Cinta Setelah Dia

Cinta Setelah Dia
Bab 26


__ADS_3

Dear Readers, biar aku makin semangat menulisnya, nggak bosan-bosannya aku meminta bantuan liek, comment, rate dan juga vote dari kamu. Boleh, kan? Dukungan kalian sangat berarti untuk author 😚🙏🏻


🍃🍃🍃


Bunda memelukku dengan pelukan hangatnya. Iya, Bunda memang seperti itu. Ia selalu hangat kepada orang-orang yang ia sayang.


Bunda menggamit lenganku, dan membawaku masuk ke dalam rumah. Bunda juga mempersilahkan Brian masuk, namun Brian menolak.


"Bunda, saya pamit dulu. Sudah malam, biar Luna istirahat." Ujar Brian sambil membawa ranselku di tangannya. Aku yang menyadari hal tersebut segera mengambil ransel itu dari tangannya dan memindahkannya ke tanganku.


"Nggak mampir dulu, Bri?" Tanya Bunda.


"Besok aja Bunda. Kasihan Luna sudah capek. Dan ini sudah malam." Jawabnya. "Mari Bun, saya pamit. Kemudian ia menoleh ke arahku.


"Na, aku balik ya, kamu istirahat." Ujarnya seraya menuju ke arah mobil jeep yang terparkir di seberang rumahku.


"Ya, Bri. Makasih banyak ya" Jawabku sambil melambaikan tangan padanya.

__ADS_1


"Bun, maaf ya telat. Tadi aku lapar, terus diajak makan sama Brian." Ujarku pada Bunda.


"Iya, nggak papa Mbak. Brian tadi telfon Bunda" Aku mengangguk.


"Mas Arya mana kok nggak kelihatan?" Tanyaku. Mataku berkeliling mencari sosok kakak laki-laki yang jarang sekali aku temui.


"Lagi keluar, Mbak. Beli nasi goreng, katanya."


"Oooh"


"Iya, Mbak."


"Ke laut, Bun!"


🍃


Sesampainya di kamar, ku keluarkan gawai dari kantong depan ranselku. Ku ketik pesan kepada Pak Raka yang tadi meminta kabar dariku setibanya aku di rumah.

__ADS_1


{Saya sudah sampai di rumah dengan selamat, Pak. Selamat beristirahat ya.} Lalu kuletakkan gawaiku di meja rias.


Aku memandangi setiap sudut kamar dengan kagum. Ah, rapi sekali kamar ini. Pasti Bunda yang sudah merapihkan kamarku. Kugantungkan barang bawaanku pada gantungan baju yang ada di dinding dekat pintu. Kubuka lemari baju dan kupilih satu stel pakaian tidur berwarna biru muda.


Lalu aku menuju kamar mandi yang ada di luar kamar, dekat ruang televisi. Ternyata Bunda sudah menyiapkan air panas di ember mandiku. Ah, aku merasa dimanjakan sekali disini. Maklum, di Jakarta aku tinggal sendiri. Jadi rasanya senang bila ada yang mengurusiku.


Setelah selesai mandi, aku keluar dan menaruh pakaian kotorku di ember kecil untuk aku cuci esok pagi. Sebenarnya bisa saja aku lakukan sekarang, tapi aku lelah sekali, biar besok saja.


Kumasuki area dapur, kubuka kulkas untuk mengecek bahan-bahan makanan yang bisa kupakai untuk memasak besok. Ya, rencananya aku akan memasak menu sarapan untuk Bunda dan Mas Arya besok.


Setelah mengamati isi kulkas, kuputuskan untuk memasak nasi goreng ikan asin dengan tambahan telur mata sapi, kerupuk udang dan sambel bawang cabe ijo.


"Bun, aku ke kamar yaa. Bunda istirahat aja. Insyaa Allah besok aku yang masak." Ujarku ketika melihat Bunda masuk ke area dapur.


"Wah, alhamdulillaah. Bunda udah kangen masakan Mbak." Wanita paruh baya itu tersenyum padaku kemudian mengecup pipiku.


"Tidur yang pules ya Mbak." Aku balas mencium pipinya, kemudian mengangguk. "Bunda juga,"

__ADS_1


Selesai shalat Isya kurebahkan badanku di ranjang berukuran single dengan sprei berwarna cokelat muda denga motif daun berwarna hijau pupus. Kupandangi langit kamarku, melamunkan sesuatu yang rasanya tak mungkin terjadi.


__ADS_2