Cinta Setelah Dia

Cinta Setelah Dia
Bab 34


__ADS_3

Hari sudah menunjukan pukul 18.30. Pak Raka sudah berpamitan sejak satu jam yang lalu. Ah, rasanya aneh jika aku dan dia sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan sedang aku baru saja dilamar olehnya. Bagaimana nasib pekerjaanku? Akankah aku tetap bisa menjadi sekretarisnya nanti?


Entahlah. Biar waktu saja yang menjawab. Saat ini aku hanya perlu memikirkan hari ini dan esok. Yang belum terjadi, biar berjalan sesuai dengan rencana-Nya.


Aku bersiap untuk memasakkan makan malam. Kali ini aku berencana untuk memasak tumis udang goreng terasi, cah kangkung, tempe goreng dan juga sambal terasi sebagai pelengkapnya. Mas Arya tadi memintaku memasak udang kesukaannya. Ternyata ia sudah menyiapkan bahan-bahannya saat aku pergi. Entah kapan dia membelinya, sedangkan di rumah sedang banyak tamu.


"Mas Arya kapan beli bahan-bahan ini? Kok udah siap aja di dapur?" Aku akhirnya tak tahan untuk bertanya kepadanya saat ia membantuku memotong kangkung dan mengiris-iris bawang dan cabai di dapur. Bunda sudah berangkat ke Rumah Sakit menjenguk tetangga yang melahirkan, jadi Mas Arya berinisiatif untuk membantuku di dapur.


"Kemarin mas nitip tukang sayur langganan Bunda yang biasa keliling komplek. Pas kamu pergi, barangnya dateng."


"Ooh, enak ya Mas sekarang Bunda nggak perlu repot-repot belanja ke pasar."


"Ya masih suka ke pasar kalau di rumah bener-bener nggak ada bahan masakan, Lun. Biasanya dua minggu sekali Bunda belanja. Mas yang anter. Kadang Brian juga suka anter."


"Brian?"


"Iya, udah beberapa bulan ini dia deket sama Bunda. Ya, mungkin awalnya untuk nanya-nanya kamu, tapi akhirnya Brian jadi deket beneran sama Bunda." Ia mengambil baskom kecil untuk menaruh kangkung yang telah disiangi.


"Kasian sebetulnya anak itu. Dia kelihatan banget ngarepin kamu bisa jadi ceweknya." Aku mendengarkan penjelasan Mas Arya sambil mulai memasukkan irisan bawang merah, bawang putih dan cabai rawit merah ke dalam wajan datar yang telah aku beri margarin untuk memasak tumis udang.


"Brian emang nggak pernah ngubungin kamu selama kamu di Jakarta, Lun?"


"Jarang Mas." Aku mengingat-ingat lagi. "Ya pernah sih beberapa kali, ngegoda-godain aku, watsap nggak jelas gitu. Ya aku nggak gitu ladenin. Aku kan pada saat dia watsap gak jelas masih sama Leo." Aku menjeda ucapanku sambil memasukkan udang yang masih lengkap dengan kulitnya ke dalam wajan datar yang telah terisi irisan bawang dan cabai.


"Lagian aku kan sama dia udah lama banget nggak ketemu, Mas. Jadi kalaupun dia mau deketin aku ya agak sulit buat aku. Dia nggak ngasih sinyal cinta sih, cuma watsap iseng gitu. Mana aku paham, Mas. Aku aja kaget liat dia sekarang jadi anak band. Banyak fans nya pula." Aku memasukkan sedikit garam, bumbu penyedap, gula putih dan juga terasi.


"Mas tahu nggak, aku sempet dilabrak sama ABG gitu pas diajak makan pecel ayam sama Brian. Ditambah lagi Lindsay, duh pusing aku. Nggak kuat kalau aku harus jalan sama Brian. Ciyus deh, fans nya nyeremin, Mas!" Aku menoleh ke arahnya dengan wajah serius. Mas Arya tertawa terbahak-bahak saat aku bergidik mengingat kejadian kemarin.


"Kamu ketemu sama fans-fans garis kerasnya? Ya Allah Luna, kasian adekku. Mas juga pusing, setiap kali manggung tuh fans nya membludak. Kita sampai harus nyiapin tiket tambahan padahal dia belum jadi ngeluarin album. Bener-bener gila emang tuh Brian!" Dia lalu menyerahkan baskom berisi kangkungnya padaku.


"Kalo Lindsay tuh, deket banget ya Mas sama kalian? Maksudku, kok Bunda juga sampai kenal banget kayaknya?" Aku meletakkan tumis udang terasi yang telah aku cicipi ke dalam piring saji berbahan keramik berbentuk oval berwarna putih. Entah kenapa Bunda suka sekali mengoleksi perabotan dapur berwarna putih. "Hem, enak!" ucapku puas.


"Dia tuh fans pertamanya Brian. Dia selalu datang kalau Brian manggung, sampai akhirnya Mas nggak tega ngeliat dia beberapa kali pulang malam sendirian. Mas inget kamu, kalau dia kamu bagaimana, akhirnya Mas kasih tumpangan. Dan akhirnya dia jadi deket sama kita. Dia bener-bener care sama semua yang deket sama Brian. Padahal Brian nggak terlalu notice Lindsay, ya karena sepertinya dia nunggu kamu ..."

__ADS_1


"... Ya semoga nanti cintanya berbalas ya Lun. Mas kadang kasihan sih sama dia. Ya tapi emang Lindsay suka bikin jengah sih, belum jadi apa-apanya Brian udah posesif. Ya kan laki-laki juga suka nggak nyaman sama perempuan yang posesif."


Aku tertawa, teringat sikap Lindsay kepadaku kemarin. Tapi, sudahlah, semoga mulai besok dia akan bisa menakhlukan hati Brian.


"Luna, Raka itu laki-laki yang baik. Mas seneng kalau dia yang akan jadi suami kamu. Dia mengaku kaget, bener-bener nggak tahu kalau ternyata kamu itu adek Mas. Dia bilang seneng banget karena udah kenal keluargamu sebelum mengenal kamu." Ia meremas pundakku, "semoga kamu bahagia ya, Lun."


Aku berbalik ke arahnya. Aku kecilkan api kompor yang terdapat wajan berisi cah kangkung di atasnya. Aku memeluk kakakku satu-satunya dengan erat. Aku sangat menyayanginya. Semoga kelak ia mendapatkan kebahagiaan yang sama denganku.


Setelah itu, ia mandi. Aku meneruskan masakanku. Tinggal menunggu cah kangkung matang, lalu ku goreng tempe dan membuat sambal terasi dengan cepat.


Alhamdulillaah, masakanku matang dengan sempurna saat Mas Arya keluar dari kamarnya. Setelah itu, kami makan berdua. Mas Arya sangat menikmati masakanku. Ah, besok aku akan kembali ke Jakarta. Aku pasti akan merindukan Mas Arya dan Bunda.


🍃


Pukul 21.00 aku pamit ke kamarku kepada Mas Arya dan Bunda yang telah sampai setengah jam yang lalu.


Sedari tadi, sejak memasakkan makan malam hingga sekarang, aku hanya mengecek gawaiku sesekali. Ternyata ada empat panggilan tak terjawab di gawaiku. Semua dari Pak Raka. Ya Tuhan!


Tuuuut.


"Sayang,"


"Ehm, iya Pak. Maaf baru masuk kamar."


"Pak?! Kamu masih panggil Pak?!"


"Ehm, iya maaf saya belum terbiasa Pak. Maaf."


"Ya udah nggak papa. Pelan-pelan ya. Sayang mau tidur jam berapa?"


"Abis telfon Bapak, kayaknya." Aku meringis. Sepertinya aneh sekali. "Eh, abis telfon Mas, saya tidur ya."


Ia tertawa mendengar ucapanku. "Ya udah, Mas aja nggak papa. Kamu besok mau pulang jam berapa, Lun? Saya jemput ya?"

__ADS_1


"Eh, nggak usah Pak, eh Mas, jauh-jauh jemput saya nanti capek di jalan loh. Saya pulang sendiri aja. Nggak apa-apa kok beneran."


"Nggak jauh kok sayang, saya sekarang di hotel deket rumahmu. Setengah jam juga sampe."


"Hah? Pak, eh Mas, Ya Allah kok nggak bilang-bilang? Kok gitu sih?"


"Kamu kan nggak nanya? Kenapa emangnya kalo saya bilang? Mau kesini? Nggak boleh sayang, nanti aja ya kalo kita udah nikah." Ujarnya membuatku salah tingkah.


"Ish, enggak Mas, apaan sih? Aku cuma ngga enak Mas jauh-jauh sampai nginep disini karena mau anter aku pulang," Ujarku sambil memainkan gelang yang baru saja diberikannya padaku.


"Nggak papa sayang, ya udah besok saya ke rumah jam sebelas ya. Masakin yang enak ya sayang. Lidahku udah ketagihan sama masakan kamu. Pusing kalo nggak dimasakin kamu."


Ya Tuhan, dia memang selalu bisa membuatku tersenyum, dia juga selalu bisa membuat pipiku memanas.


"Insyaa Allah." Aku menjeda kalimatku yang sedang gugup karena ucapannya barusan.


"Ya udah, sata tidur ya Mas. Mas juga jangan kemaleman tidurnya."


"Ia, sayang. Sampai besok ya."


"Iya."


"Luna ..."


"Ya Mas?"


"Kamu bahagia?" Mendengar pertanyaan itu aku langsung menunduk, malu. Jelas-jelas kami hanya berbicara lewat telepon, namun entah mengapa aku tetap melakukan itu.


"Iya."


"Terima kasih ya kamu udah menerima saya. Saya sayang sama kamu. Saya akan berusaha menjadi yang terbaik untuk kamu, Luna. Saya janji." Jantungku berdebar. Rasanya nyaman sekali mendengar ucapannya barusan.


"Iya, terima kasih juga udah memilih saya. Mmm, ... saya ... Selamat tidur Mas, saya tunggu besok ya." jawabku kemudian.

__ADS_1


Ia menghela napas. "Iya Luna, selamat tidur ya. Bye sayang ..."


Aku menutup telepon. Maaf Pak Raka, aku belum bisa mengatakan sayang untuk saat ini. Mungkin nanti, aku harap kamu mau bersabar ya ...


__ADS_2