Cinta Setelah Dia

Cinta Setelah Dia
Bab 9


__ADS_3

❤️ Bantu LIKE & VOTE ya, Dear ❤️


.


.


.


Pukulan Pak Raka yang sangat tiba-tiba sukses membuat Leo jatuh terjengkang. Sedangkan aku, beruntung tidak ikut jatuh karena Pak Raka dengan cepat menahanku sehingga aku hanya sempat terhuyung ke depan.


Leo yang terkejut mencoba untuk bangkit dari posisinya. Ia mencoba menarikku agar kembali ke sisinya lagi namun tak bisa. Aku sudah lebih dulu berlari ke arah Pak Raka.


"Aduh" umpatku yang terjatuh di samping Pak Raka saat berusaha berlari ke arahnya. Pak Raka segera menarik tanganku sehingga posisiku kini telah berdiri di belakangnya.


Leo maju ke arah kami, ia berusaha untuk menarik kerah kemeja Pak Raka namun tentu saja berhasil ditepis olehnya.


"Hey Bung, apa-apaan nih? Saya pacarnya. Saya lebih berhak atas dia." Ujar Leo dengan angkuhnya.


"Pacar? Coba kita tanya Luna. Betul Lun dia pacar kamu?" Ujar Pak Raka yang kini menggenggam tanganku sedangkan aku masih berdiri di belakangnya.


"Mantan, Pak. Dia mantan saya" jawabku tegas di belakang Pak Raka.


"Dan kita udah nggak punya hubungan apa-apa lagi ya" lanjutku.


"Lun, please ... Aku perlu bicara sama kamu, sebentar aja, Lun. Biar aku jelaskan dulu" Leo membujukku. Ia tetap berusaha mendapatkan perhatianku.


"Nggak ada yang perlu dibicarakan lagi. Tolong, saya lelah." jawabku memelankan suara, namun tetap tegas.


"Sudahlah Bung, anda dengar kan, dia lelah." Ujar Pak Raka.


"Cih" ujarnya menanggapi kata-kata Pak Raka.


"Lun, ayolah Lun. Kamu tahu kan aku sayang kamu?"


"Sayang?" tawaku menyeringai.


"Sayang macam mana? Sudahlah saya ingin istirahat. Saya benar-benar lelah. Capek ... Kamu tolong pergi dari sini" Ujarku kemudian dengan suara lirih.


"Kamu udah nggak mau lihat aku? Atau mungkin benar perasaanku, kamu udah selingkuh sama laki-laki ini, hah??"


Saat ini Leo benar-benar emosi. Dia mencoba menarikku dengan paksa. Namun Pak Raka mendorongku menjauh ke belakang, sedangkan ia berusaha untuk menghalau Leo agar tak bisa menggapaiku. Beruntung disini sepi. Hanya kami bertiga.


"Hey, sabar Bung. Jangan paksa dia!" Cegah Pak Raka yang sedang menghalau Leo agar tak mendekatiku.


"Jaga bicara kamu, ya! Kamu yang selingkuh, tapi malah saya yang kamu curigai. Ingat, apapun yang saya lakukan mulai sekarang sudah tidak ada hubungan nya lagi dengan kamu!" Kuhela nafasku yang memburu. Tak kuat rasanya menahan rasa yang sedari tadi menghimpit dada.


"Pak, sudah Pak, cukup! Jangan ladeni dia. Kita pergi aja, Pak!" Ujarku kepada Pak Raka yang ada di hadapanku, menghalangi jarak pandang Leo kepadaku.


Sepertinya Leo sudah hilang akal, ia geram dengan sikap Pak Raka yang selalu berusaha menghalanginya, sehingga terjadilah duel diantara mereka berdua.


Buggggh


"Jangan ikut campur. Ini urusan kami berdua!" Ujar Leo yang berhasil meninju mulut Pak Raka. Pak Raka terhuyung ke belakang, namun berhasil untuk menyeimbangkan dirinya. Lalu dengan sigap kembali menyerang Leo tepat di pipinya.

__ADS_1


"SUDAH, STOP. KUMOHON HENTIKAN!!!" Aku sudah tak sanggup lagi menonton duel antara mereka berdua. Sungguh, Aku takut ...


Kemudian, terdengar suara ting dari lift yang berada di dekatku.


"TOLONG STOP!" Aku berteriak namun kali ini suaraku terdengar parau.


Pak Raka mendengarku. Ia berbalik, namun naas, saat ia berjalan ke arahku, Leo meninju kepalanya lagi dari arah belakang. Pak Raka terjatuh dengan kepala membentur lantai dengan bunyi yang sangat keras.


"Gila kamu. Pergi!!!" Kumaki Leo sekuat tenaga. Kuacungkan telunjukku di depan wajahnya. Aku tahu dia paling benci jika aku melakukan itu. Perlahan dia melangkah menjauh.


"Pak .... Pak Raka bangun Pak." Aku terisak di sampingnya. Kuangkat kepala Pak Raka dan kuletakkan diatas pangkuanku. Matanya terpejam. Aku benar-benar takut.


🥀 🥀 🥀 🥀 🥀


Tak menunggu lama, datanglah seorang Cleaning Service yang sedang membawa peralatan kebersihan. Aku memintanya untuk membantuku mengangkat Pak Raka ke kamarnya.


Sesampainya di kamar, kuminta ia membopong Pak Raka ke ranjang. Setelah itu, aku menyuruhnya mencarikan perban dan betadine untuk luka-lukanya.


Setelah memberikan apa yang aku butuhkan, kuberikan ia dua lembar uang lima puluh ribuan yang ada di clutch bag ku. Tak lupa kuucapkan terima kasih padanya. Lalu kukunci pintu kamar Pak Raka.


"Pak, ... Pak Raka" Dia mendesis, lalu memegangi kepalanya.


"Luna, saya dimana? Orang itu kemana? Kamu ngga apa-apa?" Dia mencoba bangun tapi sepertinya ada sakit yang dirasa. Kemudian kusuruh ia untuk berbaring kembali.


"Bapak di kamar. Leo udah pergi. Saya nggak apa-apa, Pak. Bapak tiduran dulu. Sebentar ya, Pak. Saya mau ambil handuk untuk kompres lukanya." Ujarku kemudian.


Segera kuambil handuk kecil di kamar mandi, lalu kurendam dengan air panas untuk mengompres lukanya. Ada beberapa luka yang dihasilkan dari insiden tadi. Luka di kepala belakang dan di pelipis kanan, serta beberapa luka di sudut-sudut bibir dan buku-buku jarinya.


Seumur-umur menjadi sekretaris nya, belum pernah sekalipun aku melihat Pak Raka seperti ini. Tapi sekarang, aku malah menjadi penyebab banyaknya luka di wajah dan tangan Pak Raka.


"Pak, maafin saya ya. Hari ini saya udah benar-benar ngerepotin Bapak. Terutama barusan. Bapak jadi babak belur karena saya. Saya benar-benar minta maaf, Pak ..." Ujarku saat meletakkan handuk hangat di atas kepala Pak Raka.


"Ssshh, nggak usah minta maaf, Lun. Saya nggak apa-apa. Kamu nggak apa-apa, kan?" Ucap Pak Raka menenangkanku.


"Saya nggak apa-apa, Pak. Terima kasih sudah menyelamatkan saya." Kutatap wajahnya yang tak lagi mulus karenaku.


"Bapak istirahat, ya, kalau ada apa-apa hubungi saya." Pak Raka menganggukkan kepalanya. Tak butuh waktu lama, aku sudah mendengar dengkuran halus dari mulutnya.


Tubuhku sangat lelah, aku putuskan untuk kembali ke kamarku setelah mengirimkan pesan singkat pada aplikasi chat berwarna hijau itu.


("Pak, selamat beristirahat. Kalau butuh bantuan telfon saya saja. Saya di kamar sebelah")


Kutinggalkan Pak Raka dengan sepatu dan pakaian yang masih ia kenakan sore tadi. Rasa bersalah menguasai diri ini. Namun aku harus kembali ke kamarku.


🥀 🥀 🥀 🥀 🥀


Bunyi alarm di gawai membangunkanku. Segera ku bangkit dari ranjang dan mengambil air wudhu, lalu kujalankan shalat subuh dua rakaat. Kucurahkan semua perasaan yang ada di hati ini agar lebih tenang.


Setelah puas, kuambil gawai yang semalam kuletakkan di nakas. Ada 10 pesan dari Leo, dan satu pesan dari Pak Raka.


Kubuka pesan dari Leo.


("Sayang, aku butuh bicara sama kamu")

__ADS_1


("Maafin aku")


("Kita benar-benar perlu bicara")


("Aku butuh kamu")


("Tolong jangan pergi")


("Kalau ada waktu tolong hubungi aku")


("Aku sayang banget sama kamu")


("Please Luna, aku sayang kamu")


("Aku butuh kamu")


("Aku kangen ...")


Tanpa pikir panjang, ku blokir segera nomornya. Aku tak ingin berhubungan lagi dengannya. Walaupun sakit, aku sungguh tak ingin menjadi penyebab rusaknya rumah tangga orang lain.


Setelah itu, aku beralih ke pesan dari Pak Raka.


("Pagi Luna, jam tujuh ke kamar saya ya. Kita sarapan di kamar saya")


("Baik, Pak") Jawabku segera.


Setelah merapihkan koper, aku segera mandi. Semalam aku sangat kelelahan sampai-sampai tidak sempat membersihkan tubuhku.


Kunikmati hangatnya air yang ada di bathtub. Kuhirup aroma sabun yang me-rileks-kan tubuhku. Rasa lelah dan penat sepertinya bisa segera hilang jika aku lebih lama berendam disini.


Pukul 6.30 aku sudah selesai mandi. Setelah memakai pakaian yang telah kusiapkan untuk pulang, sekali lagi aku mengecek semua barang yang aku bawa, agar tidak ada yang tertinggal.


🥀 🥀 🥀 🥀 🥀


"Selamat pagi, Luna" sapa Pak Raka saat aku sudah berada di depan kamarnya.


"Pagi, Pak. Bagaimana lukanya?"


Ia mengangkat bahunya, lalu tersenyum. "Yuk masuk"


Aroma masakan menggoda perutku. Kini aku sudah berada di meja makan kamar Pak Raka. Ia meminta pihak hotel untuk membawa sarapan kami ke kamarnya. Biasanya, aku yang mengurus semua keperluan Pak Raka di kantor, tapi kali ini ia mengurus semua tanpa bantuanku.


"Bapak kenapa bawa sarapannya kesini? Kenapa kita nggak ke restoran aja?" Tanyaku penasaran.


"Kamu mau kita ketemu mantan kamu lagi? Belum juga beres luka-luka saya, Lun. Kamu mau bikin saya babak belur lagi?"


Aku meringis malu. Dalam hatiku mengiyakan pernyataan Pak Raka. Aku enggan bertemu lagi dengannya. Lebih baik seperti ini, tidak ada hubungan lagi.


"Maaf ya, Pak."


"It's okay, Lun. Udah yuk, makan!"


Kami makan ditemani dengan iringan musik classic. Rasanya nyaman sekali. Disela-sela sarapan, beberapa kali kulihat Pak Raka kesulitan saat memasukkan makanannya. Rupanya luka di sudut bibirnya membuatnya tidak nyaman.

__ADS_1


"Pelan-pelan saja Pak makannya. Nanti kalau Bapak sudah selesai makan, saya bantu obati lukanya." Ucapku saat melihatnya mendesis sewaktu makanan yang ia suap tak sengaja mengenai sudut bibirnya yang terluka.


Pak Raka hanya tersenyum.


__ADS_2