Cinta Setelah Dia

Cinta Setelah Dia
Bab 7


__ADS_3

❤️ Bantu LIKE & VOTE ya, Dear ❤️


.


.


.


Sesaat sebelum keluar dari ruangan, kulirik penampilanku di cermin. Cantik. Maksudku lumayan. Sara ternyata memiliki banyak bakat dan kemampuan di bidang fashion dan kecantikan.


Kulihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 18.30. Sepertinya sudah saatnya aku dan Pak Raka segera berangkat. Lalu aku berjalan ke arah tangga ulir berwarna putih tulang.


Di lantai bawah tepat di depan tangga, Pak Raka telah berdiri menungguku dengan kemeja berwarna maroon yang senada dengan warna gaun yang kukenakan saat ini, padahal kami tidak janjian.


Wajahnya mengisyaratkan keterkejutan. Dengan rahang yang terlihat kaku dan bola matanya yang sedikit membulat, aku tahu ia sedang terkejut. Entah apa yang dia lihat. Apakah penampilanku seburuk itu di mata Pak Raka? Atau dia terkejut karena melihatku sedikit - berbeda?


Ya, tentu saja berbeda. Penampilanku malam ini pasti membuat siapa saja yang mengenalku merasa pangling. Aku dengan rambutku yang bergelombang, lipstick berwarna maroon, dan gaun yang membentuk tubuh ini, sama sekali bukan aku yang biasa.


Dengan kedua mata yang masih memperhatikan penampilanku dari atas hingga bawah, Pak Raka sukses membuatku grogi. Bagaimana tidak, ia seperti menilaiku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Matanya pun tak berkedip saat melihatku menuruni tangga. Kan ngeri.


"Mas, gimana karyaku??" Tanya Sara sedikit berteriak di belakangku, membuatnya tersadar seketika.


Lalu seperti tersadar pada lamunannya, mata Pak Raka berkedip beberapa kali. Setelah itu, dia melepas pandangannya dariku, kemudian memberi dua acungan jempol ke arah Sara dengan senyum yang manis seperti biasa.


"You're the best, Sayang" katanya menjawab pertanyaan Sara.


"Yes!" Sara mendesis di belakangku.


Berjalan menuruni anak tangga dengan sedikit gugup. Jujur saja aku jarang sekali berpenampilan seperti ini dengan pria dewasa selain Ayah dan Leo.


Selain karena sifat Leo yang posesif, aku juga selalu menjaga jarak dengan pria manapun saat sedang berada dalam sebuah hubungan. Kecuali untuk urusan perkerjaan. Itupun, tak pernah aku berpenampilan yang aneh-aneh apalagi seksi. Aku selalu menjaga penampilanku agar tidak terlihat mencolok.


Begitulah aku, selalu berusaha untuk menjaga hubungan dengan orang yang aku sayang. Padahal belum tentu orang itu melakukan hal yang sama denganku. Mengingat kejadian siang tadi saja membuat perutku mual.


Sesampainya pada anak tangga terakhir, Pak Raka menatapku, lalu ia bertanya


"Sudah siap untuk berangkat, Lun?"


"Sudah, Pak." segera kujawab.

__ADS_1


"Sara, kami jalan sekarang ya. Em, besok kami berangkat pukul 13.15. Takut besok nggak sempat ketemu, sekalian pamit yaa. Terimakasih banyak bantuannya. Nanti kirim aku email untuk semua" kata Pak Raka.


"Iya Mas hati-hati ya. Besok aku datang ke Bandara sama Arsen." Jawabnya.


"Urusan baju, nggausah dipikirin. Aku seneng bisa ikutan bantu. I like her" jawab Sara sambil berbisik, tapi dengan posisinya masih berada dekat denganku tetap saja aku bisa mendengarnya. Pak Raka menanggapi pernyataan adik kesayangannya dengan tertawa kecil.


Lalu dari arah belakang, Lily, karyawan Sara yang Ada di bagian pakaian pria datang bersama Arsen.


"Bu Sara, pesanannya sudah saya masukkan ke dalam mobil Pak Raka"


"Makasih Lily"


Lalu, Lily membalas dengan senyuman, dan kembali ke tempatnya tanpa Arsen yang mengikuti.


"Mbak, kapan-kapan main sini lagi ya. Nanti aku ajak Mbak keliling Surabaya. Mbak harus cobain Sego Sambel. Wuenake puoll" Ujarnya padaku. Tubuhnya memelukku dengan hangat. Kubalas pelukannya sambil menyunggingkan senyum. Ah, senang rasanya memiliki orang yang peduli dengan kita.


"Iya, Tante Luna. Kapan-kapan kesini lagi sama Om Aka ya." Arsen menimpali sambil memegangi rubik di tangannya.


"InsyaaAllah, Sayang. Nanti tante main kesini lagi ya. Sara terimakasih bantuannya ya. Oh ya, ini baju gimana?"


"Bawa aja Mbak, buat Mbak Luna kok. Sama yang di mobil Mas Raka juga buat Mbak Luna"


"Nggak Mbak, santai aja."


Lalu Sara mendekatiku, setengah berbisik dia mengatakan


"Sebagai bayarannya, Mbak harus berakting dengan sangat baik malam ini ya. Bikin mantan Mbak menyesal pokoknya!" dia tersenyum menyeringai.


"Insyaa Allah" jawabku.


"Mas, jagain Mbak Luna lho malam ini. Jangan biarin Mbak Luna nangis. Awas sampe dia kenapa-kenapa!" Ancam Sara.


Pak Raka menyatukan jari telunjuk dan jempol hingga membentuk angka nol kepadanya.


"Udah ya, kami jalan. Lain kali kami datang lagi. Okay jagoan, ingat pesan Om, jangan marah-marah sama Mommy. Jagain Mommy ya!"


"Siap, Om!" jawab Arsen dengan tangan kanan diletakkan di sisi kanan kepalanya dengan posisi hormat.


Lalu Arsen mendekati Pak Raka dan memeluknya. Pak Raka membalasnya dengan merengkuh tubuh Arsen dan membawanya ke arah mobil yang kami sewa. Aku dan Sara mengikuti mereka.

__ADS_1


Pandangan Adisty yang saat ini ada di pintu masuk saat aku melewatinya sungguh membuat rasaku mencelos. Bagaimana tidak, ia tersenyum manis kepada Sara, Pak Raka dan Arsen yang berjalan lebih dulu. Sedangkan kepadaku, tatapannya sangat tajam dan tak ada senyuman tersungging di bibirnya. Ada apa dengan dia? Tak kuhiraukan tatapannya. Kuikuti saja mereka bertiga.


Sesampainya di parkiran, Pak Raka menurunkan Arsen. Sara memelukku sekali lagi diikuti Arsen yang memelukku malu-malu.


Lalu Pak Raka membukakan pintu untukku. Dan setelah itu kami pamit untuk yang kesekian kalinya.


"Kami jalan yaaa. See you"


"Bye Om Aka, bye Tante Luna. Take care." Arsen melambaikan tangannya di gendongan Sara. Dan kamipun meninggalkan mereka yang masih memandangi kepergian kami.


🥀 🥀 🥀 🥀 🥀


Mobil berjalan lambat membelah Kota Surabaya. Mungkin Pak Raka ingin menikmati perjalanan ini yang entah mengapa berbeda dengan Jakarta.


Beberapa menit berlalu dalam hening. Kemudian aku mulai melihat bangunan hotel yang akan kami singgahi. Jantungku mulai berdetak lebih cepat. Tanganku mulai dingin.


Sepertinya Pak Raka menyadari kegelisahanku.


"Kamu gugup? Kalau mau nangis, nangis sekarang Lun. Mumpung kita masih disini. Jangan kamu tunjukkan sedikitpun kelemahan kamu di dalam sana, ya." Ujarnya sambil sesekali menengok ke arahku dari pandangannya ke jalan.


"Saya bisa kok pinjamkan tangan saya untuk kamu genggam" lanjutnya.


Kemudian aku terisak sedikit.


"Makasih Pak. Mudah-mudahan saya nggak nangis depan dia" Ujarku kemudian.


Lalu tanpa persiapan dan tanpa pemberitahuan sebelumnya, tangan kiri Pak Raka sudah menggenggam tangan kananku. Dia tersenyum, namun pandangannya lurus ke depan. Ke arah jalan. Genggamannya hanya sebentar. Tapi terasa hangat.


Sejurus kemudian mobil yang dikendarai Pak Raka memasuki hotel. Lalu kami memasuki area basement dan memilih lokasi yang dekat dengan lift.


Dia mematikan mesin mobil, lalu dengan cepat membukakan pintu untukku. Ah, sebetulnya aku tidak suka begini. Tidak enak rasanya diperlakukan seperti ini oleh Bos ku.


"Pak, ngga usah repot-repot saya bisa sendiri" Ujarku sambil merapihkan gaunku saat turun dari mobil. Dia hanya tersenyum.


"Pegang tangan saya ya. Kalau nanti kamu nggak kuat, ingat saja, ada saya di samping kamu." Ujarnya seraya memberikan satu tangannya kepadaku. Aku melirik sekilas penampilanku di badan mobil.


"Kamu cantik, Luna. Dia akan menyesal sudah mengkhianati kamu" lanjutnya lagi, sambil berjalan disampingku.


Perjalanan ini terasa berbeda. Ada gelenyar aneh di dada saat mengingat ucapan Pak Raka tadi. Apalagi saat ini aku menggenggam tangannya.

__ADS_1


Kami pun berjalan dalam diam.


__ADS_2