku dalam hati.
"Ayo, Lun. Dia mencari kamu," ajak Pak Raka kemudian. Dengan sedikit gontai aku berdiri.
"Tante Lunaaaa!" Sapa Arsen saat melihatku memasuki ruang tengah. Ia memelukku. Akupun balas memeluknya. Senang rasanya bisa kembali bertemu dengan anak cerdas ini.
"Tante, aku bawakan ini buat Tante. Kata Mommy Tante suka es kopi ini" Ujarnya seraya memberikanku satu cup penuh dalgona coffee yang terlihat sangat menggoda.
"Wah terima kasih Sayang, iya Tante suka sekali" kukecup pipi lelaki kecil itu.
__ADS_1
"Awas, minumnya jangan belepotan kaya kemarin. Masa nggak malu sama anak kecil" Ujar Pak Raka sambil setengah berbisik di sampingku.
"Uhuk. Ish, Pak Raka ..." Dia melenggang pergi dari hadapanku. Terdengar tawa kecil dari bibirnya.
🥀 🥀 🥀 🥀 🥀
"Mbak Luna, sudah dicoba baju yang aku bawakan kemarin?" Tanya Sara.
"Oh iya Sar, aku belum sempat lihat-lihat ke belakang. Kayaknya masih di mobil deh. Maaf ya Sar. Kemarin sampai disini waktunya sudah mepet banget. Sebentar aku ambil dulu ya" Ujarku tak enak hati.
"Yang ini bukan, Sar?" Tiba-tiba Pak Raka datang dengan membawa satu buah plastik berwarna ungu berbentuk persegi. Aku belum pernah melihat benda itu sebelumnya.
"Iya Mas, betul. Syukurlah sudah diambil" Kata Sara kemudian. Pak Raka lalu menyerahkan bungkusan tersebut kepadaku.
"Mbak, coba dibuka. Mudah-mudahan cocok buat Mbak Luna" kubuka bungkusan plastik tersebut. Ternyata di dalamnya terdapat tiga kotak berukuran 30 x 40. Masing-masing kotak berwarna ungu yang terdapat tulisan "Sara Boutique" di depannya.
Kubuka kotak yang paling atas. Gaun lengan panjang polos selutut berwarna hitam, dengan potongan pas di tubuh. Simple namun elegant.
"Itu Body Contour Dress, Mbak. Gaun yang ngepres badan. Aku rasa cocok banget sama bentuk tubuh Mbak Luna yang sedikit berisi. Pasti Mbak sexy banget kalau pakai itu." Ujar Luna menjelaskan. Aku tersenyum, dalam hati mengernyit membayangkan bagaimana jika aku memakai gaun itu.
Kemudian kubuka kotak kedua. Gaun tanpa lengan berwarna cream dengan panjang menjuntai. Dengan aksen renda cantik yang ada di bagian pundak, dan terdapat belahan panjang di bagian kiri depan hingga ke paha namun ditengah-tengah belahan tersebut terdapat renda yang sama dengan yang di pundak.
"Nah kalau yang itu Shoulder Dress, Mbak. Mirip sabrina, bedanya yang ini benar-benar menggantung di bagian pundak. Mbak juga kelihatannya cocok pakai ini" Senyumannya mengembang saat menjelaskan gaun kedua.
Lalu kubuka kotak terakhir. Gaun sepanjang lutut yang berwarna putih tulang tanpa lengan. Bagian dadanya menyerupai korset yang diberi kain satin bertumpuk dengan warna yang sama. Ah, benar-benar gaun yang cantik.
"Nah kalau yang ini namanya Empire Waist Dress, Mbak. Gaun ini memiliki potongan pinggang yang sangat tinggi dan tepat berada pada bagian bawah dada. Cantik, ya?" Ujarnya padaku.
"Sara, semua gaunnya terlihat cantik. Tapi ini terlalu banyak buat aku. Belum lagi gaun yang kemarin aku pakai. Aku nggak enak jadinya."
Jujur saja semua yang diberikannya memang sangat cantik, tapi apa pantas aku menerima semua secara gratis? Padahal jika ditotal pasti akan mahal jadinya. Jelas aku merasa tidak pantas menerima itu semua.
"Nggak papa, Mbak Luna. Mbak kan sudah lama mengurus Mas Raka di Jakarta. Walau hanya sebagai sekretaris, tapi aku senang ada yang bisa jagain kakakku saat aku nggak disana." Ujarnya sambil menatapku tulus.
"Diterima ya, Mbak. Nggak baik lho menolak rezeki" Lanjutnya seraya menyunggingkan seulas senyum.
🥀 🥀 🥀 🥀 🥀
Jam dinding telah menunjukkan pukul 10.30. Pak Raka menyuruhku untuk mengambil barang-barang yang akan dibawa pulang. Aku pamit ke kamar, sementara yang lain tetap di kamar Pak Raka.
Aku bergegas untuk mengambil barang-barangku. Setelah selesai, segera ku kunci kembali kamarku untuk kembali ke kamar Pak Raka. Namun saat aku baru saja mengetuk kamar Pak Raka, aku dikejutkan oleh kehadiran tamu tak diundang.
Leo.
laki-laki itu tiba-tiba saja sudah berada di belakangku. Ia mendekatiku, dan aku merangsek ke sudut dinding kamar Pak Raka. Ia berusaha untuk menarikku, namun sedetik kemudian pintu kamar Pak Raka telah terbuka.
Sara terbelalak menatap kami berdua. Namun bukan hanya dia yang terkejut, laki-laki di hadapanku pun menunjukkan ekspresi serupa. Apakah mereka saling mengenal?
"Sayang, ayo masuk ke dalam!" Seru Sara tergesa kepada Arsen yang ternyata ikut mengekorinya ke depan.
"Mommy aku mau sama Tante Luna" seru Arsen kepada Sara.
"Iya, nanti Tante Luna masuk. Sekarang Arsen masuk ya, Sayang" bujuk Sara Lagi.
__ADS_1
Leo yang berada di hadapanku seketika mundur untuk mendekat ke arah suara.
"Sara?"