Cinta Setelah Dia

Cinta Setelah Dia
Bab 2


__ADS_3

Happy reading, gengs!


🖤


Kami duduk bersisian di kursi penumpang dalam diam. 10 menit kemudian kami sampai di hotel yang kupesan sekaligus tempat meeting dan acara resepsi pernikahan sahabat Pak Raka.


Kuberikan salinan email yang berisi bukti pemesanan dan pembayaran via transfer ke resepsionis, setelah itu kuserahkan kartu identitasku. Lalu sebagai gantinya, aku menerima dua buah kunci kamar hotel yang telah kupesan.


"Pak, kita ke lantai lima ya," ajakku.


Pak Raka mengangguk seraya mengikutiku masuk lift.


Sebelum Hari H, Pak Raka memintaku untuk mencari kamar yang dekat dengan ruang meeting. Dia juga minta kamar kami berdekatan. Namun yang available pada saat itu adalah Suite Executive. Kalian tahu harga permalamnya? Diatas dua setengah juta!


Aku utarakan niatku pada Pak Raka untuk pesan kamar yang biasa saja untukku. Namun dia bilang akan repot jika nanti kamar kami berbeda lantai dan membuat kami saling menunggu. Dia pun tidak merasa keberatan dengan biaya yang mahal untuk kamarku.


Akhirnya, aku menuruti perintah Bos ku ini. Dan tibalah kami di lantai lima. Kuberikan kunci kamar Pak Raka setelah kutunjukkan kamarku padanya.


🖤


Kalian tahu rasanya masuk ke kamar Suite Executive? Mataku seperti terhipnotis oleh fasilitas dan kemewahan yang ada.


Saat menuju kamar tidur utama, aku dimanjakan dengan ranjang super nyaman dengan sentuhan klasik bernuansa emas, yang diatasnya terdapat banyak bantal dan guling yang super empuk dan juga lembut, kemudian untuk melindungi tubuh kita dari udara yang dingin, tersedia selimut tebal selembut sutra di bagian bawah ranjang.


Pemandangan kota Surabaya yang terlihat begitu indah bisa aku saksikan dari jendela kaca besar yang sangat lebar, dihiasi dengan gorden berwarna emas dan putih yang senada dengan seluruh perabotan di kamar ini.


Lalu, di ruangan Suite Executive ini, terdapat satu buah kamar mandi yang luas dengan bathtub dan juga shower di dalam satu ruangan. Ah, terlihat sangat menggoda.


Semua lantai kecuali kamar mandi dan dapur, dilapisi karpet bulu yang sangat lembut dan juga cantik berwarna krem muda yang terlihat sangat matching dengan dekorasi yang ada.


Jika kita ke area dapur dan ruang makan, kita dapat melihat semua perabotan canggih dan modern yang terlihat cantik dan menggoda. Belum lagi ruang santai yang didalamnya terdapat televisi yang layar televisinya sangat lebar dan terlihat begitu elegant dengan sofa yang begitu empuk, dan juga lembut. Norak? Ya, memang aku senorak itu. Hihihi.


Ingin rasanya berlama-lama disini kalau saja aku tidak ingat pekerjaan. Lima menit memandangi semua kemewahan kamar ini, ada notifikasi masuk di gawaiku.


Pak Raka mengingatkanku untuk segera bersiap-siap karena dua puluh menit lagi meeting dengan klien akan dimulai.


Cepat-cepat aku mengganti pakaianku, berdandan tipis, dan juga memakai sepatu. Tak lupa kubawa tas kerja yang berisi berkas-berkas, binder dan juga laptopku. Ah, kerjaan rasa liburan!


Selesai bersiap-siap, segera aku keluar menuju kamar Pak Raka. Belum sempat ku ketuk pintu kamarnya, Pak Raka sudah keluar kamar. "Yuk, Lun" ajaknya.

__ADS_1


Kami langsung menuju Business Lounge, tempat meeting kami di lantai yang sama. Aku segera mencari tempat yang nyaman untuk kami. Pak Raka bilang, meeting ini untuk melebarkan sayap perusahaan di kota Surabaya ini.


Perusahaan yang dijalankan Pak Raka bergerak dalam bidang properti. Perusahaan ini sudah membangun banyak perumahan di Jabodetabek. Walaupun baru empat tahun bergabung di perusahaan ini, namun Pak Raka sudah memperoleh banyak prestasi.


Di usia yang baru menginjak 27 tahun, Pak Raka sudah menjadi sosok yang disegani oleh banyak orang. Semua karyawan pun hormat padanya.


Pukul 09.55 klien kami datang. Pertemuan berjalan lancar, Pak Raka pun berhasil mendapat izin membangun di kota ini. Lokasi yang akan dibangun pun sangat strategis. Dekat dengan tol dan lingkungannya sangat asri. Lingkungan yang sangat digemari olehnya.


🖤


Pukul 12.30 meeting dengan klien selesai. Kami bergegas ke kamar untuk mengganti pakaian. Aku memakai gaun pemberian Leo, lelaki yang ku rindu. Ah, Leo. Apa kabar dia hari ini?


["Sayang, sibuk? Jangan lupa makan ya. Jangan kecapekan. Miss you"] ku ketik pesan padanya. Hanya centang dua berwarna hitam, tanda belum dibaca. Rupanya dia masih sibuk.


Tok tok tok


Itu pasti Pak Raka. Dia bilang akan menjemputku. Untung aku sudah selesai berdandan. Segera kuambil clutch bag dan keluar kamar.


Kriet. Kubuka kamar, dan kulihat Pak Raka sedang menatapku dengan pemandangan yang entah.


"Luna, kamu ..." Seketika wajah Pak Raka bersemu merah.


"Nggak, kamu, ... ehm, kamu oke. Yuk!" Katanya sambil berlalu. Aneh.


"Lun, Thalia itu teman kuliah saya dulu. Dia sahabat mantan tunangan saya. Tolong untuk sekali ini saja, kamu bantu saya yaa,"


"Bantu apa, Pak?" tanyaku kemudian.


"Pura-pura jadi pacar saya"


"Hah, gimana Pak maksudnya? Pura-pura jadi pacar Bapak??" Tanyaku terkejut. Tentu aku kaget, tak ada hujan tak ada badai Bos memintaku untuk melakukan hal aneh itu. Sebetulnya aku takut berita ini sampai ke telinga Leo. Bisa berabe nanti. Tapi, aku tidak enak untuk menolaknya. Aku paling tidak bisa menolak permintaan orang yang dekat denganku.


"Thalia itu sahabat mantan tunangan saya. Mantan tunangan saya selingkuh. Kalau Thalia lihat saya kesini sendiri, nanti dikiranya saya trauma karena sahabatnya. Saya nggak mau, Lun. Tolong saya, ya?" Pintanya dengan nada memohon.


"Ehm gimana ya, Pak" aku menimbang-nimbang sambil berjalan di belakangnya.


"Hari ini saja, Lun. Please ...?" Ujarnya lagi dengan menangkupkan kedua tangannya tanda memohon.


"Okay, Pak. Tapi nggak aneh-aneh ya, Pak" Jawabku sambil berjalan di belakangnya.

__ADS_1


"Sejak kapan saya pernah melakukan yang aneh-aneh, sih? Emang pernah?" Tanyanya.


"Tapi terima kasih ya, Lun." Seketika wajah Pak Raka berbinar mendengar jawabku.


Setelah permintaan itu, kami berdua menuju ruang resepsi yang terletak di lantai satu. Lalu sesampainya di lantai satu, Pak Raka berbisik padaku, "Luna, lingkarkan tanganmu di lenganku. Kamu harus ingat kalau saat ini kita sepasang kekasih."


Aku menunduk malu, tapi segera kulingkarkan tanganku ke lemgannya. Masih saja aku menganggap dia Bos yang bisa saja memecatku bila aku tidak mengikuti arahannya. Padahal ini kan hal diluar pekerjaan.


Dari jarak tiga meter sudah terlihat betapa megahnya aula resepsi itu. Dekorasi bernuansa emas dan putih menambah mewah dan megah ruangan tersebut. Bunga-bunga yang indah ada di sepanjang koridor menuju aula. Belum juga masuk ke dalam, aku sudah terkesima dengan pemandangan di depanku. Cantik.


🖤


Berjalan tak jauh dari aku dan Pak Raka, ada dua orang pria yang sepertinya hendak menghadiri resepsi pernikahan sahabat Pak Raka juga.


Salah seorang pria berambut plontos berkata "Bro, lo inget Leon kan? Gue nggak nyangka dia akhirnya nikah sama Thalia. Dia kan playboy. Dari dulu suka main cewek."


"Eh, lo jangan gitu. Positive thinking aja lah, udah berubah kali dia. Lagian juga Thalia kan cinta mati sama Leon, inget kan mereka tuh putus-nyambung dari jaman kuliah." Pria satunya menimpali dengan ekspresi datar.


Pria plontos kembali berkata, "Ya, ya, ya, semoga aja. Baru dua minggu yang lalu gue liat si Leon sama cewek soalnya. Dia bilang sih cewek itu kerja di PT. Lembayung Biru, Tbk. Cantik sih, kayanya dia sekretaris disana."


Deg! PT. Lembayung Biru? Itu kan nama perusahaan tempatku bekerja. Apa mereka sedang membicarakan aku dan Leo? Tunggu, siapa nama mempelai pria yang menikah dengan Thalia?


Dengan tak sabar, segera ku tarik lengan Pak Raka hingga ia lebih dekat ke arahku. Ia kaget, namun segera menoleh penasaran padaku "Ada apa, Luna?"


"Pak, siapa nama laki-laki yang menikahi sahabat Bapak?" jantungku berdetak dengan cepat saat aku menanyakan hal itu pada Pak Raka.


"Leon" jawabnya.


"Leon siapa Pak???" Tanyaku sambil menahan emosi yang makin tak jelas ini.


"Tenang Luna, saya isi daftar tamu dulu ya." Katanya sambil melepas tangannya dariku. Ternyata kami memang sudah ada di depan aula resepsi pernikahan Thalia. Dan kami harus mengisi daftar tamu undangan, dengan menyerahkan kertas kecil sebagai bukti kami adalah tamu undangan yang resmi.


"Thalia & Leon's Wedding"


Tulisan itu menyambut kami para tamu undangan. Mataku berkeliling mencari foto pre-wedding kedua mempelai, namun aku harus masuk ke dalam karena semua berjajar di dalam sana.


"Tuh, Thalia dan Leon. Saya nggak kenal dengan Leon. Jadi saya nggak bisa kasih tahu kamu siapa dia." Ujar Pak Raka sambil menunjuk tulisan itu.


Di kursi pelaminan sudah ada sepasang mempelai yang duduk bersanding dengan pakaian bernuansa emas. Namun aku belum bisa melihat jelas karena aku dan Pak Raka masih berada jauh dari mereka.

__ADS_1


__ADS_2